Cutton Candy

Cutton Candy
Kunjungan



...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...-...


Pagi ini Kina terpaksa diantar oleh papanya ke sekolah. Sebab gadis itu semalam pulang larut malam dan sebagai hukumannya kedua orang tua Kina melarangnya untuk pergi ke sekolah mengendarai motor selama 1 minggu. Jadi, jika papanya tidak dapat mengantarnya. Kina terpaksa ke sekolah menaiki angkot.


Sang mama sempat menginterogasinya semalam, penyebab ia pulang terlalu malam. Tapi, gadis itu memilih untuk berbohong saja tak ingin Darrenjun ikut terlibat didalamnya. Karena menurutnya kejadian itu tak pantas untuk di ungkit kembali dan lagi, ia yang memilih untuk tinggal.


Berhubung Kina tak mengendarai motor hari ini. Kina menunggu Darrenjun di depan koridor sekolah. Sebelumnya, ia telah mengirim pesan pada Darrenjun terlebih dahulu, agar lelaki itu tak kebingungan nantinya.


Darrenjun tiba dan Kina langsung menghampirinya.


"Mana tas lo?” Pintanya. Darrenjun langsung menyerahkan tas yang ada di pundaknya pada Kina.


"Tumben nunggu disini? Kenapa gak diparkiran?” Tanya Darrenjun penasaaran.


"Lagi gak bawa motor,” Jawab Kina seadaanya.


"Emang motor lo kemana?”


"Ada dirumah,” Jawabnya lagi.


"Kenapa lo gak bawa? Apa lo di hukum sama orang tua lo, karena pulang telat semalam?Makanya lo gak di izinin bawa motor?” Tebak Darrenjun dan membuat Kina tercekat.


Darrenjun sungguh luar biasa menurutnya. Bisa menebak hal yang sebenarnya terjadi.


Kina menggeleng cepat. "Gak. Sotoi lo,” Jawabnya.


Kina sengaja berbohong. Agar lelaki itu tak merasa bersalah padanya.


"Jadi ini lo mau kemana?” Tanya Kina mengubah topik pembicaraan. Agar Darrenjun tak mengungkit masalah itu lagi yang nantinya bisa mengakibatkan rahasia Kina tercium olehnya .


"Kantin atauβ€”β€œ


"Atap,” Potong Darrenjun.


"Lo nyusul. Bawain gue makanan sekalian,”Ucap Darrenjun lagi. Lalu pergi meninggalkan Kina.


-


Setelah mengantarkan tas Darrenjun ke kelasnya. Kina pergi ke kantin untuk membeli pesanan Darrenjun terlebih dahulu sebelum akhirnya ia harus ke atap untuk menyusul Darrenjun.


"Kina!" Panggil seseorang dan membuat Kina langsung berbalik.


"Rey,” Ucap Kina girang.


Gadis itu merasa senang setiap bertemu Rey. Baginya Rey adalah seorang moodmaker untuknya. Tanpa Rey harus melakukan apa-apa untuknya, Kina sudah begitu bahagia setiap didekatnya.


"Mau kemana?” Tanya Rey.


"Ke kantin.”


"Kebetulan gue juga mau kesana. Bareng aja,” Tawar Rey dan dibalas anggukan oleh Kina.


Tentu saja gadis itu langsung menyetujuinya. Ini kesempatan emas bagi Kina agar bisa dekat dengan Rey.


Mereka telah sampai di kantin dan menjelajahi isi kantin.


"Lo kenapa banyak amat beli ginian Rey?” Tanya Kina saat melihat barang bawaan Rey yang lumayan banyaknya.


"Titipan anak-anak. Biasa mereka pada kelaparan,” Ucap Rey dengan candaan.


"Anak-anak?? Maksud lo yang di atap?” Tanya Kina memastikan.


Rey mengangguk. "Iya, siapa lagi.”


Kina hanya tersenyum tipis atas jawaban Rey barusan .


"Rey.” Sapa seseorang dan membuat keduanya menoleh.


Kegiatan mereka yang sedang mencari Snack pun terhenti sesaat.


