
...💓CUTTON CANDY💓** **...
...-...
...(If i was your boyfriend, i'd never let you go 🎶 -Song by : Justin Bieber)...
-
Kina baru saja terbangun dari tidurnya, matanya ia kerjap kan beberapa kali saat pantulan matahari memasuki celah-celah jendela kamarnya.
"Semoga cuma mimpi."
Berulang kali kata itu ia ucapkan pada dirinya sendiri. Seakan ucapannya itu telah menjadi sebuah mantra untuknya, berharap apa yang telah terjadi kemarin malam hanya lah mimpi isengnya saja.
Kina memegang kepalanya sendiri, bayangan itu tiba-tiba kembali datang menyerangnya dan membuatnya bergidik ngerih.
Bayangan dimana Darrenjun memintanya menjadi pacaranya. Ralat bukan meminta, tapi memerintahkan untuk menjadi pacarnya.
Kina segera bangkit dari atas tempat tidurnya, bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segala pikiran konyol yang mengganggunya.
-
-
Baru saja langkah kakinya bergerak turun diantara anak tangga rumahnya, langkahnya seketika terhenti, ia menjadi terdiam ditempat saat melihat sosok lelaki yang ingin ia hindari untuk waktu yang cukup lama.
Dia, Darrenjun Evans. Tengah duduk dengan manisnya menikmati sarapan pagi bersama keluarganya.
Kina menggelengkan kepalanya dengan cepat mengusir pikiran tak masuk akalnya itu, "Gak. Gak mungkin,"Ucapnya, Barangkali sosok Darrenjun yang tengah ia lihat itu hanya lah delusinya.
"Kina."
Kina langsung.menoleh ke arah Tia yang barusan memanggilnya.
"Ngapain diri disitu, ayo kesini," Ajak Tia.
Kina kembali melirik kursi yang Darrenjun dudukin dan berharap sosok itu tak ada. Tapi, sayangnya dugaannya salah besar karena pada kenyataannya Darrenjun masih duduk disitu dan sekarang lelaki itu malah memandang ke arahnya. Bahkan Kina sempat melihat Darrenjun tersenyum ke arahnya.
Tersenyum, benar-benar tersenyum padanya.
Kina berjalan dengan langkah berat menuju ruang makan. Tatapan Darrenjun masih tertuju ke arahnya dan yang lebih parahnya lelaki itu masih mempertahankan senyumannya.
"Lo ngapain disini?" Tanya Kina dengan ketus, saat dirinya baru saja duduk dikursinya.
"Sarapan," Jawab Darrenjun acuh.
"Kenapa harus dirumah gue segala? Emang dirumah lo gak ada makanan apa?"
"Ada."
"Lah terus? ngapain kesini?"
"Gue pengen aja. Lagian mama lo yang ngajak gue buat sarapan disini."
Plakkkk
"Awwww," Kina meringis saat tangan Tia mendarat dengan mulusnya pada sebelah lengannya.
"Gak sopan," Peringat Tia.
"Apaan sih ma?" Protes Kina.
"Kamu tuh gak sopan. Darrenjun itu kesini mau jemput kamu. Bukannya bersyukur malah jahat sama orang."
"Lah Kina gak minta juga, dia nya emang gabut."
"Kamu ini-" Tia ingin melayangkan kembali pukulannya pada Kina, tapi teringat akan Darrenjun yang ikut bergabung dengan mereka, jadi dengan secara terpaksa Tia mengurungkan niatnya itu.
"Lo ngapain sih pake acara jemput gue segala?? Gue kan uda sembuh," Ucap Kina sedikit berbisik pada Darrenjun, menghindari ia akan dimarahin oleh mamanya dan jangan lupakan papanya yang sejak dari tadi duduk bersama mereka. Meski tak bersuara, jangan pikir Max akan diam saja jika melihat Kina mulai semakin kurang ajar pada tamu.
anggap saja Darrenjun adalah tamu dirumahnya. tamu yang tak diundang lebih tepatnya.
"Gue sengaja jemput elo karena sekarang lo kan pacar gue."
Kina terpelongoh mendengar ucapan Darrenjun barusan. jika tadi ia hanya berbisik, maka Darrenjun adalah kebalikannya. karena lelaki itu memang tak berniat untuk berbisik dengan Kina.
Seketika ruang makan menjadi hening, ucapan Darrenjun barusan membuat seluruh keluarganya memandang ke arah mereka secara bergantian. Tatapan ingi memnita penjelasan.
Kina menutup wajahnya sendiri merasa malu plus dongkol dengan ucapan Darrenjun yang kelewat jujur itu. Ralat, dia tak tahu menahu soal hubungan mereka, Hanya lelaki itu saja yang mengklaimnya sebagai pacarnya.
