Cutton Candy

Cutton Candy
Karma



...💓CUTTON CANDY💓...


...-...


Aturan pacaran Kina dan Darrenjun:


1. Bergandengan tangan hanya boleh dilakukan diluar sekolah (Disetujui oleh Kina dan Darrenjun)


2. Panggilan sayang tidak dibenarkan saat keadaan ramai, hanya boleh dilakukan ketika hanya berduaan saja (Tidak disetujui oleh Darrenjun)


3. Mengantar dan menjemput boleh dilakukan apabila kedua belah pihak menyetujuinya (Bisa dibicarakan)


4. Tidak diperbolehkan untuk selingkuh, Apabila ketahuan silahkan untuk PUTUS (Disetujui oleh Kina dan Darrenjun).


Note: Aturan ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kesepakatan kedua belah pihak yang terlibat.


-


Kina telah berdiri didepan halaman rumahnya, menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang untuk menjemputnya, mengantarnya ke sekolah.


Gadis itu sengaja menunggu orang yang akan menjemputnya itu didepan rumahnya untuk menghindari agar orang itu tidak masuk lagi kedalam rumahnya dengan seenaknya dan membuat keributan lagi. sudah cukup ia pusing menangani hatinya yang terasa tak masuk akal, jangan lagi perdebatan yang terjadi antara dia dan keluarganya.


Hanya butuh beberapa menit menunggu sosok itu telah sampai. Suara deru motornya perlahan membut ritme jantung Kina seirama.


Konyol. Pikirnya. Segera ia menggeleng kepalanya kuat berusaha menghilangkan perasaan aneh itu.


Darrenjun menghentikan motornya tepat dihadapkan Kina.


"Uda lama nunggu?" Tanya Darrenjun yang baru saja melepas helmnya. Lelaki itu tersenyum manis ke arahnya.


Kina mengerjapkan matanya beberapa kali memastikan kembali bahwa orang yang ada dihadapannya benar seorang Darrenjun Evans, bukan lelaki yang sekedar mirip dengannya.


"Gue baru... nunggu kok."


"Syukur deh, gue kira lo kelamaan nunggu."


Kina menggeleng pelan.


Darrenjun memberikan helmnya pada Kina dan langsung disambut oleh gadis itu.


"Ayo," Ajak Kina yang telah duduk diatas motor Darrenjun.


"Gue laper, cari sarapan dulu gimana?" Tawar Darrenjun.


"Lo makannya di kantin sekolah aja, kan sekalian."


"Gue mau makan diluar tapi..."


"Bareng elo," Lanjutnya.


Kina diam membisu, entah kenapa hatinya malah semakin deg-deg an mendengar laki-laki itu berucap seperti tadi. Padahal perkataannya bukan lah sesuatu yang begitu manis, tapi entah kenapa bisa membuat ritme jantung Kina berlari marathon.


"Yaudah kalo itu mau lo," Jawab Kina akhirnya, menyetujui permintaan Darrenjun.


Darrenjun bersorak bahagia. Ini hanya lah sesuatu yang kecil, tapi entah kenapa lelaki itu begitu bahagia mendengar ucapan Kina yang tak menolak ajakannya itu.


Harapannya kian melambung tinggi pada gadis yang sedang ia bonceng. Semakin lama rasa itu telah memenuhi rongga dadanya.


Apakah Darrenjun seorang yang bucin? Mungkin saja.


-


-


"Lo liat Kina gak?" Tanya Darrenjun pada lelaki tinggi yang baru saja lewat dihadapannya.


Lelaki itu tengah asik memainkan hapenya. Tatapannya ia alihkan sebentar, menatap Darrenjun dengan tatapan tak bersahabat sama sekali.


"Gue gak tau, kalo lo mau tau cari aja sendiri. Gak usah tanya-tanya gue lagi," Ucapnya dingin.


Baru saja Arji hendak pergi Darrenjun lebih dulu menahannya.


"Tapi elo kan temennya."


