Cutton Candy

Cutton Candy
Ungkapan



...💓CUTTON CANDY💓...


...*(Jika Mariposa adalah kupu-kupu, maka elo adalah beludru alias kecebong 😜. -Haikal Dafin) *...


...*****...


"Gue mau nembak Kina."


Perkataan Rey barusan membuat kedua lelaki itu menoleh padanya.


Tidak. Tidak. Hanya satu yang peduli, sementara yang satunya hanya diam dengan pikiran yang menerawang, memikirkan apa yang terjadi jika Rey menyatakan perasaannya itu pada gadis yang hampir membuatnya pusing setengah mati.


Mark memandang Darrenjun yang masih diam, seakan-akan perkataan Rey bukan lah apa-apa untuknya.


"Lo yakin mau nembak dia?" Tanya Mark memastikan kembali.


Rey mengangguk yakin. "Meski belum ada kepastian bahwa dia nerima gue, tapi setidaknya gue uda ngungkapin perasaan gue ke dia," Jawab Rey sembari menerawang dan tersenyum.


Sepertinya ia tengah memikirkan wajah Kina.


Mark menyenggol lengan Darrenjun pelan, berusaha membuat lelaki itu tersadar, untuk segera bertindak.


Tapi sayangnya Darrenjun tak bereaksi apa-apa. Bahkan ia bersikap seolah-olah tak peduli dengan perkataan Rey tersebut.


Mark menghelakan nafas akhirnya. Dia sudah tak tahu lagi harus melakukan apa terhadap temannya yang kelewat cuek.


-


-


Dengan bahu yang sedikit melorot, Darrenjun berjalan ke arah ruang tv, lalu duduk diatas sofa empuk yang ada ditempat itu.


Bukan untuk menonton tv, lelaki itu hanya merasa kurang mood saja seharian ini. Ada sesuatu yang mengganggunya.


Kepalanya ia tadahkan ke atas, mengingat kembali perkataan Rey tadi siang.


Meski terlihat tidak peduli, jangan pikir dia benar melakukannya. Karena pada kenyataannya lelaki itu bersikap seperti tadi hanya ingin menutupi gengsinya. Tak ingin ada yang tahu tentang perasaanya.


Sekarang ia menjadi gelisah setengah mati. bahkan ia menjadi frustasi, takut gadis yang ia sukai benar-benar menjadi milik temannya.


"Baru pulang Ren?"


Pertanyaan Lucas membuat Darrenjun langsung menghentikan lamunannya. Ia berbalik dan mendapati Lucas yang tengah berjalan ke arahnya sembari membawa cemilan beserta minuman kaleng. Sepertinya Lucas berniat menonton tv


Darrenjun hanya mengangguk singkat, lalu kembali fokus pada layar tv yang tak menyala.


"Tumben gak ke kamar? Lo ada masalah?" Tanya Lucas yang baru saja ikut bergabung dengannya, duduk diatas sofa ruang tv.


"Enggak gue gak ada apa-apa. Pengen duduk aja," Elaknya.


"Jangan bohong. Wajah lo lesu, jadi gak mungkin lo gak punya masalah."


"Masih kepikiran tente ya?" Tanya Lucas hati-hati. Takut membuat hati Darrenjun menjadi terluka.


Darrenjun menggeleng untuk kedua kalinya. "Bukan karena mama," Jawabnya jujur, karena meskipun ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Laura meninggalkannya. Tapi, teruntuk hari ini, entah mengapa Darrenjun hanya ingin memikirkan Kina saja.


"Lalu?"


"Gue cuma-"


"Lo kepikiran masalah Kina?" Tebak Lucas.


"Jangan sotoi. Lo tau apa?" Ucap Darrenjun cepat.


Lucas terkekeh geli, lalu kembali berucap. "Gue emang gak tau apa-apa. Tapi gue tau lo suka dengan dia kan?"


"Jangan bohong. Mark uda cerita ke gue," imbuhnya.


Darrenjun mendumel sendiri, dalam hatinya ia ingin menyumpel mulut teman bule nya yang kelewat ember. Bisa-bisa nya membeberkan perihal masalah pribadinya begitu saja pada Lucas.


