Cutton Candy

Cutton Candy
Black Hole



...❤️CUTTON CANDY❤️...


...(Jika kamu saja enggan berbicara padaku, lalu bagaimana caranya aku menjelaskan semuanya? -Kina)...


-


Bermuka dua bukanlah gaya seorang Claudia Risa, terlebih lagi hanya untuk mendapati simpati dari orang-orang.


Tapi, untuk saat ini ia mencoba untuk bernegoisasi dengan itu semua, hanya sampai keiinginannya tercapai saja.


Dengan pakaian casualnya, ia duduk sembari memangku makanan yang telah ia persiapkan dengan baik untuk ia berikan pada seseorang.


Ia tidak memasaknya, karena hal itu sungguh merepotkan baginya. Teknologi yang telah berkembang amat pesat saat ini haruslah kita hargai, seperti memesan layanan pesan antar contohnya.


"Nyari Darrenjun ya?"


Lisa segera berbalik menoleh ke arah orang yang baru saja bertanya padanya. Senyuman gadis itu terukir dengan sempurna saat melihat sosok yang ia tunggu-tunggu sejak dari tadi.


"Bukan. Aku nyari kak Lucas," Ucapnya penuh semangat


"Gue?"


Tunjuk Lucas ke dirinya sendiri, ia merasa heran dengan ucapan Lisa tersebut. Tidak biasanya gadis itu mencarinya.


Lisa mengangguk semangat. "Oh ya sekalian aku bawain ini buat kakak."


Lisa menyerahkan makanan yang telah ia persiapkan untuk Lucas, martabak coklat kacang, kesukaannya Lucas.


Lucas menerima itu dengan wajah yang tersenyum cerah.


"Makasih ya," Ucapnya penuh kegirangan.


Lisa hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Lo kesini cuma mau ngasih ini doang?" Tanya Lucas kembali, ia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Lisa darinya.


Lisa manggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Ia kembali tersenyum, kali ini menyengir menunjukan sederet gigi putihnya.


"Heheh itu kak aku mau tanya sesuatu," Ucap Lisa akhirnya.


"Gue gak pinter, lo tanya Darrenjun aja sana," Jawab Lucas sembari membuka bungkusan martabak yang dibawakan oleh Lisa, lalu mencomotnya dan melahapnya.


"Aku seriusan kak," Rengek Lisa dengan manja.


Jika gadis lain yang melakukannya, mungkin Lucas akan jijik dan pergi dari sana. Tapi, untuk kasus ini Lucas bisa mentolerir nya. Baginya Lisa sudah seperti adiknya sendiri. Mengingat mereka yang sejak kecil berada dilingkungan yang sama.


Meski masih dilanda dengan kebingungan Lucas mendekat ketempat Lisa berada, lalu duduk disebelahnya.


"Gue juga serius, tapi enggak deng gue gak mau terlalu bawa serius ke elo entar yang ada baper."


Lisa sempat melongoh dengan ucapan Lucas yang kelewat ambigu ditelinganya.


"Kak Lucas apaan sih?" Timpal Lisa dengan gaya manjanya.


Lucas hanya tertawa kecil melihat Lisa yang terlihat sebal karenanya.


"Yaudah... yaudah, mau nanya apa?"


Lisa seketika merasa bimbang dengan keputusannya ini, haruskah ia mengatakan semuanya pada Lucas.


Lucas memandang Lisa dengan penasaran, menunggu gadis itu berucap kembali.


"Itu... kak ... kakak bisa bantu aku gak supaya bisa dekat dengan Kina?"


Lucas menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya, hampir saja martabak yang berada dimulutnya keluar begitu saja.


"Temenan dengan Kina? Seriusan?" Tanya Lucas lagi, memastikan pendengarannya tak salah.


Lisa mengangguk semangat. "Iya, seriusan. Masa boongan".


"Kamu gak sakit hati gitu ngeliat Kina dekat Darrenjun."


Lisa seketika tertunduk, memainkan jemarinya sebelum kembali berucap.


"Sorry gue gak maksud," Ucap Lucas penuh penyesalan, salahnya yang berucap sembarangan.


"Gak papa kak, lagian itu kenyataan dan aku gak bisa ngapa-ngapain lagi. Hati Darrenjun bukan punya aku lagi."


