
...πCutton Candyπ...
...-...
Kina menunggu Darrenjun diparkiran motor. Sesuai dengan niatnya kemarin, hari ini Kina telah menyiapkan bekal sarapan untuk Darrenjun.
Darrenjun akhirnya tiba dengan motornya dan Kina langsung menghampirinya.
"Jun,β Sapanya dengan senyuman manis.
Darrenjun hanya tersenyum tipis, lalu turun dari motornya. "Lo uda di bolehin bawa motor?β
Kina mengangguk. "Iya, berkat lo,β Ucap Kina semangat.
Darrenjun memandang gadis itu dalam diam. Sedikit heran melihatnya. Karena menurutnya, memang sudah seharusnya ia lah yang bertanggung jawab mengenai masalah yang telah terjadi. Bukan malah sebaliknya.
"Lo gak usah muji. Gue ngelakuin hal yang memang seharusnya,β Jawabnya.
"Tapi tetep aja berkat lo,β Timpal Kina.
Darrenjun hanya menggelengkan kepalanya. "Terserah lo,β Ucapnya.
"Lo mau ke kantin ya?β Tanya Kina dan dibalas anggukan oleh Darrenjun.
"Iya, gue laper,β
Kina tersenyum senang.
"Kebetulan, gue bawa bekal buat lo,β Kina menyerahkan satu kotak bekal yang telah ia persiapkan tadi pagi.
"Tapi, gue gak tau ini selera lo atau enggak,β Ucapnya dengan wajah khawatir.
Darrenjun memandang Kina sebentar dan mengambil kotak bekal yang ada di tangannya.
"Gue harus cobain dulu, baru bisa kasih komentar,β Jelas Darrenjun.
Kina mengangguk.
"Oke,β Jawabnya lagi.
Darrenjun berjalan lebih dulu dan disusul oleh Kina dari belakang.
"Gue mau makan disana aja,β Tunjuk Darrenjun ke arah pohon besar yang cukup rindang.
Kina mengikuti arah pandang Darrenjun. "Di bawah pohon itu? Kenapa?β
"Gak ada alasan apa-apa. Cuma mau makan disana aja,β jawab Darrenjun seadanya.
-
Jika dalam adegan drama Korea, mungkin saat ini akan ada bunga sakura yang berguguran dan berterbangan dengan cantiknya. Tetapi, ini bukanlah adegan drama Korea dan lagi disekolah mereka tak ada yang namanya bunga sakura hanya ada rerumputan liar dan juga tanaman biasa. Jika ada yang berguguran itu pasti hanya daun kering yang ada didekat mereka.
Darrenjun membuka bekal yang Kina bawakan untuknya dan mulai memakannya dalam diam. Di sela Darrenjun sedang menikmati sarapan yang dibawakan oleh Kina. Kina hanya diam sambil memandang kearah lain menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.
"Enak,β Ucap Darrenjun tiba-tiba dan membuat Kina segera menoleh ke arahnya.
"Seriusan enak?β
Darrenjun mengangguk.
"Tapi gue seret. Lo beli minum gih,β Suruh Darrenjun.
Kina berdiri dengan cepat.
"Oke",β Jawabnya. "Lo tunggu sini ya, jagain tas gue.β
Lalu setelahnya ia segera pergi meninggalkan Darrenjun.
-
Kina berjalan melewati koridor kelas menuju kantin. Langkahnya begitu ringan. Entah lah moodnya lagi baik hari ini.
Tiba-tiba saja langkahnya harus terhenti. Karena segerombolan gadis menghadangnya dari depan dan mau tak ia pun terpaksa berhenti.
Kina mencoba melewati ketiga orang itu dengan melewati sisi yang kosong. Tapi, sayangnya ketiga orang itu tak memberinya jalan. Seakan mereka melakukannya dengan sengaja.
"Permisi. Gue mau lewat,β Ucap Kina akhirnya. Gadis itu sungguh lelah dengan permainan ketiga gadis itu yang tak memberinya ruang.
Mereka tersenyum bersamaan. Bukan senyuman manis, tetapi senyuman mengejek.
"Lo mau lewat?β Tanya salah satu dari mereka. Yang Kina yakin sekali kalau dia lah dalang dari semua ini. Yaya.
Kina mengangguk. "Iya, gue buru-buru,β ucap Kina cepat.
"Gak bisa,β ucap Yaya.
"Lo mau apa sih sebenarnya?β Tanya Kina mulai kesal.
"Gue mau ngomong sama elo,β Ucap Yaya dengan wajah menantang.
