
...πCUTTON CANDYπ...
...****...
...(Maaf, karena gue pergi di saat lo butuh seseorang untuk ada disamping elo -Alby Jonathan)...
...******...
Seorang gadis memandang pintu besar dengan cat berwarna putih yang ada didepannya dengan senyuman getir.
Satu helaan nafas keluar begitu saja dari bibirnya, menyiapkan dirinya sebelum memasuki rumah besar itu.
Prankkk
Brakkk
Suara benda-benda berjatuhan memenuhi ruangan hingga membuat keadaan rumah menjadi kacau balau.
Bukan karena ada gempa bumi atau apa. Benda-benda tersebut jatuh karena dilempar secara sengaja oleh seseorang yang baru saja mengamuk.
Baru saja Yaya menginjakkan kakinya ke dalam rumahnya. Seseorang dengan langkah lebar menghampirinya.
Plakkk
Satu tamparan berhasil mendarat dengan mulusnya pada sebelah pipinya hingga meninggalkan bercap kemerahan.
Yaya memegang sebelah pipinya yang terasa perih dan menatap orang itu dengan nanar.
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN!.β
Bentak orang itu, yang lain dan tak bukan, ayah kandungnya sendriri. Gerald Anderson.
Pria tinggi itu menatapnya tajam.
Yaya tak menjawab, gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Menguatkan hatinya untuk tidak lemah dan menangis dihadapan Gerald.
Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, dan tentunya semua ini bersumber dari Darrenjun yang telah membocorkan masalah yang telah ia perbuat kepada Gerald hingga membuat pria itu terlihat sangat marah.
"HARUS BERAPA KALI KAU HARUS DIINGATKAN, UNTUK MENJAGA IMAGE MU!"
"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA!"
Yaya meremat jemarinya kuat hingga membentuk seebuah kepalan. gadis itu terluka, sudah pasti. tapi, memilih untuk bersikap seolah-olah perkataan itu tak pernah keluar dari bibir Gerald.
Plakkk
Satu lagi tamparan berhasil mendarat dengan mulusnya pada pipi Yaya. baru saja ia menerima tamparan dari Gerald, kali ini pelakunya adalah ibu kandungnya sendiri. Catherine Anderson
Yaya memegang pipinya sendiri dan menatap wajah Cathrine dengan shock.
"Maββ panggilnya dengan raut kecewa.
"APA MAKSUD SEMUA INI?β Bentak Cathrine.
Cathrine menyodorkan sebuah video ke arah Yaya.
Gadis itu menghelakan nafasnya pelan, lalu dilihatnya video yang ada didepannya.
Kedua mata gadis itu membulat dengan sempurna.
Video itu, bukan video yang ia lihat sebelumnya. Video itu adalah sebuah rekaman yang memoertontonkan dirinya yang sedang mengamuk didalam kafe. Tak hanya itu, video tersebut menunjukan dengan jelas bagaimana ia bersikap layaknya orang gila.
"Ma aku bisa jelasin?β
"JELASIN? APA KAMU PIKIR DENGAN KAMU MENJELASKAN SEMUANYA. VIDEO INI AKAN MENGHILANG?β
Yaya membeku, kemarahan Cathrine dan Gerald telah berada di puncaknya.
"Aku-"
Brakk
prank
Cathrine baru saja melempar hape yang ia pegang ke sembarangan arah, hingga mengenai gucci yang baru saja ia beli seminggu yang lalu dari Paris.
Salah satu koleksi paling langkah. dan untuk saat ini wanita itu sama sekali tak memperdulikan tentang kondisi guci serta hapenya yang sudah tak berbentuk itu. Amarahnya sudah tak dapat tertahankan.
Yaya meremat jemarinya kuat. Ia merasa bahwa ada yang sengaja melakukan hal seperti ini padanya. Dan ia yakin dalang dari semuanya adalah kedua mantan sahabatnya.
Dalam hati gadis itu. Ia bersumpah akan membalas perbuatan orang yang melakukan ini semuanya padanya.
"APA KAMU TAU. BAGAIMANA MALUNYA KAMI DENGAN KELAKUAN KAMU YANG MEMALUKAN INI?β
Cathrine menggoncang tubuh Yaya dengan kasar.
