Cutton Candy

Cutton Candy
Fakta



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...-...


"Lo habis darimana Ren?”


Darrenjun menoleh ke arah Lucas yang tengah berdiri di hadapannya.


Lelaki itu sekarang sedang berdiri memandang adik laki-lakinya yang barusan pulang kerumah.


"Bukan urusan lo,” Jawab Darrenjun acuh. Lalu berjalan melewati Lucas begitu saja.


Lucas menarik nafasnya dalam. Sungguh dia sudah muak berada di posisi ini bersama Darrenjun. Dia menginginkan Darrenjun yang dulu, Darrenjun yang bersikap manis padanya. Bukan seperti ini. Layaknya orang asing baginya.


Dengan langkah cepat Lucas berhasil menahan Darrenjun dan membuat Darrenjun berbalik.


"Lo mau apa?” Tanya Darrenjun dan menepis kasar tangan Lucas.


"Ren. Lo kasih tau ke gue. Apa salah gue sama lo? Gue capek Ren harus terus-terusan bersikap kayak gini sama lo,” Ucap Lucas dengan frustasi.


Darrenjun mendecih. "Lo gak tau salah Lo apa. Atau pura-pura lupa?” Tanyanya dengan nada mengejek.


"Gue seriusan gak tau Ren. Makanya gue nanyak sama lo.”


Darrenjun menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.


"Bagus juga akting lo. Kenapa gak coba casting aja, siapa tau bisa lolos jadi aktor,”Katanya dengan nada meremehkan.


Helaan nafas keluar dari bibir Lucas. "Lo marah karena soal itu lagi?”


"Menurut lo?”


"Ren. Please, jangan egois. Gak cuma lo doang yang kaget dengan fakta itu. Gue juga sama Ren. Tapi tolong, jangan jadiin itu sebagai alasan buat lo dan gue jadi musuhan. Gue tulus sayang sama lo Ren. Sama sekali gak ada niatan gue sedikit pun buat benci elo. Bagi gue lo itu tetap adik gue,” Jelas Lucas.


"Uda lo ngomongnya?” Tanya Darrenjun dan membuat Lucas tercekat.


"Ren,” Panggilnya.


"Ini yang buat gue gak suka sama lo. Lo bersikap kayak gini malah bikin gue tambah jijik tau gak.”


"Ren.”


"Lo bilang lo sayang sama gue. Tapi gue tau lo cuma kasihan kan ke gue. Karena gue lahir dari seorang ibu yang telah ngehancurin kebahagiaan orang lain dan yang paling menyedihkan, ibu kandung gue malah pergi ninggalin gue gitu aja".


"Ren. Bukan itu maksud gue.”


"Lo gak usah ngeles lagi. Lo sama aja kayak yang lain. Munafik!" Jelas Darrenjun dengan lantang.


"Darrenjun!!” Teriak seseorang dan membuat keduanya menoleh kearahnya.


Seorang pria dewasa berdiri diantara keduanya dengan raut wajah yang jelas sekali terlihat bahwa ia tengah marah pada kedua orang itu. Bukan keduanya. Hanya satu orang. Yaitu Darrenjun. Yang tak.lain dan tak bukan adalah kepala keluarga di rumah itu.


Askara Evans.


"Papa.”


Hanya Lucas yg berucap. Darrenjun hanya diam dengan wajah dinginnya. Tak memperdulikan wajah papanya yang begitu marah melihatnya.


Askara menghampiri Darrenjun dengan langkah besar. "Darrenjun. Apa maksud kamu bicara seperti itu dengan Lucas!? Kamu dan Lucas gak ada bedanya. Sama-sama anak papa dan mama,” Terangnya.


Darrenjun mendecih. "Dasar tukang bohong.”


"Darrenjun!" Hardik Askara pada anak bungsunya itu.


"Uda lah pa. Papa gak usah nutupin itu semua lagi dari kita. Darrenjun tau, kalau selama ini. Mama Laura uda ngebuat papa dan mama Jia harus berpisah. Karena mama Laura hamil Darrenjun kan!?”