Kedua mata Arji melebar. Kata-kata seperti ini sungguh membuat hatinya kesal dan marah dalam satu waktu.


"Masa iya lo gak tau dia dimana."


Tangannya terkepal kuat. Lalu kembali tatapan tajam ia lemparkan.


"IYA GUE EMANG TEMENNYA! DAN ELO PACARNYA! GAK USAH DIINGATIN GUE UDA TAU. PUAAS!"


Darrenjun terbengong menatap Arji yang berlalu meninggalkannya, sepertinya Arji salah paham terhadapnya, bukan maksudnya berkata seperti itu. Darrenjun yakin penyebabnya itu karena Arji masih sakit hati terhadapnya, karena ia telah berhasil merebut Kina darinya. Tapi, meski pun kenyataan ini begitu pahit untuk Arji terima, bagaimana pun ia harus tetap menerima kenyataan bahwa ia dan Kina hanya lah sebatas teman saja.


Salahnya sendiri, kenapa lama dalam bertindak.


Karena masih tak menemukan tanda-tanda keberadaan Kina. Darrenjun pergi menuju kelasnya, mencari gadis itu disana. Tapi sayangnya, ketika Darrenjun sampai didalam kelasnya, gadis itu tak ada, bahkan kedua sahabat Kina juga tak ada.


Seseorang menghampirinya dan menepuk pundaknya pelan.


Dengan cepat Darrenjun berbalik.


"Lo nyari Kina?".Tanya orang itu.


Darrenjun melirik name tag lelaki yang berdiri dihadapannya dengan wajah dinginnya seperti biasa.


Kim Samuel, nama anak lelaki itu dan jika Darrenjun bisa tebak, Samuel bukan orang indonesia asli, karena logatnya masih terdengar aneh.


Sepertinya ia blasteran sama seperti Mark. Hanya saja ia lebih terlihat blasterannya ketimbang temannya itu.


Lupakan persepsinya mengenai anak lelaki itu. sekarang yang ia butuhkan informasi mengenai Kina.


Darrenjun mengangguk pada Samuel. "Lo tau dia dimana?"


"Gue tadi ngeliat dia dkantin. Coba lo kesana."


Ah Darrenjun baru sadar bahwa saat ini jam istirahat, tentu saja Kina akan ada disana. Kenapa tak terpikirkan olehnya sama sekali.


"Thanks," Ucap Darrenjun sembari menepuk pundak Samuel pelan.


Lalu, dengan cepat Darrenjun berlari, pergi menuju kantin menyusul Kina.


-


-


"Darrenjun mana?"


Kina menghentikan aktifitasnya yang tengah meniup satu sendok kuah bakso.


"Ya mana gue tau," Ucapnya acuh.


"Lah lo kok bisa gak tau sih? Lo kan pacarnya?"


Kata pacar masih terasa aneh ditelinga Kina mengingat bagaimana hubungan keduanya sebelum-belumnya yang jauh dari kata akur dan banyaknya adu mulut yang sering terjadi. Dan sekarang mereka malah menjadi sepasang kekasih. Agak menggelikan kalo diingat-ingat.


"Iya dia emang pacar gue, tapi kan gak mesti gue tau dia ada dimana, emang gue emaknya dia." Kina mulai memasukkan sepotong bakso kedalam mulutnya, mengunyahnya dengan perasaan dongkol.


Lala menghelakan nafasnya berat. "Elo jangan kelewatan gini Kin, gue takut saat lo mulai buka hati buat Darrenjun, disaat itu juga hati dia bukan milik elo lagi."


Kina sempat terhenyak beberapa saat, tapi siapa peduli ini masih awal menurutnya.


"Gue bisa apa, kalo itu emang kemauannya dia dan bagus kalo gitu, jadi gue tau sampai mana perjuangan dia buat gue."


"Iya saat ini lo bisa ngomong begituan, tapi entar kalo lo-"


"Uda La," Mita segera memotong ucapan Lala, menghindari perdebataan antara Lala dan Kina yang akan berimbas mereka yang tak saling bicara untuk beberapa waktu. Karena sifat keduanya tak jauh beda, sama-sama keras kepala.


