Cutton Candy

Cutton Candy
Malaikat Pelindung



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...-...


(Kamu itu mirip pelangi, sama-sama cantik dan sama-sama ciptaan tuhan. Bedanya, pelangi itu ciptaan tuhan dan kamu diciptakan tuhan hanya untuk aku ❀️ -Rey Agra )


...-...


Darrenjun duduk diatas kursi meja belajarnya menikmati waktunya sendirian didalam kamarnya. Tempat yang membuatnya selalu merasa tenang.


Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Ren, mama boleh masuk?” Tanyanya dari arah luar kamar.


Darrenjun tak menjawab, karena tanpa dia jawab pun mamanya pasti akan menerobos masuk juga.


"Darrenjun mama masuk ya,” benar firasatnya, ternyata mamanya telah masuk kedalam kamar Darrenjun dengan membawa satu nampan berisi cake dan juga segelas susu hangat.


"Ini, mama siapkan untuk kamu,” Katanya dan meletakkan semuanya diatas meja Darrenjun.


Tak ada tanggapan dari Darrenjun. Anak laki-laki itu masih berkutad dengan bukunya. sang mama hanya diam memandangi anak laki-lakinya yang tak menggubris kehadirannya.


Merasa di pandangi. Darrenjun menoleh ke mamanya yang tak kunjung pergi dari situ.


"Ada apa?” Tanyanya dengan dingin.


Sedikit terkejut awalnya, tetapi wanita itu tetap memberikan tatapan lembut padanya.


β€œEh … mama cuma mau tanya. Kamu dan Kina temenan ya sekarang?” Tanya wanita itu sambil tersenyum.


"Tau darimana?” Tanyanya, lalu dia berbalik kembali fokus ke bukunya.


"Tadi Lucas cerita ketemu kamu di kafe. Katanya kamu belajar bareng sama Kina ya?"


Darrenjun mengepal tangannya sendiri. Merasa kesal, karena kakak laki-lakinya telah mengusiknya. anak laki-laki itu pun menoleh memandang mamanya dengan ekpresi dinginnya.


"Kita cuma gak sengaja ketemu. Itu aja. Jadi gak usah mikir yang aneh-aneh,” Terangnya.


"Ohh jadi gitu,” Jawab sang mama.


"Tapi, mama senang Ren kamu temenan dengan dia. Kina itu gadis yang baik dan lucu.”


"Darrenjun gak mau temenan dengan dia,” Ucap Darrenjun singkat.


Mamanya tercekat. "Kenapa?” tanyanya heran.


"Bukan urusan mama. Sebaiknya mama keluar dari kamar Darrenjun. Darrenjun butuh konsentrasi,” Usirnya dingin.


Sang mama hanya tersenyum tipis. perlakuan Darrenjun yang seperti ini sudah menjadi hal lumrah baginya. Entah kapan dirinya bisa diterima kembali oleh anak laki-lakinya itu.


"Yaudah kalo gitu, mama tinggal ya Ren. Maaf uda ganggu kamu. Oh iya. Jangan lupa cake dan susunya dihabisin. Nanti mama ambil tempatnya lagi,” ujar sang mama. Lalu beranjak dari situ, keluar dari kamarnya Darrenjun.


Darrenjun hanya diam tanpa memperdulikan ucapan mamanya barusan. Setelah mamanya benar-benar pergi. Darrenjun meletakkan bukunya di atas meja hampir sebuah gebrakan kecil.


Tatapannya tertuju kearah cake dan juga segelas susu yang tergeletak manis diatas meja belajarnya. Lalu helaan nafas keluar dari bibirnya.


Dirinya merasa jahat sekarang, karena tak seharusnya dia memperlakukan mamanya seperti barusan. Tapi hatinya begitu gengsi untuk menerima segala kebaikan yang diberikan padanya.


...\=\=\=\=...


Derap demi derap langkah yang lebar memenuhi isi koridor kelas.


Dengan kecepatan sedang seorang gadis yang mengikat rambutnya kuncir kuda berjalan hampir setengah berlari. Salahkan dirinya sendiri yang begitu teledor sehingga dia datang lebih lambat dari biasanya.


Mungkin saat ini orang yang akan ia temui tengah murka padanya. Semoga saja hal itu tak berpengaruh akan perjanjian mereka berdua. Untung saja suasana koridor hari ini terlihat cukup renggang, jadi tak akan ada orang yang menyadari bahwa gadis itu tengah berlari kecil.


"AWAS!!" Teriak seseorang dari arah lapangan basket.


Dengan kecepatan yang sangat luar biasa, sebuah bola melesat ke arahnya.


Sudah tak ada waktu baginya untuk menghindar dari serangan bola. Jadi yang bisa dilakukan gadis itu hanya pasrah sambil menutup kedua matanya. Mungkin ini akan menjadi sebuah catatan dalam hidupnya, tentang kesialannya pagi ini.


BRAAKKK


Seseorang telah menangkis serangan bola yang seharusnya mengenai dirinya. Entah siapa gerangan malaikat yang telah melindunginya itu


Setelah dirasa tidak terjadi apa-apa padanya. Kina membuka kedua matanya secara perlahan.


"Lo gak papa?” tanya seseorang yang berdiri di hadapannya.


Kina mengerjapkan matanya beberapa kali. Memastikan kalau penglihatannya tidak salah sama sekali.


Lelaki itu memandanginya dengan raut wajah khawatir.


Lalu ia kembali tersadar. "Ah. Gue gak papa,” jawabnya cepat.


Lelaki itu mundur beberapa langkah, memberi jarak antara mereka. "Beneran nih gak papa?”Tanyanya lagi.