"Itu semua masalah Papa dan Mama dan itu semua gak ada urusannya sama kamu,” Jelas Askara.


"Apa? Gak ada sangkut pautnya dengan Darrenjun?” Darrenjun tertawa, dan melanjutkan ucapannya lagi.


"Tapi ini soal Darrenjun Pa. Anak haram dari hubungan mama dan papa.”


"Hentikan ucapan kamu itu Darrenjun! Kamu bukan anak haram. Kamu itu anak sah dari Mama kamu dan juga Papa.”


"Ren.” Lucas mencoba menenangkan Darrenjun yang terlihat emosi. Lelaki itu mengelus pundak adiknya dengan lembut.


Tapi, dengan kasar Darrenjun menepis tangan Lucas.


"Oh iya. Terus kemana mama Pa? Kenapa kalian semua seolah-olah menyembunyikan ini semua dari Aku? Darrenjun uda besar pa. Jadi Darrenjun berhak tau dengan semua yang terjadi.”


Askara menghelakan nafasnya. "Papa bakalan jelasin semuanya sama kamu Ren. Tapi gak sekarang.”


"Kapan? Sampek Darrenjun tau sendiri dengan yang terjadi seperti fakta ini.”


"Uda lah Pa. Papa gak perlu ngerasa bersalah ke Darrenjun lagi. Darrenjun tau posisi Darrenjun itu siapa dirumah ini dan… apa papa yakin kalau Darrenjun itu beneran anak papa?”


"Atau jangan-jangan Darrenjun itu sebenarnya cuma anak selingkuhan mama Laura yang lain?”


Plakkk


Sebuah tamparan keras mendarat dengan mulusnya tepat pada pipi Darrenjun.


"Pa!” Panggil Lucas.


Lelaki itu tak percaya dengan yang terjadi. Dengan sigap ia mendekat dengan sang papa. Takut kemarahannya semakin memuncak.


"Jaga ucapan kamu baik-baik Darrenjun! Papa gak mau kamu nantinya menyesali ucapan kamu ini,” Peringat Askara dengan wajah dinginnya.


Darrenjun tersenyum kecut dengan tamparan yang barusan ia dapatkan. Ini kali pertama bagi papanya memukulnya seperti ini.


"Makasih Pa. Karena papa telah memperlakukan Darrenjun dengan jujur untuk pertama kalinya,” Ucapnya dengan mata yang telah memerah.


Lalu, dengan langkah cepat ia keluar dari rumah itu.


Keluar untuk mencari udara segar untung membantunya menghilangkan segala kepenatan yang telah memenuhi rongga dadanya. Begitu sakit dan sesak rasanya.


Kina begitu shock dengan apa yang telah barusan ia saksikan.


Kenapa di hari seperti ini, Kina harus pergi ke rumah Darrenjun untuk membawa pesanan mamanya. Padahal ini bukan hari yang tepat baginya untuk berkunjung. Sekarang ia jadi merasa bersalah pada Darrenjun.


Melihat Darrenjun yang telah pergi dari rumahnya. Kina segera berpamitan dari situ.


"Saya pamit ya Tante,” Ucap Kina merasa tidak enakan harus melihat peristiwa yang telah terjadi.


"Ah iya,” Jawabnya cepat. Wanita itu jelas terlihat shock dengan apa yang terjadi antara anak dan ayah itu.


...***...


"Lo ngapain ngikutin gue?” Tanya Darrenjun. Lalu lelaki itu berbalik. Menangkap basah seorang Kina yang sekarang tengah berdiri di belakangnya.


"Eh". Kina tercekat. "Siapa juga yang ngikutin lo?” Bantahnya.


"Terus ngapain lo lewat jalan ini? Arah rumah lo lewat sana, bukan ke arah sini,” Jelas Darrenjun.


"Gue belum mau pulang. Gue ada perlu sama seseorang,” Jawab Kina.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Siapa?”Tanyanya.


Kina berjalan mendekat ke arah Darrenjun. Lalu berbisik tepat di telinganya.