Tak ada perlawanan dari Yaya. Gadis itu hanya diam saja. baginya apa yang sudah dia lakukan barusan adalah tindakan yang benar. mengingat penghianatan yang sudah dilakukan oleh kedua sahabatnya dibelakangnya.
"GARA-GARA KELAKUAN MEMALUKAN KAMU ITU, KAMI HAMPIR TIDAK BISA MENUNJUKAN WAJAH KAMI LAGI KE ACARA PERTEMUAN PERUSAHAAN. KAMU HARUS TAU ITU.β
Cathrine memegang kepalanya yang berdenyut.
"Ma, aku.β
"DIAM KAMU! DASAR ANAK GAK BERGUNA!"
"PERCUMA SAJA KAMI MEMBESARKANMU DENGAN SEMUA FASILITAS YANG ADA. JIKA PADA AKHIRNYA KAMU CUMA BISA MEMPERMALUKAN KAMI SEPERTI INI.β
Lagi-lagi kata-kata menyakitkan itu keluar untuknya. Yaya sudah tak dapat menahan dirinya lagi. Gadis itu meremat baju kemejanya. hatinya sakit bagai tersayat-sayat. ia tak menyangka bahwa orang tua sungguh tega mengatkaan hal seperti itu kepadanya.
Sedikit menunduk, lalu ia berteriak dengan keras.
"AHHHHH!"
Teriaknya, hingga membuat kedua orang tuanya memandang ke arahnya.
"APA KALIAN PIKIR SEMUA FASILITAS YANG KALIAN KASIH KE AKU UDA CUKUP UNTUK NGEBUAT AKU BAHAGIA?β
"ENGGAK!β
"APA KALIAN PERNAH MENANYAKAN KABAR AKU? APA YANG AKU ALAMI DAN AKU RASAIN?β
Yaya sudah tak dapat menahan air matanya lagi. terlalu menyesakkan untuknya.
"Hentikan omong kosong mu itu!" bentak Gerald.
Yaya tertawa hambar. "Bahkan aku gak yakin kalau aku ini benar anak kandung kalian. jangan-jangan aku hanya pelengkap saja di keluarga ini yang keberadaanya tak terlalu di hiraukan.β
Cathrine melipat kedua tangannya di dadanya.
"Berhenti merengek. apa kau pikir dengna ucapan mu seoerti itu akan membuat kami merasa kasihan terhadapmu. Jika iya. buang jauh-jauh pikirna kamu itu. karena itu gak akan pernah terjadi.β
Yaya tertawa hambar. lagi-lagi perkataan orang tuanya membuatnya kembali sakit. salahnya yang membuka lukanya sendiri.
Rasa sakit pada pipinya tak sebanding sengan rasa sakit yang ia alami.
"Hentikan drama sore kamu itu dan kemasin semua barang-baranag kamu. Malam ini kamu harus terbang ke Roma,β Ucap Gerald tanpa bantahan sedikitpun.
Pada akhinrya ia akan dibuang seperti sampah oleh orang tuanya.
"Aku gak mau,β ucap Yaya, merasa tak terima
"Apa kami pernah meminta persetujuanmu?βCathrine tersenyum meremehkan.
"Menurut saja dengna begitu kamu bisa memulai hidupmu yang baru. Kali ini lakukan dengan benar. Jangan ada kesalahan sedikitpun. Dengan begitu kamu bisa membuat keluargamu tak malu speeti ini. biar masalah video itu. seketaris Lee yang akan mengurusnya,β Sambung Gerald.
Pria itu mulai mencari kontak Sekertaris Lee pada ponselnya.
Yaya membeku. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mendengarkannya.
Gadis itu berlari dengan cepat ke arah kamarnya. Meninggalkan orang tuanya yang telah sibuk menelpon salah satu kenalan mereka untuk menghapus seluruh video dirinya yang telah tersebar di internet.
Brakkk
Yaya baru saja membanting pintu kamarnya dengan kasar. Air mata yang telah memenuhi wajahnya ia usap dengan kasar. Berharap agar air matanya berhenti untuk keluar.
Yaya terduduk diatas lantai keramik kamarnya dengan posisi memeluk dirinya sendiri.
