Cutton Candy

Cutton Candy
Kesepakatan



Brakkk


Dum


"Paan lo sih Kin grasak grusuk mulu dah perasaan!"


"Tau nih. Bikin kaget aja dari tadi,” Omel Lala dan Mita barengan.


Mereka sejak dari tadi sudah jengah ngeliat Kina yang tingkah absurbnya menjadi-jadi.


Didalam kelas, Kina lebih banyak tiduran diatas meja sambil mengucapkan hal yang aneh bagi mereka. Padahal mereka lagi pada menyalin catatan pelajaran yang akan dikumpulin nanti.


Kina mengangkat kepalanya dari atas meja dan memandang kedua temannya.


"Sorry. Gue cuma ... ahh. Pusing dah,” Kina tak melanjutkan ucapannya dan memilih menutup kedua wajahnya lalu kembali melakukan ritualnya yang meniduri kepalanya diatas meja. Kali ini dia menutupi wajahnya dengan tasnya.


"Gak jelas amat lo dah,” omel Lala yang kesal. Karena ulah Kina catatannya jadi ke coret.


Kina gak peduli dan tatap melakukan kegiatanya yang unfaedah.


Meratapi kembali segala perkataan yang telah dikeluarkan ke Darrenjun. Karena emosinya membuat dirinya jadi pusing berkepanjangan. Memikirkan cara untuk meredam amarah Darrenjun yang semakin menjadi karena ulahnya. Bisa dikatakan misinya gagal total dan dia akan kehilangan laptopnya untuk selama-lamanya. Salahnya sendiri tidak bisa lebih bersabar menghadapi Darrenjun.


Seseorang berjalan memasuki kelas dengan derap langkah yang sedikit tergesa-gesa. Seperti barusan tengah berlari.


Saat telah berada didalam kelas, dia langusung menghampiri meja orang yang telah mengusiknya.


"Kina,” panggilnya pelan.


Kina mengangkat wajahnya dari meja dan memandang orang itu dengan kening berkerut.


"Apaa? Lo mau minjem pulpen lagi? Gak ... gak bisa. Uda cukup ya gue jadi tumbalnya elo hari-hari. Gak buat hari ini dan seterusnya. Lo mau ngasih alasan apalagi gue tetep kekeh gak bakalan ngasih. Titik.”


"Bukan itu. Soal pulpen lo tenang aja. Gue uda beli,” Arji menunjukan satu kotak penuh pulpen yang telah dia beli.


Kina sempat tercengang dengan barang yang dibawa Arji. Tak menyangka Arji menepati janjinya.


Lalu, Kina melempar pandangan ke Arji lagi. "Jadi lo mau ngapain?”


"Gue cuma mau ngomong.”


"Terus si bapak dari tadi ngapain disini? Kan uda ngomong,” Tanya Kina sebal. Karena Arji telah menganggu ritualnya yang sedang uring-uringan.


"Gue serius. Ada hal penting yang mau gue tanyain ke elo.”


Mita dan Lala yang sedang menyalin catatan mendadak menghentikan aktifitasnya dan memandang keduanya dengan minat.


"Yaudah ngomong atuh,” Kata Kina ke Arji.


Arji menghelakan nafasnya. "Jangan disini,” ucapnya dengan serius.


"Terus mau kemana?”


Arji mengedikan dagunya mengarahkan keluar kelas.


Gantian Kina yang menghelakan nafasnya.


"Yaudah,” jawab Kina akhirnya. Menyetujui permintaannya Arji.


...\=\=\=\=\=...


"Lo ada apa dengan Darrenjun?” tanya Arji. Saat mereka telah berada diluar kelas yang kebetulan cukup sepi.


"Gue—“


Arji terlihat menunggu jawaban yang akan Kina berikan.


Kina ngerasa dilema untuk menceritakan perihal masalahnya ke Arji. Karena jujur dia gak mau ada yang tau soal permasalahannya ini. terlebih Arji kadang suka ngomong kelepasan. Yang ada semua orang bakalan tau.