"Gue ngerti perasaan lo. Emang berat, disatu sisi, Rey temen lo dan di satu sisi Lo suka Kina."


Darrenjun menatap Lucas, tanpa berniat berucap.


"Tapi lo masih punya kesempatan untuk yakinin Kina bahwa lo lebih baik ketimbang Rey."


"Caranya?" Darrenjun menjadi tertarik sekarang. Akhirnya, ia mau bersuara juga dan sedikit terbuka kepada Lucas.


"Temui dia dan buat dia gak bisa beralih ke elo lagi."


Darrenjun mencoba menimbang kembali keputusannya, lalu ia bangkit dari tempatnya.


"Thanks, gak sia-sia gue punya kakak seorang playboy."


"Lo ngatain gue?"


"Enggak, gue cuma ngomong jujur."


"Gue ini playboy karena gen papa nempel ke gue," Bela Lucas terhadap dirinya.


Darrenjun hanya mengangguk singkat. Menyetujui perkataan Lucas tersebut.


-


-


Melalui pantulan cermin Kina memandang dirinya sendiri yang mengenakan dress selutut berwarna lilac, ia tersenyum senang, karena hari mungkin akan menjadi hari sejarah baginya.


Akhirnya penantiannya akan segera terbalaskan.


Setelah dirasa semuanya telah sempurna, Kina keluar dari kamarnya dengan langkah ringan.


Baru saja menurunin anak tangga, Dea menatap Kina dari atas sampai bawah. "Kak Kina mau kencan dengan kak Darrenjun ya?"


Kina menatap Dea dengan kernyitan di dahinya, lalu menggeleng cepat. "Enggak. Siapa yang mau kencan dengan Darrenjun?"


"Itu buktinya," Tunjuk Dea ke arahnya.


"Sotoi lo. Yang jelas gue gak kencan sama Darrenjun," Jawab Kina merasa terusik dengan perkataan Dea yang asal.


"Boong."


"Iya beneran gue gak kencan sama Darrenjun. Lagian gue keluar bukan sama dia."


"Terus tadi, kak Darrenjun ngapain kesini?"


Kina menoleh ke arah Dea dengan aneh. "Darrenjun kesini?" Tanyanya.


Dea mengangguk kecil. "Kesini, cuma gak masuk, cuma diri didepan pagar doang."


Kina segera berlari ke arah jendela rumahnya, memastikan perkataan Dea mengenai keberadaan Darrenjun.


Srekkkk


Kina menyibakkan gordennya sedikit, memandang keluar jendela.


Tapi sayangnya, ia tak menemukan tanda-tanda kehadiran Darrenjun disana.


"Lo boong kan?" Tuduh Kina pada Dea.


"Enggak. Beneran, tadi kak Darrenjun diri di gerbang."


"Kenapa gak dia ajak masuk kalo bener?"


"Uda di ajakin tapi dianya gak mau."


Kina sempat melamun sebentar, lalu mengeluarkan handphonenya, bermaksud mengirim pesan pada Darrenjun


Tapi, baru saja ia mengetikkan beberapa kata, suara deru motor Rey membuatnya teralihkan. Dengan cepat ia menyusul Rey yang telah tiba dirumahnya.


-


-


"Lo beneran gak mau coba cegah Rey?"


"Buat apa?"


"Ren, Rey mau nembak Kina. Lo yakin Lo gak apa-apa?"


Darrenjun tersenyum tipis. "Gue uda kerumahnya tadi."


"Terus?" Tanya Mark penasaran dengan lanjutan cerita Darrenjun.


"Gue sempat mau cegah dia, tapi gue sadar. Orang yang dia suka itu Rey bukan gue. Dan gue gak mau jadi penghalang buat mereka."


Mark hanya diam membisu, dia juga tak punya hak untuk melarang keduanya untuk saling suka. Tapi, tetap saja ia merasa kasihan dengan Darrenjun, karena terlambat menyadari bahwa ia suka dengan Kina.


"Yaudah, Mabar kuy."


-


-


"Maaf ya gue cuma bisa ajak lo kesini."


