Cutton Candy

Cutton Candy
Balapan Liar



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...*****...


Kina duduk sendirian di atas jok motornya. Menunggu kehadiran Darrenjun yang tak kunjung menampakan dirinya. Ini pertama kali baginya menunggu Darrenjun begitu lama. Karena biasanya lelaki itu akan tiba hanya selang beberapa menit dari dirinya. Dan ini, bahkan bel sebentar lagi akan bergema dan Darrenjun tak kunjung datang.


Seorang datang menghampirinya yang tengah duduk sendirian. orang itu menepuk pundaknya pelan dan membuatnya berbalik.


"Lo lagi nungguin siapa?”


"Darrenjun,” jawab Kina singkat.


Mark menghelakan nafasnya pelan. "Gak usah ditunggu. Orangnya gak dateng.”


Kina langsung bangkit dari duduknya dan menatap Mark.Β  "Seriusan? Lo tau dari mana?” Tanya Kina.


"Gue uda coba hubungi dia. Tapi chat sama telpon gue gak ada yang digubris sama dia,”Jelas Kina dengan sedih.


"Ada deh. Lo gak perlu tau darimana gue tau. Yang jelas buat hari ini. Lo free dari suruhannya Darrenjun,” Jelas Mark.


Kina hanya tersenyum tipis pada Mark dan berjalan meninggalkan area parkiran.


"Lo gak perlu khawatir. Darrenjun baik-baik aja kok,” ucap Mark mencoba menenangkan Kina yang terlihat cemas.


Kina seketika menghentikan langkahnya dan memandang Mark aneh. "Siapa juga yang khawatir? Gue b aja tuh,” Sangkalnya.


"Dasar tukang gengsi,” Ejek Mark.


"Paan sih lo? Siapa juga yang gengsi?”


"Ngaca dong mbak. Punya miror kan dirumah?”


"Punya banyak malah. Apa hubungannya kaca sama Darrenjun?”


"Hubungannya, Lo jelas banget kelihatan sedih. Tapi masih aja bisa nyangkal.”


"E.nggaakkk tuh,” Sangkal Kina tak terima.


"Iya deh iya. Gue percaya aja sama omongannya elo,” Jawab Mark lagi.


"Lala mana?” Tanya Kina mencoba mengalihkan pembicaraan Mark barusan.Β Sejak dari tadi lelaki itu terus saja memojokkannya.


"Uda gue suruh deluan.”


"Oh.” Kina bisa bernafas lega karena Mark bisa dialihkan.


Mereka berjalan melewati koridor kelas demi kelas dalam keheningan. Hingga Kina kembali membuka sura


"Terus si Darrenjun dimana sekarang?”


Mark tersenyum penuh arti. "Katanya b aja. Tapi lo khawatir juga,” Ledek Mark.


Kina terdiam beberapa saat, salahnya sendiri kenapa bertanya mengenai itu. "Gue gak khawatir. Gue nanya ginian cuma sebagai bentuk rasa simpati gue ke dia gimana pun dia tetep temen gue,” jelas Kina panjang lebar.


Mark merotasikan bola matanya males. "Ngeles mulu lo Kin. Gak capek apa?”


"Siapa juga yang ngeles? gue cumaβ€”β€œ


"Iya. iya gue percaya,” Timpal Mark yang sudah malas berdebat dengan Kina.


"Kina!"


Kedua orang itu berbalik dan mendapati seorang lelaki tengah berjalan ke arah keduanya.


"Alby,” Ucap Kina girang. "Lo baru nyampek juga?”


Alby menggeleng pelan. "Gak. Dari tadi gue uda nyampe. Cuma tadi mampir dulu ke foto copy ada yang ketinggalan,” Jelas Alby sembari menunjukan senyuman manisnya seperti biasanya.


"Oh gitu,” Kina hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan ucapan Alby barusan.


"Kalo gitu gue deluan ya. Gue baru ingat ada janji,” Ucap Alby pada Kina dan juga Mark.


Alby tersenyum manis sampai-sampai membuat kedua matanya menghilang dan hal itu membuatnya terlihat lucu menurut Kina.


"Ok,” jawab Kina semangat.


Setelahnya Alby pergi meninggalkan keduanya. Sebelum lelaki itu pergi, ia sempat mengacak rambut Kina dengan gemas.


Mark sama sekali tak berniat berucap sepatah katapun terhadap Alby, bahkan sejak dari tadi Mark terus saja memandang Alby dengan tatapan tajam. entah apa yang tengah dipikirkan lelaki bule itu.