Lisa tersenyum tipis memandang Lucas. "Kina lebih baik dari aku kak," Ucapnya dan sungguh perkataan Yiren membuat Lucas terharu.


Lucas mengelus punggung Lisa dengan lembut. Adik kecilnya yang dulu selalu ia jaga telah tumbuh menjadi peribadi yang dewasa.


"Kamu tenang aja, kakak akan bantu kamu," Ucap Lucas dan membuat Lisa langsugn tersenyum bahagia.


Lisa merasa senang dengan ketersediaan Lucas untuk memabantunya.


-


-


Darrenjun dan Kina saling melepas tautan tangan mereka yang sebelumnya bersatu saat memasuki perkarangan sekolah. Keduanya telah sepakat untuk tidak terlalu berlebihan jika berada disekolah.


Kedua kaki Kina terhenti saat melihat sosok Lisa sedang duduk diantara teman-temannya Darrenjun, bukan bermaksud jahat. Kina hanya merasa kurang nyaman saja bertemu dengan masa lalu Darrenjun yang kelewat sempurna itu.


"Ren!" Panggil Mark yang telah melambaikan tangannya ke atas, menunjukan keberadaannya. Dan saat itu juga lamunan Kina seketika buyar.


Darrenjun menoleh ke arah Kina, memastikan gadis itu dalam keadaan yang baik saat melihat sosok Lisa berada disana, mengingat keduanya pernah terlibat percekcokan.


"Keganggu gak?" Tanya Darrenjun pada Kina.


"Iya gue keganggu banget."


Ingin sekali Kina mengucap kata-kata itu dengan lantang, tetapi jika ia lakukan hal tersebut rasanya terlalu berlebihan sekali. Dan alhasil ia pun hanya bisa berbohong.


Kina menggeleng dan tersenyum tipis. "Gak kok," Jawabnya.


Lalu keduanya pun ikut bergabung dengan teman-temannya Darrenjun, ralat ada Mita dan tentu saja Lisa disitu dan... Lala. Pemandangan yang hampir langkah pasca Lala dan Mark putus.


Kina duduk tepat disamping Mita dan disebelahnya lagi ada Darrenjun. Dan dihadapannya ada Lisa yang duduk diantara Haikal dan juga Lala.


"Hai Kina," Sapa Lisa ramah padanya.


Kina menajadi kikuk sendiri pasalnya keduanya telah berselisih paham dan ini Lisa menyapanya seolah-olah kejadian yang sudah-sudah bukan lah apa-apa bagi Lisa. Atau mungkin hanya Kina saja yang merasa terlalu sensitif.


"Hai."


Meski masih diselimuti ke anehan Kina tetap membalas sapaan Lisa tersebut.


"Kaku banget sih lo bocah, kayak kanebo kering," Ucap Haikal dan mendapatkan tatapan mematikan dari Darrenjun.


"Iya dah iya.. pawangnya serem njirr," Ucapnya lagi.


"Ternyata kalo aku liat dari sini, kalian cocok banget. Couples goals," Seru Lisa dengan semangat.


Kina hampir saja menyemburkan minuman yang ia minum saat mendengar ucapan Lisa barusan, hingga membuatnya terbatuk-batuk.


Huuk huuk...


"Hehe sorry ya Kin," Ucap Lisa sembari tertawa kecil.


Kina sungguh tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.


"Lo muji Kina bukan ada maksud tertentu kan," Timpal Mita dan membuat semuanya langsung memandang ke arah gadis itu. Mita sungguh frontal.


Emilio menyikut pacarnya itu pelan, berkat Mita suasana diantara mereka menjadi hening.


"Ya enggak lah, aku kan cuma ngmong fakta, habisnya gemes liat mereka," Ucap Lisa lagi sembari menatap keduanya dengan senyuman manis.


"Tau nih lo, sirik lo ya karena Lisa muji mereka berdua. Sapa suruh pilih tuh bocah ketimbang gue."


"Lah elo kok mendadak curhat?" Timpal Emilio terhadap Haikal.


"Gue gak curhat. Gue ngomong fakta. Lo tau kan FAKTA."


"Diem lo, salah siapa gengsi mulu tuh hidup."


Haikal mendadak bungkam, ucapan Emilio mengenai sasaran padanya.