Seorang gadis berdiri dengan menawannya. Karena telah mengenalnya lebih dulu dari gengnya Darrenjun. Kina jadi tau siapa gadis ini, yang tak lain dan tak bukan adalah Yesika Yeji atau Yaya.


"Eh elo,” Jawab Rey seadanya.


Gadis itu tersenyum anggun.


Sampai tatapannya tertuju ke arah Kina. "Dia siapa?” Tunjuknya ke arah Kina.


Rey mengikuti arah pandang gadis itu.


"Diaβ€”β€œ


"Kina.” Sapa Alby yang barusan datang dan ikut bergabung dengan mereka.


Lelaki itu merangkul Yaya. Secara tidak langsung dia telah mengatakan kalau gadis itu miliknya.


Kina tersenyum ramah, menjawab sapaan Alby barusan.


"Rey lo belum jawab pertanyaan gue,” Ucap Yaya sedikit menuntut.


"Dia temen gue,” Jawab Rey akhirnya.


"Oh cuma temen,” Jelas Yaya lagi. Dengan begini Kina yakin sekali kalau Yaya tak menyukai kedekatannya dengan Rey.


Rey mengangguk singkat. "Yaudah kalo gitu. Kita cabut dulu,” Pamit Rey pada keduanya.


Rey terlihat malas untuk meladeni kedua orang itu.


Entah kenapa perasaan Kina mengatakan kalau gadis itu terlihat puas dan juga bahagia dengan jawaban Rey barusan.


"Gue juga cabut ya.” Gantian Kina yang pamitan.


Keduanya mengangguk singkat. Meski ucapan Kina hanya Alby saja yang menggubrisnya.


Lalu setelahnya, Kina dan Rey keluar dari area kantin tersebut menuju atap sekolah menyusul yang lainnya.


-


"Dia mantan lo kan?” Tanya Kina saat keduanya berjalan menuju atap sekolah.


"Iya cuma mantan,” Jelas Rey.


"Cantik,” Ucap Kina.


Rey langsung berhenti dan memandang Kina.


"Gak kok. Lebih cantikan elo menurut gue,” Jelasnya.


Kina terpaku merasa terkejut dengan ucapan Rey barusan.


"Apaan sih lo,” Bantah Kina. Semburat merah telah menghiasi pipinya.


"Kenapa? Kan lo emang cantik. Lucu lagi,”Tambah Rey lagi dengan sedikit tertawa.


"Ngardus lo,” Timpal Kina.


"Iya gue ngardus sama lo. Sengaja,” Ucap Rey lagi.


Meski ucapan Rey hanya seperti candaan saja. Entah kenapa gadis itu merasa tersipu malu dibuatnya.


-


"Widih. Romeo dan Jainab akhirnya tiba juga,” Haikal berucap dengan semangat dan mendapat pelototan dari Kina.


"Lo gak bisa apa. Gak nyari gara-gara sama gue sehari doang?”


"Enggak. Ini uda jadi rutinitas gue soalnya.”


Kina merotasikan bola matanya malas.


Lalu ia memilih untuk segera menghampiri Darrenjun yang sedang bermain game di pojokan. Dari pada ia harus terlibat adu mulut dengan Haikal lebih lanjut lagi.


"Ini pesanan lo,” Kina menyerahkan satu plastik pesanan Darrenjun padanya.


"Letakin disitu aja,” Ucapnya tanpa berniat menoleh.


Kina menurutin perkataan Darrenjun barusan. Lalu setelahnya gadis itu duduk disebelah Darrenjun.


Jeda beberapa saat.


Tadinya Kina sempat berniat mengeluarkan hapenya. Tapi berhubung Darrenjun pernah memperingatinya soal memainkan hape saat berada didekatnya dan akhirnya ia pun mengurungkan niatnya itu.


"Lo entar pulang gimana?” Tanya Darrenjun tiba-tiba.


Kina menoleh ke arahnya. "Paling naik angkot,”Jawabnya seadanya.


Darrenjun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa berniat bicara lagi.


...*****...


Bel menandakan berakhirnya pelajaran baru saja berbunyi dan seperti rutinitas hariannya. Kina menghampiri Darrenjun yang ternyata telah menunggunya di depan kelasnya.


