Cutton Candy

Cutton Candy
Terombang Ambing



...💓Cutton Candy💓...


...-...


...(Jika menyangkut elo, semuanya akan gue usahakan. Bukan bucin gue hanya ingin menjadi kesatria yang pantas buat lo -Darrenjun Evans)...


...*****...


Sudah hampir seminggu berlalu setelah kepergian Laura untuk selama-lamanya, Meninggalkan bekas yang amat sangat dalam bagi kehidupan Darrenjun dan kini ia pun berubah menjadi pribadi yang berbeda.


Tak ada lagi ucapan kasar nan pedas darinya, hanya ada keheningan dan kebisuan.


Kina mencoba mendekati Darrenjun, mencoba membuat lelaki itu bangkit dan mengikhlaskan kepergian Laura, bukan bermaksud melupakannya juga. Karena itu tak akan mungkin terjadi.


Seharian penuh Kina mengekori Darrenjun kemanapun ia pergi. Bahkan saat Darrenjun ke toilet, Kina juga akan mengikutinya. Ralat, menunggunya diluar maksudnya.


"Lo gak ada kerjaan apa ngikutin gue?" Tanya Darrenjun yang mulai jengah dengan keberadaan Kina di sepanjang harinya.


Bukannya merasa tersinggung, Kina malah terperangah dengan ucapan Darrenjun tersebut, akhirnya makhluk yang bernama Darrenjun Evans itu berbicara juga padanya.


"Gue kira elo mendadak bisu sekarang. Tapi ternyata enggak. Gue senang Jun," Ucapnya girang.


Darrenjun membulatkan matanya penuh tak menyangka Kina bisa berpikiran seperti itu tentangnya. Padahal dirinya hanya ingin merasakan sunyi.


"Ya enggak lah. Gue cuma males ngomong."


"Lo malesnya kelamaan, seminggu Lo gak ngomong."


"Terserah gue."


Kina mengangguk setuju. "Yup ini diri Lo yang dulu dan gue seneng."


Kina maju beberapa langkah, mendekat kearah Darrenjun, bermaksud memeluknya.


Darrenjun secara cepat mundur beberapa langkah, memberikan jarak bagi keduanya.


"LO MAU APA?!" Tanya Darrenjun dengan sedikit menaikan intonasi suaranya, merasa risih dengan Kina yang semakin mendekat ke arahnya.


"Meluk elo. Gue bahagia karena diri elo yang dulu kembali lagi," Jawab Kina polos.


Darrenjun kembali terperangah dengan jawaban aneh Kina yang tanpa beban sama sekali. Seakan akan gadis itu tak memperdulikan masalah gender.


"Elo gak malu?"


"Malu kenapa?" Tanya Kina bingung.


Darrenjun menarik nafasnya dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. hampir saja jantungnya meledak. "Lo cewek dan gue cowok. Masa lo main peluk gue sembarangan."


Kina mengerutkan dahinya, lalu tersadar dengan tingkah cerobohnya itu.


"Ahh. Hehe Sorry, gue suka kelepasan kalo sama temen."


"Lo bukan temen gue, dan gak akan pernah jadi temen gue."


"Jahat banget sih. Masa lo lupa kalo lo pernah bilang mau jadi temen gue," Protes Kina.


"Enggak dan gue gak peduli. pokoknya gue gak mau jadi temen elo."


Darrenjun berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Kina. Debaran jantungnya sudah tak dapat ia kontrol lagi. Untungnya ia berhasil menggagalkan aksi Kina yang cukup nekat itu.


Jika sampai itu terjadi, Darrenjun bersumpah tak akan pernah melepaskan Kina kapanpun.


Katakan Darrenjun seorang yang bucin.


Ya memang begitu kenyataannya, karena entah sejak kapan Kina masuk tanpa permisi ke dalam hatinya. Membuatnya tak bisa bersikap biasa, jika berada didekat Kina.


"Elo harus sadar. Kalo Kina gak suka sama elo," Ucap Darrenjun pada dirinya, meyakinkan hatinya untuk tak berharap pada gadis yang tak memiliki perasaan untuknya.


-


-


"Ren," Panggil Lucas yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Darrenjun.


Darrenjun menoleh ke arah Lucas.


"Boleh gue masuk?" Pinta Lucas dan dibalas anggukan oleh Darrenjun.


Setelahnya, Lucas memasuki kamar Darrenjun yang berdominasi dengan cat warna cream, kamar yang tertata rapi dan sudah lama sekali rasaya Lucas tak memasuki kamar adik laki-lakinya itu.