"Mas-mas kasir Mini Mart,” Jawab Kina dengan sedikit cekikikan.


Darrenjun hanya menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan tingkah gadis itu.


"Uda ah, gue mau cabut dulu,” Pamit Kina dan pergi meninggalkan Darrenjun.


Gadis itu berjalan sendirian di gelapnya malam. Saat di perempatan jalan, Kina berbelok dan berhenti. Gadis itu bersembunyi, ingin tau kemana Darrenjun akan pergi. Tadinya ia memang berniat mengikuti Darrenjun karena merasa khawatir dengannya, tetapi jika ia mengatakan hal yang sebenarnya. Lelaki itu pasti akan marah padanya. Jadi, untuk berjaga-jaga Kina memilih untuk berbohong.


Darrenjun berjalan ke arah lapangan. Dan membuat Kina bisa sedikit merasa lega sekarang.


Seperti niat awalnya, Kina pergi menuju mini mart. Bukan untuk menemui seseorang, melainkan membeli sesuatu untuk meningkatkan mood lelaki itu.


Meski hubungan keduanya tidak terlalu dekat dan hanya terjalin karena ikatan kesepakatan. Kina tetap ingin menjadi teman yang baik bagi seorang Darrenjun.


...****...


"Buat lo,” Ucapnya.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya memandang Kina.


"Ice cream?” Tanyanya dan di balas anggukan oleh Kina.


"Kayak bocah,” Meski enggan, Darrenjun tetap menerima ice cream yang barusan di berikan oleh Kina.


"Sok gede lo,” Jawab Kina. Lalu duduk di sebelah lelaki itu.


"Maaf,” Ucap Kina.


Ia merasa bersalah karena dengan lancangnya ia mendengar fakta mengejutkan tentang keluarga Darrenjun.


Darrenjun menoleh dan memandang gadis yang duduk disebelahnya itu.


"Buat?” Tanyanya. Ia mulai membuka bungkus ice cream itu dan memakannya.


"Tadi.”


"Oh,” Jawabnya seadanya.


"Gue gak maksudβ€”β€œ


Darrenjun menghelakan nafasnya berat. "Lo gak usah merasa bersalah. Gue gak maksa lo untuk ngerahasiain hal ini. Kalo lo mau ngasih tau ke orang-orang silahkan. Gue gak peduli.”


Kina menggeleng. "Gak. Itu urusan keluarga lo.”


Hening. Keduanya menikmati ice cream yang ada ditangan mereka dalam kesunyian.


"Gue tau ini bukan urusan gue dan gue juga gak berhak nasehatin apa-apa ke elo. Karena gue tau lo gak bakalan nerima itu semua.”


"Lo ngomong apa sih?”


Kina menghembuskan nafasnya. "Gue cuma mau bilang, tolong jangan paksa diri lo lagi Jun. Gue yakin apapun yang terjadi lo pasti mampu ngehadapin itu semua.”


Kina bangkit dari duduknya. "Iya gue sotoi,”Jawabnya.


"Kalau lo butuh teman untuk cerita gue bakalan siap kok buat dengerin. Lo berhak buat sedih dan lo juga berhak buat nangis. Karena gimana pun lo cuma manusia biasa yang berhak ngelakuin itu semua.”


"Yaudah deh kalo gitu gue pamit,” Lanjut Kina lagi.


Baru saja Kina hendak dari tempat itu. Darrenjun menahannya.


"Kin. Gue …”


"Iya.”


Kina memandang Darrenjun dengan kening berkerut. Menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya.


"Gue butuh teman,” Ucap Darrenjun dengan pelan.


Kina tersenyum tipis, lalu kembali duduk di tempatnya tadi. Darrenjun adalah manusia dengan penuh rasa gengsi didirinya.


Hening kembali. Keduanya larut menikmati ice cream yang ada digenggaman mereka.


Meski dalam diam Kina masih memperhatikan lelaki yang duduk disebelahnya itu. Bagaimana bahunya naik turun. Jelas sekali, bahwa lelaki itu tengah menahan tangisnya.