"Kalian pacaran?" Akhirnya Max bersuara juga. dan tentunya itu berkat pengumuman Darrenjun barusan.
"Enggak pa kita cuma-"
"Kami memang berpacaran om, tante. Maaf sebelumnya, jika saya memberitahukannya dengan cara dan diwaktu yang kurang tepat. dari itu saya mohon doa restunya."
"Doa restu, lo kira lagi lamaran. Dasar gila," Desis Kina yang tak terima dengan pengumuman yang baru saja disampaikan Darrenjun barusan.
"Sejak kapan kita pacaran?" Elak Kina.
"Kemarin malam," Jelas Darrenjun.
"Lo halu."
Darrenjun tak menjawab.
"Om sih boleh-bolehin aja Ren. Cuma om mau ngingetin sekolah kalian jangan sampai keganggu hanya karena hubungan kalian."
"Papa kita itu eng-"
"Pasti om," Jawab Darrenjun dengan yakin.
"Oh ya Ren, kalo gitu sekalian ajarin Kina terus belajar ya. Tante percayakan dia sama kamu," Sambung Tia dan mendapatkan pelototan tajam dari Kina.
Tapi sayangnya, hal itu tak berpengaruh pada wanita itu. Malahan ia tak merasa sama sekali bahwa Kina memberikan kode untuknya.
Gadis itu menjadi kesal setengah mati, karena makhluk yang bernama Darrenjun Evans itu telah merusak paginya yang indah ini
"Pasti Tante, saya akan menjadi guru private nya Kina mulai dari sekarang dan terima kasih untuk restunya."
Kina masih tak mengerti dengan isi kepala Darrenjun yang telah mengklaim dirinya sebagai pacar. Ditembak saja pun tidak.
"Kalo pacaran jangan aneh-aneh. Sewajarnya," Peringat Max.
"Pasti om, saya aka jagain Kina dengan baik."
Jika semua yang ada dimeja makan pagi ituu terlihat berbahagia, berbeda dengan Kina yang telah dongkol setengah mati. Rasanya gadis itu ingin segera menyeret Darrenjun keluar dari rumahnya dan tak akan mengizinkan lelaki itu memasuki rumahnya lagi.
"Kalo kak Kina dan kak Darrenjun uda pacaran, bakalan nikah dong nantinya."
-
-
"Gue saranin, Lo buruan bangun dari mimpi Lo. dan Sejak kapan lo dan gue pacaran?"
Darrenjun merotasikan bola matanya malas, sudah berulang kali ia menjelaskan perihal yang sama dan gadis itu masih saja lupa.
"Kemarin malam ditaman kompleks," Jelas Darrenjun singkat.
"Lo nyuruh gue bukan nembak gue."
"Jadi lo ngode pengen di tembak beneran?? Oke gue akan pertimbangin lagi."
Kina tercekat, lalu mengeleng cepat. "Enggak. Ahh intinya lo dan gue itu gak pernah punya hubungan apa-apa. Kita gak pernah PACARAN," Tekan Kina.
"Gue gak setuju."
"Gue gak minta persetujuan elo, lagian lo gak boleh main paksa."
"Lo nolak Rey, jadi uda jelas hati elo itu uda berubah haluan ke gue."
"Idih lo geer amat dah jadi manusia. Jangan sembarangan ngambil kesimpulan, gue nolak Rey itu karena-" Kina terdiam, sebenarnya ia juga tak tahu alasannya menolak Rey.
"Kenapa? Lo gak punya alasan bagus kan?"
"Bukan! Ahh lo gak perlu tau deh. Intinya gue gak suka elo titik."
"Sekarang sih iya tapi bukan berarti gak ada peluang."
"Peluang apaan? gak akan ada."
Darrenjun tersenyum miring lalu mendekat ke arah Kina, memangkas jarak antara keduanya. Kina menelan ludahnya dengan susah payah, pasalnya aura Darrenjun terlihat berbeda dari biasanya. Jika hari-hari sebelumnya Darrenjun diselimuti dengan aura dingin dan juga mencengkam. Tapi tidak untuk hari ini, lelaki itu terlihat aneh. Sangat aneh.
Darrenjun menatap Kina lembut, Lembut hingga membuat Kina tak yakin bahwa lelaki yang berdiri di hadapannya ini, benar seorang Darrenjun Evans.
"Gue akan ngebuat lo jatuh cinta ke gue. persis apa yang uda lo lakuin sama gue," Janjinya.
Kina segera mendorong tubuh Darrenjun, menjauh darinya. "Lo gila! Ini sekolahan, lo jangan buat mesum ke gue."