Seperti nya kelas Darrenjun keluar lebih awal.


"Lo mau belajar dimana?” Tanya Darrenjun. Saat Kina telah berada dihadapannya


"Terserah. Gue ngikut aja. Tapi gue nebeng lo ya,” Pinta Kina.


Darrenjun tak menjawab, lelaki itu malah berjalan lebih dulu.


"Jun. Gimana?” Tanya Kina yang masih mengekori Darrenjun dibelakangnya.


Darrenjun berbalik. "Hari ini gak usah belajar dulu.”


"Oh yaudah kalo lo gak mau,” ucap Kina sedikit kecewa.


"Lo tadi pagi bohongkan sama gue, soal alasan lo gak bawa motor?” Tanya Darrenjun dan membuat Kina seketika tercekat.


"E … enggak kok,” Jawab Kina cepat.


Darrenjun menghelakan nafasnya. Lalu memandang gadis itu.


"Gue mau kerumah lo,” Ucap Darrenjun dan membuat Kina terkejut.


"Ngapain?” Tanyanya sedikit tak suka.


"Gue mau ketemu dengan mama lo dan jelasin semuanya soal kemarin. Gimanapun itu kesalahan gue juga,” Jelasnya.


Kina menggeleng cepat.


"Gak usah. Biar gue aja yang ngomong. Lo gak perlu repot-repot harus dateng.”


"Gak bisa. Gue yang minta lo tetap tinggal makanya lo jadi pulangnya kemalaman karena gue.”


"Tapiβ€”β€œ


"Gue gak minta. Tapi ini perintah buat lo,” Jelas Darrenjun.


Kina hanya diam tanpa membantah ucapan Darrenjun lagi.


"Lo balik bareng gue aja.”


Kina natep Darrenjun dengan alis terangkat.


"Lo nawarin gue?”


"Menurut lo?”


Darrenjun jalan keparkiran mengambil motornya dia.


Setelahnya Darrenjun balik dan menghampiri Kina.


Darrenjun menyerahkan helmnya pada Kina.


"Naik,” Ucapnya setelah Kina selesai memakai helmnya.


Kina mengangguk singkat. Lalu menaiki motor Darrenjun sesuai instruksi yang dikatakan lelaki itu.


"Lo kira gue ojeknya elo apa,” Ucap Darrenjun dan membuat Kina merasa ke heranan.


"Maksud lo gimana?” Tanya Kina bingung.


"Lo pegangan disini.”


Darrenjun mengarahkan tangan Kina ke arah pinggangnya. Dengan cepat Kina menarik tangannya.


"Ogah. Kalo gue harus meluk elo,” Ucap Kina sedikit tak suka.


Darrenjun merotasikan bola matanya. "Siapa juga yang nyuruh elo meluk gue? Gue nyuruh lo itu pegangan doang. Bukan meluk gue.”


"Eh".


Kaget Kina. Lalu ia menyengir. "Sorry, gue ngira lo nyuruh gituan,” Ucap Kina merasa bersalah.


"Geer banget sih lo jadi orang.”


"Sorry Jun.”


Setelahnya mereka pun pergi menuju rumah Kina.


...*****...


"Jun. Lo pulang gih.”


"Lo ngusir gue?” Tanya Darrenjun tak terima.


"Nah lo paham. Uda deh mending lo pulang aja sana. Sebelum mama keluar,” Bujuk Kina.


"Gak bisa. Gue uda terlanjur sampai sini.”


Darrenjun turun dari motornya hendak mengikuti Kina. Tapi dengan sigap Kina mendorongnya.


"Uda ah Jun lo balik gih. Ngapain pake acara main kesini segala.”


"Gue gak niat main ke sini. Gue cuma mau ketemu mama lo, itu aja,” Jelasnya kembali.


"Tetap gue gak setuju. Pokoknya lo pulang aja sana. Urusan kita gak ada acara tuh main-main kerumah segala.”


"Gak, ini uda jadi urusan gue.”


"Kina!"


Keduanya menoleh dan mendapatkan mamanya Kina berjalan kearah keduanya.


"Eh ada tamu,” Ucap Tia ramah.


