
...πCutton Candyπ...
...ββ...
...(Sekarang gue baru sadar, seberapa pentingnya elo di hidup gue -Yesika Yeji)...
...*****...
Seorang gadis berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu sengaja berlari seperti itu, ia ingin mengejar lelaki yang hendak pergi dari sana.
"Jun!" Panggilnya.
Darrenjun berbalik, dibukanya helmnya dan menatap gadis yang berdiri di hadapannya.
Kina.
Kina mengatur deru nafasnya yang tak beraturan, akibat berlari mengejar Darrenjun barusan.
"Ada apa?β Tanya Darrenjun dengan ekspresi khasnya yang dingin.
Kina mencebikkan bibirnya kedepan saat melihat wajah Darrenjun yang tak pernah bersahabat itu.
"Lo kok masih kayak es sih. Heran gue, kapan cairnya?β
Darrenjun merotasikan bola matanya malas. "Lo manggil gue cuma nanya gituan?β
Kina mengangguk sebentar, lalu menggeleng lagi. "Gak dong. Gue cuma nanya mama lo masih dirawat dirumah sakit?β
Darrenjun mengangguk. "Masih,β Jawabnya.
"Yaudah kalo gitu gue mau kesana. Tapi gue mau beli sesuatu dulu buat mama lo. Btw, mama lo sukanya apa?β
"Mama gue gak suka di ganggu, itu aja.β
"Yaelah elo bikin bingung aja sih,β Kesal Kina.
"Lo gak perlu bawa gituan. Lagian mama belum dibolehin dokter buat makan-makanan dari luar, selain makanan yang dikasih sama pihak rumah sakit,β Jelas Darrenjun.
"Oh gitu,β Kina hanya menggut-manggut mengerti dengan penjelasan Darrenjun barusan.
"Uda kan?β
Kina mengangguk.
"Yaudah minggir sana. Gue mau pergi,β Usir Darrenjun.
Kina menggeser tubuhnya memberi jarak agar Darrenjun bisa lewat.
"Lo tuh ya gak ada manis-manisnya jadi orang,β Omel Kina pada Darrenjun.
Darrenjun tak menghiraukan ucapan Kina yang tertuju untuknya, lelaki itu lebih memilih pergi meninggalkan Kina yang masih mengomel padanya.
"Tungguin gue disana ya!" Teriak Kina pada Darrenjun. Meski ia tak yakin bahwa lelaki itu mendengar ucapannya.
Setelah Darrenjun pergi, Kina segera menaiki motornya dan bersiap-siap pergi menyusul Darrenjun.
Seharusnya mereka bisa saja pergi bersamaan. Tapi percuma jika Kina mengharapkan Darrenjun menunggunya. Karena seperti yang ia tahu Darrenjun tak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Dalam radius beberapa meter seorang gadis yang berada didalam mobil Honda Jazz berwarna merah memandang kearah Kina dengan tatapan tajam.
Sejak dari tadi gadis itu telah berada disana. Memperhatikan interaksi antara Kina dan Darrenjun.
Tatapannya yang begitu tajam dan menusuk terlihat tak bersahabat sama sekali.
Kina menstarter motornya, lalu pergi dari sana.
Gadis itu meremat setir mobilnya dengan kuat. Senyuman licik terukir di bibir indahnya.
"Liat aja, sebentar lagi lo bakalan tau dengan siapa lo berhadapan.β
Agak menunggu beberapa waktu setelah kepergian Kina, baru lah mobil merah itu pergi mengikutinya belakang.
Mobil merah tersebut melesat begitu kencangnya bagai angin. Ia mengejar motor Kina yang berada jauh didepannya. Saat jarak antara motor Kina dan mobilnya hanya berjarak beberapa meter lagi. Baru lah gadis itu melancarkan aksinya.
Ciittt
Brakkk
Hantaman keras mengenai sisi belakang motor Kina. Hingga mengakibatkan ia terpelanting dari atas motornya cukup keras.
Mobil sedan merah tersebut berhenti, memastikan kembali bahwa rencananya berjalan mulus.
"Ini masih belum seberapa. Lo tunggu pembalasan gue selanjutnya.β
Setelah dirasa rencananya telah berjalan mulus, mobil sedan merah itu pun pergi dari sana. Melesat dengan kencangnya.
Sebelum mobil itu pergi, Kina sempat melihatnya. Ia yakin sekali bahwa dirinya baru saja ditabrak dengan sengaja oleh mobil tersebut. Mengingat kembali bahwa keadaan siang itu cukup sepi.
"Awwwww.β
Kina meringis kesakitan. Sekujur tubuhnya sakit. Bahkan kedua lututnya sudah mengeluarkan darah segar.