Jika kondisi keduanya masih seperti dulu, mungkin Lucas tak akan pernah bisa masuk kedalam kamar Darrenjun. Bahkan, Darrenjun mungkin akan mengusir Lucas detik itu juga, meski Lucas hanya berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Lo masih dalam mode silent Ren?" Tanya Lucas yang telah duduk diatas tempat tidur Darrenjun.


Darrenjun menggeleng pelan. "Enggak, gue cuma males ngomong."


"Sampai kapan?? Gue kangen suara elo," Ucap Lucas.


"Meski nyakitin?" sambung Darrenjun dan membuat Lucas sempat terdiam.


"Kalo boleh jujur, iya. Gue kangen dan gue seneng akhirnya gue semakin akrab dengan elo."


Darrenjun tersenyum tipis menanggapi perkataan Lucas barusan.


"Gue tau ini semua berat buat elo. Tapi, jangan lama-lama sedihnya. Lo masih punya kita. Gue, mama dan papa."


"Gue gak akan lupa. Biarin gue terbiasa dulu dengan semuanya."


Lucas mengangguk. "Gue akan tunggu. Lo bisa cerita apa aja ke gue kapanpun elo mau."


Lucas berdiri dari tempatnya, lalu berjalan keluar kamar Darrenjun, saat telah berada di ambang pintu, Darrenjun memanggilnya.


"Kak."


Lucas berbalik.


"Thanks ya karena elo selalu baik dengan gue."


Lucas tersenyum penuh arti. "Jangan bilang makasih, lo adalah adik gue dan sampai kapanpun gue akan berusaha untuk jagain elo."


Darrenjun merasa terharu dengan ucapan Lucas itu, rasanya ia ingin bangkit dari duduknya dan memeluk Lucas detik itu juga. Tapi ia masih merasa malu menunjukkan rasa sayangnya pada Lucas.


Mungkin suatu saat Darrenjun akan melakukan hal tersebut.


...*******...


Kina mengeluarkan beberapa bekal yang ia persiapkan dari rumah di dalam tasnya, lalu bangkit dari tempatnya. Bermaksud menemui orang yang akan ia berikan bekal tersebut.


"Lo mau kemana?"


Kina langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lala.


"Lo ngerasa gak sih Kin, kalo lo itu akhir-akhir ini jadi aneh."


"Aneh gimana maksud lo?"


"Lo itu uda mirip baby sitternya Darrenjun, ketimbang jadi temannya."


"Lala bener. Harusnya elo gak usah terlalu berlebihan gini ,kalo lo cuma mau bilang khawatir ke dia," Sambung Mita yang telah berdiri disamping Kina.


"Gue kan cuma ngasih ini doang. Masa iya ginian dibilang berlebihan," Kina menunjuk ke arah kotak bekal yang tengah ia pegang.


"Terus, kenapa tiap hari ngikutin Darrenjun mulu. Gak capek apa?"


Kina terdiam. ia tak pernah merasa lelah sama sekali. Darrenjun membutuhkan teman dan ia bisa melakukannya. jadi kenapa ia harus merasa terbebani.


Mita menghembuskan nafasnya, merasa gemas dengan Kina yang terlalu tidak peka dengan perbuatannya ini


"Kita gak ngelarang elo mau baik ke Darrenjun. Tapi, gue saranin elo segera berhenti sebelum Darrenjun mikir yang aneh-aneh soal elo. Ingat kalian cuma temen."


"Atau lo mulai suka ke Darrenjun?" Tebak Mita dan mendapatkan pelototan dari Kina.


"Yaudah sih. tinggalin Darrenjun sekarang kalo lo memang gak ada rasa ke dia. Kasihan Rey juga kalo lo masih labil dengan perasaan elo sendiri."


Kina tak membantah ataupun menyetujui ucapan yang barusan dikatakan oleh kedua temannya itu. Ia merasa bingung. Seakan hatinya menjadi terombang ambing. Padahal harusnya ia meyakinkan hatinya untuk memilih Rey sepenuhnya. mengingat bagaimana usaha yang ia kerahkan untuk bisa dekat dengan lelaki itu.


"Gue deluan," Ucap Kina dan meninggalkan kelas. Meninggalkan kedua temannya yang masih memandangnya.


Di sepanjang jalan Kina masih memikirkan perkataan Mita yang begitu logis untuknya, ia tatap bekal yang sedang ia pegang untuk diberikan pada Darrenjun. Dan, seketika ia tersadar dengan apa yang tengah ia lakukan.


