Cutton Candy

Cutton Candy
The Truth



...πŸ’—Cutton CandyπŸ’—...


...-...


...(Ku harap jika ini akhirnya tidak akan ada lagi yang terluka -Azkina)...


...-...


Sudah hampir setengah jam berlalu, dan selama itu pul akeduanya masih diselimuti oleh kebisuan. tak ada satupun dari keduanya yang berniat mengucapkan barang sepatah katapun seolah-olah bibir keduanya terkunci begitu rapat.


Kina yang masih dengan pikirannya sendiri dan Rey yang begitu cekatan mengobati lutut Kina yang terluka.


"Maaf,” ucap Kina yang akhirnya menghentikan kebisuan yang ada. Entah dari mana juga ia punya keberanian untuk bersuara lebih dulu yang jelas hanya itu kata pertama yang terlintas dibenaknya.


Rey mengangkat kepalanya menatap Kina yang terlihat dengan raut bersalah. Ia hentikan kegiatannya itu yang memang sudah selesai.


"Maaf?” ulang Rey. "Buat apa?" Lanjutnya dengan raut wajah bingung.


"Karena gue elo jadi ikut terlibat,” jelas Kina.


"Lo bahas masalah Darrenjun barusan?”


Kina mengangguk cepat.


"Kenapa elo yang harus minta maaf? Bukan elo harusnya tapi Darrenjun.”


"Tapi Darrenjun gak bakalan ngomong kayak gitu kalo bukan karena elo belain gue yang β€”β€œ


"Kin.”


"Rey. Plis elo gak usah belain gue kayak tadi. Ini salah gue, emang gue yang harusnya Nerima konsekuensinya.”


"Konsekuensi? Elo gak salah, mereka yang salah,” tegas Rey dengan kedua mata yang memerah. Rey sungguh kesal karena Kina begitu lemah.


"Dan mulai sekarang gue gak bakalan tinggal diam kalo ada yang nyakitin elo lagi. Gue bakalan buat perhitungan.”


"Rey.”


"Gue gak peduli Kin. Sekarang elo pulang gak boleh sendirian lagi, lo harus barang gue. Titik.”


Kina hanya diam terpaku, lagi-lagi dia harus merepotkan lelaki yang telah menjadi cinta pertamanya itu. Lelaki yang ia harapkan telah move on darinya.


-


"Elo gak lupa sama janji elo ke kita kan?”


Gadis cantik yang baru saja diberikan pertanyaan oleh temannya itu, berbalik.


"Ya enggak lah, gue bukan tipe orang yang ingkar janji as you know,” ucapnya sembari mengibaskan rambutnya ke belakang dengan anggun.


Keduanya menghembuskan nafasnya lega.


"Syukur deh, gue harap elo secepatnya gantiin posisi kita di bagian inti,” sahut yang satunya, Amanda.


"Elo tenang aja, gue bakalan lakuin sesuai janji gue. Asalkan Kina benar-benar jauh dari Darrenjun.”


"Itu soal mudah. Permainan baru juga di awal, belum sampai di penghujung acara.”


Keduanya saling tertawa bahagia, rencana ketiganya yang telah disusun dengan cermat berjalan dengan mulus. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ketiganya mendapatkan yang mereka inginkan.


"Wah... wah it's great planning,” seru seseorang yang baru saja keluar dari balik tembok.


Melihat kehadiran sosok itu membuat ketiganya terkejut bukan main.


"INJUN!" Teriak Lisa yang shock melihat kehadiran Darrenjun, lelaki tinggi itu tersenyum lebar seakan-akan ia ikut didalam permainan ketiganya.


Setelah puas bertepuk tangan dan bersorak Darrenjun menatap tajam Lisa. Kilatan amarah sungguh terpancar jelas dari wajahnya.


"Injun dengarin aku, aku gak β€”β€œ


"Stop! cukup manggil gue dengan nama Injun. Elo gak pantas buat manggil gue dengan nama itu lagi.”


Wajah cerah Lisa seketika berubah menjadi pucat pasih. Tangan gadis itu gemetaran. Ia yakin tak akan ada lagi ampunan bagi lelaki itu padanya. Baru kali ini ia melihat tatapan Darrenjun yang begitu menusuk itu.


"Kita gak ikutan!" seru Jeha mencoba membela dirinya sendiri.


"Iya kita disuruh sama dia,” tunjuk Amanda ke arah Lisa.


Lisa terkejut mendengar kata yang baru saja di ucapkan oleh kedua orang yang menjadi temannya itu. Ia tidak menyangka setelah semuanya berjalan lancar keduanya malah berpaling meninggalkannya.


Sialan mereka. Rutuk Lisa dalam hati.


"Kalo gitu kita pergi dulu.”