Darrenjun langsung menghampiri Tia dan menyalami wanita itu.


"Kamu Darrenjun kan?” Tanya Tia.


Darrenjun mengangguk. "Iya Tante,” Jawabnya dengan senyuman.


Kina hampir saja lupa menutup mulutnya, karena begitu shock melihat perubahan ekspresi wajah Darrenjun terhadap mamanya. Lelaki itu seperti orang yang berbeda sekarang.


"Ya ampun Darrenjun. Tante uda lama banget pengen ketemu kamu. Gak nyangka kamu se ganteng ini,” Ucap Tia dengan semangat.


Darrenjun menggaruk belakang kepalanya. Seperti orang yang sedang salah tingkah. "Makasih Tante,” Jawabnya.


"Ayo masuk. Kamu makan siang disini aja ya,”Ajak Tia.


"Gak bisa ma,” Ucap Kina cepat.


"Darrenjun ada urusan katanya,” Kina memandang ke arah Darrenjun memberi isyarat agar lelaki itu segera pergi dari halaman rumahnya.


Tapi siapa sangka lelaki itu malah tersenyum penuh arti ke arahnya. "Lo tenang aja Kin. Urusan gue bisa nanti-nanti kok,” Jelasnya.


Dan tentunya ucapannya barusan disambut dengan sorakan bahagia oleh Tia.


"Ayo masuk,” Ajak Tia lagi.


"Bentar ma, Kina mau ngobrol sama Darrenjun dulu". Tahan Kina saat mamanya hendak menarik tangan lelaki itu untuk masuk kedalam rumahnya.


"Yaudah. Tapi jangan lama-lama,” Peringat Tia dan di balas anggukan oleh Kina.


Setelah Tia masuk kedalam rumah. kina menarik lengan Darrenjun, sedikit menjauh dari perkarangan rumahnya.


"Lo mau apa sih sebenarnya? Kan Lo niatnya cuma mau ngomong ke mama gak ada acara mau main segala,” Ucap Kina kesal.


"Iya tadinya gue emang niat gitu. Tapi sekarang niat gue berubah. Gue mau mampir ke rumah lo,” Jelas Darrenjun.


Kina menggeleng kuat. "Gak boleh. Lo buruan pergi sekarang juga.”


"Lo siapa emangnya ngusir gue segala?”


Kina melongoh dengan ucapan Darrenjun barusan.


"Denger ya. Yang nyuruh gue masuk itu mama lo. Jadi lo gak punya hak ngusir gue,” Terang Darrenjun. Lalu lelaki itu mulai masuk kedalam rumah Kina dan meninggalkan gadis itu yang masih memandangnya dengan keheranan.


Ini rumahnya. Kenapa malah dia yang diatur oleh tamunya sendiri.


-


Kina memasuki rumahnya dan ternyata Darrenjun lebih dulu telah duduk diatas sofa ruang tamunya dengan tenang. Seolah-olah lelaki itu lah pemilik rumah itu dan Kina adalah tamu.


"Lo ngapain duduk disini?”Tanya Kina tak suka.


"Terserah gue dong,” Timpal Darrenjun.


Kina meremat jemarinya sendiri. Ingin rasanya gadis itu melempar pukulan ke arah wajah lelaki itu.


Tapi sayang sebelum niatnya tersampaikan, mamanya lebih dulu datang dan memukulnya pelan.


"Kamu gak boleh ngomong dengan tamu seperti itu? Lagian kamu harusnya bersyukur karena Darrenjun uda mau ngebantu kamu untuk belajar,” Omel Tia pada Kina.


Kina memandang ke arah Darrenjun dengan tajam. Karena seperti yang ia tahu, sejak dari tadi lelaki itu memandang kearahnya dan tertawa melihatnya dimarahi oleh mamanya.


"Darrenjun. Ayo makan nak. Tante uda siapin semuanya.”


Darrenjun mengangguk singkat. "Baik tante,” Ucapnya dengan semangat.


Tia berjalan lebih dulu dan disusul Darrenjun dari belakang. Saat Darrenjun melewati Kina Darrenjun sempat terhenti.