Lala dan Mita memilih diam dan berharap agar ketakutan mereka tak menjadi kenyataan.


"Ternyata lo disini."


Suara seseorang mengagetkan ketiganya, mereka menoleh ke arah orang tersebut yang tak lain dan tak bukan Darrenjun lah orangnya. Tanpa dipersihlakan lelaki itu lebih dulu duduk disebelah Kina.


"Gue juga laper, kenapa lo gak ngajakin?" Darrenjun memasang tampang cemberut dihadapan Kina. Pemandangan yang sungguh langkah.


Lala dan Mita saling melempar pandang, mereka sungguh tak percaya dengan ucapan Darrenjun barusan, lelaki yang terkenal dengan mulut pedasnya berubah menjadi sosok yang hangat dan penyayang. Entah apa sihir yang dimiliki Kina hingga lelaki itu terlihat begitu bucin terhadapnya.


"Lo laper. Pesan gih," Hanya itu yang bisa dijawab Kina, karena gadis itu tak berniat sama sekali menawarkan makannannya pada Darrenjun. Ia trauma, karena Darrenjun pernah menghabiskan makanannya tak bersisa.


Darrenjun tersenyum kecil, senyuman aneh bagi Lala dan Mita yang melihatnya secara langsung.


Keduanya saling melempar pandang lagi, dan saat ini lah keduanya harus membiarkan kedua orang itu menikmati waktunya berdua. Dan mereka tak ingin jadi obat nyamuk juga.


Lala dan Mita bangkit dari temapatnya. "Kin kita deluan ya," Pamit keduanya.


"Mau kemana?"


"TOILET," Jawab keduanya bersamaan.


Kina hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ia tau kedua sahabatnya sengaja meninggalkannya untuk berduaan dengan Darrenjun. Tak tahu kah mereka, Kina agak keki ditinggal berduaan dengan Darrenjun seperti ini.


Tapi sayangnya, temannya bukan jenis manusia yang peka, sama sepertinya. Jadi tak ada yang mereka pikirkan selain meninggalkan Kina yang tampakk gelisah.


Setelah keduanya pergi, Kina semakin susah untuk mengatur nafasnya, jaraknya dan Darrenjun begitu dekat, terutama saat lelaki itu melakukan hal konyol terhadapnya.


Darrenjun menopang dagu sembari menatap Kina yang tampak tak terpengaruh dengan kehadirannya. Padahal gadis itu telah mati-matian mengatur ekspresi wajahnya agar tak ketahuan oleh Darrenjun. Bisa mati ia jika Darrenjun mengetahui bahwa ia kian gelisah ditatap seperti itu.


"Lo kesini mau natep gue atau mau makan?" Kina memberanikan diri, menoleh kearah Darrenjun.


Degg


Jantung Darrenjun mendadak berdebar begitu hebat saat Kina menatapnya seperti itu, segera ia alihkan tatapannya ke segala penjuru kantin.


"Gue mau makan," Jawab Darrenjun cepat, lelaki itu segera bangit dari kursinya menuju salah satu stan yang menjual makanan.


Setelah Darrenjun pergi, baru lah Kina bisa bernafas lega. Apa-apan lelaki itu? pikirnya.


-


-


Hari ini sungguh terasa lama bagi Kina, tapi entah keanpa jam pulang malah terasa begitu cepat. Hingga ia rasanya masih ingin lama-lama menghabiskan waktunya didalam kelasnya. Tapi itu tak mungkin terjadi, mengingat siapa yang tengah menunggunya didepan kelasnya. Dan Kina yakin sekali, jika gadis itu lama, maka orang itu pasti akan langsung menghampirirnya.


Sedikit ragu melangkah, tapi siapa sangka kedua sahabatnya malah mendorong tubuh kecilnya ke arah pintu.