"Sejak kapan lo mulai dekat dengan Alby?”Selidik Mark pada Kina.


"Baru-baru sih.”


"Gue saranin, supaya lo jangan dekat-dekat sama Alby. Gue punya firasat buruk soal dia,” tegas Mark.


"Nethink lo.”


"Gue gak nethink. tapi itu fakta Kin.”


"Paan sih lo ngatur-ngatur gue mau temanan ke siapa.”


"Gue bukan ngatur. Gue cuma memperingatin lo doang. Lagian lo harus tau Alby itu punyanya Yaya. Gue gak jamin keselamatan elo kalo lo masih nekat deket dengan Alby,”Peringat Mark.


"Gue uda tau Yaya gak bakalan tinggal diem. Lagian gue uda terlanjur berurusan dengan dia,” Jawab Kina.


"Seriously?” Tanya Mark kaget.


Kina mengangguk.


"Terus kenapa lo masih nekat deketin Alby?”


Kina menghentikan langkahnya dan memandang Mark dengan tajam. "Gue sama Alby itu gak ada hubungan apa-apa. Kita berdua itu cuma temenan dan gak lebih dari itu,” Jelas Kina dengan kesal.


"Gue gak percaya.”


Kina meremat jemarinya dan merasa gemas dengan Mark yang begitu bawel menurutnya.


"Lo dari tadi nanyak mulu dah perasaan. Dah lah gue mau cabut. Bye,” Pamit Kina dengan kesal bahkan gadis itu sempat menghentakan kakinya kelantai sebelum pergi meninggalkan Mark sendiri.


"Gawat. Saingan Darrenjun nambah,” gumam Mark.


-


-


Didalam kelas, Kina banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Sampai ujian yang baru saja selesai ia lewati begitu saja. bahkan gadis itu menjadi orang pertama menyelesaikan semua soal-soal dengan baik.


Pikiran Kina masih dipenuhi dengan tanda tanya mengenai Darrenjun dan wanita kamarin. Anehnya permasalahan itu masuk begitu saja kedalam otaknya tanpa ada niat permisi sama sekali.


"Kemana Darrenjun pergi?”


"Apa Darrenjun baik-baik aja?”


"Siapa wanita itu?”


ahh Kina sungguh pusing dibuatnya.


"WOI!"


Kina hampir saja mengumpat dan mengabsen segala kata umpatan dari bibirnya pada orang yang barusan mengagetkannya.


"Lo apa-apaan sih bikin kaget aja!" Omelnya pada sang pelaku.


"Lah. Dia ngelamun pagi-pagi,” Ucap Mita yang merasa janggal tehadap tingkah temannya itu.


"Lo mentang-mentang punya kesibukan harian. sekalinya libur malah ngelamun.”


"Gak ah. Siapa yang ngelamun?”


"Ngeles aja terus sampek tuh bola mata keluar dari tempatnya,” Ejek Mita.


"Gak jelas lo.”


"Iya deh iya Maimunah. Btw, lo kenapa?”


"Kenapa apaan?”


Mita mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kina. Lalu gadis itu berucap pelan. "Lo ada masalah kan?” selidiknya.


Kina terdiam.


"Jangan bohong,” Jelas Mita.


"Selamat pagi anak-anak.”


Mita langsung memundurkan tubuhnya dan duduk dengan benar dibangkunya kembali.


Sedikit bernafas lega sekarang, berkat guru yang telah masuk kedalam kelasnya. Gadis itu tak sempat diintrogasi oleh Mita. Ingin rasanya Kina menyalami gurunya dan memeluknya erat.


-


-


Kina memandang langit-langit kamarnya yang mendominasi dengan cat berwarnakan putih. Ini kali pertama baginya pulang cepat dan tak melakukan apa-apa. Sebab biasanya gadis itu menghabiskan waktunya bersma Darrenjun.


"Kina ada yang nyariin tuh,” Panggil sang mama dari arah luar pintu kamarnya.


Kina langsung bangkit dari posisinya yang sebelumnya rebahan. Gadis itu bergegas menemui orang yang mencarinya. Diam-diam gadis itu berharap orang itu adalah Darrenjun.


Saat hampir sampai, Kina terkejut dengan orang yang tengah berdiri dihadapannya.


"Kak Lucas,” Ucapnya merasa heran.


Lucas tersnyum tipis dengan sapaan Kina barusan. "Boleh ngomong bentar gak?”Tanyanya saat gadis itu berjalan mendekatinya.


"Ngomong?” Tanya Kina bingung.


Lucas mengangguk.