Rey adalah lelaki yang ia suka dan ia juga tak bermaksud memberi harapan pada Darrenjun. Tapi, apa dengan memberikan hal sekecil ini akan berdampak hebat pada hubungannya.


"Itu buat gue?"


Kina terperanjat saat melihat kehadiran Darrenjun yang telah berdiri dihadapannya, secara otomatis lamunannya pun buyar.


Kina mengangguk. "Iya, ini buat elo." Kina menyerahkan kotak bekal tersebut pada Darrenjun.


Darrenjun menerimanya dengan senang. "Thanks," Ucapnya.


Kina hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Darrenjun barusan, Ia menatap Darrenjun dari atas kepala hingga kakinya, meyakinkan dirinya untuk menyelesaikan segalanya, takut akan ke salah pahaman yang ia lakukan berlanjut.


"Itu bekal terakhir buat elo."


Darrenjun mengernyitkan dahinya, bingung dengan ucapan Kina.


"Gue gak akan nyiapin bekal lagi buat lo, karena gue yakin elo uda merasa baik."


"Jadi elo mau berhenti?"


Kina mengangguk. "Gue cuma mau menghindari kesalah pahaman yang terjadi."


"Karena Rey?" Ucap Darrenjun to the point.


Kina tercekat, Darrenjun terlalu mudah menebak perasaannya.


"Gue ngerti," Ucap Darrenjun singkat, lalu meninggalkan Kina yang masih berdiri melamun memandangi punggung Darrenjun yang perlahan meninggalkannya.


...*****...


Kina berjalan ke arah parkiran motor dengan pikiran kosong. Tanpa sadar sejak dari tadi seseorang telah mengikutinya.


"Hai," Rey merangkul Kina dan membut Kina langsung menoleh ke arahnya, bahkan Kina menjadi terkejut dengan kehadiran Rey yang muncul secara tiba-tiba.


"Rey."


"Iya ini gue. Lo gak lupa kan?" Tanya Rey sembari terkekeh pelan.


Kina hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Rey tersebut.


"Lo kenapa sih? belakangan ini ngelamun terus dan susah buat dijumpai, Gue kangen tau."


Kina terdiam, hatinya malah merasa resah bukan berdebar seperti biasanya. Harusnya ia menyukai kata-kata yang barusan Rey katakan untuknya, tetapi entah kenapa kata-kata itu menjadi hambar.


"Mau pulang sekarang atau mau nongkrong dulu?"


"Pulang aja Rey gue lagi gak pingin kemana-mana dulu."


"Lo sakit ya?" Tanya Rey dengan wajah khawatirnya.


Kina menggeleng. "Bukan, gue lagi banyak tugas."


Rey hanya ber-o ria saja, memahi posisi Kina yang masih seorang pelajar sama sepertinya.


"kita pulang."


Rey berjalan ke arah motornya dan didikuti Kina dari belakang.


Kina memandangi punggung Rey dengan perasaan resah, Rey adalah pangerannya dan harusnya ia bahagia dengan hubungan mereka yang menjadi semkin dekat ini. bahkan kesempatan bagi Kina untuk menjalin hubungan dengan Rey telah terbuka dengan lebar.


Tapi, kenapa Kina mendadak ragu untuk melangkah lebih jauh.


"Kin."


Kina langusung menoleh saat Rey baru saja memanggilnya.


"Iya."


"Minggu ini elo ada acara?"


Kina menggeleng. "Gak ada, emang kenapa?"


"Gue mau ngajak lo jalan, boleh?" Tanya Rey penuh harap.


Kina mengangguk, mengiyakan pertanyaan Rey barusan.


"Boleh."


Rey langsung bersorak girang dan membuat Kina tertawa, Rey begitu lucu dan baik, banyak hal dari Rey yang Kina sukai, Lalu kenapa ia harus merasa bimbang dengan hatinya?


Ah. sudah lah, Kina tak ingin berpikir terlalu jauh, mungkin saat ini ia hanya merasa bahwa keduanya terlalu jarang bertemu, sehingga hatinya pun menajadi ragu. Mungkin setelah ia dan Rey jalan berdua nantinya hatinya akan kembali berlabuh pada Rey.


Kina berharap kedepannya tak akan ada lagi keraguan dari hatinya dan semoga semua yang telah ia harapkan selama ini berjalan sesuai dengan keinginannya.


...*****...


...💓CUTTON CANDY💓** **...


Jangan lupa vote dan content kalian 😊😊😊