Jadi, dari pada semua rencananya berantakan Kina memilih untuk kukuh pada pendiriannya.


Bohong lebih baik.


"Cuma perlu sesuatu ke dia,” ucap Kina seadanya.


"Sesuatu apaan? Lo lagi gak maksud buat PDKT dengan dia kan?” selidik Arji.


Kina memandang Arji dengan horor. "Idih. Lo kalo ngomong yang beneran aja kali bambang. Gue gak ada tuh perasaan ke dia. Gue cuma mau ngebahas masalah dokumen dia".


Arji mengelus dadanya, merasa lega. "Syukur deh kalo lo gak ada niatan begituan.”


"Ya enggak lah. Lo ada-ada aja,” kesal Kina.


Arji tersenyum senang. "Jadi gitu. Yaudah deh gue cabut dulu Kin.”


"Oke,” jawab Kina singkat.


Setelah Arji pergi. Kina akhirnya bisa bernafas lega.


Untunglah sifatnya Arji gak berubah dari dulu. Sifat gak pekaan sama keadaan sekitar.


Kina jadi ingat, kalau dulu aja pernah ada yang ngeletakin bingkisan dan juga coklat dimejanya Arji dan Arji ngira semua hadia yang ada di mejanya itu pemberian dari Sinterklas. Malah pake acara ngumumin didepan kelas kalau Sinterklas datang ke kelas mereka dan bagi-bagi hadiah.


Pernah juga ada yang ngasih dia hadia secara langsung. Bukannya mengerti dengan kode yang diberikan sang pemberi. Arji malah mengira kalau orang yang memeberikannya hadiah karena salah informasi soal ulang tahunnya. Alhasil Arji selalu ngomong perihal ulang tahunnya dulu sebelum ada orang yang memberikannya hadiah. Karena ketidak pekaannya seorang Arji Aditya, membuat semua orang yang naksir ke dia jadi pada kapok.


Takut kalau pemberiannya disalah artikan lagi


Makanya kalau ada yang naksir Arji mending mikir dua kali. Karena Arji gak bakalan paham kalau tuh orang cuma modal kode-kodean. Mending kalau beneran suka kedia. Langsung aja tembak. Dijamin dia langsung paham kalau begituan.


Balik ke Kina yang masih bingung mencari jalan keluar untuk mendekati seorang Darrenjun untuk membantunya menghadapi krisis nilai.


Silahkan kalian katakan saja Kina itu seorang gadis bodoh, idiot, tidak punya rasa malu dan labil.


Karena dengan tetap memegang teguh pendiriannya. Kina masih saja mencoba mendekati Darrenjun. Padahal kata-kata yang Darrenjun ucapkan cukup menyakitkan. Dan ini, Kina malah menunggunya di parkiran sekolah.


Darrenjun datang ke parkiran sekolah. Baru saja dia hendak memakai helmnya. Kina secara tiba-tiba muncul dihadapannya dan membuat sang empu terkejut bukan main.


"LO!" teriak Darrenjun kencang. Karena akibat perbuatan Kina, hampir membuat dia mengalami serangan jantung.


Kina menyengir. "Sorry Jun,” katanya dengan penyesalan.


Renjun merotasikan bola matanya malas.


"Jun—“


"Lo masih kekeh mau ngikutin gue terus?”potong Darrenjun dengan jengah.


Kina mengangguk lambat.


Darrenjun menghelakan nafasnya, lalu meletakan kembali helmnya.


"Lo mau apa? Gue capek diuber elo terus.”


"Gue juga capek Jun nguber lo mulu. Tapi gue juga gak bisa berhenti, karena gue mau minta tolong ke elo.”


"Tolong apaan?”


"Gini Jun. Lo kan pinter, dan hampir bisa dibilang jenius juga. Gue mau minta tolong supaya elo mau bantui gue buat belajar. Sampek 1 bulan ini doang kok. Lo mau ya.”