"Gak usah malu Kin, lo harus bergerak lebih cepat," Bisik Mita tepat ditelinganya.


Kina hanya bisa mengumpat didalam hatinya. Bagai penyikasaan untuknya.


Lagi-lagi senyuman manis itu menyambutnya.


"Kita deluan ya Kin," Pamit lala dan Mita pada Kina.


Kina mengepalkan tangannya kuat dan tak lupa ia memberi tatapan mematikan pada kedua temannya yang memperlakukannya seenaknya saja tanpa bertanya lebih dulu padanya. tapi kejadian itu terulang lagi, kedua sahabatnya itu tak akan pernah menggubris kode yang ia berikan. Bagai angin lalu oleh keduanya.


"Ayo," Ajak Darrenjun, lelaki itu telah menggandeng tangannya. Kina segera melepas tautan tangan Darrenjun dari tangannya.


Sedikit tersentak Darrenjun memandang Kina bingung.


"Aturan nomor 1," Ucap Kina cepat.


Darrenjun menghelakan nafasnya berat, ia tak menyangka telah menyetujui kesepakatan mereka itu. jika diberikan kesempatan untuk mengubahnya, Darrenjun sangat ingin mengubah yang itu.


Keduanya adalah sepasang kekasih, tapi entah keanpa tak terasa efeknya sama sekali. Malahan mereka terlihat kaku dan juga keki. Dalam keheningan mereka berjalan ke arah parkiran. Tak ada yang berniat membuka obrolan. Kina sibuk dengan pikiran yang ingin membalas perbuatan kedua sahabatnya, dan Darrenjun dengan pikiran ingin mengubah segala aturan aneh mereka dan mengaturnya ulang.


Suara dering handphone Darrenjun menghentikan keheningan yang ada. Darrenjun mengeluarkan handphoennya dari dalam sakunya dan menatap layarnya, melihat nama si penelpon.


Agak ragu untu mengangkatnya, tapi Darrenjun juga penasaran. Darrenjun segera mengangkatanya, lalu mendekatakan layar handphonennya ketelinganya.


"Halo."


Kedua mata Darrenjun melebar saat tau siapa yang tengah menelponnya. Ia begitu terkejut dengan ucapan orang yang ada diseberang sana. Segera ia memandang ke arah Kina dan membaut Kina menajadi penasaran.


"ada apa?"


Darrenjun menggaruk belakang kepalanya merasa bersalah pada Kina yang berdri menatapnya dengan bingung.


"Sorry, kayaknya gue gak bisa nganter elo pulang."


"Yaudah gak papa. gue bisa pulang sendirian."


Darrenjun tersenyum tipis lalu menepuk lengan Kina pelan. "Gue deluan, Lo hati-hati ya. Entar kalo sampai rumah kabarin gue," Ucap Darrenjun, lalu berlari meninggalkan Kina dengan terburu-buru.


Sepertinya sesuatu telah terjadi. Pikir Kina.


Kina sedikit merasa agak kecewa awalnya, karena lelaki itu tak menjelaskan apa-apa padanya dan malah mengatakan hal tersebut, tapi apa haknya. Bahkan dengan perasaannya sendiri Kina masih ragu. Jadi sangat tidak baik baginya untuk mengekang Darrenjun dengan perasaan yang tak pasti itu. dari pada memusingkan hal yang tak pasti, Kina memilih mengabaikannya saja ketimbang memusingkannya.


-


-


Derap langkah kakinya begitu pasti, satu persatu orang yang lewat ia pandangi satu persatu, mencari keberadaan orang yang barusan menghubunginya. Darrenjun merasa khawatir dengan orang yang akan ia temui, pasalnya orang itu mengatakan telah menunggunya 4 jam lamanya.


"injun!" Teriak seseorang ke arahnya.


Dengan cepat Darrenjun berbalik, mencari keberadaan orang yang barusan memanggilnya. Panggilan yang hanya dia seorang yang bisa melakukannya, seperti ciri khas orang itu.