Baru saja ia di khianatin oleh sahabatnya yang telah ia percayai, dan orang tuanya malah membuatnya semakin terpuruk.Β Tak ada yang memihaknya atau pun peduli terhadap rasa sakitnya. Semua menjauhinya seakan gadis itu adalah sebuah hama yang harus disingkirkan.
"GUE BENCI KALIAN SEMUA!β Teriaknya dengan pilu.
Ia merasa lelah dan muak dengan semuanya. Sudah tak ada lagi yang bisa mendengarnya, bahkan Alby orang yang selalu ada untuknya sekarang telah pergi meninggalkannya. Dan sekarang ia benar-benar sendiri dengan segala permasalahn hidupnya yang telah menumpuk pada pundak gadis itu.
Sura deru mobil membuat Yaya bangkit dari tempatnya.
Gadis itu menatap keluar jendela.
Sebuah mobil tampak keluar dari perkarangan rumahya. tanpa melihat orang yang ada didalam mobil tersebut, gadis itu telah tau. bahwa itu adalah mobil kedua orang tuanya.
Yaya segera mengelap wajahnya dengan kasar. Gadis itu menuju meja riasnya dan menatap pantulan dirinya lewat cermin yang ada di depannya.
Sebuah senyuman terukir pada bibir indahnya.
"Gue Yesika Yeji, Gue gak boleh kalah,β ucapnya pada pantulan dirinya melalui cermin.
-
-
Alby baru saja tiba di rumahnya.
Helaan nafas kasar keluar dari bibirnya, saat melihat seorang gadis yang sedang berdiri di depan rumahnya.
Gadis itu. Yesika Yeji. gadis yang ingin Jeno hindari untuk saat ini. bukan maksud membencinya. Alby masih perlu waktu untuk membiasakan diri setelah putusnya hubungan keduanya.
Dengan berbekalan pakaian seadanya berupa kaos berwarna pink dan juga celana pendek Yaya menghampiri Alby dengan senyuman ceria.
Senyuman yang selama ini bisa menggetarkan hati Alby. Tapi tidak untuk saat ini dan kedepannya. Alby benar-benar harus move on.
"Lo baru pulang?β Tanya Yaya, seolah-olah keduanya tak pernah memiliki masalah sama sekali.
Alby menatap Yaya dengna malas.
"Lo ngapain kesini?β Tanyanya dengan tak suka secara terang-terangan.
Alby meremat jemarinya kuat. Ini bukan lah dirinya sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, Jeno terpaksa melakukannya.
Yaya hanya tersenyum tipis menanggapin ucapan Alby yang lumayan pedas itu. Bagaimanapun ini kesalahannya dan sudah menjadi resiko untuknya.
"Ada yang mau gue omingin sama elo.0
Meski Yaya menatap Alby dengan lembut, Alby tetap mempertahankan wajah kesalnya pada Yaya.
"Lo mau ngomong apa lagi, kita uda selesai,βjelas Alby.
Lagi-lagi Yaya harus menahan perasaannya untuk tidak terluka.
Tak ada rasa kesal sedikitpun didirinya, ini salahnya jadi wajar saja jika Alby masih marah padanya.
"Kali ini aja. Gue janji setelah ini, gue gak bakalan gangguin elo lagi. Lo bisa pegang kata-kata gue ini.β
Alby melirik Yaya sebentar lalu mengangguk. "Yaudah. tapi gue harap lo konsisten dengan ucapan lo barusan.β
Yaya tersenyum lebar san mengangguk dengna semangat.
"Oke.β
-
Mereka pergi ke sebuah kafe yang letaknya tak jauh dari rumah Alby.
"Maaf,β Ucap Yaya dengan penuh penyesalan saat keduanya sudah berada didalam kafe.
Di sudut ruangan keduanya duduk berhadapan.
"Maaf karena gue selalu jadi orang yang egois dan nyakitin elo.β
"maaf karena gue uda ngebuat elo kecewa. gue cuma-"
"Ya,β sela Alby dan membuat Yaya bungkam.
"Lo mau bahas masalah hubungan kita lagi?Maaf ya gue gak bisa nerima elo lagi di hidup gue. Uda cukup semua yang gue lakuin buat elo.β
Yaya menggelengkan kepalanya kuat.