Jeda beberapa saat sampai Kina kembali membuka suara.


"Lo ada apa nyari gue sampek ke rumah?". Tanya Kina to the point karena ini kali pertama baginya disamperin oleh Lucas ke rumahnya.


"Lo tau Darrenjun ada dimana?”


Kina memandang Lucas kaget. "Darrenjun? emang dia gak pulang?” tanyanya khawatir.


Lucas menggelng lemah. "Uda dua hari dia gak pulang. Gue uda coba cari tapi gak nemuin apa-apa.”


"Gue juga uda coba hubungi dia kak, tapi gak ada satu pun panggilan dan chat gue yang digubris sama dia,” jelas Kina.


Lucas menghelakan nafasnya berat. "Gue juga gak ngerti kenapa Darrenjun harus pergi dari rumah. Yang jelas kemarin waktu dia pulang, wajahnya kelihatan shock.”


"Shock?” tanya Kina. "Kenapa? Apa karena ketemu tente kemarin?”


"Tente?”


Kina mengangguk semangat. "Dua hari yang lalu gue sama Darrenjun ketemu sama tante cantik yang mirip banget dengan mukanya dia".


"Apa jangan-jangan Darrenjun sama tante ituβ€”β€œ


"Kin. gue pulang dulu. Kalo lo uda ketemu Darrenjun plis hubungi gue secepatnya.” Sela Lucas.


"Ahh iya kak,” jawab Kina.


"Thanks,” ucap Lucas dan bergegas pergi dari rumah Kina.


Kina kembali dibuat bingung tentang permaslahan yang terjadi dengan Darrenjun. Meski Darrenjun begitu menyebalkan untuknya tetap saja gadis itu khawatir terhadapnya.


Tapi sayang nomor lelaki masih tidak aktif.


Kina menghelakan nafasnya frustasi. Darrenjun masih saja tak bisa dihubungi. gadis itu mencoba menelpon salah satu orang yang mungkin bisa memberinya informasi mengenai diamana Darrenjun berada.


"Halo. Lo dirumah?”


"...."


"Gue kesana ya. Mau minjem buku Fisika.”


"...."


"Hmmm"


Bipp


Kina mematikan sambungan teleponnya dan bergegas masuk kedalam kamarnya lagi. Bersiap-siap untuk pergi kerumah orang yang barusan ia telpon. Sang informan.


-


Suara deru motor memenuhi perkarangan rumah. Sejak dari tadi orang itu selalu setia menunggu kedatangan seorang gadis. Bahkan senyuman lebar tak lekang dari bibirnya.


Kina memarkirkan motornya tepat dihalaman orang itu.


"Gue masih gak nyangka akhirnya lo dateng juga ke rumah gue Kin. Malah sendirian lagi, Ucap Arji dengan senyuman lebar.


"Jangan aneh-aneh dah lo. Gue kesini cuma mau minjem buku doang,” jelas Kina.


"Ya ampun Kin. Gak usah malu kali.”


"Idih kutil semut serah lo ya mau ekspetasi kayak gimana. Yang penting gue minta minum dong. Haus gue.”


Arji kembali tersenyum dibuatnya. "Gimana gue bisa move on kalo lo bisa buat jantung gue cenat-cenut.”


"Kayak lagu aja,” Ledek Kina sembari masuk ke dalam rumah Arji yang lumayan luas itu.


Arji tak menanggapi, lelaki itu masih saja tersenyum cerah.


-


Arji mengajak Kina untuk masuk kedalam rumahnya. Suasana rumah lelaki itu tampak lenggang.


"Mama sama papa lo mana? Kok sepi?” Tanya Kina sembari melirik kesana kemari.


"Pergi,” Jawabnya.


Kina hanya manggut-manggut mengerti.


Gadis itu sejak dari tadi tak bisa diam. Matanya melirik kesana kemari mencari petunjuk soal keberadaan Darrenjun. Barangkali lelaki itu ingin bersembunyi dirumah Arji. Karena yang ia ketahui bahwa Darrenjun sering mampir ke rumah Arji.


"Tumben rumah lo sepi? Yang lain gak pada mampir?” Tanya Kina mencoba mencari celah baginya mencari informasi mengenai Darrenjun.


Arji menggeleng. "Enggak. Lagi pada siap-siap kayaknya.”


"Oh ya, siap-siap buat apaan? Bukannya turnamen bulan depan ya?”


"Bukan turnamen. Tapi siap-siap ikut balapan.”


Kina mengernyitkan dahinya. "Balapan?”


