Cutton Candy

Cutton Candy
Rey



...*πŸ’—Cutton CandyπŸ’—*...


...\=\=\=\=\=...


Akibat dirinya yang begitu panik terhadap Darrenjun. Kina lupa untuk menanyakan kabar Rey yang telah menyelamatkannya.


Sekarang gadis itu berjalan dikoridor sendirian menuju kelasnya. Darrenjun yang menyuruhnya untuk pergi lebih dulu, karena sudah tidak tahan lagi mendengar perdebatan antara Kina dan juga Haikal. Dan hampir saja membuat mereka menjadi pusat perhatian dari seisi kantin.


Kina sempat merasa heran, kenapa anak laki-laki yang bernama Haikal itu sudah seperti musuh bebuyutan baginya. Padahal mereka baru saja kenal beberapa hari. Tapi sudah memiliki kecekcokan yang amat luar biasa.


Saat melewati lapangan, Kina teringat akan peristiwa tadi yang hampir menimpanya. Senyuman manis terukir dibibirnya begitu saja, membayangkan sosok Rey sang malaikat pelindung yang telah menolongnya.


Tersadar akan sesuatu. Kina menepuk jidatnya pelan.


"Rey!" Ucapnya pada diri sendiri.


Seharusnya gadis itu sudah bertanya soal kondisi tangan Rey yang ia tahu jelas telah menghadang bola demi menyelamatkan dirinya dan ini, gadis itu malah meninggalkan nya begitu saja.


Kina berhenti ditempat, lalu berbalik. ia hendak menuju kantin menemui Emilio dan Mark lagi untuk menanyakan dimana letak kelasnya. Karena yang Kina tahu kalau Rey adalah teman sekelas mereka.


Baru beberapa langkah berjalan Kina memutar kembali tubuhnya. Diliriknya jam tangan yang ada dipergelangan tangannya dan helaan nafas keluar dari bibirnya dengan bebas. Tak ada waktu untuk menemui Rey, sebentar lagi bel akan berbunyi.


Mungkin nanti dia akan menemui Rey. Saat jam istirahat pikirnya.


"Kina!" panggil seseorang dan membuat gadis itu lagsung berbalik.


Hanya beberapa detik lengkungan terukir dibibirnya membentuk senyuman.


Itu dia.


Lelaki yang telah mengganggu pikirannya, sekarang malah tengah berjalan menghampirinya.


"Rey,” Panggil Kina.


Rey tersenyum ramah.


"Habis dari kantin ya?” Tanyanya ramah dengan suara lembutnya.


Kina mengangguk semangat. "Lo gak kesana tadi?” Tanyanya basa basi.


"Gak. Tadi ada urusan sama anak OSIS,” jelas Rey.


Kina hanya ber-O ria saja dengan penjelasan Rey barusan.


Teringat akan sesuatu, Kina kembali berucap. "Oh ya Rey, gue lupa tanya tadi. Tangan lo gimana?”


Rey melirik tangannya sendiri sebentar. Lalu kembali melirik gadis yang berdiri tepat dihadapannya.


"Gak papa. Cuma lecet dikit,” ucapnya sambil memamerkan gigi putihnya.


"Seriusan?” Tanya Kina dengan panik.


Rey mengangguk pelan. Mengiyakan pertanyaan Kina barusan.


Tanpa permisi Kina menarik tangan Rey, melihat secara langsung luka yang ditimbulkan oleh kejadian tadi.


"Ya ampun Rey, sorry banget ya. Gara-gara lo nyelamatin gue. Tangan lo jadi luka gini,” Ucap Kina dengan perasaan bersalah.


Rey menarik tangannya kembali. Lalu tersenyum hangat mencoba menenangkan Kina yang terlihat sedih karena kondisinya.


"Cuma seginian doang Kin. Lo gak usah panik segala,” Katanya sembari tertawa kecil.


Kina menggeleng cepat."Lo gak boleh biarin luka kecil itu gitu aja. Kalo dibiarain entar bisaβ€”β€œ


"Tetanus,” Potong Rey cepat.


Kina memandang Rey takjub. Tak menyangka kalau lelaki itu bisa tau isi pikirannya.