"Kok kalian pada berantem sih, gak baik tau." Kembali Lisa bersuara dan menepis segala kecanggungan yang ada.


Darrenjun tiba-tiba mendekat ke arah Kina, lalu berbisik tepat ditelinga gadis itu. "Mau pergi gak?" Tawar Darrenjun pada Kina.


Baru saja Kina hendak menjawab, Darrenjun lebih dulu bangkit dan menarik Kina keluar dari situasi yang tidak menyenangkan itu.


-


"Kenapa dipaksa kalo gak nyaman." Kina menoleh ke arah Darrenjun, mengkerutkan keningnya.


"Gak usah pura-pura. Aku tahu kamu kurang nyaman karena ada Lisa kan."


"Iya, aku gak nyaman banget."


Tapi Kina tak sanggup mengatakannya dihadapan Darrenjun dan alhasil gadis itu hanya menggeleng, kembali berbohong pada dirinya sendiri.


"Enggak kok."


"Bener?" Tanya Darrenjun kembali memastikan bahwa pacarnya itu tidak berbohong padanya.


Kina mengangguk dengan pasti.


"Yaudah kalo kamu ngomong gitu," Jawab Darrenjun akhirnya.


Firasatnya masih mengatakan bahwa gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu, tapi ia tak dapat memaksanya. Biar saja Kina mengatakannya disaat ia telah siap.


-


"Kina," Panggil Lisa saat keduanya tengah berada dilorong sekolah hanya berdua saja.


Kina berbalik dan mendapati Lisa yang tengah berjalan ke arahnya, wajahnya tampak ceria saat ini.


"Ada yang mau aku omongin," Ucap Lisa antusias.


"Mau ngomong apa?"


Lisa mendekat, lalu berbisik ke arahnya.


"Apa lo pikir lo bisa ngerebut Injun dari gue."


Kina membulatkan matanya penuh, mundur beberapa langkah.


Senyuman manis Lisa berubah menjadi senyuman licik.


"Maksud lo apa?!" Tanya Kina dengan nada suara yang meninggi. Hingga orang-orang disekitar mereka menatap keduanya dengan minat.


Lisa mempertahankan senyumannya, bersikap seolah-olah tak terusik sedikitpun oleh pertanyaan Kina.


Kina semakin dibuat bingung oleh Lisa, cara bicara gadis itu berubah hanya beberapa detik.


Apa ini? Pikirnya.


Lisa kembali mendekat ke arah Kina, meanrik tangan gadis itu dan meletakkan minuman yang sejak dari tadi ia bawa ke dalam genggaman tangan Kina.


"Show time," ucapnya.


Byurr


Kina terpaku melihat pemandangan yang ada Dihadapannya saat ini, sesuatu yang gila menurutnya. Bagaimana bisa Lisa melakukan hal itu.


Lisa baru saja melempar minuman ke arah pakaiannya sendiri, seolah-olah Kina lah yang melakukan hal itu padanya.


Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Lisa berakting berpura-pura terjatuh karena Kina telah mendorongnya.


"KINA!"


Teriak Lisa dengan suara yang tengah menahan tangis hingga orang-orang yang berada di lorong menatap ke arah mereka berdua.


"Aku salah apa sama kamu?"


Wajah serta baju Lisa telah basah oleh minuman yang dengan sengaja ia lempar ke arahnya tadi.


"Elo-" Ucap Kina yang terlihat kesal atas peristiwa yang dilakukan oleh Lisa.


"Kina. Lisa!"


Keduanya saling menoleh dan mendapati Darrenjun, Emilio, Mita, Haikal, Mark, Lala serta Rey yang tengah menghampiri mereka.


Semuanya terkejut dengna kondisi yang ada didepan mata mereka saat ini. Dimana Lisa terduduk dilantai dengan kondisi pakaian kotor akibat minuman yang tumpah.


Haikal mendekat, mengulurkan tangannya ke arah Lisa membantu gadis itu berdiri.


"Lo ada masalah apa sih?" Tanya Haikal dengan sorotan tajam dan nada suara yang tidak enak didengar oleh Kina.


"Bukan gue pelakunya tapi-"


"Tapi siapa? Hantu?" Kembali Haikal bersuara. Lelaki itu menjadi emosi bukan main.


