Cutton Candy

Cutton Candy
Rasa Gelisah



...💓CUTTON CANDY💓...


...****...


...(Apapun yang terjadi. Jangan pernah berpikir untuk pergi, walau hanya sebentar -Darrenjun Evans)...


...------...


"Baru pulang Ren?" Tanya Lucas yang baru saja keluar dari arah dapur.


Lelaki tinggi itu hanya menggunakan kaos putih polos dan juga celana pendek.


Darrenjun hanya mengangguk singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Lucas barusan. Tak ada pembicaraan selanjutnya. Keduanya berpisah, Darrenjun pergi menuju kamarnya dan Lucas pergi menuju ruang tv.


Hubungan keduanya telah membaik sejak Laura di rawat dirumah sakit. Permasalahan mereka telah terjawab sudah dan tak ada alasan lagi bagi Darrenjun untuk tetap membenci Lucas.


Darrenjun menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik menyusul Lucas yang telah duduk manis di atas sofa sambil menonton acara tv.


Lucas menoleh ke sebelahnya saat sadar  siapa yang baru saja bergabung dengannya.


"Tumben?" Ucapnya dan membuat si empu langsung menoleh ke arahnya.


"Ada yang mau gue tanyain."


Lucas menaikan sebelah alisnya. "Soal?" Tanyanya.


"Lo uda berpengalaman soal cewek. Jadi gue yakin lo pasti ngerti dengan semua perasaan cewek termasuk dengan-"


"Lo mau minta saran gue buat cara nembak Kina gimana?" Potong Lucas dan mendapat pelototan dari Darrenjun.


"Bukan!!" Bantahnya cepat. "Temen gue."


"Temen lo? Siapa?"


"Gue kasih tau juga, lo gak bakalan kenal."


Lucas tak mempercayai ucapan Darrenjun barusan. Hanya saja ia sedang tak ingin membuat adik kecilnya itu marah padanya.


"Yaudah Lo lanjut," Ucap Lucas lagi.


"Jadi gini. gue punya temen. Dia suka sama salah satu cewek yang ada disekolah dan permasalahannya dia itu bingung gimana cara ngungkapinnya."


"Itu gampang," Ucap Lucas dan membuat Darrenjun menjadi tertarik.


"Lo tinggal ngomong sama tuh cewek soal perasaan elo. Gue suka sama elo. Uda jadian, selesai. Gak ribet."


"Masalahnya gak sesimple itu."


Lucas mengernyitkan dahinya. "Masalahnya?"


"Dia gak yakin kalo tuh cewek suka ke dia. Karena tuh cewek suka sama orang lain."


"Temen lo tau darimana kalo tuh cewek suka dengan orang lain?"


"Si cewek yang cerita."


Lucas sedikit memajukan tubuhnya, menatap Darrenjun lekat, mencoba membaca pikiran sang adik. "Lo yakin, kalo ini bukan tentang elo dan Kina?"


"Kalo ini bener tentang gue dan Kina. Lo emang tau siapa cowok yang dia suka?" Darrenjun memasang tampang andalannya. Dingin dan menusuk. Hingga membuat Lucas menarik tubuhnya kembali, menjauh dari Darrenjun.


"Gue emang gak tau siapa. Tapi gue yakin ini semua tentang elo."


Darrenjun hanya merotasikan bola matanya malas. "Terserah elo mau mikirnya apa, yang penting gue uda bilang, kalo ini bukan soal gue."


Lucas masih menatap Darrenjun dengan tatapan menyelidik. Ia tak yakin bahwa Darrenjun tengah jujur padanya.


Tapi, ia juga tak bisa memaksa Darrenjun cerita mengenai urusan pribadinya itu. Mengingat bagaimana hubungan keduanya yang belum bisa dikatakan dekat.


"Jawabannya cuma dua."


"Dua?" Ulang Darrenjun dengan penasaran.


Lucas mengangguk pelan. "Nyerah atau perjuangin."


"Perjuangin gimana maksud lo?"