Kina menoleh ke arah Rey yang berada disebelahnya, lalu ia tersenyum hangat.


"Apaan sih? lagian gue malah senang di ajak kesini. Dari dulu pengen kesini, cuma gak ada temennya."


Rey mengulurkan tangannya mengelus puncak kepala Kina lembut. Sejak dari tadi Rey berusaha menahan diri untuk tidak gemas melihat Kina yang terlihat lucu.


Terlebih hari ini, Kina terlihat sempurna di mata Rey. Anggap lah ia sedang bucin, karena memang itu yang sedang terjadi.


"Entar kalo ada waktu, kita kesini lagi."


Kina mengulum senyumnya dengan ucapan Rey barusan.


Hari ini Rey mengajak Kina untuk jalan-jalan ke kebun binatang. Awalnya Rey berinisiatif memabwa Kina ke taman hiburan, tetapi sesuai informasi yang ia dapatkan dari kedua teman Kina, bahwa gadis itu tak terlalu bisa menaiki wahana yang ada disana.


Jadi untuk menghindari ke mubaziran tiket dan waktu. Rey pun memutuskan untuk membawa Kina ke kebun binatang saja.


"Uda lama banget gak kesini," Ucap Kina yang begitu girang melihat satwa-satwa yang ada ditempat itu. Bahkan ia tak bisa untuk tersenyum melihat hewan yang ada disana.


"Jalannya pelan-pelan. Entar jatuh," Kekeh Rey.


Kina mengangguk setuju dan kembali mengitari tempat itu.


Sedikit lega, Rey ternyata tak salah pilih tempat.


Keduanya menikmati waktu mereka sembari memberi makan hewan dan juga berfoto, mengabadikan momen kebersamaan mereka berdua.


"Capek gak?" Tanya Rey pada Kina, saat keduanya duduk di dalam kafetaria.


Kina menggeleng cepat. "Gak sama sekali."


Rey tersenyum manis. "Mau mesen apa?"


"Nasi goreng."


"Yakin cuma itu? Gak mau coba gorengannya gitu."


"Boleh deh kalo maksa."


Rey tak bisa untuk tidak tertawa mendengar celotehan Kina yang kelewat lucu menurutnya. "Yaudah tunggu bentar, gue kesana dulu."


Kina mengangguk semangat.


Rey pergi meninggalkan Kina menuju stand yang menjual pesanan Kina tersebut.


Kina memandang area tersebut, lalu helaan nafas keluar dari bibirnya begitu saja.


Ada apa dengannya?


Rey adalah bentuk lelaki sempurna yang ia inginkan layaknya seperti karakter drama Korea yang sering ia tonton. Tapi entah mengapa, hatinya tak merasakan apa-apa, perasaan dulu yang begitu menggebu-gebu untuk Rey menguap begitu saja. Seolah-olah perasaan itu tak pernah membekas didalam hatinya.


Apa mungkin karena ia mulai bosan?


Ahh.. Kina mendadak pusing sekarang. Ia menjadi tak enak jika Rey benar telah jatuh cinta padanya. Sementara ia takut hatinya bukan lagi milik Rey.


"Lama nunggunya?" Suara Rey membuat Kina tersadar dari lamunannya sendiri.


Kina menggeleng dan tersenyum tipis.


Rey menata makanan yang ia bawa dan meletakkannya di hadapan Kina.


Setelah selesai menata makanan di atas meja. Keduanya menikmati makanan mereka dalam kadaan tenang. Semilir angin sore menerpa wajah keduanya. Cuaca sangat mendukung hari ini.


-


-


Langit cerah telah menjelma menjadi langit gelap.


"Gak mau mampir?" Tanya Kina saat baru saja turun dari motor Rey. Keduanya telah sampai didepan pagar rumah Kina.


Rey menggeleng. "Gak usah, makasih. Lagian uda malem."


Kina mengangguk setuju dengan ucapan Rey tersebut.


Rey turun dari motornya, berdiri tepat di hadapan Kina. Tangan Rey yang bebas ia ulurkan kedepan dan menarik tangan Kina, lalu menggenggamnya lembut.


