Cutton Candy

Cutton Candy
Perlawanan



...💓CUTTON CANDY💓...


...-...


...(Jika aku sudah mengatakan bahwa aku memilihmu, maka akan aku pastikan hanya kamu seorang yang aku mau -Darrenjun Evans)...


-


"Injun."


Darrenjun menghentikan aktifitasnya yang sedang memakai helm dan menoleh ke arah orang yang barusan meneriaki namanya itu.


Tak hanya dirinya, gadis berada disebelahnya juga ikut menoleh. Melihat siapa gerangan yang memanggil nama pacarnya itu.


Seorang gadis cantik menghampiri keduanya.


Tidak.


Lebih tepatnya hanya menghampiri Darrenjun saja. Sementara keberadaan Kina sama sekali tak diperdulikan olehnya, seakan Kina tak kasat mata baginya.


Wajah Kina yang sebelumnya dihiasi dengan senyuman mendadak menjadi badmood saat melihat sosok itu lagi dan bagaimana cara ia memanggil nama Darrenjun.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Darrenjun pada Lisa yang telah bergelayut manja pada lengannya.


Dan pemandangan itu sungguh membuat panas di hati Kina. Ingin sekali rasanya ia segera menarik rambut indah gadis itu hingga botak, menjauhkannya dari pacarnya.


Oke. Sepertinya Kina harus segera mengklaim kepemilikannya terhadap Darrenjun. Jika sikap Lisa kelewatan seperti ini.


"Mau jemput Injun," Jawabnya dengan tatapan mata yang begitu polos.


Darrenjun melirik ke arah Kina dan Lisa secara bergantian, ia tahu setelah ini Kina akan kembali marah padanya dan mengakibatkan ia akan dihindari oleh pacarnya itu.


"Sama siapa tadi?" Meski takut Kina akan marah, Darrenjun juga masih khawatir dengan teman kecilnya yang masih terbilang baru di tempat ini.


"Kak Lucas."


Darrenjun merasa lega karena Lisa tak sendirian.


"Terus orangnya mana?" Tanyanya penuh harap bahwa kakak satu-satunya itu berada disana. Darrenjun melirik ke sana kemari mencari sosok Lucas yang bisa menyelamatkannya dari krisis yang membuatnya pusing.


"Uda pergi, aku yang nyuruh. Aku mau jalan-jalan bareng Injun, bosen tau dirumah," Ucap Lisa.


Darrenjun seketika menutup kedua matanya, pupus sudah harapannya berbaikan dengan Kina. Jika begini, Kina akan kembali salah paham dengannya. Malah mungkin akan lebih parah dari sebelumnya.


Kina tak mengucapkan sepatah katapun sejak dari tadi. Karena yang berisik saat ini adalah hatinya, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya pada keduanya, saat melihat interaksi keduanya yang bermesraan didepannya.


Bahkan kehadirannya disana sudah seperti patung.


Darrenjun melepas tangan Yiren yang masih menempel pada lengannya, lalu ia tatap wajah gadis itu dengan senyum tipis.


Darrenjun tak ingin menyakiti ataupun bersikap kasar pada Lisa. Meski sikap Lisa berlebihan terhadapnya, tetap saja Lisa masih seseorang yang pernah mewarnai hidupnya.


Dan lagi, gadis itu hanya terlalu manja saja.


"Maaf. Aku gak bisa nemenin kamu hari ini. Kamu naik taksi aja ya," Pinta Darrenjun pada Lisa.


Darrenjun sebenarnya tak tega pada Lisa, Tapi, ia juga tak mungkin membiarkan Kina pulang sendirian dengan janji yang telah ia katakan untuk mengantar Kina selamat sampai rumah. Dan lagi, status Kina adalah pacarnya, seseorang yang menjadi prioritas Darrenjun ketimbang Lisa.


Kina bersorak senang bukan main. Ternyata Darrenjun tak seburuk pikirannya. Hampir saja ia berburuk sangka dan berinisiatif untuk mengakhiri hubungan mereka jika benar Darrenjun menerima ajakan Lisa tersebut.


Sebaiknya setelah ini Kina harus lebih bersikap baik pada Darrenjun.


"Aku gak mau. Pokoknya aku harus pulang sama Injun."


"Masa tega sih, ninggalin aku gitu aja," Pintanya penuh harap, berharap Darrenjun bisa luluh dengannya.


Kina mengepalkan tangannya kuat, sikap Lisa yang seperti itu tak bisa membuatnya diam saja, bisa-bisa Darrenjun menjadi luluh jika ia tak segera bertindak.