Keduanya berbalik hendak pergi tetapi sebelum itu terjadi Darrenjun lebih dulu bersuara.


"Jadi ini yang lo dua lakuin, setelah orang yang lo deketin gak berhasil memenuhi keinginan elo.”


Langkah keduanya terhenti, mereka berbalik menatap kesal Darrenjun.


"Maksud Lo apa?”


Darrenjun tersenyum miring, lalu mendekat ke tempat keduanya berada.


"For information gue tau penyebab kematian Yaya,” bisiknya tepat didepan keduanya.


Jeha dan Amanda seketika membeku di tempat. Ada hal yang telah mereka sembunyikan begitu rapat dan sialnya hal itu bisa diketahui oleh Darrenjun.


Bagaimana Darrenjun bisa tahu?


Melihat keduanya tampak kebingungan membuat Darrenjun tersenyum puas.


"Lo pasti pernah dengar istilah kayak gini. Sebaik apapun elo menyimpan bangkai, pasti baklan kecium juga.”


"Maksud lo apa? Lo jangan ngacoh,” tegas Amanda yang berusaha meredam ketakutannya itu. Meski pada akhirnya hal itu sama sekali tak berlaku bagi Darrenjun.


"Lo jangan asal tuduh kita gini dong,” tegas Jeha yang mulai tersulut emosi.


"Lagian kematian Yaya itu murni kecelakaan dan kita gak tau apa-apa. Lo jangan fitnah kita.”


Darrenjun masih mempertahankan senyumnya, ia sangat menikmati pemandangan bagaimana keduanya terlihat begitu ketakutan.


"Oh ya,” ledek Darrenjun.


"Kalo lo lupa. Lo tenang aja kebetulan gue punya rekamannya.” Darrenjun mengangkat handphonenya sembari menujukan video yang sama sekali tak ingin dilihat oleh keduanya. yang dimana terdapat pemandangan keduanya yang telah menyabotase mobil yang dikendarai oleh Yaya. Mobil yang Yaya kendarai terakhir kalinya.


Amanda dan Jeha membeku ditempat, wajah keduanya pucat pasih. Sudah tidak ada lagi harapan bagi keduanya untuk terbebas dari masalah yang mereka perbuat. Ketakutan mereka akan menjadi kenyataan. Dimana keduanya akan berada dibalik jeruji besi.


"Itu ... itu ... boongan pasti! pasti!”


"Lo masih mau mengelak?" tanya Darrenjun yang mulai kesal dengan tingkah keduanya. Sudah cukup membuang waktunya,.


"Gimana kalo bukti rekaman ini gue anter ke kantor polisi. Kita lihat siapa yang akan menang.”


"JANGAN!" Teriak keduanya bersamaan.


"Ren plis, biarin kita jelasan kaloβ€”β€œ


Darrenjun mengangkat tangannya ke atas, memberi tanda ia tak ingin mendengar apapun lagi.


Keduanya menjadi frustrasi bukan main.


"Ren plis jangan! kasih kita kesempatan,” ucap Jeha dengan nada memohon.


"Iya Ren, kita bakalan lakuin apa aja,” tambah Amanda.


Situasi ini benar diluar dugaan, keduanya tak menyangka bahwa Darrenjun bisa memiliki kartu as keduanya. Mereka bakalan tidak percaya kalo saja Darrenjun tak memutar singkat video mereka menggunakan handphonenya.


Lisa menjadi bingung dengan situasi yang terjadi. Dan bagaimana bisa wajah Amanda dan Jeha yang tadinya terlihat ceria bisa berubah menjadi ketakutan.


Ada apa ini sebenarnya? -Lisa


Gadis itu ingin berucap, tapi tak berani. Karena bagaimanapun ia masih lah tersangka yang tak akan bisa untuk membela diri terlebih lagi Darrenjun yang sudah menangkap basah dirinya.


Jangankan kesempatan kedua. Di maafkan saja sudah syukur.


Darrenjun yang tadinya sempat menikmati pemandangan yang ada di depannya kini sudah tak tertarik lagi. Wajahnya yang tadinya masih terlihat cerah kini menjadi menakutkan bukan main. Pandangan tajam dan menusuk kini menghiasi wajahnya.


"Gue bakalan kasih lo kesempatan. Asal lo beresin segala hal yang uda lo mulai itu,” tegasnya.


"Maksud lo soal Kina?” tanya Joy dengan gagap.


Darrenjun mengangguk singkat. "Gue rasa lo bisa mencerna perkataan gue barusan.”


Lalu ia beranjak, sebelum benar-benar pergi, lelaki itu berbalik memandang ketiga gadis itu lagi dengan wajah mengintimidasinya.