"Lo deketin dia secara perlahan dan cari tau apa yang dia suka dan dia benci. Atau yang paling gampang. Lo selalu ada di saat dia butuh."


"Maksud lo. Harus jadi babunya gitu?"


Plakkk


Lucas baru saja menepuk keningnya sendiri. Ia tak habis pikir bahwa orang se jenius Darrenjun bisa menjadi sangat bodoh.


"Ya bukan," Bantah Lucas cepat sebelum Darrenjun berpikir yang bukan-bukan.


"Jadi?"


"Lo cuma dituntut untuk lebih perhatian ke dia. Biasanya cewek itu luluh kalo ada yang perhatian ke dia."


Darrenjun diam. Ia terlihat termenung dengan penjelasan Lucas barusan. Lalu setelahnya Renjun menepuk pundak Lucas.


"Yaudah gue mau ke kamar dulu. Thanks buat infonya, gue bakal kasih tau temen gue secepatnya."


Senyuman baru saja terukir di bibir Darrenjun. Sepertinya lelaki itu puas dengan penjelasan yang baru saja di sampaikan oleh Lucas.


Lucas hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


Baru saja Darrenjun hendak pergi. Lucas memanggilnya.


"Ren."


Darrenjun menghentikan langkahnya, lalu berbalik memandang Lucas.


"Bilang ke temen lo. Jangan gengsi jadi manusia. Kalo suka ya bilang."


Darrenjun hanya mengangguk singkat, lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya.


"Cih. Dasar Playboy," Ucap Darrenjun sembari berjalan menuju kamarnya.


Lucas masih memandangi Darrenjun yang telah pergi meninggalkannya. Lalu ia berbalik, kembali fokus pada layar tv nya.


"Cih. Dasar tukang gengsi."


-


-


Kina berjalan seorang diri menuju halte bus. Tak ada yang dapat mengantarnya hari ini.


Rey ada pertandingan pagi antar sekolah. Papanya sedang keluar kota. Mamanya harus mengurus keperluan Dea menjelang acara perpisahannya.


Dan keadaan motornya masih terbilang cukup memprihatinkan untuk ia bawa.


Tak ada pilihan lain untuk ya selain menaiki kendaraan umum.


Suara deru motor dari arah belakang membuat Kina menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan mendapati Darrenjun yang baru saja berhenti.


"Ayo naik," Ajaknya.


"Kemana?"


"Eropa."


"Cih."


"Ya sekolah lah. Lo bego atau apa sih?"


Kina meremat jemarinya sendiri. Masih terlalu pagi untuk bertengkar dan Darrenjun malah lebih dulu mengibarkan bendera perang padanya.


"Lo kok tau gue disini?" Tanya Kina dengan sinis.


"Mama lo."


"Mama?"


Darrenjun mengangguk singkat.


"Kemarin pas gue dateng. Dan Rey juga minta tolong ke gue buat nganter elo," Jelas Darrenjun panjang lebar.


Kina mengernyitkan dahinya. Aneh rasanya jika seorang Darrenjun yang terkenal dingin mendadak bersikap baik.


"Kok lo mau aja disuruh Rey?"


"Gue gak mau sebenarnya. Tapi karena gue masih punya hati nurani. Jadi dengan berbaik hati gue iya in permintaan Rey,"


"Lo masih mau interogasi gue disini atau gue tinggal?" ancam Darrenjun. Dan membuat Kina segera bergegas naik ke atas motor Darrenjun.


"Buruan," Ucap Kina yang sudah berpegangan pada tas Darrenjun, sebelum Darrenjun mengoceh yang tidak-tidak dan membuat Kina sakit hati.


-


-


"Lo beneran gak ada rasa sama Darrenjun?"


Kina mendongakan kepalanya memandang Lala dengan kerutan di dahinya.


"Lo kenapa bahas itu mulu sih?" Omel Kina. Sejak dari tadi Lala tak henti-hentinya membahas perkara antara dirinya dan juga Darrenjun.


Sudah sangat jelas sekali bahwa keduanya tak memiliki perasaan satu sama lain.