Arji mengangguk dengan semangat. β€œIya, Balapan liat.”


"Siapa yang ikut balapan?” Tanya Kina penasaran.


"Darrenjun,” Jawab Arji acuh. "Gue juga aneh sama tuh anak. Bisa-bisanya di nyetujuin buat balapan liar sama anak Seventeen.”


Kina seketika bangkit dari duduknya. "Darrenjun balapan!? Dimana!?” Tanyanya dengan kahawatir.


Arji langsung menepuk wajahnya pelan. Lelaki itu baru sadar dengan apa yang barusan ia katakan. Ia mendekat ke arah Kina mencoba menenangkan gadis itu.


"Kin. Kin. Sabar ya. Maksud gue bukan itu tapiβ€”β€œ


"Lo gak perlu nyangkal lagi Arji Raditya Sekarang mending lo kasih tau dimana Darrenjun ikut balapan sekarang.”


"Sorry Kin gue gak bisa. Bahaya lagian kalo lo ikutan kesana-"


"Gue gak peduli! Pokoknya gue gak mau tau. Lo harus anterin gue kesana.”


"Plis Kin jangan ya. Mending lo jalan-jalan bareng gue aja. Gue janji bakalan traktir Boba buat lo.”


"Gue gak tertarik. Pokoknya anter gue sekarang titik.”


"Tapi Kin-"


"Lo anterin gue sekarang. Atau lo mau jadi musuh abadi gue,” Peringat Kina dengan tajam.


Arji seketika membeku. Perkataan Kina benar-benar mampu membuatnya tak berkutik


Gadis itu berjalan dengan langkah cepat menuju halaman rumah Arji. Ia sudah tak peduli dengan hari yang sudah mulai gelap dan dengan pakaian yang seadanya saja. Fokusnya hanya satu. Yaitu menghentikan balapan yang akan dilakukan Darrenjun saat ini.


-


-


Butuh waktu 45 menit untuk bisa sampai ke arena balapan liar. Saat mereka tiba, tempat itu telah dipenuhi dengan orang-orang yang menggunakan motor besar bahkan banyak sekali gadis-gadis yang menggunakan pakaian mini berada ditempat itu.


Kina mengedarkan pandangannya mencari sosok Darrenjun yang mungkin salah satu bagian orang-orang itu.


"Ketemu,” Ucap Kina semangat dan berlari ke tempat lelaki itu berada. Bahkan Arji yang masih mencari tempat parkir telah ia tinggalkan.


"DARRENJUN!" Teriak Kina dengan suara nyaringnya.


Mark, Emilio dan Haikal yang telah berada ditempat itu terkejut dengan kehadiran Kina.


"Kina!" Panggil mereka berbarengan.


"Lo kenapa bisa kemari?” Tanya Emilio sedikit frustasi melihat kehadiran Kina.


Kina tak menggubris ucapan Emilio barusan. Gadis itu memandang Darrenjun yang terlihat biasa saja dengan kedatangannya.


"Jun,” panggilnya pada sang empuh yang terlihat acuh padanya.


Baru saja Kina ingin berucap. Arji datang dengan tergopoh-gopoh.


"Nah ini biangnya,” Ucap Mark.


"Woii Solikin! Lo gimana sih? Ngapain nih bocah lo bawa kemari?” Omel Haikal yang terlihat kesal pada lelaki itu.


"Sorry. Gue keceplosan tadi.”


"Sudah gue duga,” Ucap Mark.


"Jun. Plis lo pulang sekarang. Keluarga lo cemasin elo,” Bujuk Kina pada Darrenjun yang bersiap-siap dengan jaket kulitnya.


Darrenjun menghentikan aktifitasnya. Lelaki itu menoleh ke arah Kina dengan tatapan tajam. "Tau apa lo soal keluarga gue?”


Kina tercekat dengan ucapan Darrenjun barusan.


"Jangan pikir karena gue dan elo sering bareng. Lo jadi sok deket ke gue,” Tegasnya.


Kina meremat jemarinya. Jika dalam keadaan seperti biasanya, gadis itu pasti akan membalas perkataan tajam Darrenjun barusan dengan kata-kata yang tak kalah tajam. Tapi untuk saat ini biarlah kesabarannya diuji beribu-ribu kali lipat. Yang terpenting Darrenjun bisa membatalkan aksi gilanya ini.


"Jun. Gue emang gak tau masalah keluarga lo. Tapi gue yakin orang rumah lo pasti kahawatir setengah mati saat ini.”