"Lo kalah,” Ucapnya dengan nada mengejek. Lalu setelahnya dia berjalan kearah meja makan menyusul Tia.


"Kina ayo cepat kesini,” Teriak Tia pada Kina yang masih berdiri dengan kesal.


Darrenjun duduk tepat disebelahnya Kina dan didepan mereka, Tia dan Dea duduk.


Tia mengambil piring milik Darrenjun dan mengambil nasi untuknya. "Kamu jangan sungkan-sungkan ya Ren. Anggap rumah sendiri,” Jelas Tia.


"Iya makasih Tante,” Ucap Darrenjun dengan senyuman. Kina yakin senyuman yang ditunjukan oleh Darrenjun itu palsu.


Darrenjun mendekat ke arah Kina. "Lo denger mama lo ngomong apaan. Katanya anggap ini rumah gue,” Bisik Darrenjun tepat di telinga Kina.


Gadis itu sungguh tak habis pikir. Darrenjun yang sekarang jauh lebih menyebalkan dibandingkan Darrenjun yang biasanya.Β  Kalau saja mamanya tak ada disini. Bisa dipastikan, Kina pasti akan menyeretnya detik ini juga.


"Kina belajarnya gimana Ren? Nyusahin kamu gak?” Tanya Tia membuka topik obrolan disela makan siang mereka.


Kina memandang mamanya dengan tajam. "Apaan sih ma?”


"Kan mama pengen tau aja kamu gimana di ajarin sama Darrenjun.”


"Gak kok Tante. Cuma Kina masih perlu lebih banyak belajar dan latihan lagi. Karena dia tipe orang yang pelupa.”


"Oh gitu ya Ren,” Tia manggut-manggut dengan penjelasan Darrenjun barusan.


"Tuh denger Kin. Lupain oppa-oppa an kamu itu. Mending kamu mulai sekarang banyak bergaul sama Darrenjun.”


"Lah mama. Kenapa jadi bawa-bawa oppa sih?” Protes Kina.


"Kan bener. Kamu hobinya nonton drakor terus sampai lupa belajar.”


"Iya iya gak usah diungkit,” Sebal Kina. Dan mendadak selera makan gadis itu hilang.


Darrenjun tertawa kecil. Baginya interaksi kedua orang itu sungguh lucu.


"Oh ya Tante. Kina kenapa mendadak niat belajar serius?” Tanya Darrenjun penasaran.


Sudah lama ia ingin mengetahui kebenaran tentang semangat juang gadis itu untuk memintanya mengajarinya.


"Kepo banget sih,” Ucap Kina tidak suka.


"Hushh gak boleh ngomong gitu,” Peringat Tia.


Kina hanya merotasikan bola matanya saja.


"Kak Darrenjun uda punya pacar belum?” Tanya Dea tiba-tiba.


"Kok lo nanyaknya yang aneh-aneh si dek?”Protes Kina ke Dea.


"Ihh biarin, namanya gue kepo.”


"Belum. Kenapa? Kamu mau jadi pacar kakak?”Canda Darrenjun ke Dea.


"Gak ahh. Aku kan masih kecil. Sama kak Kina aja sana, kan dia uda gede. Kali aja kak Kina berhenti ngehalu mulu,” Ucap Dea dan mendapatkan pelototan tajam dari Kina.


"Apaan sih elo?” Ucap Kina sebel ke Dea.


"Emang kak Kina halu ke siapa De?” Tanya Darrenjun penasaran.


"Itu sama oppa-oppa yang ada di drakor. Kan laptopnya kak Kina lagi ditahan sama mama, makanya kak Kina niat banget belajar,” Ucap Dea dengan semangat.


"Ohh iya, karena itu,” Darrenjun melirik Kina yang ada disebelhanya dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat.


Akhirnya Darrenjun tau alasan Kina sebenarnya.


"Uda puas lo nyari informasih soal gue?” Tanya Kina dengan penekanan.


"Dasar fake.”


"Kina!". Peringat Tia dengan tatapan tajam. Tapi percuma Kina sudah terlanjur emosi dan gadis itu tak memperdulikan mamanya yang marah padanya.