Kedua bahu Lala merosot. "Yah Kirain lo naksir ke Darrenjun."


"Kenapa harus?"


"Darrenjun kan baik ke elo."


Kina diam beberapa saat memikirkan perlakuan Darrenjun terhadapnya selama ini. Lalu beberapa saat kemudian ia melirik Lala kembali.


"Baik darimana? Gue dengan dia satu hari doang gak pernah tuh gak adu mulut."


"Tapi elo sedih kan kalo Darrenjun kenapa-napa."


"Gue-"


Kina tak jadi melanjutkan ucapannya. Karena perkataan Lala benar adanya.


"Tuh kan bener lo dan Darrenjun ada chemistry."


"Dah ya gue lagi pusing karena ngerjain soal fisika barusan. Jadi gue harap lo berhenti bahas masalah Darrenjun lagi."


"Cih."


-


Kedua gadis itu mencari kursi kosong yang ada di kantin. Baru saja mereka berbalik seseorang meneriaki nama Lala dengan kencang.


Siapa lagi kalo bukan cowok bule itu. Yang telah berstatus menjadi pacar Lala saat ini.


Mark Gavin


Lala berjalan dengan langkah cepat menghampiri Mark tanpa memperdulikan kedua sahabatnya yang masih tertinggal di belakangnya.


"Dasar bucin," Ucap keduanya bersamaan.


"Lo duduk disini," Darrenjun berucap pada Kina sembari menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.


Kina mengernyitkan dahinya. Ini peristiwa langkah dan seharusnya Kina abadikan. Karena untuk pertama kalinya Darrenjun menawarkannya hal yang seperti ini. Bukan perintah tentunya.


"Tumben," Ucapnya.


Darrenjun tak menyahut.


"Lo tinggal duduk aja ribet amat dah," Timpal Haikal.


"Tapi gue denger."


"Sumbat tuh telinga."


"Gak mau."


"Ini."


Darrenjun baru saja menyodorkan semangkuk bakso padanya. Dan menghentikan perdebatan Kina dan juga Haikal.


"Gue gak ada pesen," Tolak Kina.


"Gue tau."


"Lah terus?"


"Baksonya double gue beli tadi. Jadi sayang kalo dibuang."


Kina menatap Darrenjun dengan tatapan menyelidik. "Lo gak lagi modus kan?"


"Pffttt Hahaha."


Haikal baru saja tertawa hingga membuat seisi kantin memandang ke arah meja mereka.


"Lo aneh banget sih. Di kasih sok-sok an nolak. Padahal lo laper juga kan."


"Gengsi terosss," Ledek Haikal.


Kina mengambil tissue yang tergeletak di atas meja lalu merematnya hingga menjadi bola. Lalu ia lempar ke arah Haikal dengan kasar.


"Berisik Lo."


Sayangnya lemparan Kina tak mengenai sasaran dan semakin membuat Haikal tertawa seperti orang yang kesurupan.


"Dasar makhluk astral."


Haikal tak.memperdulikan ejekan Kina. Lelaki itu malah asik menjulurkan lidahnya didepan Kina.


Tak ada yang bisa di lakukan Kina selain mencoba bersabar semampunya. Ia tak ingin perkelahian ini berkelanjutan, karena percuma jika di lanjutkan Haikal akan menjadi-jadi dan akan membuatnya menjadi tontonan seisi kantin.


-


-


"Lo mau langsung pulang?"


Kina semakin bingung dibuat oleh Darrenjun. Pasalnya lelaki itu sedikit bersikap baik dan juga perhatian padanya. Hanya sedikit saja tapi.


"Menurut lo?"


"Pulang," Jawab Darrenjun singkat


"Uda tau nanyak," Gerutu Kina kesal.


Baru saja Darrenjun memasang helmnya. Suara nada dering handphonenya membuatnya menghentikan kegiatannya itu.


Memandang layar handphonenya sesaat, lalu ia angkat panggilan tersebut.


"......."