"Tapi dia uda janji dengan gue deluan," Ucap Kina akhirnya setelah diam tanpa perlawanan.


Lisa melirik ke arah Kina dengan tatapan sinis. "Emang elo siapanya Injun gue?"


Kina seketika terdiam dengan perkataan Lisa barusan.


Injunnya? Apa maksudnya?


Bukankah perkataan seperti itu seolah-olah menjelaskan bahwa Darrenjun hanya miliknya seorang.


"Kina pacar aku. Kita pacaran," Terang Darrenjun yang telah menggenggam erat jemari Kina.


Kina melirik Darrenjun sebentar, lalu menatap Lisa lagi dengan senyuman mengejek.


Ini bukanlah rencana awal Darrenjun menceritakan perihal hubungannya pada Lisa, tapi ia tak ada pilihan lain masalah ini akan menjadi semakin serius jika Darrenjun tak mengambil tindakan segera dengan mengatakan kebenarannya pada Lisa.


Sepertinya Lisa salah paham terhadap sikap baik Darrenjun padanya.


Lisa menatap Darrenjun dengan tatapan tak percaya, kedua matanya telah berkaca-kaca. Ia tak menyangka Darrenjun berpacaran dengan gadis seperti Kina yang tidak ada apa-apanya ketimbang dirinya.


"Injun bohong kan? Tapi aku tunangan kamu."


Ia sudah jauh-jauh dari Amsterdam ke Indonesia hanya untuk bertemu Darrenjun yang menjadi cinta pertamanya. Bukan seperti ini harapannya, seharusnya Darrenjun tetap mencintainya sampai sekarang.


"Lo dua uda tunangan?" Tanya Kina sembari menatap kedua orang yang ada dihadapannya secara bergantian.


Genggaman Darrenjun dari tangannya telah ia lepaskan secara kasar, Kina mundur beberapa langkah menuntut Darrenjun menjelaskan semuanya secara rinci padanya.


Darrenjun menutup wajahnya sendiri. "Kita gak pernah tunangan. Kita cuma temen Lisa."


Lisa menatap Darrenjun dengan shock. Ia tak menyangka kata-kata seperti itu keluar dengan mulusnya dari bibir lelaki pujaan hatinya.


"Kenapa Injun berubah? Injun uda gak sayang Lisa lagi?"


Gantian, sekarang Kina yang menjadi shock dengan ucapan Lisa barusan.


"Sorry, kayaknya kamu uda salah paham. Hubungan kita uda berakhir sejak lama. Jadi aku harap kamu jangan ambil kesimpulan sendiri bahwa perasaan aku masih sama ke kamu."


Lisa mulai menangis dan terisak. "Kenapa Injun jahat. Injun yang aku kenal gak kayak gini. Injun berubah."


Kina sungguh tidak percaya dengan apa yang barusan dilakukan oleh Lisa. Bisa-bisanya Lisa menangis disaat seperti ini.


"Maaf kalo aku uda nyakitin kamu. Tapi, kisah kita uda lama selesainya." Darrenjun berusaha menenangkan hati sahabat kecilnya itu. Menjelaskan sesuatu yang sudah selesai dari sebelumnya.


Lisa menutup kedua telinganya dengan tangannya, lalu menggeleng kuat. "Enggak! Aku gak mau denger lagi. Injun bohong. Injun lupa kalo aku satu-satunya buat Injun."


Kina bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Harusnya ia tak menjadi kasihan, tetapi hati nuraninya terlalu baik. Kina mengelus pundak Lisa bermaksud menenangkan hati Lisa, tapi siapa sangka dengan cepat Lisa malah langsung menangkisnya.


"SEMUA INI KARENA ELO!" Pekiknya pada Kina dan membuat Kina memundurkan langkahnya, menjauh dari Lisa.


"Sorry," Ucapnya penuh penyesalan.


Lisa mengelap air matanya dengan kasar, lalu menatap Kina dengan tajam. "Lo ngerasa bersalah?"


Kina mengangguk.


"Kalo bener lo ngerasa bersalah ke gue, lo harus putusin Injun."


"Lisa," Sela Darrenjun dengan cepat. Ia tak habis pikir bisa-bisanya Lisa menyuruh Kina untuk memutuskannya.


Kina mematung, ia tak tahu mengenai masa lalu keduanya. tapi memutuskan Darrenjun hanya untuk merelakan ia bersama Lisa. Bukankah itu tak masuk akal.


Darrenjun menatap Kina dengan jantung yang berpacu cepat. takut hati gadis itu menjadi luluh dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya. sungguh itu ada hal yang Darrenjun takuti.


Kina menatap Darrenjun dan Lisa secara bergantian, lalu tersenyum penuh arti.


