Cutton Candy

Cutton Candy
Atap Sekolah



...πŸ’“Cutton CandyπŸ’“...


...******...


Siapa sangka jika atap sekolah akan menjadi tempat favourite bagi Kina sekarang.


Lebih tepatnya, terpaksa.


Karena atap sekolah adalah tempat tongkrongan wajib bagi seorang Darrenjun dan mau tidak mau gadis itu pun harus mengikuti lelaki itu kemana pun dia pergi selama 1 bulan penuh. Tanpa tawar menawar lagi. Sesuai dengan perjanjiannya mereka.


Bayangkan, bagaimana perjuangan gadis itu untuk sampai kesana. Belum lagi, dia yang harus pergi ke kantin lebih dulu untuk membeli semua permintaan lelaki itu.


Serasa menjadi baby sitter. Bukan, lebih tepatnya Babu sitter, kata yang lebih cocok untuknya. Karena Darrenjun sudah besar. Jadi kata baby tidak tepat lagi untuknya.


"Minum gue,” Perintah Darrenjun ke Kina.


Dengan sigap Kina mengambil minuman yang telah ia persiapkan untuk Darrenjun di dalam plastik kresek yang ada disebelahnya. Lalu, ia memberikan minuman tersebut pada Darrenjun.


Darrenjun menerimanya. Hanya beberapa detik kemudian, lelaki itu memberikannya kembali pada Kina dan membuat gadis itu merasa bingung.


"Minumannya kenapa dibalikin? Lo gak suka rasa ini?” Tanya Kina.


Darrenjun menggeleng.


"Bukan,” Katanya.


"Lah terus?” Tanya Kina lagi.


Darrenjun melirik Kina sekilas. "Minumannya belum lo buka,” Ucapnya dan membuat gadis itu mendengus.


"Yaela lo manja banget dah perasaan. Punya tangan juga,” Omel Kina, meski pada akhirnya gadis itu tetap membuka tutup botol tersebut.


"Nah.”


Kina memberikan minuman yang telah ia buka pada Darrenjun.


Lelaki itu menerimanya lalu meminumnya.


Haikal tiba-tiba menyodorkan sebotol minuman ke arah Kina dan membuat gadis itu keheranan.


"Ini apaan?” Tanyanya.


"Gue mau juga dong dibukain minumnya,”Pinta Haikal dengan sedikit nada manja.


Kina tersenyum tipis, lalu ia berucap kembali. "Lo mau dibukain juga?” Tawarnya.


Haikal mengangguk semangat.


"Sini. Biar pala lo sekalian gue lepas juga,” Ucapnya dengan tatapan tajam.


"Sans kali mbak ngomongnya. Gak usah ngegas.”


"Bodo amat.”


"Gue kepanasan,” Ucap Darrenjun tiba-tiba dan membuat Kina mengerutkan dahinya. Ia bingung apa maksud dari perkataan Darrenjun barusan.


Kode kah?


Karena tak kunjung mendapat respon dari Kina, Darrenjun melirik ke arahnya lagi.


"Lo gak denger tadi, gue ngomong apa?”Tanyanya dengan kesal.


"Iya gue denger lo bilang panas tadi,” Ucap Kina seadanya.


Gadis itu mengadahkan kepalanya ke atas memandang langit sebentar. Lalu memandang Darrenjun lagi.


"Kan emang lagi musim panas. Gimana sih?”


Darrenjun menepuk keningnya pelan menggunakan tangannya. Dia tidak menyangka kalau Kina bisa sebodoh ini.


"Gue lagi gak bahas masalah musim,” ketus Darrenjun.


"Lah terus?”


"Gue kepanasan dan lo harusnya ngipasin gue kalo tau gue kepanasan!" Terang Darrenjun dan akhirnya membuat Kina paham juga.


"Ya elo pake kode-kodean. Mana gue paham gituan. Tinggal ngomong juga.”


Darrenjun merotasi kan matanya malas.


"Terus gue harus pake apaan buat ngipasin elo? Kan gak ada kipas disini.”


"Gue gak mau tau. Itu urusan lo.”


Oke Kina harus kembali melakukan ritualnya.


Sepertinya semenjak mengenal Darrenjun, Kina mendapati kebiasaan baru. Yaitu, menyumpah serapah lelaki yang ada di hadapannya ini. Dan, sekarang ia yakin kalau ia tidak salah telah memberikan julukan Darrenjun berupa


'Lelaki kutub Antartika dengan mulut merica level 50'


Kina bangkit dari duduknya dengan kesal. Dan mulai mencari keberadaan alat yang mungkin bisa ia gunakan sebagai kipas.


Beruntung, disana ia menemukan kardus yang sudah tak terpakai lagi. Lalu tanpa ragu gadis itu memungutnya dan merobeknya untuk ia gunakan sebagai kipas.


Setelah berhasil merubah kardus bekas tadi menjadi kipas, Kina berjalan lagi ke arah Darrenjun untuk mengipasi lelaki itu.


"Gimana? Uda kan?” Tanya gadis itu saat berhasil mengipasi Darrenjun.


"Kurang kerasa.”


Kina mencoba mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya untuk mengipasi Darrenjun.


"Uda cukup. Gini aja,” Ucap Darrenjun dan membuat si gadis memutar bola matanya malas.