Kina mengangguk. "Iya beneran. Btw thanks ya Rey uda ngelindungi gue barusan,” Ucap Kina tulus.


Seseorang datang dari arah lapangan sambil berlari dan membuat keduanya menoleh. "Lo semua gak papa?” Tanyanya dengan khawatir.


"Kita gak papa,” Jawab Rey.


"Seriusan? Ada yang luka gak?”


Rey dan Kina menggeleng bersamaan.


Lelaki itu menghelakan nafasnya "Syukur deh kalo gitu.”


Hendery menyengir. "Sorry Rey, gue kelepasan tadi.”


Rey mengangguk singkat. "Gue maafin kali ini, tapi gue harap lo gak ngelakuin hal yg sama, jangan sampai ada korban lagi selain kita.”


"Iya Rey. Kalo gitu gue cabut dulu mau balik ke lapangan. sekali lagi gue minta maaf ke elo berdua,” Pamitnya ke Kina dan juga Rey.


Keduanya hanya tersenyum singkat.


Lalu anak laki-laki itu kembali ke lapangan meninggalkan keduanya.


Kina masih memandang kepergiannya Hendery dalam diam. Meski dirinya tidak jadi terkena bola. Dia masih saja merasa shock.


"Lo lagi ada masalah ya Kin?” Tanya Rey tiba-tiba.


"Ehβ€”β€œ Kina memandang Rey dengan bingung. Lalu berucap. "Gak kok. Gue lagi gak ada masalah.”


"Terus kenapa dari tadi gue liatin lo jalannya kayak orang terburu-buru gitu?”


"Terburu-buru?” Kina mengulang perkataan Rey barusan. Lalu beberapa saat kemudian, baru lah gadis itu teringat akan tujuannya tadi.


"Oh iya! Astaga mampus!” Pekik Kina sembari menepuk pelan keningnya.


"Ada apa?" Tanya Rey penasaran, karena melihat ekspresi Kina yang berubah panik.


"Rey sorry ya, gue tinggal dulu. Thanks juga buat yang tadi,” ucap Kina sambil menepuk lengannya Rey pelan.


Baru saja gadis itu hendak pergi. Rey lebih dulu menahannya. "Lo mau kemana?”


"Kantin,” Ucap Kina cepat.


"Nyusul Darrenjun?”


Kina mengangguk cepat. Lalu dilepaskannya tangan Rey yang masih menahan lengannya. Dan setelahnya gadis itu berlari kencang.


Masa bodoh dengan orang-orang yang memandangnya aneh. yang terpenting dirinya harus segera sampai disana secepatnya.


...\=\=\=\=...


Jantung Kina berdebar bukan main. Nafasnya juga memburu. Bukan karena efek dia sedang jatuh cinta. Tapi, karena dirinya yang barusan berlari seperti orang gila.


Sedikit menelan ludahnya sendiri. Kina berjalan menghampiri meja Darrenjun yang telah diisi oleh Arji, Emilio, Haikal dan juga Mark. gadis itu benar-benar merasa gugup sekarang.


Kedatangannya membuat semua orang yang ada dimeja Darrenjun menoleh padanya. Termasuk Darrenjun sendiri.


"Jun” Panggil Kina pelan dengan raut wajah khawatir.


Darrenjun tak langsung menjawab. Lelaki itu melirik apple watch yang ada ditangannya sebentar. Lalu memandang ke arah Kina.


"Lo telat,” Ucapnya singkat.


Kina kembali menelan ludahnya sendiri. Lalu berucap. "Sorry Jun,” katanya dengan suara pelan.


Haikal tersenyum miring. Dirinya merasa begitu bahagia melihat wajah Kina yang pucat pasih.


"Mampus lo,” ledeknya.


Kina melemparkan tatapan tajamnya ke Haikal sebentar, lalu kembali melirik Darrenjun. "Jun plis maafin gue ya. Gue janji ini buat yang terakhir kalinya,” Mohon Kina.


Tak ada respon dari lelaki itu. anak laki-laki itu malah asik memainkan hapenya.


"Junβ€”β€œ


"Iya kali ini gue maafin. Tapi next gak akan,”Jelasnya.


"Uda lo duduk sana,” Tunjuk Darrenjun ke kursi kosong yang ada disebelah Haikal.


"Ehβ€”β€œ Ucap Kina setengah terkejut. Begitu pula dengan Haikal.


"Lo apa-apaan sih Ren. Nyuruh nih bocah duduk disamping gue? Males banget,” omong Haikal tak terima.


"Eh! lo pikir gue juga sudi apa duduk dekat lo!”Ucap Kina dengan kesal.


"Terus lo mau duduk dimana?” Tanya Darrenjun dan membuat semua orang yang ada disitu saling tukar pandang mencari tempat kosong yang memang tidak ada selain yang disebelahnya Haikal. Hanya itu satu-satunya kursi kosong yang tersisa.


Kina menarik nafasnya. "Yaudah deh,” Pasrah Kina dan mengambil duduk disebelahnya Haikal.


Haikal membuang wajahnya, tak mau melirik gadis yang ada disebelahnya.


"Lo gak usah GR gue juga ogah ngeliatin elo,” jelas Kina padanya.


Lelaki itu melirik Kina dengan garang. "Helow. Lo pikir aja sendiri sist. Hawa disekitaran gue mendadak panas berkat lo.”


"Apaan sih lo gaje banget,” Omel Kina.


"Lo tuh yang gaje.”


"Lo tuh.”


"Elo.”


Dan kembali perdebatan pun dimulai.


...\=\=\=\=...


...Suka gak suka kalian harus suka sama ceritaku oke ****πŸ˜…πŸ˜…**** (author mau maksa)...


...***Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya para readers tersayang ****😘😘😘*...