"Sorry, kayaknya gue gak bisa ngasih pacar gue gitu aja buat lo. Karena dia bukan barang yang harus gue kasih ke orang. Lo cuma masa lalu buat dia, lo harusnya tau itu," jelas Kina


Lisa menjadi terdiam.


"Gue kayak gini karena gue ngerasa simpatik doang ke elo, bukan berarti gue bodoh dan gue ingetin ke elo, jangan pernah ganggu pacar gue lagi."


Setelah mengatakan hal yang mengganjal hatinya pada Lisa, Kina segera menarik tangan Darrenjun untuk pergi dari sana.


Kina berjalan dengan langkah lebar sembari terus menarik tangan Darrenjun. Ia begitu kesal dan dongkol. Kina tak bermaksud mengatakan hal seperti tadi, tapi Lisa sudah benar keterlaluan.


"Aturan nomor satu fix di ganti."


Kina menghentikan langkahnya, lalu berbalik memandang Darrenjun dengan bingung.


"Maksudnya?"


"Kamu pegang tangan aku."


Dengan cepat ia pun segera melepas tangan Darrenjun dari tangannya.


"Ini cuma reflek," Elaknya.


Darrenjun tersenyum tipis, lalu segera merahi kembali tangan Kina. "Kenapa dilepas? aku suka kamu gandeng kayak gini."


Kina tak bersuara, ia sedang berusaha mengatur debaran jantungnya yang tak karuan. Pipinya telah memanas dan ia mengalihkan pandangannya dari Darrenjun, menatap segala penjuru menghindari kontak mata dengan Darrenjun yang mungkin akan segera sadar dengan wajahnya yang sudah merah.


Darrenjun mensejajarkan tingginya dengan tinggi Kina, lalu mengacak rambutnya dengan sayang. "Dan aku seneng, kamu mempertegas hubungan kita didepan dia dengan cara yang keren. Dengan kata lain kamu uda suka aku."


"Aku capek," Ucap Kina dengan lantang. menyudahi ke so sweetan yang tengah dilakukan oleh Darrenjun terhadapnya, jika lama-lama dibiarkan bisa-bisa wajah Kina akan meledak.


"Kita pulang," Ajak Darrenjun sembari menggenggam erat jemari Kina.


"Tapi Lisa?"


"Gak usah khawatir, Aku yakin dia pasti tau cara pulang."


"Ayo," Ajak Darrenjun lagi.


Kina mengangguk dengan semangat, senang baginya karena Darrenjun lebih memilihnya ketimbang Lisaa.


-


-


"Lo kan yang nyuruh Lisa buat jumpai gue ke sekolah?" Ucap Darrenjun to the point pada kakak laki-lakinya itu.


Lucas yang sedang menikmati sebungkus keripik kentang seketika terdiam, lalu dengan cepat ia mengubah ekspresinya.


"Lo ngomong apaan sih? gak ngerti gue," Elaknya.


Darrenjun duduk disebelah Lucas dengan tatapan menusuk. "Gak usah pura-pura gak tau. Gue uda tau niat lo dari AWAL. Elo kan yang ngerencanai ini semua!?"


Ingin kembali mengelak, tapi dirinya telah tertangkap basah oleh Darrenjun. Mau tak mau Lucas hanya bisa pasrah. Percuma baginya jika masih menyangkal karena Darrenjun pasti tetap menang darinya.


Ini adalah salah satu resiko baginya memiliki adik yang jenius.


"Iye iye gue ngaku dah, emang gue sengaja bawa Lisa ke sekolah elo. Puas?"


"Lo gak mikir konsekuensi dari perbuatan elo itu?"


"Iya gue tau, tapi gue cuma mau bantu elo supaya bisa tau kemajuan perasaan Kina sama elo dan hasilnya..."


"Berhasil," sambung Darrenjun.


"Makasih buat tindakan elo itu. tapi tetep aja gue gak suka cara elo itu, Karena rencana lo itu, Kina sempat menghindar dari gue. berhenti ngelakuin semau elo tanpa diskusi ke gue terlebih dahulu."


"Oke oke. selo gan, ini yang pertama dan terakhir kalinya."


"Bagus. Pokoknya setelah ini gue gak mau ada kejadian yang sama lagi."


"Oke sipp," Ucap Lucas sembari mengancungkan jempolnya ke arah Darrenjun.


Setelah mengatakan hal yang ingin ia sampaikan pada Lucas, Darrenjun bangkit dari duduknya, menuju kamarnya.


Pandangan Lucas tak lekang dari punggung Darrenjun, hingga Darrenjun menghilang dibalik pintu dan setelah itu baru lah ia bisa bernafas lega.