"Beresin segala hal dari yang terkecil tanpa terkecuali. Dan jangan pernah sekalipun lo berniat untuk nyentuh Kina lagi. Kalo lo masih nekat. Gue bakalan buat perhitungan yang lebih dari yang elo bayangin.”


"Hal ini termasuk buat lo". Lanjut Darrenjun sembari memberi tatapan tajam ke arah Lisa yang masih termenung.


Tak ada jawaban ataupun ucapan dari ketiganya. Mereka terlalu takut dengan ancaman Darrenjun.


Setelah memberi peringatan pada ketiganya, Darrenjun pun pergi dari sana. Pergi dengan berlari.


Langkahnya begitu cepat dan pasti. Karena masalahnya tak sampai disini saja, masih ada hal yang harus ia selesaikan dengan cepat.


Semoga saja ia tidak terlalu terlambat, jika iya lenyap sudah harapannya.


-


-


Jika dulu Darrenjun adalah sosok yang paling dingin, kaku, galak dan juga gengsian. Kini sosok itu sudah tak ada lagi, seakan sosok yang dulu hilang tertiup angin.


Bahkan saat ini ia tidak peduli dengan hal gila yang tengah ia lakukan, yaitu berlari di sepanjang lorong sekolah hanya mencari seorang gadis yang telah membuat hidupnya yang begitu pahit menjadi manis.


"Azkina!” Teriaknya.


Sang empuh menghentikan langkahnya, berbalik memandang sosok itu dengan tatapan terkejut.


Ia membeku ditempat, masih tidak percaya dengan panggilan yang barusan keluar dari bibir Darrenjun.


Darrenjun memanggil namanya dengan keras.


Tak ingin membuang waktu, Darrenjun segera berlari mendekat ke tempat dimana Kina berada, karena jarak tempat mereka tengah berdiri cukup jauh.


Nafas Darrenjun memburu, jantungnya berdegup begitu cepat, ia merasakan kegugupan yang luar biasa. Bisa saja langkahnya ini akan menajdi akhir dari hubungannya.


Semoga saja tidak seperti itu.


Meski begitu ia tetap mempercepat langkahnya berjalan ke arah Kina yang masih mematung memandangnya diujung lorong.


Gila bukan, bagaimana bisa seorang Darrenjun Evans yang terkenal irit bicara mendadak berteriak dengan kencang ke arah gadis yang letaknya berjauhan darinya.


Ah sudah lah. Sosok itu sudah tidak ada.


Kina meremat ujung roknya. Ia gugup setengah mati, karena Darrenjun berjalan ke arahnya sembari tersenyum lebar. Senyuman yang amat sangat ia rindukan.


Saat jarak keduanya hanya terpisah beberapa centi lagi, Kina mundur beberapa langkah. Hal ini masih begitu mengejutkan untuknya.


"Kin,” Panggil Darrenjun dengan suara lembut. Ia berharap ketakutannya tak menjadi kenyataan.


Air mata Kina seketika jatuh bagaimana bisa dengan panggilan seperti itu membuat gadis itu luluh dan ingin menangis.


"Kin.”


Darrenjun mendekat tetapi lagi-lagi Kina mundur, menjauh darinya.


"Maafin aku,” ucap Darrenjun yang merasa bersalah melihat Kina yang menangis karenanya.


Kina tak bisa berucap barang sepatah kata pun lagi ia hanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang tengah menangis dari Darrenjun.


Dan dengan cepat Darrenjun mendekat, menarik tangan Kina agar gadis itu agar tak kabur.


"Maaf,” ulang Darrenjun lagi.


"Maaf karena aku uda cuekin kamu. Maaf karena aku nyakitin kamu. Jujur aku gak maksud kayak gitu, dan gak pernah sekalipun aku punya pikiran buat ngelakuin hal itu.”


Kina mengangkat kepalanya, menghapus air matanya dengan kasar.


"Jahat”, ucapnya sembari menghempas tangan Darrenjun yang mencekal pergelangan tangannya.


"Iya aku tau. Maaf.”


"Kamu jahat Jun. Kenapa Jun kamu ngelakuin itu semua ke aku, emang aku salah apa?"


"Aku benci sama kamu, aku benci karena aku gak bisa marah ke kamu.”


"Aku bakalan jelasin semuanya. tapi uda ya nangisnya, nanti kamu tambah cantik dan aku tambah suka.”


Kina menghentikan tangisnya, menatap Darrenjun dengan kesal. "Gak lucu.”


"Tapi aku berhasil buat kamu senyum kan??" Goda Darrenjun terhadap Kina sembari tersenyum dengan lebar.


Kina memilih diam, percuma saja dia melawannya. Karena pada akhirnya dia lah yang akan kalah. Tapi, bagaimana bisa seorang Darrenjun memiliki gombalan aneh seperti itu.