"Yaudah ngomong aja. Gue gak ada waktu soalnya.β
Yaya melipat tangannya di dadanya.
"Lo ada apa sama Rey?β Tanyanya dengan penekanan.
Kina menghelakan nafasnya. "Kan kemarin dia uda ngomong. Gue itu cuma temennya,β Jelas Kina dengan malas.
"Lo seriusan cuma temennya Rey? Gak lebih dari itu?β Tanya Yaya memastikan kembali.
Kina menghelakan nafasnya. Jadi ini yang membuatnya harus dihadang oleh mereka bertiga.
"Gue gak ada apa-apa dengan dia. Kita cuma temenan,β jelas Kina.
"Bener. Lo dan Rey cuma temenan? Gak ada apa-apa?β Tanya Yaya memastikan kembali.
Sepertinya gadis itu tak percaya dengan ucapan Kina barusan.
"Iya. kita cuma temen,β Ulang Kina.
"Lagian urusannya sama lo apa? Lo kan cuma mantannya dia,β Jelas Kina dengan sudut bibir terangkat.
"Iya gue emang mantannya, tapi secepatnya gue bakalan jadi pacarnya lagi dan lo harus jauhin dia mulai dari sekarang,β Ucap Yaya dengan penuh percaya diri.
Kina melongoh. "Terus si Alby mau lo apain? Dia kan pacar lo.β
"Dia bakalan tetep jadi pacar gue.β
"Gila lo ya, anak orang lo mainin,β Ucap Kina tak terima.
"Uda deh, lo gak usah ikut campur. Ini urusan gue.β
Kina hanya merotasikan bola matanya malas.
Yaya memajukan tubuhnya mendekat ke arah Kina dan membuat jarak keduanya begitu dekat.
"Gue ingetin sekali lagi ke elo. Supaya lo jangan coba-coba deketin Rey atau pun berpikiran buat deketin dia. Karena dia itu punya gue,β Ancamnya dengan tatapan tajam.
Kina hanya memandang gadis itu dengan datar.
"Kalo sampek lo deketin dia. Lo bakalan berurusan dengan gue,β Tekannya.
Setelahnya Yaya memberi kode pada kedua temannya untuk pergi dari situ dan meninggalkan Kina sendirian.
Kina masih berdiri disitu memandang punggung ketiga gadis itu yang mulai menjauh darinya.
Helaan nafas keluar dari bibirnya begitu saja. Tak menyangka kalau Yaya memiliki pemikiran seperti itu terhadap hubungannya dengan Alby. Ia yakin sekali, kalo Yaya masih belum bisa move on dari Rey yang jelas-jelas ia tahu kalau Yaya maupun Rey sama-sama telah memiliki pacar baru.
-
Setelah berolah raga pagi dengan berlari dari kantin menuju tempat dimana Darrenjun menunggunya. Akhirnya Kina sampai juga dengan menggenggam sebotol air yang akan ia berikan pada Darrenjun.
"Lo habis dari mana? Zimbabwe?β Tanya Darrenjun saat gadis itu telah berdiri di hadapannya. Sepertinya lelaki itu sedikit kesal karena menunggu Kina yang begitu lama.
"Sorry Jun, tadi mendadak ada sesuatu yang menghambat gue.β
"Menghambat?β Tanya Darrenjun.
Kina mengangguk. "Iya.β
"Apaan?β Tanya Darrenjun penasaran.
"Oh ituββ Kina ingin menceritakan yang barusan terjadi. Tapi, ini bukan lah hal yang patut ia ceritakan pada Darrenjun. Terlebih lagi keduanya tak terlibat dalam masalah ini.
Kina menggeleng cepat. "Bukan apa-apa,β Lanjutnya.
Darrenjun memandang Kina dalam diam. Firasatnya mengatakan, kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh gadis itu padanya. Tetapi, dia tak ingin memaksa Kina untuk menceritakannya. Karena keduanya telah sepakat untuk menjaga privasi satu sama lain.
Kina menyerahkan botol air yang telah ia beli kepada Darrenjun. "Sorry ya, lama bawa minumnya,β Ucapnya merasa bersalah.
Darrenjun menggelengkan kepala pelan. "Gue uda gak perlu,β Tolaknya.
"Lo marah?β Tanya Kina sedikit panik.
Darrenjun kembali menggeleng. "Gak. Gue gak marah.β
"Lah terus kenapa gak terima minum yang gue kasih?β
"Gue uda minum soalnya.β
"Dari tas lo,β Jawab Darrenjun santai. Lalu lelaki itu menyerahkan botol air minum yang telah kosong, milik Kina.