"Kalo lo masih kepanasan. Biar sekalian gue bawain kipas yang ada dikantin. Kalo perlu sampek kulkas yang ada disana juga ikutan gue bawain buat lo,” Ketus Kina.


Darrenjun mengalihkan perhatiannya dari hapenya dan menoleh ke arah gadis itu.


Kina menggeleng cepat. "Enggak. Gue kan cuma babu. Jadi gak punya hak buat marah.”


"Bagus kalo lo paham sampai situ.”


Dan pada akhirnya Darrenjun kembali melanjutkan kegiatannya yaitu main game. Sementara Kina kembali mengumpat dalam hatinya sembari mengipasi lelaki itu.


"Mana makanan gue?” Kembali Darrenjun menyuruh Kina.


Kina menghentikan kegiatannya yang sedang mengipasi Darrenjun untuk mengambil Ciki dari dalam plastik kresek.


Karena ragu gadis itu tidak langsung memberikannya pada Darrenjun.


"Dibuka nih?” Tanyanya memastikan.


Darrenjun mengangguk tanpa berniat menoleh ke arah Kina. Sebagai kode kalau gadis itu harus membuka bungkusan ciki miliknya.


"Gak sekalian di suapin Kin?” Celetuk Mark ke Kina dan membuat gadis itu langsung memandang Darrenjun dengan shock.


"Lo mau disuapin juga?!" Ucapnya sedikit heboh.


Darrenjun menggeleng. "Gak usah. Letakin aja disini.”


Darrenjun menepuk-nepuk lantai yang ada disebelahnya. Lelaki itu masih memusatkan perhatiannya pada layar hape yang ada di tangannya. Dia tengah fokus dalam gamenya.


Mendengar jawaban dari Darrenjun atas pertanyaannya barusan membuat gadis itu bernafas lega. Lalu gadis itu melirik Mark dengan tatapan tajam.


"Dasar iler biawak,” Cetus Kina.


Mark hanya tertawa cekikikan menanggapi gadis itu.


"Buat gue mana Kin?” Pinta Haikal lagi dan masih menunjukan wajah sok imutnya itu.


Padahal bagi Kina wajahnya Haikal sangat tidak pantas untuk bisa dikatakan imut.


Kina berekspresi ingin muntah saat melihat Haikal dan mengundang tawa dari yang lainnya.


"Sialan lo,” cap Haikal ke Kina.


"Siapa suruh lo begituan. Manja amat minta dibukain,” Ketus gadis itu.


"Kin tangan gue sakit, bukain dong bungkusan Cikinya,” Gantian Emilio yang bersuara.


"Si Darrenjun kan gak mau di suapin, biar gue aja yang disuapin,” Tambah Arji.


"Elo giliran Darrenjun aja dibaikin.” Dan Mark jadi ikut-ikutan.


"Lo semua bacot sekali lagi, gue sumpel nih pake sepatu!" Kesel Kina.


"Widihhh … sanss kali atuh neng,” Mark mencoba menenangkan gadis yang mulai ngamuk itu.


"Iya. Lo jangan marah-marah gitu Kin. Entar jelek kayak Haikal baru tau rasa,” Arji yang barusan bersuara dan mendapatkan hadiah pukulan dari Haikal.


"Sakit ogeb!!"


"Bodoh amat.”


Keadaan menjadi ricuh dengan pertengkaran Arji dan juga Haikal.


Sekarang Kina tau, kalau Haikal itu memang pada dasarnya biang rusuh.


"Enak banget hidup lo Ren. Punya babu modelan kayak dia,” Tunjuk Emilio ke arah Kina dan membuat gadis itu mendengus kesal.


"Apaan sih lo?” Ucapnya.


Darrenjun mengalihkan perhatiannya sesaat dari hapenya dan memandang Emilio dan Kina bergantian.


"Lo mau dia?” Tanya Darrenjun ke Emilio. Lebih seperti ke arah penawaran.


Emilio mengangguk semangat. "Mau gue. Gue bayarin berapa nih orang?” Tanyanya dengan semangat.


"Lo apaan dah ngomong begituan?” Protes Kina.


"Lo kira gue barang apa?”


Arji dan Emilio yang sedang bertengkar mendadak berhenti. Dan memandang ke tiganya.


"Mulut lo Mil, kebiasaan banget begituan,” Gantian Arji yang marah.


"Ya siapa tau dia mau kan. Lagian gue gak maksa juga,” Jawab Emilio acuh.


Darrenjun mematikan layar hapenya, lalu memandang Kina.


"Gimana? Lo mau?” Tawarnya dan mendapat pelototan dari Kina.


Beberapa detik kemudian, lelaki itu tertawa. Dan memandang Emilio lagi. "Sorry Mil, dia gak mau katanya.”


"Lo yakin Kin?” Tanya Emilio memastikan.


"Ogah.”


Gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Sedikit menghentakkan kakinya kelantai, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mereka semua. Masa bodoh Darrenjun murka atau tidak.


Gadis itu sudah sangat kesal dan marah dengan perlakuan Darrenjun padanya. Dan bagaimana bisa lelaki itu berpikir untuk menjualnya dengan Emilio. Dia itu manusia bukan barang.


Ahh ... Kalau saja ia tidak ingat misinya. Ingin rasanya gadis itu meninju Darrenjun saat ini juga.


...*****...


...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


*Terimakasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang sudah mau baca cerita aku **πŸ™πŸ™πŸ™*


Jangan lupa berbagi vote dan komen 😊😊😊