Cutton Candy

Cutton Candy
Perasaan Itu



...💓CUTTON CANDY💓...


...****...


...(Anehnya, semakin ingin melupakan perasaan itu. Bayangan lo seakan berputar didalam kepala gue -Darrenjun Evans)...


...-...


Suara ricuh yang berasal dari arah lapangan sepak bola, membuat Kina semakin mempercepat langkahnya. Tanpa ada yang memberi tahupun Kina sudah yakin sekali penyebab itu semua berasal dari kedua lelaki yang merupakan bintang sekolah. Darrenjun dan Alby.


Sebenarnya Kina tak yakin sejak kapan Darrenjun yang merupakan anak baru dinobatkan menjadi bintang sekolah. Entah lah ia memang sangat kudet mengenai berita terbaru di sekolahnya. Lain kali Kina harus sedikit tertarik mengenai perubahan yang ada disekitarnya.


Hanya saja ia masih bingung penyebab utama kedua lelaki itu melakukan pertandingan mendadak seperti ini, seingatnya Darrenjun sama sekali tak pernah tertarik untuk melakukan pertandingan seperti ini.


Kina melewati gerombolan yang tampak tak ingin memberinya ruang untuk lewat barang sedikitpun dengan susah payah. Tapi bukan Azkina namanya jika iya tak dapat menerobos gerombolan itu. Meski tak sekali dua kali iya mendapat omelan dan jangan lupakan kakinya yang terinjak dan bahkan tersandung, bagaikan sebuah adegan film rasanya.


Setelah berhasil berjuang melewati itu semua, Kina mengedarkan pandangannya ke segala penjuru mencari keberadaan salah satu temannya yang mungkin berada ditempat itu juga. Dan ingin ia tanyak in. Agak keki rasanya berdiri sendirian.


"Akhirnya lo dateng juga."


Seseorang baru saja menepuk pundak Kina pelan, dengan segara ia berbalik.


Kina merasa lega, meski ia tak bertemu kedua sahabatnya, tapi setidaknya dia masih bertemu dengan orang yang ia kenal.


"Lo sendirian?"


Mark menggeleng. "Gue bareng squad gue," Tunjuk Mark kearah yang ia maksudkan.


Kina mengikuti arah pandang Mark dan menemukan, Emilio, Haikal dan Arji yang tengah fokus menonton pertandingan berlangsung.


"Lo kok bisa disini?" Tanya Kina dengan heran, sebab pasalnya jarak antara tepat ia berdiri dengan teman-temannya cukup jauh.


"Gue tadi liat elo kebingungan makanya nyusul kesini."


Kina mentap Mark dengan wajah haru.


"Ekspresi lo biasa aja, yaudah mending sekarang lo ikut kita aja. Kasian elo sendirian, mana banyak yang dorong-dorongan lagi."


"Lo kok baik."


"Gue emang baik, elo nya aja baru nyadar," Canda Mark.


Kina hanya tersenyum tipis, lalu mengikuti Mark menuju yang lainnya dari belakang.


"Ini sebenarnya ada apa sih?" Tanya Kina pada Mark saat keduanya telah berada di mana Mark berdiri sebelumnya.


Mark mengedikkan dagunya ke arah lapangan. "Noh si Darrenjun ngajak tanding Alby."


"Biar apa coba? Bukannya tuh anak gak pengen masuk satu ekskul pun?"


"Lagian emang dia bisa main bola?"


"Ya bisa lah, Darrenjun apa yang gak bisa coba?"


"Lo bener gak tau alasan dia nekat ngajak tanding Alby itu kenapa?"


Kina menggeleng kuat. "Mana gue tau begituan, emang gue cenayang, tau masalahnya dia apa."


Mark terkekeh pelan dengan ucapan spontan Kina. "Karena elo. Itu alasannya."


"Kok gue?" Tunjuk Kina ke dirinya sendiri.


Mark menarik nafasnya sebentar, lalu memandang Kina yang masih menatapnya dengna wajah polosnya.


"Darrenjun itu lagi berusaha ngejahui semua orang yang berpotensi menjadi pengganggu hubungan kalian. Lo dan Darrenjun," Jelas Mark, agar Kina langsung mengerti.


"Maksud lo dia ngajak gelut semua orang gitu?"


Mark menepukkan wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Lo dan Darrenjun itu emang cocok banget. Sama-sama gak peka."