"Minum lo uda gue habisin. Jadi mending tuh minuman yang barusan lo beli. Buat lo aja,β Jelas Darrenjun dan membuat Kina shock.
Ia gadis itu shock karena, Darrenjun telah meminum botol air minumnya tanpa perantara berarti secara tidak langsung dia.
Darrenjun berdiri dari duduknya. Dan membuat Kina segera menghentikan pikiran anehnya.
"Lo mau kemana?β Tanya Kina pada Darrenjun.
"Kelas.β
"Oh,β Kina mengangguk mengerti.
Lalu setelahnya Darrenjun berjalan meninggalkan Kina sendirian dibawah pohon besar.
Kina masih berdiri disitu memikirkan sesuatu yang telah mengganggunya. Pikirannya masih dipenuhi dengan botol air minumnya dan juga Yaya.
Darrenjun menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia baru sadar kalau gadis itu tak mengikutinya.
"Lo gak ke kelas?β Tanya Darrenjun pada Kina.
Kina memandang kearah Darrenjun, lalu menggeleng pelan. "Bentar lagi,β Jawabnya.
Darrenjun mengangguk singkat. Tapi, baru saja lelaki itu ingin pergi. Darrenjun malah berbalik dan menghampiri Kina lagi.
"Lo ngapain balik? Katanya mau ke kelas.β
Darrenjun tak langsung menjawab pertanyaannya. Lelaki itu malah melihat ke sekelilingnya dan membuat Kina merasa aneh dengan apa yang dilakukan Darrenjun barusan.
"Lo ngapain?β Tanyanya bingung.
Setelah memastikan keadaan aman. Darrenjun mendekat dan berbisik tepat ditelinga Kina.
"Lo yakin mau sendirian disini?β Tanya Darrenjun dengan suara pelan. Ini kali pertama bagi Kina mendengar Darrenjun berucap begitu pelan.
Darrenjun memundurkan langkahnya, memberi ruang bagi mereka.
Kina memandang Darrenjun aneh. "Emang kenapa?β Tanyanya bingung.
"Lo gak tau kalo disini β¦β Darrenjun menggantung ucapannya tanpa berniat melanjutkannya dan membuat Kina penasaran setengah mati.
"Apa?! Ada apa?!" Tanyanya dengan penasaran.
Darrenjun menggeleng pelan. "Uda ah lupain,β Ucap Darrenjun dan membuat Kina makin penasaran.
"Lo kalo ngomong jangan setengah-setengah dong. Gue penasaran jadinya!" Omel Kina.
Darrenjun hanya memandang Kina dengan wajah entah apa itu namanya.
"Jun,β Panggil Kina. Gadis itu sedikit takut dengan kelakuan Darrenjun ini.
Darrenjun menghelakan nafasnya. Lalu mendekat kearah Kina lagi dan mulai berbisik tepat ditelinga Kina. "Lo gak tau kalo disini itu ada penunggunya,β Ucap Darrenjun dengan serius.
Kina memandang Darrenjun dengan shock. "Seriusan?β Tanya Kina memastikan.
Darrenjun mengangguk. "Awalnya gue gak percaya. Tapi, gue pernah melakukan survei ke orang-orang yang pernah bertemu dengan penunggu disini secara langsung. Dan β¦β Darrenjun kembali menggantung ucapannya dan membuat dada Kina mendadak berdebar.
"Dan apa Jun??!β
"Dan katanya, penunggunya itu suka ngajak kenalan orang-orang yang sendirian disini.β
Mata Kina melotot penuh.
Kina segera mengambil tasnya yang berada diatas tanah dengan cepat.
"Gue deluan!" Teriaknya dengan langkah tergesa-gesa. Hampir saja ia terjatuh saat berjalan. Karena begitu ketakutan.
Darrenjun memandang Kina dengan senyuman mengembang. Lalu beberapa detik kemudian. Tawa lelaki itu pun pecah.
Darrenjun tertawa dengan keras melihat wajah Kina yang begitu pucat. Padahal lelaki itu tadi berbohong mengenai hantu penunggu pohon. Dan mengenai survey yang ia katakan tadi, itu hanya akal-akalannya saja. Sangat tak mungkin baginya melakukan hal yang tak ada gunanya seperti itu. Tapi, siapa sangka kalau Kina menganggap ucapan Darrenjun benar adanya.
-
Kina berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu. Jantungnya berdebar begitu hebat. Dia takut kalau penunggu pohon itu akan mengikutinya. Tatapannya terus menurus tertuju ke arah belakang, memastikan keadaannya baik-baik saja.