"Gue kesini bukan minta elo untuk balikan sama gue. Tapi gue cuma mau minta maaf atas segala hal yang uda gue perbuat ke elo.β
"Dan gue mau ngucapin terima kasih buat elo. karena elo selaluu ada buat gue selama ini dan jadi rumah buat gue, rumah yang selalu bisa membuat gue nyaman dan yang selalu bisa nerima gue. meskipun keadaan gue lagi gak baik.β
Alby tersenyum tipis.
"Lo gak usah bilang makasih. gue ngelakuin semuanya tulus karena gue peduli sama elo.β
Yaya mengangguk pelan. "Elo emang yang paling tau gue dan gue nyesel karena uda nyakitin orang yang paling peduli ke gue. Maaf Al gue tolol.β
Alby menghelakan nafasnya pelan. "Uda Ya, lo berhenti nyalahin diri lo lagi, mungkin ini memang yang terbaik buat lo dan gue.β
"Lo benar.β
Yaya tersenyum lebar. hatinya sedikit lega, karena Alby tak membencinya meski ia tahu hati lelaki itu tak mungkin bisa ia miliki kembali.
-
-
"Lo habis ini mau langsung pulang?β tanya Alby pada Yaya yang berada disebelahnya.
Yaya menggeleng pelan dan tersenyum. "Gue mau nyelesain sesuatu.β
Alby berhenti dan menatap Yaya dengan bingung. Ia merasa hari ini Yaya terlihat agak aneh dan hal itu membuatnya sedikit terusik.
"Lo ada masalah? Orang tua lo kasar lagi ke elo?β
Rentetan pertanyaan Alby barusan membuat Yaya terkekeh pelan. Melihat Alby yang khawatir terhadapnya membuat hatinya menghangat. Ternyata lelaki itu masih peduli padanya.
"Enggak. gue cuma bosen aja dirumah. pengen jalan-jalan doang.β
"Oh gitu.β Alby tertawa keciil, lagi-lagi ia tak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Yaya.
"Yaudah kalo gitu gue deluan ya,β Pamit Yaya pada Alby.
Alby mengangguk dan berjalan berlawanan arah. Jarak rumahnya tak terlalu jauh, jadi lelaki itu memilih untuk jalan kaki ketimbang membawa motornya.
"Al-"
Alby berbalik.
Yaya berlari kecil ke arahnya. "Boleh gue meluk elo? Buat yang terakhir kalinya,β Pinta Yaya penuh harap.
Alby tersenyum tipis, lalu mengangguk.
Dengan cepat Yaya langsung memeluk Alby dengan erat. didalam kehangatan tubuh Alby, Yaya menangis.
"Makasih. Buat semua yang uda lo lakuin ke gue. gue harap kelak lo bakalan dipertemukan dengan orang yang bisa membuat lo merasa di cintai dan juga nyaman. Layaknya yang uda lo lakuin ke gue.β
Alby merenggangkan pelukannya, lalu menatp Yaya lekat.
"Makasih. gue juga berharap yang sama buat lo. Maaf gue gak bisa bertahan.β Alby menugsap air mata yang mebasahi pipi Yaya. lalu ia kembali memeluk Yaya dengan erat.
Ini lah kali terakhirnya memeluk lelaki yang selalu bersamanya itu, lelaki yang tak pernah mengeluh dengan ke egoisannya.
"Kalo gitu gue balik. Sampai jumpa,β Pamit Yaya dengan raut sedihnya.
Alby terdiam beberapa saat hingga ia tersenyum. Lalu pergi dari sana.
Saat Alby telah pergi, Yaya menghentikan langkahnya. Lalu ia tatap punggung Alby yang mulai menjauh dengan sendu. Akhirnya ia melepaskan semuanya, perasaan lega memenuhi hatinya tanpa adanya dendam dan sakit hati lagi.
Yaya memasuki mobilnya dan memasang sabuk pengamannya dengan kencang.
"Ini yang terbaik buat semuanya.β ia menarik nafasnya dalam dan melajukan mobilnya.
Citttt
Brakkkk
Suara dentuman yang cukup keras membuat semua orang berhamburan ke arah jalan melihat apa yang barusan terjadi.
Alby menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar begitu hebat. Lalu ia berbalik. Melihat apa yang barusan terjadi.