Darrenjun melongoh dengan ucapan Kina barusan. Sama sekali tak menyangka kalau Kina selama ini menguber dirinya, cuma karena ingin diajarin olehnya.


Darrenjun memandang Kina lagi. "Terus kalo gue mau bantui lo buat belajar. Untungnya di gue apa?” Darrenjun berucap sambil melipat tangannya didada.


"Gue ..."


"Gue ..."


Ayo Kina berpikir. Apa tawaran yang bisa lo kasih buat Darrenjun, supaya dia dengan suka rela mau bantui elo.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya.


"Lo gak bisa jawab kan?" Tanyanya.


"Sorry, gue bakalan tetap tolak tawaran lo. Kalo semua ini gak ada untungnya buat gue.”


Kina diam membeku. Tak tau mau menjawab apalagi. Darrenjun benar-benar membuatnya skak mat.


Darrenjun memakai helmnya dan duduk diatas motornya. Dia hendak pergi dari sana.


Tapi, dengan langkah cepat Kina menahannya.


Darrenjun sedikit tersentak karena spontanitasnya Kina.


"Gue ... gue ... bakalaan lakuin apa aja yang lo suruh. Lo bisa jadiin gue babunya elo.” Final Kina. meski dengan ragu dia mengatakannya.


"Lo yakin?" Tanya Darrenjun memastikan ucapan Kina barusan.


Kina mengangguk penuh keyakinan.


"Oke,” ucap Darrenjun semangat.


"Deal.” Darrenjun mengulurkan tangannya didepan Kina. Bermaksud mengajaknya untuk berjabat tangan. Sebagai tanda kalau mereka menyepakati keputusan ini.


"Eh—“ Kina terkejut bukan main. Karena akhirnya perjuangannya membujuk Darrenjun agar mau menerima tawarannya. Disetujui juga olehnya.


Kina menyambut uluran tangan Darrenjun dengan keyakinan penuh. Walau hanya sampai saat ini saja.


"Mulai besok lo resmi jadi babu gue. Lo wajib ngelakuin semua hal yang gue perintahkan dan lo gak boleh nolak itu,” terang Darrenjun dengan sedikit penekannan disetiap perkataanya.


Kina meneguk ludahnya sendiri. entah kenapa aura negatif menyeruak didalam diri Darrenjun. Kina sedikit memiliki firasat buruk akan hal ini.


Tapi dengan cepat dia menepis segalanya. Dia sudah jauh melangkah dan tidak ada kata mundur baginya.


"Gue minta nomor lo kalo gitu. Supaya mudah bagi gue untuk ngehubungi lo kapan aja,” Pinta Darrenjun ke Kina.


"Jadi gue harus stay 24 jam gitu buat lo?” Tanya Kina memastikan.


Darrenjun mengangguk. Lalu, dia mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya dan memberikannya kepada Kina.


Kina menerima hapenya Darrenjun dan langsung mengetikan nomornya sendiri dihapenya Darrenjun.


"Uda,” kata Kina sambil menyerahkan hapenya ke Darrenjun.


"Besok pagi lo wajib uda ada disini sebelum gue datang. Kalo lo besok telat. Kita anggap kesepakatan ini batal,” jelas Darrenjun.


Kina menghembuskan nafasnya. "Iya gue tau.”


"Bagus. kalau gitu gue cabut dulu.”


Kina mengangguk singkat dan memberi ruang untuk Darrenjun lewat.


Mungkin setelah ini baru lah dia akan menyesalin perkataannya sendiri kepada Darrenjun. Tapi untuk sementara waktu biarlah kebodohannya menjadi jembatan baginya untuk bisa mendapatkan kembali laptop kesayangan miliknya. Kina sungguh merindukan para kekasih Drakornya. Makanya ia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Sudah cukup satu Minggu baginya dipisahkan secara paksa oleh mamanya.


Kina berharap semoga ketakutannya tidak menjadi kenyataan. dan semoga saja seorang Darrenjun tidak seperti pemikirannya selama ini.


...\=\=\=\=\=...


...***To be continue... ****💓💓*...