Entah dorongan apa, membuat Kina berani untuk merangkul Darrenjun dan dalam hitungan detik. Darrenjun mulai menangis. Mengeluarkan rasa sesaknya lewat air mata.


Kina membiarkan lelaki itu menangis di sebelahnya tanpa berniat berbicara lagi.


Meskipun Darrenjun telah menahannya cukup kuat. Dia tetap lah seorang manusia biasa. Yang bisa terluka dan menangis kapan saja.


...*****...


Sudah hampir satu jam Darrenjun bersandar di bahunya Kina. Gadis itu menoleh memandang kesampingnya melihat Darrenjun yang ternyata sedang terlelap.


Wajah Darrenjun begitu tenang saat terlelap. Dan dengan jarak sedekat ini, Kina baru sadar kalau ternyata Darrenjun benar-benar ganteng terlebih karena dia yang diam seperti ini.


Karena biasanya Darrenjun itu akan selalu berbicara dengan mulut merica level 50 nya lengkap dengan wajah dinginnya. Sehingga gadis itu sering tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk disebelahnya ini cukup tampan.


Karena tidak mau membangunkan Darrenjun yang sedang terlelap. Kina mengeluarkan hapenya dari dalam sakunya dan membukanya. Menjelajahi media sosial untuk mencari pemberitahuan mengenai drama terbaru dan para aktor yang bisa membuatnya bersemangat.


Darrenjun tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menoleh ke arah Kina yang terlihat asik dengan hapenya. Dalam diam lelaki itu memperhatikan wajah Kina dalam jarak sedekat ini.


Ini kali pertama bagi Darrenjun memperhatikan Kina seperti ini. Tanpa sadar bibirnya melengkungkan senyuman.


Sebelum Kina tersadar dengan hal yang dilakukan oleh Darrenjun. Darrenjun mengangkat kepalanya dari bahu Kina.


"Jam berapa ini?” Tanyanya sambil menguap.


"Jam 10,” Jawab Kina santai. Lalu gadis itu dengan cepat memandang hapenya lagi. Melihat dengan jelas jam yang tertera pada layar hapenya.


"Whattt??!!" Teriaknya heboh.


Lalu segera bangkit dari duduknya.


Kina memandang Darrenjun lagi dengan wajah panik dan membuat lelaki itu ikut berdiri. "Gue harus pulang sekarang. Nyokap gue bakalan ngamuk kalo gue pulang telat,” Ucapnya pada Darrenjun.


Baru saja Kina hendak pergi, Darrenjun menahan tangannya. "Gue anter,” Ucapnya.


Kina menggeleng cepat. "Gak usahβ€”β€œ


"Gak ada penolakan,” Ucap Darrenjun lagi dan membuat Kina bungkam.


-


Mereka jalan berdua di tengah heningnya malam menuju rumahnya Kina. Padahal jarak antara lapangan danΒ  rumahnya Darrenjun lebih dekat dibandingkan ia harus mengantar Kina ke rumahnya.


Hanya saja lelaki itu tetap bersikukuh untuk mengantar Kina sampai rumahnya dengan selamat. Ia khawatir jika terjadi apa-apa pada Kina. Mengingat jalanan yang mulai sepi.


Darrenjun berjalan tepat disebelahnya Kina.


(Saran, bacanya sambil dengerin lagu NCT - Walk you home biar ngefeel)


"Gue bisa kali pulang sendirian, Lo gak perlu harus repot beginian,” Ucap Kina merasa tidak enak dengan perlakuan Darrenjun ini. Lelaki itu lagi dalam masalah dan gadis itu malah merepotkannya.


"Gue nganterin elo kayak gini, karena gue tau lo pulang telat karena gue. Jadi lo jangan mikir yang aneh-aneh,” Jelas Darrenjun.


Kina mendecih. "Siapa juga yang mikir aneh-aneh? Lo nya aja yang ke geeran,” Jawabnya.


"Gue gak geer tuh, uda lo gak usah banyak komen. Ngikut aja napa sih.”


Akhirnya Darrenjun yang asli kembali lagi.


"Yee dianya malah marah.”


