Cutton Candy

Cutton Candy
Belajar



...*πŸ’—Cutton CandyπŸ’—*...


...[**************]...


Langit sore memancarkan cahaya yang tidak terlalu panas. Cuaca yang bagus untuk bersantai.


Seorang gadis berjalan sendirian menuju taman komplek. Jika diperhatikan sekilas, gadis itu terlihat seperti hendak pergi berpiknik bersama seseorang yang mungkin spesial baginya.


Tapi jika dilihat secara dekat. Gadis itu tampak kesusahan membawa satu bekal dengan ukuran cukup besar dan lagi dia membawa tas kecil yang berisi perlengkapan belajarnya.


Tadi, sebelum berangkat, Mamanya memaksanya untuk membawa bekal yang cukup banyak.


Gadis itu telah menolak permintaan sang mama. Tapi, percuma gadis itu menolak. Sang mama tetap kekeh menyuruhnya. Dan mau tidak mau Kina pun terpaksa membawa benda yang cukup berat itu.


Sedikit heran memang, jika mengingat kelakuan mamanya yang begitu bersemangat setiap kali ia menyebut nama Darrenjun. Bahkan mamanya tidak segan-segan memperbolehkannya kemana pun asalkan bersama lelaki itu.


Sampai gadis itu berpikir akan menggunakan nama lelaki itu, jika ia dalam masalah.


Hahaha. Ide brilian bukan?


Didalam gazebo, Kina menopang dagu menunggu Darrenjun, sambil memangku bekal yang ia bawa tadi.


Baru beberapa menit Kina menunggu, Darrenjun datang dengan menggunakan kaos oblong berwarna putih dan tas ransel yang cukup besar yang tersampir pada salah satu pundaknya.


Menurutnya, lelaki itu hampir seperti orang yang mau minggat. Jika melihat betapa besar tas yang ia bawa.


Kina sempat mengagumi wajah Darrenjun sesaat, yang bisa dikatakan lumayan tampan. Hanya saja sifat lelaki itu membuatnya harus berpikir ulang untuk mengaguminya.


Tak ada saling sapa oleh keduanya saat bertemu. Bagi mereka hubungan ini hanyalah kesepakatan jadi tidak perlu adanya basa-basi terutama sapaan.


"Banyak amat bawaan lo?” Tanya Kina pada Darrenjun yang barusan duduk bergabung bersamanya.


"Lo gak ngaca?” Tanya lelaki itu lagi.


Benarkan. Kalau keduanya sebaiknya tidak perlu terlibat dalam hubungan yang lebih akrab.


Kina meletakan bekal yang ia pangku sejak dari tadi keatas meja batu yang ada di gazebo.


"Buat lo dari mama,” Ucapnya sembari menyodorkan bekal pada Darrenjun.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Apa ini?”Tanyanya.


"Lo gak mau kan?” Tanyanya lagi.


"Yaudah buat gue aja.”


Baru saja Kina mau meletakan bekal itu kembali, Darrenjun lebih dulu menahannya.


"Gak. Ini punya gue,” Tegasnya.


Lalu ia menarik bekal itu dari atas meja. Meletakkannya di sebelah tempat duduknya.


Kina mendecih dengan tingkah Darrenjun barusan.


Darrenjun membuka kotak bekal tersebut yang ternyata berisi kue bolu. Setelahnya lelaki itu mulai memasukannya kedalam mulutnya.


"Lo bukannya gak suka kue bolu ya Jun?” Tanya Kina dengan heran.


Darrenjun menggeleng. "Gak. Gue gak pernah bilang gue gak suka.”


"Lah terus kemarin. Kenapa lo nolak kue pemberian dari cewek yang ada diparkiran?”


"Yang waktu lo nguping itu?”


Kina tercekat, lalu mendecih. "Gue gak nguping. Tapi kebetulan gue dengar,” Ucapnya tak terima.


"Terserah lo mau bilangnya kayak apa. Yang jelas lo uda ketangkap basah nguping.”


Kina merotasikan bola matanya malas. Percuma ia berdebat dengan seorang Darrenjun yang memiliki segudang alasan untuk membuat Kina kalah.


"Jadi kenapa lo nolak pemberian dari tuh cewek?” Lanjut Kina lagi dengan penasaran.


"Karena tuh cewe. Ahh lo gak perlu tau,” Tukas Darrenjun dan membuat Kina ngedumel dalam hati.


Darrenjun mengeluarkan isi dari dalam tasnya yang ternyata isinya adalah buku semua.


"Lo mau belajar juga Jun?” Tanya Kina kepo.


"Ya gak lah. Ini semua kan buat bahannya elo. Gue uda pinter kali,” Jawab si lelaki dengan angkuh.


Kina hanya merotasikan bola matanya males. Setelahnya, Kina melihat satu persatu buku yang barusan dikeluarin oleh Darrenjun dari dalam tasnya.


"Sebanyak ini?"


Darrenjun mengangguk singkat.


"Lo uda baca semua materi yang gue kasih kemarin?”


Gantian Kina yang mengangguk. "Uda,” Katanya.