Gadis itu menghelakan nafasnya kasar. Motornya yang berada tak jauh dari tempatnya, terlihat cukup mengenaskan.
Tak ada siapa-siapa yang bisa ia mintai tolong, keadaan jalanan cukup sepi. Dan lagi, ia tak dapat menghubungi siapa-siapa saat ini juga.
Hapenya telah pecah, efek dari terjatuhnya ia dengan keras dari motornya.
Kina mencoba untuk bangkit. Tapi sayang kakinya berdenyut dan terlalu sakit hingga ia tak dapat melakukan apa-apa selain pasrah. Menunggu seseorang yang lewat dan barang kali bisa membantunya.
Tak lama setelah itu, sebuah motor melewatinya. Hanya sepersekian detik diperlukan pengendaraan itu untuk menyadari siapa yang sedang tergeletak tak berdaya di jalan.
"KINA!"
Pengendara itu menghentikan motornya, kau menghampiri Kina dengan cepat.
Kina mendongak menatap orang yang barusan memanggilnya.
Senyuman Kina terukir begitu saja, saat ia sadar siapa yang berada tepat di hadapannya.
Dia, Rey Agra.
Rey berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Kina.
"Lo gak papa?β Rey memperhatikan setiap inchi tubuh Kina yang mengalami luka-luka.
Awalnya Kina sempat berinisiatif ingin mengatakan kalau dia tak apa-apa agar lelaki yang ada didepannya itu tak perlu terlalu khawatir padanya. Tapi sayang, keadaannya terlalu parah hingga kata 'tidak apa-apa' sangat tak cocok untuknya.
Rey memungut tas Kina yang telah tergeletak di atas aspal jalan. Lalu dibersihkan ya tasnya Kina sebelum mengembalikan pada pemiliknya.
"Gimana kejadiannya? Kenapa lo bisa kayak gini?β
Rey mencecar pertanyaan demi pertanyaan pada Kina. Bagaimana pun ia sangat khawatir terhadap Kina yang tak berdaya seperti ini.
"Gue juga gak ngerti yang jelas gue di tabrak sama orang yang bawa mobil merah.β
Rey terdiam sesaat, pikirannya langsung tertuju oleh satu nama. Dan ia yakin sekali bahwa orang itu lah dalang dari semuanya.
"Yaudah kalo gitu, Lo gue anter. Soalnya motor lo rusaknya parah.β
Kina melirik ke arah motornya sekilas, lalu memandang Rey lagi.
"Sorry ya gue jadi ngerepotin elo.β
Rey tersenyum tipis. Ingin sekali lelaki itu memeluk Kina.
"Gue bakalan lakuin yang lebih dari ini buat lo. Jadi lo gak usah gak enakan lagi ke gue.β
Perasaan Kina merasa tenang mendengar ucapan dari Rey yang begitu indah di telinganya. Rey sungguh peduli terhadapnya dan hal itu membuat Kina semakin kagum padanya.
"Lo bisa bangkit?β Tanya Rey yang sudah berdiri dihadapan Kina.
"Gue coba, Lo bantu gue ya.β
Rey mengangguk dan mengulurkan tangannya didepan Kina.
Baru saja ia berhasil merahi tangan Kina. Tapi sayangnya Kina lebih dulu meringis kesakitan.
"Awww,β Pekik Kina.
Rey melepas genggamannya dan kembali berjongkok dihadapan Kina.
"Bentar ya gue cari bantuan,β Ucap Rey.
Kina hanya mengangguk mengikuti apa yang akan dilakukan Rey untuk menolongnya.
-
-
Selama perjalanan menuju rumah sakit. Perasaan Darrenjun sungguh tak tenang. Entah lah ia juga tak mengerti kenapa itu bisa terjadi.
Darrenjun menghentikan laju motornya dan berbalik. Melihat sudah sejauh mana gadis yang akan ikut kerumah sakit bersamanya.
Dalam radius beberapa meter. Motor yang ia tunggu telah nampak dari kejauhan.
Baru saja Darrenjun ingin menjalankan kembali motornya.
Terdengar suara hantaman yang cukup keras dari belakang.
Ciitttt
Brakkk
Kedua mata Darrenjun melotot dengan sempurna saat melihat hal yang barusan terjadi.
Kina.
Gadis yang ia tunggu telah tergeletak tak berdaya di atas aspal.
Darrenjun telah berdiri. Tapi, sebelum ia pergi. Sebuah pemandangan yang tampak mencurigakan mengganggunya.
Dimana sebuah mobil merah berhenti tepat di depan Kina.
Darrenjun yakin, kecelakaan yang barusan terjadi adalah sebuah kesengajaan dan ia harus mencari tau siapa sosok yang ada didalam mobil merah yang barusan menabrak Kina dengan sengaja.