Berada didekat Darrenjun membuatnya merasa tegang, adik laki-laki satu-satunya itu terkadang membuatnya merasa takut. padahal ia adalah kakaknya tapi perannya seakan tertukar dengan Darrenjun.


Jangan-jangan keduanya memang tertukar, tapi jika dipikir-pikir sepertinya tak mungkin. bagaimanapun tubuh Lucas jauh lebih besar dari Darrenjun.


-


Seseorang baru saja menyentuh pundaknya dan membuatnya langsung berbalik.


"Lo anak baru?" tanya seseorang padanya dengan ramah.


Lisa tersenyum manis ke arah orang yang barusan bertanya padanya, lalu segera mengangguk.


"Iya, lo tau ruang Tata Usaha dimana?"


Jeha mengangguk sembari tersenyum ramah. "Lo mau gue anter?" Tawarnya.


"Mau. kalo lo gak keberatan."


"Gak sama sekali."


Lalu kedua gadis itu pergi menuju ruangan tersebut.


"Lo pindahan darimana? Dari luar negri?" Tanya Jeha memulai percakapan.


Tampaknya ia begitu tertarik dengan Lisa, karena memang gadis itu terlihat begitu berbeda dari yang lain. cantik, sangat cantik malah. mungkin Lisa akan mendapat gelar sebagai Ratu disekolah setelah Yaya.


Lisa mengangguk. "Gue dari amsterdam, baru seminggu disini."


"Oh," Jeha tersenyum penuh arti, ternyata benar dugaannya. Jika gadis secantik Lisa sangat tidak mungkin berada dititik gadis biasa-biasa saja. sepertinya ia memiliki rekan yang bisa menguntungkan buatnya.


"Oh ya kita belum kenalan. Nama gue Jeha," Ucap Jeha sembari mengulurkan tangannya dihadapan Lisa.


Lisa segera menyambut uluran tangan Jeha tersebut. "Gue Lisa."


-


Setelah mengurus segala keperluan sekolahnya, Lisa keluar dari ruangan itu.


"Uda selesai," Ucap Jeha yang berdiri disebelah pintu masuk ruangan.


Lisa mengangguk. "Tapi gue gak tau kelas gue dimana? Lo bisa anterin gak?"


"Bisa dong. kan kita temen, lo juga kalo ada apa-apa bisa kasih tau gue. jangan sungkan."


Lisa tersenyum senang, tak perlu memerlukan waktu lama baginya untuk beradaptasi karena ia sudah langsung memiliki teman.


"Makasih Jeha."


"Santai aja kali, lo gak usah gak enakan ke gue."


Langkah Lisa seketika terhenti saat melihat sepasang murid yang berjarak tak jauh darinya.


Jeha merasakan ada keganjalan disana, lalu ia ikuti arah pandang Lisa.


"Lo kenal sama mereka?" tanyanya penasran.


"Kenal banget malah."


"Siapa? Kina... atau Darrenjun?"


Lisa menoleh ke arah Jeha. "Lo kenal juga?"


"Iya."


Lisa menarik nafasnya sedalam-dalamnya, menceritakan perihal hubungan dengan Darrenjun yang sungguh menyayat hatinya.


"Injun itu tunangan gue."


"Ha? tunangan? maksud lo Darrenjun?" Jeha kembali melempar pandangannya ke arah dua orang yang mulai menjauh itu.


Lisa mengangguk. "Hubungan kita bakal baik-baik aja, kalo Kina gak ngerebut Injun dari aku."


"Lo harus tau Sa, Kina itu emang cewek gak bener. dulu pacar temen gue juga direbut sama dia."


"Seriusan?"


Jeha mengangguk dengan semangat. "Gak cuma satu cowok yang dia permainkan, bahkan tiga cowok sekaligus. Jadi ada baiknya lo segera ambil tindakan supaya Darrenjun gak dimainin sama dia. Darrenjun lebih cocok ke elo kali."


Lisa kembali menatap Jeha, kali ini tatapnnya penuh harap. "Lo bisa bantu gue?"


"Itu hal yang mudah. You are queen," Ucap Joy memberi semangat pada Yiren.


Lisa tersenyum penuh arti. Ia sudah tidak sabar rasanya merebut kembali cinta pertamanya itu dari gadis yang jahat seperti Kina.


Sebaiknya ia harus mengambil tindakan sebelum Darrenjun tak bisa ia dapatkan kembali.


...-...


...💓CUTTON CANDY💓...


...Jangan lupa kasih komentar kalian dan juga vote kalian ya teman-teman 🥰🥰...