"Lo bisa baca pikiran gue?”


Rey menggeleng. "Bukan. Gue cuma hapal aja dengan omongan lo. Lagian waktu pertama kali ketemu lo ngomong gituan juga kan?”


Kina hanya tertawa kecil dengan ucapan Rey itu.


Teringat akan benda yang selalu dia bawa kemanapun. Kina merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan satu set kotak P3K mini miliknya.


Gadis itu sempat melirik jam tangannya sebentar. Lalu menarik tangan Rey.


"Ayo ikut,” Ajaknya tanpa meminta persetujuan Rey terlebih dahulu.


Kina menarik tangan Rey menuju kursi yang berada dipinggir koridor kelas. Untuk duduk dan mengobati luka Rey akibat ulahnya.


Baru saja Rey ingin menolak secara halus. Kina lebih dulu memotong.


"Gak ada penolakan,” Jelasnya.


Rey hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Kina barusan.


Dengan cekatan Kina mengobati lukanya Rey yang lecet menggunakan cairan antiseptic dan tak lupa juga gadis itu menutupnya dengan plester setelah selesai mengobati lukanya Rey.


Bagi Rey luka lecet kecil ini bukan apa-apa untuknya. Ia sudah terbiasa mendapatkan luka yang lebih dari ini. Terlebih lagi dia yang merupakan seorang kapten basket disekolahnya. Tapi tidak untuk Kina, gadis itu sangat takut melihat luka kecil seperti ini. Baginya melihat luka kecil ini sama halnya mendapatkan perawatan medis seperti amputasi contohnya.


Katakan saja Kina terlalu berlebihan. Tapi gadis itu telah melihat akibat yang ditimbulkan dari luka kecil ini pada teman semasa kecilnya. Jadi ada sedikit trauma.


"Sudah,” Ucap Kina girang saat luka Rey selesai dia obati.


Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari tangannya Rey. Lalu memandang lelaki itu yang ternyata lebih dulu memandanginya.


Hening


Jantungnya Kina mendadak berdebar dengan sangat hebat. Sampai dia takut kalau Rey bisa mendengarnya.


Keduanya hanyut dalam lamunan.


Kringgg


Kina terlonjak kaget dan langsung berdiri dari duduknya. Refleknya. Dia sungguh merasa gugup sekarang.


"Kalo gitu. Gue deluan ya Rey,” Pamitnya.


Rey mengangguk sekilas.


"Thanks ya buat ini!" Ucap Rey ke Kina sambil mengangkat tangannya ke atas yang baru saja di obatin oleh Kina. Sebuah plester bercorak bintang menempel dengan manis disitu. Corak yang sama persis seperti pertama kali mereka bertemu.


Kina tersenyum tipis. Lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan Rey menuju kelasnya dengan langkah sedikit tergesa-gesa.


Rey.


Sepanjang perjalanan Kina memikirkan lelaki itu.


Ah bahkan dirinya telah lupa dengan pacar drakornya. Lee Jongsuk, Kang Haneul, Park Sejeon, Song Jong Ki, Lee Minho dan para aktor drakor lainnya. Hanya karena seorang Rey yang telah mempora porandakan hatinya. Kalau seperti ini, apa kira-kira dia masih membutuhkan laptopnya lagi?


Dengan cepat Kina menggelengkan kepalanya kuat. Membuang segala pikiran bodoh itu. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Tak akan pernah baginya melupakan pacar virtualnya yang telah menemaninya selama ini. Dan untuk Rey, tetap dia akan menyukai lelaki itu. Meski dia tidak yakin apakah lelaki itu akan membalas perasaannya atau tidak.


Untuk saat ini, sebaiknya dia tetap fokus untuk tujuan awalnya, yaitu merebut kembali laptop kesayangannya dari tangan mamanya. Dan segera terlepas dari kutukan kesepakatan dengan lelaki kutub Antartika dengan mulut merica level 50 itu.


...\=\=\=\=...


"Kin.”


Kina mengangkat kepalanya dan menoleh kearah Lala yang tengah berdiri di depan mejanya.


"Lo kenapa sih akhir-akhir ini sering pergi sendirian doang?”