Senyuman Darrenjun mengembang, sosok itu masih sama, hanya saja penampilannya lebih dewasa dari terkhir kali ia temui. Sosok yang pernah singgah di hatinya.


Langkah kecil itu mendekatinya dengan terburu-buru.


Seorang gadis cantik dengan wajah oriental tersenyum manis ke arahnya. Lalu seperti menjadi kebiasaannya, ia berlari ke arah Darrenjun dan memeluk tubuhnya yang lebih tinggi darinya dengan erat.


"Aku kangen Injun," Ucapnya dengan manja.


Jika biasanya Darrenjun akan berkata kasar pada orang yang melakukan hal seperti ini padanya, maka gadis ini adalah pengecualian untuknya. Termasuk Kina tentunya.


Claudia Lisa, gadis dengan wajah bak malaikat dan suara lembut. Gadis yang menjadi cinta pertama seorang Darrenjun Evans.


Darrenjun tersenyum tipis dan mengelus kepala Lisa dengan sayang, jika ada yang melihat keadaan mereka saat ini pasti akan mengira bahwa keduanya adalah sepasang kekasih yang sudah lama terpisah.


"Aku juga," Ucapnya.


Darrenjun meregangkan pelukannya dan menatap Lisa lagi.


"Kamu dari tadi nungguinnya?"


Lisa mengangguk. "Iya, tapi gak masalah buat aku. Karena akhirnya aku bisa ketemu Injun."


Darrenjun tertawa kecil mendengar ucapan Yiren barusan. "Kenapa gak suruh kak Lucas jemput, kan kasihan kamu kalo harus nunggu."


Gadis itu menggeleng cepat. "Gak mau, maunya di jemput Injun."


Sekali lagi wajah dingin itu tertawa kecil. "Ada-ada aja sih. Keras kepala," Darrenjun kembali mengelus kepala mungil itu.


"Kenapa gak ngasih tau dulu sebelum kesini?"


"Aku mau ngasih surprise makanya datangnya mendadak."


"Kalo gitu kita pulang, aku anter."


Lisa mengangguk semangat. Inilah Darrenjunnya, lelaki hangat yang akan selalu melindunginya kapanpun dia butuh.


Darrenjun menggeret koper milik Lisa dengan gentlenya. Pandangan Lisa tak henti-hentinya mengaggumi wajah Darrenjun yang ada disebelahnya. Bagaikan mimpi untuknya bisa bertemu dengan lelaki itu kembali, setelah sekian lamanya.


-


-


Kina berjalan sembari membawa rantang pemberian mamanya yang akan ia berikan pada tetangga favourite mamanya itu, entah hal apa yang membuat mamanya dan tetangganya itu sering menukar makanan secara bergantian, seperti tak pernah habis menurutnya.


Sebenarnya ia sungguh malas berjalan keluar rumah saat ini, tetapi ia tak punya pilihan lain selain menuruti kehendak mamanya itu, kalau tidak jatah jajan bulanannya akan disita oleh sang mama. Dan itu bisa menjadi bencana untuknya, karena tanpa uang jajan ia tak bisa lagi singgah ke mini market untuk membeli ice cream kesukaannya.


Kina telah sampai didepan rumah tetangganya itu, ia berencana setelah memberikan rantang tersebut, ia ingin langsung pulang tanpa berniat singgah atau sekedar basa basi. Ia mengetuk pintu besar itu dengan sopan, dalam bebrapa menit keluarlah seorang lelaki yang lebih tua darinya.


"Hei Kin," Sapanya ramah. "Ada apa?"


Kina tersenyum sembari menunjukkan rantang yang berada ditangannnya. "Mau kasih ini dari mama," Ucapnya.


Lucas langsung menerima rantang pemberian Kina tersebut. "Gak mampir dulu?" Tawarnya.


Kina segera menggeleng. "Gak makasih, gue pengen langsung pulang aja."


"kok gitu sih? Lo yakin gak mau ketemu adek gue dulu."