Kina semakin bingung dengan ucapan Mark, pasalanya otaknya sama sekali tak bekerja untuk mencerna tiap ucapan Mark. Lebih simpelnya Kina terlalu bodoh memahami segala urusan percintaan.


"Btw, lo semua gak ada yang ikut tanding apa?"


"Sorry bukan di skill kita," Jawab Emilio dengan bangga.


Kina hanya manggut-manggut mengerti lalu memandang ke arah lapangan lagi. Disana tampak pemandangan dimana Darrenjun dan Alby yang sedang bertanding bukan bergulat.


Dari kejauhan Kina bisa melihat dengan jelas bagaimana Darrenjun yang begitu lihainya menggiring bola, menghindari lawannya. Kina akui kemampuan Darrenjun luar biasa. Darrenjun adalah makhluk es yang hampir sempurna.


Dalam beberapa menit kemudian Darrenjun menendang bola secara keras kearah gawang dan....


"GOL!!"


Teriak seluruh penonton yang mendukung Darrenjun ditempat itu dengan semangat.


Kina tak bereaksi apa-apa, ia hanya memandangi wajah Darrenjun yang terlihat puas dengan pekerjaannya itu.


Entah bagaimana bisa, seperti memiliki radar, Darrenjun tiba-tiba menoleh ke arahnya dan dalam bebrapa detik kemudian ekspresi lelaki itu berubah. Darrenjun tersenyum dengan manis kerahnya.


Jika dalam keadaan normal Kina akan berpaling ataupun berpura-pura tak melihat itu semua, tapi, entah mengapa gadis itu malah diam seperti patung mentapa wajah Darrenjun, seperti terhipnotis oleh senyuman yang Darrenjun berikan padanya.


Salah satu murid yang bertugas menjadi wasit, meniupkan fluit menandakan berakhirnya pertandingan.


Alby menghampiri Darrenjun lalu tersenyum tipis kearahnya.


"Lo hebat," Aku Alby pada Darrenjun.


Darrenjun tak bereaksi apa-apa, lelaki itu hanya menatapnya dingin. "Gue gak butuh pujian lo, yang gue butuhin lo harus ngikutin kesepakatan kita."


Alby mengangguk singkat. "Gue ngerti, sekali lagi selamat buat lo, semoga berhasil dan kalo lo berubah pikiran gue bakalan siap Nerima elo kapan aja."


"Gue gak tertarik," Jawab Darrenjun datar, lalu pergi meninggalkan Alby begitu saja.


Darrenjun kembali melirik kearah pinggir lapangan mencari sosok Kina diantara kerumunan orang-orang itu.


Lagi, seperti memliki sinyal yang begitu kuat, Darrenjun bisa dengan mudahnya menemukan sosok itu. Sosok yang masih memandangnya dalam diam, Darrenjun sempat berharap gadis itu akan menyambutnya dengan pujian manis dari bibirnya. Tak harus dikejar lalu di peluk dengan erat, sungguh Darrenjun tak terlalu menginginkan hal tersebut.


Dengan langkah cepat Darrenjun berjalan kearah Kina, jantung Darrenjun berdegup bukan main saat langkahnya semakin dekat dengan gadis yang ia sukai itu.


"Gimana gue tadi? Keren kan?" Tanya Darrenjun saat dirinya telah berada dihadapan Kina.


"Iya lo hebat," Jawab Kina seakan ia sedang enggan berucap.


"Iya elo hebat," Ulang Haikal yang mengikuti cara bicara Kina. "Ngomong itu yang tulus napa, jahat dah lo."


"Gue uda ikhlas asal elo tau aja."


"Idih boong, ehh biniknya buto ijo lo gak usah sok kecakepan deh jadi manusia."


"Gue gak sok kecakepan dan lo gak usah ikut campur."


"Gue juga gak mau ikut campur. Ih gemesh gue pengen-" Ucapan Haikal terputus saat tatapannya tak sengaja melirik ke arah Darrenjun yang telah memberikan tatapan mematikan untuknya.


"Pengen ngajak keramas," Ucap Haikal cepat agar Darrenjun berhenti menatapnya dengan tatapan yang membuatnya sulit menelan ludahnya sendiri.


"Dasar, bisanya ngandelin orang dalaem doang," Gumam Haikal.