Brakk


Darrenjun baru saja menjatuhkan handphonenya dari tangannya.


Kedua tangan Darrenjun gemetaran dan membuat Kina langsung mendekat ke arahnya. Memungut handphone Darrenjun yang terjatuh dan memberikannya pada lelaki itu.


"Ada apa?" Tanyanya dengan cemas.


Darrenjun langsung menoleh ke arah Kina dan membuat kedua mata mereka bertemu.


Hanya melihat tatapan Darrenjun Kina sudah tau bahwa sedang ada yang tak beres.


"Mama," Ucap Darrenjun dengan suara yang mulai serak.


Kina terdiam. Termenung, mengerti dengan satu kata itu. Sesuatu yang buruk pasti telah menimpa Laura.


"Ayo kerumah sakit. Gue ikut."


-


-


Sesampainya di rumah sakit. Darrenjun berlari seperti orang gila di sepanjang koridor. Hati dan juga pikirannya sedang dalam kondisi yang tak baik


Ia takut.


Takut, jika Laura akan meninggalkannya seperti ini.


Baru saja keduanya berbaikan. Bahkan keduanya telah memiliki rencana untuk tinggal berdua saja. Sungguh Darrenjun tak ingin harapan mereka hanyalah harapan semata saja.


"Ren," Panggil Lucas saat Darrenjun baru saja tiba.


Seluruh keluarganya berada disana. Askara, Jia dan juga Lucas. Ketiganya terlihat cemas dan khawatir.


Kaki Darrenjun terasa lemas. Ia benar-benar takut.


Darrenjun mendekat ke arah Lucas. "Gimana kondisi mama?" Tanyanya dengan cemas.


"Masih dalam penanganan dokter. Lo tenang ya kita sama-sama berdoa."


Darrenjun mengangguk lemah. Hatinya gelisah tak karuan.


Lucas memegang sebelah pundak Darrenjun dan mengelusnya lembut. Ia tau bagaimana cemasnya Darrenjun dengan kondisi Laura yang terbaring lemah di dalam ruangan itu.


"Tante Laura orangnya kuat. Gue yakin dia pasti bisa ngelewatin masa-masa kritisnya."


Darrenjun menatap Lucas sebentar lalu menunduk. "Gue harap ucapan lo barusan itu bener."


Lucas mengangguk singkat. "Pasti," menyetujui ucapan Darrenjun barusan. Lalu lelaki itu memeluknya. Mencoba memberikan kekuatan pada Darrenjun yang sedih.


Kina baru saja tiba. Nafasnya sudah tak beraturan, akibat berlari mengejar Darrenjun yang meninggalkannya.


"Jun," Panggilnya.


Darrenjun menoleh ke arah Kina dan tersenyum kecut kearahnya.


-


Kina duduk di sebelah Darrenjun mencoba menenangkan Darrenjun yang terlihat gusar. Siapapun yang berada di posisi Darrenjun saat ini pasti merasakan yang sama.


Kedua orang itu menunggu kabar lanjutan mengenai kondisi Laura tmyang terlah berada didalam ruang ICU.


"Ini buat kalian," Lucas baru saja memberikan sebuah bungkusan pada Kina dan juga Darrenjun.


Bungkusan bertuliskan logo restoran cepat saji yang familiar.


"Gue gak laper," Tolak Darrenjun.


"Jangan bohong. Lo belum makan sejak dari tadi. Dan lo baru pulang sekolah dan pasti laper."


"Gue bilang gue gak laper."


"Ren please dengerin gue. Gue tau gimana sedihnya elo. Cuma lo juga gak boleh nyiksa diri Lo kayak gini. Tante Laura itu orang yang kuat, gue yakin dia bakalan sembuh. Apa lo mau setelah Tante Laura sehat, gantian elo yang dirawat."


Darrenjun membisu.


"Kak Lucas bener Jun. Lo juga harus mikirin kesehatan elo," Bujuk Kina agar Darrenjun menurunkan sifat keras kepalanya itu.