Sekali lagi Kina menggeleng. "Besok gue juga ketemu adek elo."


"Yakin?" Tanya Lucas kembali.


"Gue-"


"Kak Lucas ngapain?"


Kedua orang itu sama-sama menoleh ke arah orang yang barusan bertanya, dan menampakan seorang gadis cantik berdiri disebelah Lucas.


"Dia siapa?" Tanya Lisa kepada Lucas.


Lucas sempat merasakan firasat buruk mengenai pertemuan keduanya. Tapi entah kenapa ide gila tiba-tiba muncul dalam benaknya. Senyuman licik terukir di bibir tampannya itu.


"Kalian kenalan sendiri aja," Ucap Lucas.


Lisa tampak bingung begitu pun sebaliknya. Tapi, meski begitu gadis itu menyodorkan tangannya lebih dulu dihadapan Kina.


"Gue Lisa."


Meski canggung Kina menerima uluran itu dan tersenyum ke arahnya. "Gue Kina."


Keduanya saling melempar senyum.


"Ayo Kin lo ikut gabung aja," Ajak Lucas.


Belum sempat Kina menolak Lucas lebih dulu menarik tanganya dan secara terpaksa Kina menunda pertemuannya dengan ice cream yang ada di mini market.


Baru saja Kina menapakkan kakinya ke dalam ruamh besar itu, sosok Darrenjun yang baru saja keluar dari kamarnya membuatnya sedikit canggung.


Sorot mata Darrenjun yang lembut, seketika berubah saat melihat Lucas dengan seenaknya saja menggandeng tangan gadis yang telah berstatus menjadi pacarnya itu.


Darrenjun berjalan dengan langkah lebar mendekat ke arah Lucas dan Kina. Lalu, melepas tautan tangan keduanya secara kasar.


"GAK USAH PEGANG-PEGANG!" Ketusnya pada Lucas.


"Iye, punya lo. Gak sengaja gue tadi."


Kina hanya berdiri kikuk, karena ucapan Darrenjun yang mengklaim dirinya sebagai miliknya, agak posesif tapi itu malah membuat Kina bahagia.


"Injun."


Kina dan Darrenjun sama-sama menoleh ke arah Lisa yang baru saja memanggil nama yang agak menggelikan ditelinga Kina. Ia bingung karena setahunya dirumah itu tak ada yang bernama Injun, lalu siapa yang dimaksud oleh gadis itu?


Lisa berjalan mendekat Darrenjun lalu menarik lelaki itu menjauh dari Kina. Dan sekarang baru lah Kina tau siapa pemilik nama Injun itu.


"Katanya mau main piano bareng, ayo," Ajaknya. Sepertinya Lisa agak kesal karena Darrenjun yang begitu dekat dengan Kina.


Cemburu? Tentu saja, ia jauh-jauh dari Amsterdam hanya untuk menemui cinta pertamanya itu.


Gadis itu menarik lengan Darrenjun menuju piano.


Kina menatap Darrenjun dengan kesal, bisa-bisanya lelaki itu diam saja saat Lisa menariknya seperti tadi. Apakah sosok dingin itu memang telah berubah, bukan hanya kepada dirinya saja?


Injun? Sejak kapan nama lelaki itu berubah?


Darrenjun merasakan hawa-hawa yang tak baik diruangan yang membuat nafasnya sesak. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres mengingat bagaimana cara Kina yang menatapnya. Darrenjun merasa penasaran ingin bertanya, tetapi ini bukan saat yang tepat untuk melakukan hal itu dan ada baiknya ia menundanya saja.


Lucas melihat persaingan sengit antara kedua gadis yang berdiri diantara Darrenjun itu, entah kenapa ia malah merasa bahwa hal itu begitu seru untuk ditonton. Sepertinya Lucas butuh popcorn.


Lisa mulai duduk didepan piano lalu mulai menekan tuts pada piano.


Melody indah mengalun dengan indahnya memenuhi ruangan. Gadis itu begitu lihainya memainkan nada-nada pada piaono hingga membuat Kina tercengang.