"Maksud lo siapa yang ngandelin orang dalem?" Tanya Kina tak terima.


Haikal hampir saja menyebutkan nama Darrenjun, kalo saja Mark tak menginjak kakinya lebih dulu, untuk menghentikan segala pertengkaran antar Haikal dan Kina yang berujung dengan perkelahian yang tak akan pernah selesai.


"Yaudah kalo gitu kita deluan." Mark memberikan kode pada yang lainnya untuk meninggalkan Darrenjun dan Kina berdua saja.


Keempat lelaki itu pergi, dan yang tersisa tinggal dirinya dan Darrenjun.


Kina merasa canggung berdiri berhadapan dengan Darrenjun yang masih diam menatapnya. Ia masih belum terbiasa dengan Darrenjun baru ini.


Kina berdehem sebelum berucap. "Kalo gitu gue deluan juga," Pamit Kina.


Baru saja Kina hendak berbalik Darrenjun berhasil menahan tangannya.


"Lo mau kemana?"


Kina menepis tangan Darrenjun kasar. "Kelas," Ucap Kina acuh tak acuh.


"Lo gak niat apa ngomong apa-apa soal gue?"


"Tadi kan uda, lo mau gue ngomong apa lagi?"


Darrenjun tak menyahut. "Dasar gak peka," Gumamnya.


Kina sempat mendengar ucapan Darrenjun tersebut, tetapi ia lebih memilih mengabaikannya saja.


Baru saja beberapa langkah, Kina memutar tubuhnya, berbalik kembali menatap Darrenjun.


"Oh iya," Ucap Kina dan membuat Darrenjun sedikit senang, mungkin saja gadis itu mengkhawatirkannya. Pikirnya.


"Lo ngapain ngajak Alby tanding tadi?"


Darrenjun hanya diam membisu. Dari sekian banyaknya pertanyaaan kenapa ia harus mendengar Kina menyebut nama lelaki lain. Cemburu, tentu saja. Darrenjun sangat iri karena sepertinya yang Kina khawatirkan adalah Alby bukan dirinyaa.


"Lo gak niat jauhin gue dengan teman-teman gue kan?" Selidik Kina.


Darrenjun melirik ke segala arah mencoba mencari alasan yang masuk akal agar Kina tak menjadi salah paham.


"Gue tebak, iya sebagai jawabannya."


"Bukan gue-" Bantah Darrenjun cepat.


"Kalo bukan itu apa? Dan lo, gue gak ngerti kenapa lo masih aja ngeklaim gue sebagai pacar elo. Lo juga gak berhak ngebuat gue jauh dari teman-teman gue. Karena elo bukan siapa-siapa buat gue. Dan gue ingetin ke elo Jun, berhenti ngelakuin hal yang gak masuk akal kayak gini. Norak. Gue sampe merinding denger elo yang berbuat konyol kayak gini."


"Gue harap lo jauhin gue dari sekarang, gue risih Jun dideketin elo."


Darrenjun melebarkan matanya, terkejut dengan ucapan Kina yang cukup pedas untuknya, ia melakukan hal ini untuk membuat Kina yakin bahwa perasaannya benar adanya. Bukan hanya prank semata, tapi bisa-bisanya gadis itu berucap sedemikian rupa mengenai perjuangan yang telah ia lakukan. Bahkan Kina tak membiarkan dirinya untuk menjelaskan terlebih dahulu.


Jika begini lama-lama Darrenjun sudah tak peduli dengan saran yang Lucas berikan.


"Lo benar gue emang norak, senorak itu ngelakun hal bodoh kayak gini. Rela panas-panassan Cuma mau nunjukin ke elo kalo gue tulus."


"Dan gue bakalan ngikutin mau lo, gue bakalan jauhin elo, maaf kalo gue yang norak ini ngegganggu hidup lo selama ini. Permisi."


Setelah selesai mengutarakan isi hatinya yang begitu kecewa terhadap Kina, Darrenjun berjalan meninggalkan Kina begitu saja, yang masih berdiri diam terpaku memandangnya.


Darrenjun berjalan dengan langkah lebar. Sudah pupus harapannya dan mungkin ini saatnya ia menyerah.


Kina sadar betul bahwa perkataannya begitu kelewatan, tapi ia juga kesal, bagaimana Darrenjun bisa bersikap kekanakan seperti itu. Jika ingin membuktikan perasaannya, harusnya ia melakukan hal yang lebih waras lagi. seperti membelikannya satu truk ice cream contohnya.