Darrenjun tertawa sinis. "Jangan sok baik. Gue gak perlu rasa kasihan lo itu. Lebih baik lo pulang dan berhenti ikut campur masalah gue!" Bentak Darrenjun.


Kina menghelakan nafasnya pelan. Untuk saat ini diakan memaklumi segala hal yang keluar dari bibir lelaki itu. Meski ia harus dikata-katain oleh Darrenjun sekalipun.


Darrenjun memakai helmnya dan menaiki motornya bersiap-siap menuju garis start.


Sebelum lelaki itu beranjak pergi. Kina lebih dulu naik ke atas motor Darrenjun. Bahkan gadis itu telah bersiap-siap dengan helm yang ia rebut dari tangan Emilio.


"Lo mau ngapain?” Tanya Darrenjun dengan nada dinginnya.


"Ikut lo.”


Semuanya terkejut dengan ucapan Kina barusan.


"Kin turun dah. Lo jangan ngadi-ngadi,” Ucap Arji yang terlihat takut dengan aksi gila Kina itu.


"Iye lo turun ya. Gue janji dah bakalan beliin lo ciki setelah ini,” Tambah Haikal.


Kina menggeleng kuat. "Gak akan,” Tegasnya.


"Gue gak bakalan turun kalo Darrenjun masih mau lanjutin pertandingannya.”


Semuanya tak bersuara.


"Gak akan,” Timpal Darrenjun.


"Yaudah kalo lo masih mau lanjut. gue bakalan ikut tanding.”


"Kin plis turun ya. Lo jangan aneh-aneh. Ini pertandingan balapan bukan komidi putar.”


"Gue tau. Gue bukan bocah.”


"YAUDAH TURUN DONG!" Gantian Haikal yang barusan teriak.


"Lo repot amat dah. Gue uda bilang gue gak mau turun. Kalo lo berani nyuruh gue buat turun lagi. Gue bakalan jambak rambut lo satu persatu sampai botak,” Peringat Kina dengan tajam.


Dengan reflek semuanya memegang rambut mereka.


"Gue bakalan kasih kesempatan buat lo mikir dua kali,” Ucap Darrenjun pada Kina.


"Gue gak perlu mikir. Gue pokoknya harus ikut lo. Titik.”


"Yaudah terserah. Yang jelas gue gak jamin keselamatan lo,” Ucap Darrenjun.


Kina sempat gugup awalnya. Tetapi rasa khawatirnya begitu besar sehingga gadis itu meyakinkan dirinya untuk tak terkecoh dengan ucapan Darrenjun barusan.


Kina mengeratkan pelukannya pada pinggang Darrenjun. Biarlah setelah ini dia mungkin tinggal nama saja. Yang pasti gadis itu tak ingin menyesal karena tak mencoba untuk menghentikan aksi gila Darrenjun ini.


Saat berada di garis start fokus semua orang menjadi ke arah Darrenjun. Terutama dengan pemandangan dimana Kina berada di boncengan lelaki itu. Baju Kina jelas sekali tak kontras dengan baju gafis-gadis yang ada disitu. Dimana hanya dirinya satu-satunya gadis yang menggunakan Kaos oblong serta celana training.


Hal itu sangat berbeda jauh dengan gadis yang lain. Dimana mereka menggunakan baju minim sepeti tantop dan juga hotpants. Demi apapun Kina tak akan pernah memperdulikan masalah penampilannya ini.


"Cewek lo Ren?” Tanya Varno, sang ketua dari grup Seventeen. Cowok blasteran yang memiliki tatapan mesum.


Darrenjun menggeleng. "Bukan,” Jawabnya.


"Boleh juga tuh,” Ucap Varno dengan wajah mesumnya.


Seketika Kina bergidik ngerih dengan tatapan lelaki itu.


"Ambil kalo lo mau,” Ucap Darrenjun dengan acuh.


Kina melototkan kedua matanya tak percaya dengan ucapan Darrenjun barusan. Ia bukan barang kenapa lelaki itu sejahat itu ingin menyerahkan dirinya pada lelaki mesum itu.


Demi apapun, Kina berusaha menahan kekesalannya setengah mati. Ingin sekali gadis itu melayangkan pukulannya pada Darrenjun. Kalau saja ia tak ingat bagaimana situasinya saat ini.


"ARE YOU READY!" Tanya seorang lelaki yang berdiri di hadapan mereka dan membuat keduanya mengalihkan perhatiannya.


Semua deru motor saling bersautan satu sama lain. Begitu juga dengan jantung Kina yang telah dad dig dug seirama dengan suara deru motor.


...****...


...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...