Bagaimana bisa ada makhluk sesempurna itu, Lisa begitu cantik bak barbie dan sekarnag gadis itu bahkan bisa memainkan piano dengan lihainya. Melihat ini semua membuat Kina mendadak menjadi Insecure, ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Lisa jauh dari kata sempurna. Ia tak cantik, bahkan tak pintar baik itu dalam pelajaran dan bidang seni. Tak ada satu pun alat musik yang bisa ia mainkan.


Kina meremat jemarinya sendiri. Jadi ini yang namanya cemburu dan kalah telak. Kina sangat ingin pulang rasanya.


Lisa menghentikan permainannya, ia menoleh ke arah Darrenjun. "Gimana?" Tanyanya dengna suara manja.


Suara yang tak akan bisa Kina ucapkan pada Darrenjun.


Darrenjun mengangguk singkat. "Bagus, kamu ada peningkatan."


Duarr


Seperti ada hantaman pada kepala Kina mendengar Darrenjun memanggil Yiren dengan kata 'kamu' padahal dirinya yang telah menjadi pacar Darrenjun masih menggunakan kata elo, gue setiap berbicara.


Siapa Lisa sebenarnya dan apa hubungan keduanya?


Sesak. Itu yang kini ia rasakan melihat keduanya yang tampak serasi.


Lisa menarik Darrenjun untuk duduk disebelahnya. Tak ada penolakan dari Darrenjun, lelaki itu menurut dan mulai menekan tuts pada piano. Keduanya tampak asik memainkan melody indah berdua.


Kina yang masih berdiri disitu merasa hatinya tersayat, sudah cukup. Saatnya ia pergi meninggalkan kedua orang itu untuk menikmati waktunya berdua.


"Gue balik kak," Ucap Kina berbisik pada Lucas. Ia tak ingin mengganggu keduanya.


Lucas tau bahwa Kina tengah sakit hati karena Darrenjun dan Lisa yang begitu dekat seperti itu. dan ini salahnya, tapi, Lucas sengaja melakukan ini semua demi mengethui isi hati Kina untuk adiknya itu. Ia pusing dengan Darrenjun yang sering uring-uringan karena Kina yang tak tampak membalas perasaan Darrenjun. Jadi sudah ia putuskan untuk membantu Darrenjun melalui cara licik seperti ini.


Kina berjalan seorang diri menuju rumahnya, sudah tak ada minat lagi untuknya hanya sekedar mampir ke mini market, keiinginannya cuma satu, yaitu pulang dan menghabiskan waktunya berdiam diri didalam kamarnya. Mencoba menenangkan hatinya yang terluka.


Tadi ia sempat berharap bahwa Darrenjun menyadari kepergiannya dan mengejarnya, tapi sayangnya itu hanyalah harapannya saja. Karena kenyataannya Darrenjun masih didalam rumahnya, tak memperdulikannya, sepertinya Darrenjun begitu bahagia karena kedatangan Lisa.


Lagian, siapa dia yang tak ada apa-apanya ini.


Tes


Tes


Bulir-bulir air yang sudah memenuhi pelupuk mata Kina sudah tak dapat terbendung lagi, seketika air matanya keluar tanpa permisi, gadis itu menangis seorang diri digelapnya malam.


Apa-apaan ini, baru saja ia ingin menata hatinya untuk menerima Darrenjun, lelaki itu malah lebih dulu meninggalkannya begitu saja. Segini kah perjuangannya itu untuknya? Atau ini adalah balasan untuknya yang selalu mengabaikan perasaan lelaki itu.


Jika ia, kenapa balasannya cepat sekali?


-


-


...💓CUTTON CANDY💓** **...


-


...TERIMA KASIH KARENA MENYEMPATKAN WAKTU KALIAN UNTUK MEMBACA KARYAKU 🙏🙏 JANGAN LUPA MEMBERIKAN JEJAK KALIAN PADA KARYAKU INI 😊😊...