Sekarang Kina makin ragu dengan perasaannya itu, seakan terombang ambing. haruskah menerimanya atau membiarkan hal itu berlalu dan terlupakan.


Mungkin keduanya butuh waktu untuk memahami ini semua, pikir Kina. Dan Kina berharap Darrenjun hanya emosi sesaat padanya.


Cuaca begitu terik, Kina segera berlari ke arah kelas, sebenarnya ia ingin ke kantin, membeli minuman dingin untuk mendinginkan pikirannya, tapi ia urungkan niatnya itu, mengingat bahwa Darrenjun kemungkinan besar berada ditempat itu.


Untuk sementara Kina memilih untuk menjauh dari kehidupan Darrenjun Evans, meski ia tak yakin entah akan bertahan sampai berapa lama.


-


Kina berjalan dengan langkah lambat, kakinya mendadak lelah, berulang kali gadis itu menarik dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Seakan ia sulit untuk bernafas.


"Kina," Panggil seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.


Kina berusaha untuk tersenyum sebaik-baiknya pada Alby . Padahal saat ini dia tak mood barang hanya menyunggingkan senyuman kecil.


"Kok sendiri? Darrenjun mana?" Tanya Alby pada gadis yang berdiri dihadapannya itu.


Kina mengangkat bahunya acuh. Ia sedang malas hanya untuk sekedar menjelaskan keberadaan lelaki itu. Tapi lagi-lagi rasa penasaran menghampirinya terutama masalah yang barusan terjadi.


Ada baiknya Kina mendengar apa yang telah terjadi melalui sisi Alby. jadi dari sini ia akan dapat memutuskan langkah selanjutnya untuk menindak lanjutin perbuatan Darrenjun.


"Oh ya Al-, lo bisa jelasin apa yang terjadi, gue gak ngerti kenapa Darrenjun datengi elo."


"Lo gak pekanya kelewatan. Lo dan gue itu dekat, jadi wajar kalo Darrenjun cemburu."


"Cemburu sih boleh aja, tapi gak haruskan datengi elo segala cuma mau ngajak ribut. Pake alasan tanding lagi."


Alby mengerutkan keningnya. "Lo bahas masalah pertandingan tadi?"


Kina mengangguk.


"Bukan Darrenjun yang nantangin gue, tapi gue yang ngajak," Kekeh Alby, ia yakin sekali bahwa Kina telah salah paham.


Kina membulatkan matanya penuh. "Seriusan? Tapi kenapa?" Cercah Kina.


"Gue lagi butuh anggota sepak bola, salah satu pemain inti gue baru aja ngalami kecelakaan, dan gue bingung mau nunjuk siapa, kebetulan gue denger kalo Darrenjun itu punya potensi, yaudah gue ajakin aja. Meski gue harus bohong, bilang kalo gue mau PDKT an dengan lo supaya dia mau."


"Tapi sayangnya gue malah kalah dan Darrenjun gak pernah nyuruh gue buat jauhin elo, tapi dia minta gue untuk bersikap sewajarnya, layaknya teman biasa."


Seketika perasaan bersalah memenuhi rongga dada Kina, ia telah salah sangka dan bodohnya dia malah mengatakan hal yang diluar dari kesadarannya.


Oke. sekarang dia mengerti, bukan Darrenjun yang harus di ruqiyah, melainkan dirinya sendiri. Besok-besok Kina akan mengajak Lala ataupun Mita untuk menemaninya saja.


"Yaudah kalo gitu, gue pamit. Semoga hubungan lo langgeng." Alby menepuk pundak Kina pelan, sebelum pada akhirnya meninggalkan Kina yang masih berdiri lesu.


Kina menutup wajahnya sendiri, merasa malu pada dirinya.


"GUE BODOH!" Pekiknya.


-


-


Sudah cukup uring-uringannya dan pusing memikirkan masalah yang ia ciptakan sendiri dan sudah saatnya ia juga harus menyelesaikan semuanya.


Kina menggenggam dua buah ice cream rasa vanila dan juga coklat yang akan ia berikan pada Darrenjun sebagi tanda permintaan maafnya. Meski ia tak yakin dengan cara yang tengah ia lakukan saat ini. Tapi tak ada salahnya juga untuk mencobanya. Mari berpikir positif, pikirnya.