Brukkk
Kina hampir saja terjatuh ke lantai keramik koridor kalau saja orang yang barusan ia tabrak tak sigap menangkapnya.
Pandangan mereka bertemu. Dia lelaki yang sempat mengganggu pikiran Kina.
Alby.
"Alby,β Ucap Kina sedikit kaget.
Kaget karena posisi keduanya begitu dekat. Dan, jika ada yang melihat mereka sekarang. Pasti banyak yang akan mengira kalau mereka tengah berpelukan.
Tersadar dengan situasi mereka yang begitu dekat. Alby melepas pegangannya pada pinggang Kina.
"Sorry Kin,β Ucap Alby dan sedikit menjauh, memberi jarak bagi mereka berdua.
Kina menggeleng cepat. "Gak. Ini bukan salah elo. Tapi gue yang nabrak elo tadi.β
Alby tersenyum. "Gak ada yang salah kalau gitu. Kita sama-sama salah,β Katanya menengahi perdebatan mereka.
Melihat Alby yang tersenyum membuat Kina ikut tersenyum. "Iya lo bener.β
"Oh ya, Lo gak papa?β Tanyanya pada Kina dengan khawatir.
Kina menggeleng cepat. "Gak papa. Btw, Thanks ya.β
Alby tersenyum manis dan mengangguk sekilas. "Iya. Tapi, lain kali kalo jalan itu liat kedepan. Jangan kebelakang mulu,β Peringatnya.
Kina menyengir. "Hehe. Iya gue buru-buru soalnya,β Jawabanya.
"Buru-buru? Lo mau kemana emangnya?β
Kina menelan ludahnya susah payah. Nafasnya begitu memburu. Karena dirinya baru saja berlari dari tempat itu.
"Itu ... Gue takut sama penunggu pohon,β Jelas Kina cepat.
"Ha?" Kaget Alby. "Lo ngomong apa tadi?β
"Penunggu pohon,β Jelas Kina lagi.
Alby tertawa.
"Lo ada-ada aja sih. Penunggu pohon? Ini masih pagi, mana ada yang begituan,βLedeknya.
"Seriusan gue,β Ucap Kina tak terima
"Iya iya. Gue percaya deh sama elo.β Meski merasa aneh dengan ucapan Kina, Alby tidak ingin memperdebatkan hal yang tak masuk akal baginya. Ada kalanya dia rasa harus mengalah.
"Oh ya Kin, kalo gitu gue deluan.β Alby menepuk pundak Kina pelan. Lalu berbalik hendak pergi meninggalkan Kina.
"Alby,β Panggil Kina dan membuat Alby berbalik.
"Iya. Kenapa?β Tanya Alby.
Kina menggaruk belakang kepalanya sendiri. Bingung harus memulai darimana.
Alby memandang Kina bingung, karena gadis itu tak kunjung bersuara.
"Itu. Lo sama Yaya uda lama?β Tanyanya akhirnya. Sebenarnya bukan itu pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Tapi, yasudah lah.
"Baru aja,β Jawab Alby dengan senyuman yang tak lekang dari wajahnya.
"Oh,β Kina hanya manggut-manggut mengerti dengan ucapan Alby barusan.
"Kenapa? Ada masalah?β Tanya Alby.
Ingin sekali rasanya gadis itu menceritakan perihal Yaya yang mengancamnya tadi. Tapi, hal itu bukanlah urusannya. Jadi ada baiknya ia menyimpan masalah itu sendirian. Ia yakin lambat laun Alby pasti akan mengetahui kebenaran itu.
Kina menggeleng cepat. "Enggak. Gue cuma pengen tau aja,β Jawabnya. "Gue doain semoga kalian langgeng terus,β Lanjutnya.
Alby tersenyum tipis. "Makasih buat doanya.β
Kina mengangguk.
"Oh ya, lo ada lagi mau di omongin?β Tanya Alby lagi.
Kina menggeleng. "Gak ada. Lo boleh pergi kok.β
Alby mengangguk singkat, lalu berbalik dan pergi meninggalkannya.
Seketika Kina merasa kasihan dan juga merasa bersalah terhadap Alby. Karena telah menyembunyikan fakta yang ia ketahui. Kina mencoba meyakinkan dirinya. Agar tak terlibat dalam hubungan cinta segitiga ini.
Bahkan gadis itu telah melupakan masalah hantu penunggu pohon itu hanya karena memikirkan posisi Alby.
...******...
...*Jangan lupa tinggalkan pesan, kesan kalian selama membaca cerita aku ya**ππ*...
...*Aku harap kalian menikmati cerita yang aku tulis **ππ*...