-


Setelah puas mengacaukan hari Kina hari ini. Darrenjun akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Setidaknya Kina merasa lega sekarang, karena sempat ia mengira kalau lelaki itu akan berniat menginap dirumahnya.


"Saya balik dulu ya tante. Makasih banget buat makannya hari ini,” Pamit Darrenjun ke mamanya Kina. Lelaki itu menyalim Tia.


Tia tersenyum lembut. "Iya sama-sama Ren. Lain kali main kesini lagi ya jangan sungkan-sungkan.”


"Ohh ya kirim salam sama keluarga juga ya". Lanjutnya.


Darrenjun mengangguk pelan. "Pasti Tante,” Ucapnya.


"Oh iya Tante, saya boleh bicara berdua gak?”Tanya Darrenjun dan membuat Kina seketika menoleh padanya.


Kina tau kemana arah topik ini. Dengan cemas Kina memandang ke arah Darrenjun, memberi isyarat pada Darrenjun agar lelaki itu tak membahas masalah kemarin malam lagi.


Tapi percuma, Darrenjun memilih mengabaikan gadis itu.


Dan disini lah ia sekarang. Menunggu Darrenjun yang masih mengobrol dengan mamanya dengan serius.


Menit demi menit menunggu keduanya selesai bicara. Kina merasa tak tenang.


Ini salahnya pikirnya.


Setelah selesai bicara. Darrenjun mengangguk singkat lalu menghampiri Kina yang telah menunggunya.


"Lo habis ngomong apa sama mama?” Tanya Kina khawatir.


"Gak ada apa-apa,” Jawab Darrenjun singkat.


"Gak ada apa-apa kenapa lama banget ngobrolnya?”


Darrenjun menghentikan langkahnya lalu memandang Kina sebentar. Setelahnya lelaki itu tertawa.


"Lo se khawatir itu ke gue?” Tanya Darrenjun dengan tawa dan dibalas anggukan cepat oleh Kina.


Darrenjun terdiam beberapa saat dengan hal spontan yang dilakukan oleh Kina barusan. Sampai akhirnya Kina sadar dengan apa yang barusan ia lakukan.


"Eh.”


Kina segera menggeleng. "Gak maksud gue.”


"Iya gue ngerti". Darrenjun tersenyum tipis.


Darrenjun mengelus kepala Kina dengan lembut. "Lo tenang aja ya, gue gak ngomong aneh-aneh. Jadi jangan khawatir berlebihan lagi.”


Kina hanya diam membeku memandang lelaki itu yang masih tersenyum manis dihadapannya.


"Yaudah kalo gitu, gue pergi dulu,” Pamit Darrenjun. Lalu lelaki itu menyalakan motornya dan meninggalkan Kina yang masih diam membisu dengan perlakuan manis Darrenjun barusan padanya.


"Kina!" Panggil Tia padanya dan membuat Kina akhirnya tersadar oleh lamunannya.


Kina menghampiri mamanya. "Iya ma,”ucapnya.


Tia menghelakan nafasnya pelan.


Dan ini lah saatnya ia segera akan mengetahui obrolan serius antara Darrenjun dan mamanya tadi.


"Kamu kenapa gak jujur sih soal alesan kamu pulang telat semalam? Mama jadi salah paham kan sama kamu,” ucap Tia pada Kina.


Gantian Kina yang menghelakan nafasnya. "Darrenjun yang ngomong ya ma?” Tanyanya.


Tia mengangguk. "Besok kamu gak perlu pergi naik angkot lagi, mama uda izinin kamu untuk bawa motor sendiri.”


"Serius ma?” Tanya Kina tak percaya. "Tapi kenapa mama izinin. Emang Darrenjun ngomong apa tadi?”


"Dia bilang kamu telat itu. Karena kalian belajar untuk persiapan ujian,” Jelas Tia dan seketika Kina merasa lega.


Syukurlah lelaki itu memiliki otak yang cerdas. Jadi dengan mudah mencari alasan yang masuk akal untuk masalahnya ini.


Besok Kina akan berjanji untuk memperlakukannya dengan lebih baik.


...****...


...Jangan lupa vote dan comentnya ya ...


...πŸ™πŸ™πŸ™...