"Jaga ucapan lo!" Peringat Darrenjun dengan tajam.


"APA! LO MAU BELA PACAR LO YANG JELAS-JELAS SALAH INI."


"Uda kalian jangan pada berantem," Ucap Lisa dengan keduanya, menengahi perdebatan yang telah terjadi.


"Ini salah aku, gak seharusnya aku maksa Kina terima minuman yang aku kasih," Ucap Lisa sembari Terisak pelan.


"Ceritanya gak kayak gitu, elo kan yang emang sengaja numpahin tuh minuman seakan-"


"Kin-" Potong Lisa.


"Aku tau kamu benci aku, tapi gak gitu juga," Lanjutnya, lalu Lisa berlari meninggalkan yang lainnya begitu saja.


Kina menutup wajahnya sendiri menggunakan kedua tangannya,ia masih shock dengan apa yang barusan terjadi.


"Tega ya elo sama cewek sebaik Lisa cuma karena lo gak mau dia deket sama Darrenjun," Ucap Haikal dengan kecewa.


Lalu setelah itu, lelaki itu pun menyusul Lisa yang entah tak tau kemana.


Ucapan Haikal sungguh berdampak khusus bagi yang lain. Semuanya menatap Kina dengan tatapan bermacam-macam. Seakan-akan memang dia lah yang bersalah disini. Bahkan Darrenjun juga sama. Dan-sama tak ada satupun yang mau mendengar penjelasan darinya.


Lalu, semuanya pun menyusul Haikal dan Lisa yang lebih dulu pergi.


Apa semuanya memilih percaya dengan ucapan Lisa tersebut daripada dirinya?


Entah lah Kina sungguh bingung dengan situasi yang terjadi.


-


Sejak kejadian tempo lalu suasana yang berada disekeliling Kina berubah 180 derajat. Ia tak mengerti bagaimana bisa mereka percaya begitu saja dengan ucapan Lisa yang tak berdasar itu.


Bahkan saat dilorong, suara-suara yang sedang menceritakan tentang dirinya tak bisa dielakkan lagi olehnya.


Tatapan orang-orang begitu menyesakkan untuknya. Darrenjun juga tak ada kabar ataupun berada disisinya.


Apa mungkin Darrenjun sama seperti yang lain mempercayai segalanya.


Kina sangat ingin mengabaikan suara-suara yang mengganggunya itu, tetapi percuma saja. Suara itu seakan mengikutinya kemanapun ia pergi. Bahkan desas-desus yang tidak-tidak terus berdatangan tanpa henti untuknya.


Contohnya, dia yang dituduh sebagai perusak hubungan keduanya yang sebenarnya masih berlanjut sebelum Kina hadir dihidup Darrenjun dan soal Kina yang terus mengancam Lisa untuk menjauhi Darrenjun.


Kina menghelakan nafasnya panjang, seakan pasokan oksigen disekelilingnya menipis.


"Kin lo gak papa?" Tanya Mita yang telah berada disebelahnya.


Kina menoleh, lalu menggeleng pelan.


"Enggak. Kenapa situasinya separah ini? Perasaan gue gak ada nyakitin dia Sampek berlebihan gitu".


"Abai in aja. Percuma di tanggapi."


Kina hanya tersenyum tipis dengan ucapan Mita tersebut.


Mengabaikannya, sangat mudah mengatakannya tapi tidak mudah untuk melakukannya.


Kina tertunduk menatap kedua sepatunya.


"Gue salah apa coba?"


Mita mendekat ke arah gadis itu, lalu sebelah tangannya yang bebas mengelus punggung Kina lembut.


"Sabar ya, gue bakalan bantu menemukan dalang dari masalah yang elo hadapi."


Kina mengangkat kepalanya menatap Mita lagi.


"Lo gak ikutan percaya kayak yang lain?" Tanya Kina pada sahabatnya itu.


"Ya enggak lah, gue kenal elo uda lama. Lo gak bakalan mungkin mau ngelakuin hal yang gak ada manfaatnya kayak gini. Meski awalnya gue percaya sih. Tapi gue sadar elo kan gak mungkin ngelakuin hal begituan."


"Uda ya gue bakalan-"


"Darrenjun percaya dengan mereka kan ketimbang gue?"