Mobil merah itu melesat melewati Darrenjun.
Tak menunggu waktu lama, Darrenjun langsung mengikuti mobil merah yang telah berada jauh darinya.
Darrenjun melajukan motornya seperti orang yang ke setanan. Jangan lupakan statusnya sebagai pembalap jalanan yang cukup terkenal. Hal itu membuatnya terbiasa membawa motor dengan kecepatan yang luar biasa.
Saat mobil merah tersebut semakin dekat dengannya. Darrenjun memblok jalan mobil merah tersebut dan mau tak mau si pengemudi ikut berhenti.
Darrenjun turun dari motornya dan menghampiri mobil merah tersebut dengan geram. Ia sudah tak peduli siapa yang ada didalam sana yang jelas Darrenjun benar-benar akan memberikan pelajaran yang tak akan bisa dilupakan oleh orang itu
"Turun Lo!β
Darrenjun mengetuk kaca mobil tersebut dengan keras.
Tak ada respon sama sekali dan hal itu kembali membuat Darrenjun naik darah.
Darrenjun mengambil sebuah batu besar yang ada dipinggir jalan dan mengarahkan baru teresebut ke arah si pengemudi.
"Lo turun sekarang! Atau gue bakalan buat perhitungan sama lo.β
"Gue hitung Sampek tiga, kalo lo masih gak mau keluar. Gue gak ada pilihan lain selai-β
Brakkk
Pengemudi mobil tersebut langsung keluar.
Darrenjun membuang batu besar yang ia pegang asal.
"Jadi elo lagi.β
Darrenjun menatap tajam sang pelaku.
Yang ditatap hanya melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya tak terlihat rasa penyesalan sama sekali.
"Iya. Gue. Lo mau apa?β
"Lagian lo gak punya bukti,β Lanjutnya.
Darrenjun mengepalkan tangganya kuat.
"Oh ya.β
Darrenjun tersenyum miring. Lalu mendekat ke arah gadis itu.
Yesika Yeji. Yaya.
"Sayangnya lo salah nilai gue.β
Darrenjun mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya dan menunjukkan hasil rekaman yang ia lakukan saat Yaya dengan sengaja menabrak motor Kina.
Dari awal, Darrenjun telah memasang kamera untuk merekam perjalannya. Kamera itu ia pasang tepat dibelakang motornya.
Ia tak mengerti mengapa melakukan hal tersebut. Hanya saja firasatnya mengatakan bahwa ia harus waspada dan sebaiknya melakukan hal yang tak masuk akal seperti itu.
Yaya membeku di tempat. Ia tak menyangka bahwa Darrenjun bisa selicik itu.
Setelah menunjukan hasil rekamannya. Darrenjun menyimpan kembali hapenya.
"Gue denger orang tua lo terobsesi untuk menjadi nomor 1 dan gue jadi penasaran apa yang mereka bakal lakuin ke elo kalo videonya kesebar.β
"Jangan!" Teriak Yaya.
"Gue mohon sama lo. Jangan sampek orang tua gue liat.β
Yaya merahi tangan Darrenjun dengan wajah memelas. Ia berharap Darrenjun mengurungkan niatnya itu.
Tapi sayang Darrenjun bukanlah lelaki yang akan termakan oleh bujukan seperti itu. Dengan kasar Darrenjun menghempas tangan Yaya.
"Lo pikir gue bakalan terpengaruh dengan air mata lo itu,β Tawa Darrenjun dengan hambar.
"Asal elo tau. Meski elo sujud di kaki gue sekalipun hal itu gak akan berpengaruh sama sekali. Lo ingat itu baik-baik.β
Setelah itu Darrenjun meninggalkan Yaya yang masih termenung memandang punggungnya yang telah menjauh.
"Ahhh Sialan!" Teriak gadis itu frustasi.
Yaya menendang mobilnya dengan keras. Emosinya sungguh tak terkendali lagi.
Ia tak menyangka bahwa isu mengenai Darrenjun benar adanya. Lelaki yang tak punya belas kasih dan juga rasa simpatik. Yaya terlalu meremehkan lelaki itu. Hingga ia tak sadar bahwa Darrenjun beribu kali menakutkan dari perkiraannya.
Gadis itu merasa frustasi sekarang. Ia tak ingin pulang tentu saja.
Mungkin saat ini keadaan rumahnya akan menjadi kacau balau jika Darrenjun membeberkan hal itu pada kedua orang tuanya. Yaya tau bagaimana sifat kedua orang tuanya jika mendapatkan berita seperti ini. Tak hanya memukulinya. Tapi, orang tuanya pasti akan segera mengirimkannya ke luar negri detik ini juga.