Darrenjun mengeluarkan sebuah kertas dan memberikannya pada Kina.


Kina menerimanya dengan bingung. "Ini apaan?” Tanyanya.


"Kertas kuis buat elo. Gue pengen tau sudah sejauh apa lo paham dengan materi yang uda gue kasih dan lagi, gue juga ingin tau. Kelayakan lo buat ke tahapan selanjutnya.”


Kina membaca soal itu satu persatu.


"Lo yang buat ini sendirian Jun?" Tanyanya.


"Iya, gue cuma gak mau sia-sia ngajarin elo selama ini.”


Kina tersenyum tipis ke arah Darrenjun. Gadis itu sungguh terharu dengan semangatnya Darrenjun yang mengajarinya seperti ini.


Jika seperti ini keadaannya. Kina yakin, kalau secepatnya dia akan mendapatkan kembali laptop kesayangannya itu.


Setelahnya, gadis itu mengerjakan semua soal kuis yang telah diberikan Darrenjun padanya.


...*****...


"Jun.”


"Apa?”


"Itu si Rey sama Yaya pacaran uda berapa lama?”


"Sekitar 6 bulanan,” Jawab Darrenjun tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas kuis yang tengah ia koreksi.


"Oh gitu,” Kina mengangguk-ngangguk.


"Berarti sekarang Rey jomblo dong.”


Darrenjun menggelengkan kepalanya. "Enggak. Dia punya pacar.”


"Anak mana? Satu sekolah?” Tanya Kina penasaran.


"Bukan. Anak Aksana. Yang gue tau dia itu captain Cheers. Naya namanya.”


"Kok bisa?”


"Mereka ketemunya waktu Rey ikut turnamen. Kebetulan sekolah Aksana yang jadi tuan rumah.”


"Cantik?” Tanya Kina penasaran.


Darrenjun menghentikan aktifitasnya yang sedang mengoreksi hasil kuis Kina. Lalu Darrenjun memandang ke arahnya.


"Lo sebenarnya disini mau wawancarai gue buat nyari informasi tentang Rey atau belajar?”Sindirnya.


"Yaelah Jun. Sekalian kenapa sih.”


"Itu urusan pribadi lo. Gue gak mau ikut campur.”


Kina memilih diam dibandingkan harus berdebat panjang dengan Darrenjun lagi.


Darrenjun kembali melanjutkan aktifitasnya dan Kina hanya diam sambil memperhatikan jalan.


"Lo kenapa bisa suka ke Rey?" Tanya Darrenjun tiba-tiba dan membuat Kina seketika mengalihkan perhatiannya dari jalanan ke arah Darrenjun.


"Lo suka dia, karena dia ganteng? Atau karena dia famous?" Tambah Darrenjun lagi.


Kina menggeleng. "Bukan karena itu,”Jawabnya.


Kina tersenyum tipis. "Karena Rey beda dari cowok yang pernah gue kenal.”


"Maksud lo?”


"Dia lembut dan begitu perhatian.” Gadis itu kembali tersenyum setiap mengingat perlakuan manis Rey padanya.


"Perhatian ke semua cewek dan lo jadi salah satu korbannya,” Terang Darrenjun. Lelaki itu tersenyum mengejek.


Kina memicingkan matanya. Merasa tak suka dengan penuturan Darrenjun barusan mengenai Rey.


"Iya gue korbannya. Tapi gak masalah buat gue. Selama gue fine ngejalaninnya why not?”


"Bucin lo.”


"Lo bebas ngatain gue bucin atau apa. Gue suka dengan Rey itu tulus. Meski gue juga gak yakin kalau Rey bakalan nerima perasaan gue ini. Yang jelas gue senang karena bisa suka dengan dia.”


"Se cinta itu lo ke dia? Tapi dia kan playboy,” Jelas Darrenjun.


Kina mengangguk. "Gue yakin suatu saat Rey pasti akan berubah kok.”


Darrenjun hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka dengan ucapan gamblang gadis yang ada didepannya ini barusan. Padahal menurutnya Rey tidak akan pernah bisa berubah. Kecuali, ada azab yang menimpanya.


...****...


Selesai kegiatan belajar mereka telah selesai. Kina bangkit lebih dulu. Tentunya semua peralatan yang ia bawa telah ia kemas baik.


"Lo mau kemana?” Tanya Darrenjun saat melihat Kina yang telah bersiap-siap untuk pergi.


"Pulang.”


"Eh gak jadi deh. Gue mau ke mini market aja,”Lanjut Kina lagi.


Lalu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Darrenjun.


Dan tanpa di duga Darrenjun mengikutinya dari belakang.


"Lo ngapain ngikutin gue?” Tanya Kina.


"Suka-suka gue dong,” Jawab lelaki itu dengan acuh dan berjalan lebih dulu dibandingkan dirinya.


"Cihh. Dasar anak macan,” Ucap gadis itu dengan kesal.


-


Di dalam Mini market. Kina menelusuri tempat itu dan mencari hal yang ia inginkan. Yaitu.