Kina berdiri dengan gelisah disebelah motor Darrenjun, menunggu kedatangan Darrenjun. Jika kalian penasaran bagaimana bisa Kina membeli ice cream itu secepat kilat, jawabannya adalah, karena sebelum bel berlangsung Kina sudah lebih dulu beralasan ingin ke toilet, padahal sudah jelas bahwa ia pergi ke kantin untuk membeli ice cream.


Hanya selang beberapa menit menunggu, Darrenjun tiba juga.


"Lo mau ngapain?" Tanya Darrenjun dengan dingin, akhirnya setela beberapa hari berjalan Kina kembali melihat sisi Darrenjun seperti ini. sketika ia teringat dengna perkataannya yang menginginkan Darrenjun menjadi sosok yang lembut, tetapi apa yang ia lakukan, karena dirinya Darrenjun malah menjadi dingin kembali.


Kina meneguk ludahnya sendiri lalu menyodorkan Ice cream yang berada ditangannya ke arah Darrenjun. "Gue minta maaf karena gue uda ngomong kasar ke elo. Maaf karena gue uda sok tau dan nuduh elo yang enggak-enggak."


Darrenjun menaikan sebelah alisnya, tanpa berniat berucap.


"Ini ice cream gue beli buat lo sebagai permintaan maaf gue." Kina menarik tangan Darrenjun saat lelaki itu masih saja diam memandangnya, lalu ia letakan kedua ice cream itu pada kedua telapak tangan Darrenjun.


"Gue gak tau elo suka ice cream rasa apa, jadi gue beli dua-dua nya buat elo, rasa vanila dan juga coklat".


Kina menundukkan wajahnya, tak berani menatap wajah Darrenjun. "Kalo gitu gue pergi, kalo lo masih marah ke gue, gue maklum kok. Permisi."


Baru satu langkah ia berjalan, Darrenjun memeluk tubuh Kina dengan erat dan membuat tubuh gadis itu membeku. "Gue suka rasa vanila," bisik Darrenjun tepat di telinga Kina.


Deggg


Seketika jantung Kina berdegup dengan cepatnya saat jarak keduanya begitu dekat seperti ini.


Darrenjun melepaskan pelukannya lalu mendekatkan wajahnya kearah Kina menatap wajahnya. "Lo gak niat noleh ke gue?"


Entah kenapa Kina menjadi gugup, bahkan untuk menatap wajah Darrenjun saja ia harus berusaha keras.


Saat kedua mata mereka akhirnya bertemu, Darrenjun tersenyum ke arahnya, senyuman yang akhir-akhir ini sering ia lihat. "Gue bakalan maafin elo, tapi dengan syarat."


Kina menatap Darrenjun bingung. "Syarat apa?" tanyanya sedikit gugup.


"Jadi pacar gue. Gue mau lo akui gue sebagai pacar elo."


"Ini permintaan gue, gue lagi nembak elo."


Tangan Kina mendadak berkeringat, bahkan degup jantungnya tak beraturan rasanya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Baru lah gadis itu menjawab. "Iya," Ucapnya pelan.


Darrenjun dapat mendengar perkataan Kina barusan, hanya saja ia butuh pengakuan lebih jelas.


"Lo habis ngomong apa? Gue gak denger." Darrenjun memajukan tubuhnya mendekatkan telinganya pada gadis itu.


Kina menarik dan menghembuskan nafasnya dengan gusar. "Gue... Mau... jadi pacar elo."


Darrenjun tersnyum senang. Akhirnya perjuangannya selama ini membuahkan hasil juga. ingin sekali rasanya ia kembali memeluk Kina dengan begitu erat, tapi itu tak mungkin mengingat dimana mereka saat ini.


"Jangan pernah tarik ucapan elo barusan."


Kina mengangguk. "Iya gak akan."


"Tapi, lo jangan aneh-aneh gue masih belum terbiasa."


Darrenjun mengangguk dengan semangat. "Gue sayang elo Kin."


Meski terdengar agak klise, entah mengapa Kina malah senang mendengar perkataan lebay Darrenjun tersebut untuknya.


...💓CUTTON CANDY💓** **...


...-...


...Terima kasih telah membaca CUTTON CANDY 💓 jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan silahkan kasih saran dan masukannya 😊😊...