Darrenjun menghelakan nafasnya kasar, lalu mengambil bungkusan yang diberikan Lucas padanya dengan kasar.


"Ia gue makan. Puas lo," Ucap Darrenjun dengan kesal.


-


3 jam telah berlalu dan seorang dokter akhirnya keluar dari ruangan dimana Laura di rawat.


Selama itu, semua orang yang ada disana menunggu dengan perasaan gelisah.


Darrenjun berdiri dari tempatnya, menghampiri dokter tersebut perasaannya cemas tak menentu.


"Bagaimana kondisi mama saya dok?"


"Gimana kondisi mama saya dok?"


"Kamu anaknya pasien?"


Darrenjun mengangguk cepat. Menanti jawaban dari sang dokter dengan jantung yang berdebar.


Sebelah tangan dokter itu ia arahkan ke arah pundak Darrenjun, lalu ia elus dengan lembut.


"Kamu tenang saja. Kondisi pasien sudah membaik."


Semua orang yang mendengar kabar yang baru saja di sampaikan oleh dokter tersebut akhirnya menjadi lega bukan main. Pasalnya mereka sejak dari tadi menunggu kabar tentang Laura dengan perasaan gelisah.


"Tapi."


"Tapi apa dok?" Tanya Darrenjun dengan cemas.


"Untuk sementara pasien masih belum bisa untuk di temui."


"Kenapa dok? Apa bertemu sebentar saja tak boleh?"


Dokter tersebut menggeleng. "Pasien masih belum pulih sepenuhnya. Jadi untuk sementara waktu biarkan pasien beristirahat dengan tenang."


Darrenjun tak menjawab lelaki itu masih diam. Ingin protes, tapi ia tak punya alasan lagi. Bagaimanapun ini untuk kebaikan Laura.


"Kalo gitu saya pamit. Permisi."


Setelahnya dokter tersebut pergi, diikuti oleh Askara dan Jia.


Darrenjun tertunduk lemah. Ia masih belum bisa percaya sepenuhnya atas apa yang baru saja disampaikan oleh dokter barusan.


Perasaannya sedih dan juga kecewa. Ia hanya ingin melihat Laura barang sebentar, untuk memastikan bahwa Laura baik-baik saja dan masih bisa bernafas dengan baik.


Kina berjalan mendekat ke tempat dimana Darrenjun masih berdiri.


"Gue ngerti dengan perasaan elo saat ini Jun. Tapi, dokter tadi bener. Kalo lo masuk saat ini. Tante Laura mungkin akan terganggu dan itu gak baik buat kesehatannya."


Kina menarik kedua tangan Darrenjun lembut, lalu menggenggamnya. "Uda ya Lo cukup cemasnya. Untuk saat ini kita sama-sama berdoa buat kesembuhan Tante. Lo mau ya?"


Darrenjun memandang ke arah kedua tangannya yang telah digenggam oleh Kina, lalu memandang Kina secara bergantian.


Darrenjun tersenyum tipis. "Oke gue bakal lakuin hal yang elo bilang tadi."


Kina tak bisa untuk tidak senang karena Darrenjun setuju dengan ucapannya barusan.


Darrenjun melepas genggaman tangan Kina padanya. Dan membuat Kina sadar dengan tindakan yang kelewat berani yang baru saja ia lakukan.


"Ayo pulang. Gue capek," Ucap Darrenjun yang berjalan lebih dulu di depannya.


Kina memukul tangannya pelan. Ia malu, telah melakukan tindakan barusan. Dan setelah ini ia yakin Darrenjun akan meledeknya.


Darrenjun menghentikan langkahnya dan membuat Kina memandang ke arahnya. "Lo lama gue tinggal," Ancam Darrenjun dan membuat Kina segera berlari menyusulnya.


Lucas masih berdiri disitu memandang kedua siswa itu dengan senyum miris.


"Ternyata sama-sama gak peka. Pantes gak ada kemajuan," Gumamnya.


...*******...


...💓CUTTON CANDY💓...


...Jangan lupa meninggalkan jejak kalian ya fren 😊😊...