Kina memeluk dirinya sendiri pikirannya telah berkelana entah kemana.
"Gue gak niat mesum. Tapi kalo lo mau gue bisa," Ucap Darrenjun sembari tersenyum miring kea rahnya.
Ini bukan lah dirinya sebenarnya, tapi entah sejak kapan, Darrenjun ingin mengubah imagenya yang begitu berharga hanya untuk seorang Kina. Sesuai saran yang ia dapatkan dari Lucas.
*'Lo harus jadi soft hingga membuat Kina meleleh didekat lo'. Itu lah pesan yang ia dapatkan dari Lucas. *
Kina kembali dibuat bergidik ngerih dengna perubahan sikap Darrenjun padanya. Sungguh ia sangat tak terbiasa dengan perubahan ekstream ini.
Darrenjun berusaha menyamain langkahnya dengan Kina hendak merahi tangan gadis itu.
"Tungguin!" Teriak Darrenjun pada Kina. Tapi sayangnya Kina malah berlari.
"Jangan lari entar lo jatuh."
Kina tak menyahut. gadis itu malahan menutup kedua telinganya.
-
-
Sesampainya didalam kelas, nafas Kina sudah tak beraturan lagi. Ia tak habis pikir dengan sikap Darrenjun yang hampir berubah 180 derajat itu. Jika dalam keadaan normal , Darrenjun tak akan mungkin mengejarnya seperti tadi, jangankan mengejar, menyapanya saja tak akan mungkin. Dan ini, Kina sudah seperti dikejar oleh binatang buas rasanya.
Sempat ia berpikir bahwa Darrenjun mungkin saja kerasukan arwah om-om genit, mengingat bagaimana ucapan yang keluar dari bibir lelaki itu. Kata-kata yang tak masuk akal.
Jika benar Darrenjun kerasukan, Kina siap untuk menemaninya untuk di ruqiyah.
"Lo habis ngapain Kin? banyak amat tuh keringet." Kina menoleh ke arah Mita yang duduk disebelahnya.
"Dikejar arwah om-om genit," Ucapnya.
"HAA? Lo kan bukan indigo. Gimana ceritanya dikejar sama arwah?"
"Susah dijelasin."
"Terserah lo aja gue gak paham."
"Btw, gue denger lo jadian ya sama Darrenjun?"
"Siapa yang bilang?"
"Lala."
Baru saja Kina berbalik mencari keberadaan sang empu, gadis itu baru saja masuk kedalam kelasnya.
"Ciee yang baru jadian," Goda Lala.
"Paan dah. gak ada tuh."
"Idih bohong."
Kina mendengus sebal. ia yakin lelaki yang bernama Mark itu lah yang memberitahu Lala dan berakibat dengan kesalah pahaman seperti ini. Dan yang membuat Kina semakin pusing, Rey masih lah bagian dari mereka.
Akan bagaimana ia bersikap jika ia berpapasan dengan Rey yang jelas-jelas ia tolak dengan dengan alasan yang masih menjadi misterus untuknya dan sekarang ia malah dihadapkan dengan gosip yang telah tersebar luas berkat Mark.
Sepertinya Kina harus memberikan penghargaan pada Mark sebagai kategori penyebar gosip tercepat.
Kina membaringkan kepalanya diatas meja lalu mulai bergumam. "Gue sama Darrenjun itu gak jadian."
"Lo bohong. Mark uda cerita."
Kina memejamkan matanya sesaat, persis seperti dugaannya, karena Mark lah yang menyampaikan semua beritanya. baik sekali dia bukan.
"Lagian lo tadi pagi dianterin sama Darrenjun."
"Emang selama ini lo gak pernah liat gue dia anter dia?"
"Pernah sih. Tapi ini kan beda."
"Gak ada bedanya, kita tetap sama. gak ada hubungan Spesial."
"Terus kenapa lo nolak Rey kalo lo gak suka Darrenjun."
Kina membeku, akhirnya kedua temannya tahu tentang hal itu juga.
"Gue juga gak ngerti," Ucap Kina dengan suara pelan.
"Itu berarti emang bener kalo lo naksir Darrenjun."
"Enggak!!" Bantah Kina cepat, hingga seisi kelas menatap ke arahnya.
"Lah terus?"
"Lo gak suka diantara kita kan?" Ucap Lala horor.
Kina merotasikan bola matanya malas, bisa-bisanya Lala memiliki pikiran sedangkal itu terhadapnya.
"Ya enggak lah, Lo gila apa?"
Lala terkikik geli. "Bagus deh. Kirain Kin hehe."