Semua orang berbondong-bondong berlari ke arah tempat kejadian. termasuk Alby sendiri. Dalam hatinya ia berharap bahwa orang yang mengalami kecelkaan itu buka lah orang yang ia pikirkan saat ini.
Sebuah mobil menabrak tiang pembatas jalan. Banyak orang yang mengerubungi mobil tersebut, hingga membuat Alby tak dapat melihat dengan jelas pemilik mobil tersebut.
Kedua mata Alby melebar saat mengetahui mobil siapa yang ada disana.
"YAYA!β
Alby menghampiri mobil tersebut dengan langkah cepat.
"YA. BANGUN!" Teriak Alby dengan pilu.
Alby mengetuk pintu mobil Yaya dengan keras. Berharap bahwa gadis itu masih sadar dengan begitu ia bisa menyelamatkannya.
Kedua mata Yaya terbuka secara perlahan.
Asap yang telah memenuhi mobilnya membuatnya terbatuk-batuk.
"YAYA BUKA PINTUNYA!β Teriak Alby dari luar.
Yaya menoleh ke arah Alby sebentar, saat kedua mata mereka bertemu, Yaya tersenyum penuh arti.
"YAYA BUKA PINTUNYA!"
Tak ada respon dari Yaya. gadis itu masih memandang Alby dngan senyuman yang masih bertahan pada bibir indahnya.
Lalu setelahnya kedua mata gadis itu tertutup secara perlahan.
"YAYA!"
Alby sudah kehilangan akal. ia tahu bahwa kejadian ini bukanlah sebuah kecelakaan semata. melainkan keingingan Yaya sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah percobaan bunuh diri.
Alby masih terus berusaha membuka pintu mobil Yaya.
Tapi dua orang pria mendekat ke arahnya dan berusaha menarik Alby agar menjauh dari sana.
"LEPASIN GUE!β Alby meronta-ronta agar terlepas dari cekalan dua orang pria itu.
"Jangan dek bahaya. Bensin mobilnya bocor,βUcap salah satu keduanya.
"SAYA GAK PEDULI. TEMAN SAYA ADA DIDALAM!β Bentak Alby dengan keras.
"Saya tau, tapi ini terlalu bahaya buat keselamatan adek. Mobilnya bisa meledak sewaktu-waktu.β
Alby tak peduli, dengan sisa kekuatan yang ia punya. Ia berusaha terlepas dari cekalan keduanya.
Tapi sayangnya, semakin Alby meronta-ronta. Semakin banyak orang yang menahannya hingga ia tak punya kekuatan lagi untuk berontak.
"Yaya.β Tangisnya lirih. Siapapun yang mendengar tangisannya pasti akan merasakan hal yang sama.
Pedih. Tentu saja.
Alby baru sadar bahwa pertemuan mereka barusan adalah salam perpisahan Yaya untuknya. Gadis itu telah menyiapkan semuanya dengan sempurna.
Baru saja mereka menjauhi mobil Yaya, sebuah ledakan terdengar begitu keras.
DYARRR
Kedua pundak Alby merosot dan kedua lututnya lemas hingga ia terduduk diatas aspal.
"KENAPA LO NGELAKUIN HAL INI!β Tteriak Alby frustasi.
Alby tertunduk lemas. Air mata telah membanjiri kedua pipinya. Hatinya begitu sakit melihat orang yang ia cintai harus pergi dengan cara seperti ini.
Tanpa sadar Alby teringat akan tingkah aneh Yaya dan hal itu membuatnya semakin sakit.
"Jadi ini perpisahan yang elo maksud?β Alby terisak. "Maafin gue, karena gue ninggalin elo disaat elo butuh teman.β
"Ya, semoga rasa sakit elo hilang. terima kasih uda berusaha kuat selama ini.β
Alby tersenyum lirih. Bagaimanapun ia mengerti bagaimana rasa sakit yang Yaya rasakan selama ini. Gadis itu hanya ingin diperhatikan dan juga didengar dengan baik oleh kedua orang tuanya.
Tapi sayangnya ia tak mendapatkan itu semua.
...*******...
...πCUTTON CANDYπ...
...Jangan lupa kasih semangat buat saya ππ terima kasih βΊοΈβΊοΈ...