"Gue gak marah.”


"Tapi lo ngambek kan?”


"Kagak siapa juga yang ngambek?”


"Tuh muka lo ditekuk kayak gitu.”


"Kagak.”


"Lo diem napa. Berisik mulu dah perasaan.”


"Biarin. Masa iya jalan bareng orang diam-diaman. Canggung tau.”


Darrenjun melirik Kina sekilas.


"Tuh mulut gak capek apa ngomong mulu?”


"Lo kalo gak mau denger gak usah denger kali. Ribet amat.”


"Masalahnya lo ngomong tepat disebelah gue. Gue keganggu.”


"Iye iye, gue diem nih.”


-


-


Kina berhenti saat melihat jarak antara rumahnya hanya tinggal beberapa blok lagi.


"Rumah gue di sebelah sana,” Tunjuk Kina ke arah rumahnya.


"Gue tau,” Ucap Darrenjun.


"Yaudah lo pulang sana. Lagian rumah lo beda arah sama gue juga.”


"Lo gak takut mama lo marah ngeliat lo pulang malam kayak gini?” Tanya Darrenjun.


Lelaki itu khawatir Karena dirinya, gadis itu bisa di marahin oleh mamanya. Bagaimanapun dia lah yang menyebabkan ini semua.


Kina menggelengkan kepalanya pelan. "Sanss gue bisa hadapi itu. Uda sana jangan banyak omong lo pulang aja sana,” Usir Kina.


"Gak ada penolakan,” Lanjutnya. Meniru nada bicara yang sebelumnya diucapkan oleh Darrenjun padanya.


Darrenjun menganggukan dengan tersenyum tipis.


"Yaudah kalo itu mau lo. Gue tunggu lo disini, sampai lo nyampek depan rumah.”


"Idih ngapain gituan?’Lo kayak boyfriend material aja,” Tolak Kina.


Darrenjun menaikan sebelah alisnya. "Lo ngode nih ceritanya?”


"Ngode apaan?” Tanya Kina bingung.


"Ngode minta dijadiin pacar,” Jelas Darrenjun dan membuat Kina tercekat.


"Apaan sih lo? Idih ogah, gue tuh sukanya ke Rey bukan ke elo,” Terang Kina.


"Iya gue tau. Gak usah diingatin,” Jawab Darrenjun dengan malas. Entah kenapa ucapan Kina barusan membuatnya sedikit tidak suka.


"Yaudah sana buruan jalan. Gue liat lo dari sini sampek lo masuk rumah,” Usir Darrenjun.


"Gak jelas amat lo.”


"Berisik. Uda pergi sana.”


Meski sedikit tidak enakan ke Darrenjun. Kina tetap berjalan menuju ke arah rumahnya meninggalkan Darrenjun yang masih setia menunggunya di depan jalan.


Saat berada tepat di depan rumahnya. Kina memandang ke arah Darrenjun lagi. Memastikan kembali bahwa lelaki itu masih menunggunya.


Dan tanpa ia duga, Darrenjun masih setia menunggunya.


Terlihat lucu bukan?


Kina melambaikan tangannya ke udara, bermaksud memberi kode pada Darrenjun, agar lelaki itu segera pergi pulang kerumahnya.


Mengerti dengan kode yang diberikan oleh Kina. Darrenjun mengangguk singkat. Lalu berbalik menuju rumahnya.


Kini gantian Kina yang memandang Darrenjun yang mulai menjauh.


Entah kenapa sikap manis Darrenjun barusan membuat Kina senyum-senyum sendiri.


Seketika Kina tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan. Dengan cepat Kina langsung menampar pipinya pelan.


"Sadar Kin, lo gak boleh terpesona sama tuh anak macan. Lo sukanya ke Rey. Iya Rey yang lo suka,” Ucapnya ke dirinya sendiri.


Lalu setelahnya Kina berjalan masuk kedalam rumahnya.


...-...


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...-...


*Jangan lupa meninggalkan jejak kalian ya **πŸ™πŸ™*


*Masih berusaha menulis dengan lebih baik lagi **😊😊*