"Uda ah, gue capek kalo mau ngomong terus, masih engap."
"Oke oke. Lo istirahat aja, anggap jam pelajaran hari ini, Jamkos buat lo."
Kina tak bersuara lagi, karena memang nafasnya sedikit sesak akibat berlari kencang tadi.
-
-
Drapp
Drapp
Drapp
Kina mengepalkan tangannya kuat-kuat, sudah hampir setengah jam Arji berjalan mondar-mandir di sebelah mejanya dan membuatnya merasa terganggu. Padahal ia ingin sekali menikmati jam kosong dengan tidur siang.
Tapi sayangnya ia tak bisa melakukannya, jangankan untuk tidur, baru saja matanya terpejam ia sudah dikejutkan dengan langkah kaki Jisung yang begitu berisik.
"LO SEBENARNYA MAU NGAPAIN SIH?!" Teriak Kina dengan kesal, stok kesabarannya pun sudah habis.
Arji menghentikan langkahnya, lalu menatap Kina dengan gelisah. "Gue mau nanya, tapi jawab yang jujur."
Kina mengerutkan keningnya. "Nanya apa?"
"Hmm itu kan, Lo beneran pacaran sama Darrenjun?"
"Gue-"
"Enggak kan, lo nolak dia kan?"
"Hmmm-"
"Jawab Kin, gue penasaran," Ucap Arji dengan semangat.
"Dia gak nembak gue, jadi kita-"
"Kita beneran pacaran."
Percayalah itu bukan suara Kina, melainkan dari lelaki yang tengah mereka obrolin, dan lelaki itu tengah berjalan ke arah keduanya dengan gaya khasnya yang angkuh.
Setelah jaraknya hanya tinggal beberapa centi lagi dengan Kina, lelaki itu merangkul Kina, seolah-olah memberi isyarat bahwa Kina miliknya.
"Gue gak nanya elo. Gue nanya Kina."
Arji menepis kasar tangan Darrenjun dan mendorong tubuh lelaki itu untuk menjauh dari Kina, tapi sayangnya dengan cepat Darrenjun kembali merangkul Kina kali lebih erat dan tentunya hal itu membuat Kina terkejut setengah mati.
"Jawab Kin," Arji memandang Kina lagi, berharap jawaban yang akan disampaikan Kina sesuai perkiraannya.
"Gue gak-"
"Ayo ke kantin keburu rame." Belum sempat Kina membantah, Darrenjun lebih dulu menarik tangannya.
Dan siapa sangka jika Arji mengekori keduanya. Ia merasa penasaran dengan kelanjutan cerita Kina. Karena perasaannya mengatakan bahwa Kina masih belum memberi jawaban pada Darrenjun.
Baru saja Kina ingin melepas genggaman Darrenjun pada jemarinya, Darrenjun lebih dulu mendekatakan bibirnya ke arah telinga Kina, lalu berbisik.
"Jangan di lepas," Ucap Darrenjun dengan sura pelan.
Tanpa diduga Kina malah diam memilih mengikuti kemauan lelaki itu. Entahlah ia merasa pusing dengan sikapnya ini. Bisa-bisanya ia luluh karena intonasi suara Darrenjun yang terdengar seperti memohon itu.
Arji menghentikan niatan awalnya yang ingin mengekori keduanya. Ia jelas melihat dengan jelas bagaiimana Darrenjun berhasil menggenggam tangan Kina dengan mudah, tak sepertinya yang hanya bisa diam dan bekhayal bahwa Darrenjun adalah dirinya.
"Harusnya gue Kin, bukan Darrenjun," Ucapnya dengan pilu.
Arji berputar arah. ia ingin sendirian, menyiapi hatinya yang mungkin akan lebih terluka lagi saat melihat kebersamaan keduanya.
Helaan nafas keluar dari bibir Arji lagi.
Tanpa Arji sadari, ada sepasang mata lentik yang menatapnya dengan iba. dan naasnya orang itu menjadi sakit melihat Arji terlihat sedih seperti itu.
Ia tahu alasan yang membuat Arji menjadi terluka. Tapi, sungguh ia tak ingin menjadi orang yang munafik, karena kenyataannya ia merasa amat senang, karena jalannya akan semakin mudah.
Tak akan ada lagi yang menghalanginya untuk bisa mendapatkan hati Arji dan ini lah kesempatan baginya untuk bisa mengobati hati Arji.
"Keyla semangat!" Soraknya, menyemangati dirinya sendiri.
...-...
...💓CUTTON CANDY💓** **...
...-...
...Terima kasih sudah mampir 🙏🙏 jangan lupa kasih vote, saran dan masukan kalian semua ya 😊😊...