Darrenjun tiba-tiba menarik tangan Kina yang bebas, lalu mengelusnya dengan sayang. ditatapnya kedua manik mata Kina dengan lekat.


"Kamu pasti mengalami hari yang menyakitkan selama ini, maaf ya aku gak ada disamping kamu.”


Kina segera melepas genggaman tangan Renjun dari tangannya, ia butuh penjelasan dnegan semua hal yang terjadi selama ini.


"Iya aku tahu, aku baklan jelasin semuanya.” Jelas Renjun yang mengerti dengan tingkah Kina barusan.


Kina tak menjawab, dirinya terlalu shock dengan Renjun yang seakan bisa membaca isi pikirannya.


"Entar pulangnya bareng aku, nanti aku jelasin. kamu mau kan?” Pinta Renjun dengan lembut.


Tak perlu ada pertimbangan bagi Kina untuk menyetujui ajakan Renjun tersebut dan tanpa membuang waktu Kina pun mengangguk.


-


-


Sesuai janji keduanya untuk pulang bersama. Kina menunggu Darrenjun didepan kelasnya dengan semangat. akhirnya keduanya bisa pulang bersama lagi, untungnya pagi tadi Kina diantar papanya.


"Uda baikan?”


Kina berbalik dan mendapati Arji yang tengah berdiri sembari tersenyum kikuk.


Kina tersenyum tipis sembari mengangguk. "Fifhty fifhty si sebenarnya.”


"Oh,” seru Arji sembari mengangguk. "Bagus deh sekarang gue bisa tenang,” gumamnya.


"Ah.. gimana maksud lo?”


Arji langsung menggeleng pelan. "Enggak ada lupain, elo terlalu lemot.”


"Sialan lo.”


Arji tak membalas hanya tersenyum tipis. "Yaudah kalo gitu gue deluan.”


Kina mengangguk singkat. "Hati-hati.”


Arji hanya mengangguk singkat, lalu pergi meninggalkannya.


Meski langkah Jisung telah menjauh darinya, pandangan Kina masih saja tertuju oleh punggung Arji yang mulai menghilang dari pandangannya. Dalam hatinya Kina bersyukur, meski Arji pernah menyatakan perasaannya pada Kina dan ia menolaknya. Hubungan pertemanannya masih berlanjut. meski awalnya sedikit canggung. Tapi sekarang sudah tak lagi.


"Aku gak suka kamu mandangi laki-laki lain kayak gitu, meski dia teman aku sendiri.”


Kina mengalihkan pandangannya dan menemukan Darrenjun yang tengah berdiri dihadapannya dengan wajah masam.


Tentu saja Kina tau apa penyebab dari wajah masam Darrenjun tersebut, hal itu berkaitan tak lain dan tak bukan yaitu, karena ia yang tengah memandang Arji tadi.


"Kamu cemburu?” tanya Kina polos.


Darrenjun memutar bola matanya dengan kesal. "Pertanyaan yang uda jelas ada jawabannya,” ucapnya. Lalu sebelah tanganya segera menarik tangan Kina untuk digenggam.


"Kamu pacar aku dan calon istri aku.”


Kedua mata Kina terbelalak bukan main mendengar ucapan Darrenjun yang kelewat berlebihan itu, segera ia lepas genggaman tangan Darrenjun tersebut. "Masih juga SMA uda bahas istri-istrian aja.”


"It's planning Kin. Kenapa kamu gak mau?”tanya Darrenjun dengan sedih.


"Bukan kayak gitu, tapi terlalu cepat bahas yang begituan.”


"Jadi kamu mau bahasnya kapan?”


Kina memandang horor Darrenjun lalu mempercepat langkahnya, menjauh dari Darrenjun. Ia sengaja melakukannya agar lelaki itu berhenti berucap yang aneh-aneh lagi. Terlalu dini bagi Kina untuk diberi pertanyaan seperti itu. Bangun pagi saja ia masih susah, bagaimana bisa menajadi seorang istri.


"Kin…” panggil Darrenjun yang mencoba menyamai langkahnya dengan Kina.


"Aku gak mau pulang bareng kamu kalo masih bahas begituan,” ucap Kina sembari menutup kedua telinganya menggunakan tangannya.


"Jadi kamu mau bahasnya kapan?”


Kina tak menjawab dan memilih mempercepat langkahnya.


...-...


...Terima kasih telah membaca karya yg aku tulis πŸ™πŸ™ sebentar lagi, Cutton Candy akan tamat 🌸 aku harap kalian tidak lupa untuk memberi saran beserta masukan pada cerita yg aku tulis πŸ˜ŠπŸ‘»...