"Kin. Gue suka sama lo." Aku Rey sembari menatap lurus ke dalam bola mata Kina.


Kina tercekat, ia bingung sekaligus takut. Takut akan mengecewakan lelaki yang telah berdiri dihadapannya. Lelaki yang menjadi pujaannya selama ini. Harusnya ini adalah momen yang paling membahagiakan untuknya. Tapi entah kenapa hatinya malah berkata lain.


Kina menunduk, tak sanggup menatap kedua mata yang telah menatapnya dengan begitu tulus.


"Maaf Rey gue-"


Rey tersenyum tipis. "Lo jangan nunduk, gue ngerasa jadi pecundang."


Kina segera mengangkat kepalanya dan menatap Rey.


"Jae, gue-" Kina kembali tertunduk, air mata telah memenuhi pelupuk matanya.


"Hei," Rey mengangkat dagu Kina dan menatapnya.


"It's ok Kin. Ini gak salah elo. Jangan nangis."


Kina mengusap air matanya dan mengangguk pelan.


"Gue gak maksud mainin hati elo. Karena jujur gue ragu."


"Salah gue Kin. Sepertinya gue telat mahami perasaan gue sendiri."


"Uda ya jangan sedih."


Rey merengkuh tubuh mungil Kina kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu merasa lebih tenang.


-


-


"Lo gak niat ngasih kita minum gitu?" Sindir Mark pada Arji yang tengah duduk selonjoran diatas sofa.


"Lo haus?"


Mark menarik nafasnya dalam, sudah hampir 2 jam mereka berada dirumah Arji dan tak ada sedikitpun kebaikan hati dari lelaki itu untuk menawarkan minuman pada mereka.


"YA IYALAH! Ginian doang pake segala ditanya."


"Yaudah sih. Santuy gak usah ngegas," Kesal Arji yang berjalan ke arah dapur.


"Heran gue sama isi kepalanya," Mark berceloteh pada Darrenjun yang berada disebelahnya.


Darrenjun hanya diam tak bereaksi apa-apa, sebab pikirannya sedang berkelana entah kemana. memkirkan waktu yang tengah di lewati Kina bersama Rey berdua.


Tepukan pelan dari Mark membuat Darrenjun menoleh ke arahnya.


"Kepikiran ya?"


Darrenjun menggeleng cepat dan segera menatap layar hapenya kembali.


"Gengsi mulu dah lo, kapan majunya cobak," Gerutu Mark sendiri.


"Whatsaap guys!" Sapa Haikal dan Emilio yang baru saja tiba.


Mark dan Darrenjun hanya mengangguk singkat.


"Arji mana?" Emilio melirik kesana kemari mencari tanda-tanda keberadaan Arji.


"Di dapur, lagi bikin minum."


"Tumben peka."


"Masih gak peka, dua jam kita disini tapi gak ditawarin minum."


"Ngadu mulu, ini gue bawain." Arji baru saja tiba dari arah dapur, dengan nampan yang telah berisi 2 gelas sirup untuk Mark dan juga Darrenjun.


"Buat kita mana?" -Haikal


"Lo mau juga?"


"Menurut lo? kita tamu Arji Raditya. minimal air keran lo kasih."


"Lo beneran mau minum air keran Kal? Gue masih ada air minum didapur," Ucap Arji shock.


Haikal menepuk wajahnya sendiri dengan tangannya.


"Tuh kan apa gue bilang, nih manusia gak peka sama bego itu beda tipis."


"Ngatain terus lo, bentar gue bikin minum."


Arji berjalan ke arah dapur untuk keda kalinya.


"Lo dari tadi disini?" Tanya Emilio yang duduk diatas sofa sembari tiduran.


Darrenjun dan Mark mengangguk bersamaan.


"Rey mana?" Haikal memandang Mark dan Darrenjun gantian.


"Rey-"


"Gue disini," Ucap Rey yang baru saja tiba.


"Dari mana aja lo?"


"Kencan."


"Dasar buaya."


Rey hanya tersenyum lebar.