Mita terdiam sesaat, karena dirinya juga tidak pasti dengan pertanyaan Kina tersebut.


"Gak usah dijawab, gue uda tau jawabannya."


"Elo gak sendiri, masih ada gue dan Lala." Mita kembali mengelus punggung Kina.


-


Hari ini Kina membawa motornya lagi, rasanya sudah hampir lama sekali ia tak membawa motornya lagi sejak ia berpacaran dengan Darrenjun.


Biasanya lelaki itu akan bersikeras untuk mengantarnya, menjemputnya pulang sekolah.


Ngomong-ngomong soal Darrenjun, sudah lama mereka tak berkabar satu sama lain. Padahal keduanya satu sekolah.


Jangan pikir Kina tak pernah mendatangi kelasnya Darrenjun, sering malah. Bahkan setiap ia berkunjung Kina selalu berusaha mengabaikan tatapan orang-orang yang tengah mencemoohnya dengan berbagai ucapan.


Mendatangi kantin sama saja seperti menjadi seorang tokoh utama dalam film yang salahnya ia menjadi salah satu tokoh terjahat di situ.


Kina masih tidak mengerti bagaimana rumor itu cepat tersebar. Semenjak itu pula Kina tak ingin berbaur, menyendiri merenungkan hal yang terjadi padanya.


Byurrrr


Kina terkejut setengah mati saat tubuhnya baru saja di siram oleh air bekas pel-an oleh orang yang tak ia kenal. Saat ia menoleh orang itu lebih dulu kabur.


Kina menyeka wajahnya dengan sebelah tangannya dengan perasaan sedih. Bagaimana bisa ada orang yang tega berbuat seperti ini padanya. Jika benci, bukankah lebih baik seadanya, tidak perlu berlebihan seperti ini.


Sekarang tak hanya hatinya yang menjadi kacau, bahkan penampilannya sudah sangat memprihatinkan. Kedua mata Kina telah dipenuhi oleh genangan air mata. Ia sungguh rapuh ingin sekali menangis rasanya.


"Kak Kina!" Teriak seseorang padanya.


Ia segera menoleh dan mendapati seorang gadis cantik tengah menghampirinya. Adik kelasnya, gadis yang tengah gencar mendekati Arji. Kayla namanya.


Kina tak membalas panggilan Kayla, dirinya hanya tersenyum simpul, senyuman yang ia paksa.


Kayla mendekat ke arah Kina memandang ia dari atas hingga bawah dengan Shock.


"Apa yang terjadi kak? Siapa yang tega ngelakuin ini semua?" Tanya Kayla dengan geram.


Kina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kakak liat orangnya kayak apa? Atau ciri-cirinya gitu."


"Gak bisa liat jelas, orangnya keburu kabur."


Kayla mendengus kesal. Ia sangat benci melihat ada yang memperlakukan orang lain dengan sangat kekanakan seperti ini.


"Ini gak boleh dibiarkan, kita harus cari tau dan bertindak," Ucap Kayla dengan kilatan amarah.


"Gak usah, entar lo kena imbasnya," Ucap Kina sembari tertunduk sedih.


"Tapi kak ini uda kelewatan."


"Gue tau, tapi percuma."


Kayla menghelakan nafasnya kasar.


"Ya udah deh kalo itu maunya kak. Sekarang kakak bersihin tubuh kakak aja dulu. Ayo aku temenin."


Kayla menyambut tangan Kina sembari menarinya untuk mengikutinya ke toilet.


"Tapi gue gak punya baju ganti."


"Gue ada kak. Kakak tenang aja ya, pokoknya mulai sekarang kalo ada yang jajaran kakak gue gak bakalan tinggal diam."


"Lo kenapa baik ke gue? Lo gak dengar apa yang orang lain bilang soal gue."


Kayla menghentikan langkahnya dan membuat Kina ikut berhenti, lalu ia berbalik menghadap Kina.


"Itu cuma rumor gak berdasar. Lagian kakak bukan tipe yang kayak gitu, aku tau itu."


Kina terdiam dan entah kenapa ucapan Kayla barusan membuat hatinya menghangat. Diantara orang-orang itu ternyata masih ada orang yang perduli terhadapnya.


******


...❤️Cutton Candy❤️...


...(Jangan lupa kasih vote, saran dan masukannya ya semua😊😊)...