"Ice cream,” ucap Darrenjun yang ternyata berdiri tepat di sebelahnya.


Kina menoleh. "Iya. Emang kenapa?” Tanya gadis itu.


"Kayak bocah lo,” Sindirnya.


"Biarin. Suka-suka gue dong,” Ucapnya tak terima dengan perkataan Darrenjun yang tertuju untuknya.


Setelah mengambil ice cream yang ia inginkan. Kina berjalan kearah kasir. Berniat membayar ice cream yang ia beli.


"Sekalian,” Ucap Darrenjun dan meletakan semua belanjaannya di meja kasir.


Kina hanya menghelakan nafasnya. Percuma dia menolak, statusnya masih seorang babunya. Jadi tak ada alasan baginya menolak.


Selesai membayar semua belanjaan, mereka keluar dari Mini market tersebut.


...πŸ’—CCπŸ’—...


...-...


"Ini.”


Darrenjun menyerahkan satu kotak plester yang barusan ia beli tadi di mini market pada Kina.


"Buat apaan?” Tanyanya bingung.


"Buat lo.”


"Gue masih punya banyak dirumah,” Tolak Kina dan berjalan lebih dulu.


"Gue ngasih ini bukan buat lo pake. Jadi lo gak usah geer.”


Kina memandang Darrenjun dengan heran. "Lah terus buat apaan lo ngasih gue ini?”


"Buat jaga-jaga. Kalo entar gue luka, lo harus ngasih plester ini ke gue. Gue gak suka motif plester yang kemarin lo kasih. Norak,”Jelas Darrenjun.


"Kenapa gak elo aja yang nyimpen? Kenapa harus gue cobak?” Tanya Kina lagi.


"Karenaβ€”β€œ


Darrenjun terlihat bingung dengan pertanyaan Kina barusan padanya. Sebenarnya ia juga merasa heran dengan sikapnya ini. Dia hanya tak suka jika ada yang memiliki plester yang sama dengan punyanya.


"Karena lo masih jadi babu gue!" Ucap Darrenjun dengan semangat.


"Uda cepetan lo simpan ini plester baik-baik. Lo juga gak boleh ngasih plester ini ke orang lain. Cuma boleh digunain untuk gue doang. Awas aja kalo lo sempat ngasih ke yang lain,” Peringat Darrenjun.


"Ribet amat lo jadi orang,” Meski kesal sendiri dengan tingkah aneh Darrenjun. Kina tetap menyimpan plester yang diberikan lelaki itu padanya. Percuma dia melawan, tak akan ada gunanya.


Kina membuka bungkus ice cream yang telah ia beli, lalu memakannya di tengah perjalanan menuju rumahnya dan tentunya Darrenjun masih disitu, berjalan bersebelahan dengannya. Lelaki itu tengah menikmati soda yang barusan ia beli menggunakan uang Kina.


Suasana begitu canggung dan membuat Kina begitu tak nyaman.


"Jun,” Panggil Kina.


Dan Darrenjun menoleh. "Apa?” Tanyanya.


"Itu kak Lucas uda punya pacar belum?” Tanya Kina basa basi. Sesungguhnya ia bingung mencari topik untuk mengobrol dengan lelaki yang berjalan disampingnya ini.


"Kenapa? Lo suka dengan dia?”


Kina menggeleng.


"Enggak. Gue cuma penasaran. Soalnya kak Lucas itu ganteng jadi gak mungkin kan jomblo,” Terang Kina.


"Nah tuh lo tau. Terus ngapain nanya?”


"Ya siapa tau kali.”


"Siapa tau apa?”


"Siapa tau gue bisa daftar,” Jawab Kina asal.


Darrenjun menghentikan langkahnya. Lalu dengan cepat kepalanya menoyor kepala Kina pelan. Berkat dirinya, ice cream yang dipegang oleh Kina mengenai wajah gadis itu.


"Sialan lo,” Kesalnya.


"Denger ya. Gue kagak mau abang gue dideketin sama lo,” Jelas Darrenjun.


"Lah kenapa? Kali aja kan gue bisa jadi kakak ipar lo,” Kina mengeluarkan tissue dari tasnya dan membersihkan wajahnya yang belepotan karena ice cream menggunakan tissue tersebut.


"Gak bakalan pernah gue izinin abang gue sama cewek jadi-jadian kayak lo. Lagian lo dari tadi omongannya absurd mulu dah perasaan.”


"Biarin. Biar gak garing,” Jawab Kina acuh.


Darrenjun merotasikan bola matanya.


"Gue dari tadi jalan sama lo berasa jalan sama patung. Tau gak?”


"Gue gak tau dan gue gak peduli,” Jelas Darrenjun dan berjalan lebih dulu meninggalkan Kina.


Kina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Darrenjun barusan. Ternyata untuk menjadi seorang temannya Darrenjun harus memiliki kesabaran yang ekstra.


...-...


...*πŸ’—CCπŸ’—*...


...-...


...*Nanyak Respon kalian dong sama cerita aku ini **πŸ˜…πŸ˜…*...


...Mau lanjut gak?...