-
-
"Gue lama-lama engap tau gak temenan dengan sih Yaya.β
"Iya gue juga. Mana lagaknya kayak bos lagi. Ih bikin kesel aja tau gak.β
"Sama gue juga ngerasa bosan diperintah sama dia Mulu. Dia kira kita babunya apa?β
"Liat aja, setelah posisinya di gantikan sebagai captain cheers gue gak mau tau. kita harus jauhin dia.β
"Gue setuju dengan lo. Lagian gue lebih seneng tuh dengan si Shu Hua. Malah anaknya cantik, baik, ramah lagi.β
"Iya. Cocok banget jadi captain cheers.β
Byurrr
Amanda berdiri dari tempatnya dan menoleh ke arah orang yang baru saja menyiraminya dengan jus yang ia pesan.
"Lo-"
Amanda memandang Yaya dengan terkejut.
Yaya melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum miring pada gadis yang ia siram tadi.
"Oh jadi gini kelakuan sahabat gue dibelakang gue. Pinter ya lo semua akting,β Sindirnya.
Jeha ikut bangkit dan mengelap rubuh Yerin yang basah.
"Yaya!" Gantian Jeha yang terlihat geram.
"Kenapa? Lo mau lagi?β
Byurrr
Jeha baru saja menyiram tubuh Yaya dengan air yang ada didepannya.
"Lo kira kita takut sama lo?β
Yaya menutup wajahnya dan mengepal tangannya kuat.
"Kalian,β Geramnya.
"Apa? Lo mau ngapa-ngapain kita lagi. Silahkan. Gue uda muak ngadepin sifat Lo yang mirip pisikopat itu.β
"Apa Lo bilang?β
Yaya merahi rambut Jeha dan menariknya dengan kasar. Gadis itu sudah tak peduli Dimana ia berada saat ini. Dan tak ada lagi rasa malu di diri gadis itu.
Seisi kafe memandang kearah meja mereka semua.
"Lepasin rambut gue!" Teriak Jeha yang merintih kesakitan
"Ini balasan karena elo Uda jadi penghianat.β
Tak tinggal diam, Amanda segera membantu Jeha agar terlepas dari Yaya. Dalam satu sentakan kedua gadis itu mendorong tubuh Yaya dengan keras hingga dirinya terjatuh.
Brukkk
"Mulai sekarang lo bukan siapa-siapa kita lagi. Dasar sinting.β
Jeha dan Amanda meninggalkan kafe dalam keadaan yang memprihatinkan. Meski keduanya terlihat kacau. Hal itu tak sebanding dengan keadaan Yaya ya g lebih tragis.
Yaya kini telah terduduk di atas lantai. Bajunya telah kotor oleh air kopi dan rambutnya sudah mirip orang gila.
Hatinya terluka. Kedua teman yang sudah ia anggap keluarha hanya lah orang-orang yang menginginkan popularitas dari dirinya.
Kecewa tentu saja.
Tujuan Yaya kemari bukan lah seperti ini. Dirinya hanya butuh teman untuk berbagi cerita mengenai masalahnya. Tapi, siapa sangka bahwa dirinya lah bahan cerita untuk kedua temannya itu.
Yaya keluar dari kafe dengan langkah lemah. Gadis itu sedang tak berniat untuk pulang kerumah sama sekali. Tapi, mengingat kondisi dirinya membuatnya membatalkan niatnya untuk pergi lebih lama lagi dari rumah.
Ia ingin kabur.
Tapi tak tau kemana.
Tiba-tiba satu nama terlintas dari pikirannya.
Alby, Alby Jonathan
Tak perlu menunggu waktu lama. Yaya mengeluarkan hapenya dari dalam saku. Setelah itu gadis itu mencari kontak orang itu, berniat menghubunginya tentu saja.
Bagaimanapun ia masih berharap kalau Alby masih mau mendengarkannya dan memaafkannya.
Dering pertama, tak ada respon
Dering kedua, masih sama
Dering ketiga, nomor yang ia hubungi sudah tak dapat dihubungi lagi.
Yaya sadar bahwa Alby telah memblokir nomornya. Cukup dari sini Yaya sudah bisa menyimpulkan bahwa Alby masih marah padanya dan tak memaafkannya.
Ia menyesal, telah mengabaikan orang yang mencintainya dengan tulus. Dia terlalu bodoh dibutakan eh obsesi sematanya.
Yaya menghembuskan nafasnya lelah. Kini ia tinggal sendiri tak akan ada lagi yang bisa ia ajak cerita. Dan sudah saatnya ia berjalan tanpa pegangan.
...******...
...πCUTTON CANDYπ...
...Jangan lupa untuk menghargai penulis ππ...