Darrenjun berusaha untuk fokus pada gamenya yang ada dihapenya, mencoba menguatkan perasaannya yang telah berantakan.


Rey mendekat ke arah Darrenjun, lalu menepuk bahunya pelan.


"Giliran lo," Ucap Rey penuh arti dan membuat Darrenjun langsung mengerti arti dari ucapannya barusan.


"Gue deluan," ucap Darrenjun dan pergi meninggalkan semuanya.


"Lah si Darrenjun mau kemana?" Tanya Arji yang telah siap dengan minumannya.


"Nembak Kina," Ucap Darrenjun dan membuat Arji segera meletakkan minuman yang ada ditangannya di atas meja dengan cepat.


"Lo mau kemana?" Tanya Mark yang berhasil menahan lengan Arji.


"Nyusul dia lah."


"Ngapain? Lo kira semuanya bakalan berubah?"


Arji seketika terdiam.


"Uda saatnya elo move on dari Kina Ji, Kina nganggap lo cuma temen gak lebih."


Arji tertunduk hatinya menjadi sakit, selama ini dia yang menyukai Kina dan selalu berusaha mendapat perhatian dari gadis itu. tapi sayang, hubungan keduanya tak lebih dari teman sekelas.


"Gue saranin elo mulai bersikap baik dengan cewek yang ngejar lo itu, karena gue yakin lo paham rasanya diabaikan," Gantian Emilio yang mengingatkan.


Arji hanyalah si gak peka yang agak kelewatan.


-


-


Darrenjun berlari seperti orang gila, tak peduli rasa lelah telah menyeranganya, Keringat mengucur derasnya pada dahinya.


Saat melihat orang yang ingin ia temui berada disana, membuat Darrenjun tak bisa untuk tidak tersenyum senang.


Kina berdiri dari duduknya menatap kesal orang iseng yang menyuruhnya untuk datang ke taman komplek rumahnya, malam-malam seperti ini.


"Lo emang dasarnya kurang kerjaan atau gabut sih? Ini tuh uda malem, pake acaranya ngajak ke sini. dasar kurang kerjaan," Omel Kina.


Darrenjun hanya tersenyum dengan celotehan Kina barusan, tak berniat menjawab. dengan langkah lebar ia mendekat ke arah Kina, berdiri di hadapnnya.


Darrenjun memangkas jarak antara dirinya dan juga Kina, hingga membuat Kina secara reflek memundurkan langkahnya.


Darrenjun terlihat aneh hari ini menurutnya, tak biasanya lelaki itu diam saja dengan ucapan pedasnya. Biasanya lelaki itu akan membalas memakinya.


"Lo kenapa? Lo ada masalah?" Tanya Kina yang mulai khawatir, ia takut Darrenjun melakukan hal gila seperti biasanya.


Darrenjun menggeleng, masih mempertahankan senyumannya. Tangan Kina yang bebas ia tarik dan menggenggamnya dengan lembut.


"Mulai sekarang lo pacar gue," Terang Darrenjun dan membaut Kina menjadi shcok.


"Lo nembak gue?"


Darrenjun menggeleng pelan. "Gue nyuruh elo."


Kina melepas genggaman Darrenjun dari tangannya. Agak merasa kesal dengan ucapan Darrenjun barusan.


"Elo-"


Darrenjun kembali menarik tangan Kina, kali ini menggenggamnya dengan erat, seakan ia tak rela genggaman mereka jika terlepas.


"Gak ada penolakan," Potong Darrenjun cepat, sebelum Kina semakin protes.


Kina semakin dibuat tak mengerti dengan isi pikiran Darrenjun, jika lelaki itu benar menyukainya. Harusnya ia melakukan hal yang manis untuknya, bukan malah memaksanya sepeti ini.


Tidak seperti.


Ah sudah lah, harusnya Kina ingat dengan siapa dia berhadapan. Darrenjun Evans, si manusia antartika dan mulut merica level 50.


Semoga saja ini hanya mimpi untuknya, atau hanya prank semata.


...********...


...💓CUTTON CANDY💓...


...Jangan lupa kasih saran masukan dan vote nya juga ya, man teman 🙏🙏🙏...