"Iya Kin. Lo juga masuknya suka lambat. gak kayak biasanya,” Tambah Mita yang duduk disebelahnya. Bibir gadis itu sejak dari tadi sudah gatal ingin menanyain masalah itu. Hanya saja dia merasa bingung harus mulai dari mana.


"Lo lagi ada masalah ya?” Tebak lala.


Kina menggeleng dengan cepat. "Gak kok. gue cuma ada urusan aja sedikit.”


"Urusan apaan?”


"Ituβ€”β€œ


"Urusan yang entah apa itu antara dia dan juga Darrenjun. Makanya dia sekarang mainnya dengan si Darrenjun gak sama lu dua,” Jelas Arji yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.


Lelaki itu sebenarnya baru saja memasuki kelas dan teringat akan pulpennya yang kembali lupa dia bawa. Tadinya dia cuma bermaksud meminjam pulpen milik Kina saja. Tapi berhubung percakapan mereka mengenai sesuatu yang Arji tahu dan dengan polosnya lelaki itu ikut nimbrung.


Lala dan Mita saling tukar pandang. Lalu memandang Kina dengan pandangan menuntut penjelasan.


"Kin, beneran yang diomongin Arji barusan?”Tanya Mita penasaran.


Kina baru saja mau menjawab. Tapi Arji lebih dulu menyela.


"Ya beneran lah. Kan dia jadi babunya Darrenjun sekarang,” Terangnya tanpa beban.


Lala dan Mita kaget dengan penuturan Arji barusan.


Kina mengepalkan tangannya kuat. Lelaki itu sungguh menyebalkan baginya. Tak tahu kah dia, kalau Kina sedang memikirkan cara untuk menjelaskan situasi yang terjadi antara dirinya dan Darrenjun. Tapi dengan gamblangnya Arji mengatakan semuanya tanpa seizinnya dulu.


"Babu!? Lo seriusan jadi babunya Darrenjun?”Pekik Lala dan membuat seisi kelas memandangi mereka.


Kina menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Berharap kalau teman-teman sekelasnya tak menggubris ucapan Lala barusan.


"Seriusan. Asal lo tau aja kalo diaβ€”β€œ


"Lo sekali lagi ngomong, gue sumpel tuh mulut pake sepatu,” Ancam Kina dengan kilatan membunuh.


Arji langsung mengulum bibirnya sendiri. Merasa takut dengan tatapan tajamnya Kina.


Kina menghelakan nafasnya pasrah, lalu dia melempar pandangan kearah kedua temannya yang telah menunggu penjelasan darinya.


"Iya gue emang jadi babunya Darrenjun,” Aku Kina.


"Sebelumnya juga gue minta maaf ke kalian. Karena gak ngasih tau masalah ini lebih awal,”Ucap Kina merasa bersalah.


"Dan sekarang, kalian malah harus dengar dari orang lain". Tambahnya ketus, sambil memandang Arji dengan tatapan dinginnya.


"Sekali lagi gue minta maaf,” ucap Kina dengan perasaan bersalah.


"Lo tenang aja Kin, kita uda maafin. Yang penting sekarang lo harus jelasin sedetail-detailnya ke kita,” Mita mencoba menenangkan Kina.


Kina tersenyum tipis. "Thanks. Sebenarnya yang ngajuin diri untuk jadi babu itu gue.”


Perkataan Kina barusan membuat ketiganya memandangnya dengan shock.


"Lo yang minta? Seriusan?” Tanya Lala yang tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Tapi kenapa Kin? Jangan bilang lo naksir dia?”Tambah Arji dan mendapat hadiah Toyoran oleh Kina.


"Sembarangan tuh mulut.”


Arji mengusap kepalanya yang barusan di toyor oleh Kina. "Lah terus?”


"Ini baru aja gue mau cerita. Makanya lo diam dong,” Kina melirik Arji kesal.


"Gue ngelakuin ini semua, supaya sih Darrenjun mau bantuin gue belajar. Kalian tau kan tentang masalah gue ini?”


Lala dan Mita mengangguk. Beda dengan Arji yang masih belum mengerti apa-apa.


"Jadi maksud lo. Orang yang bisa bantu lo buat dapetin laptop lo kembali itu si Darrenjun?”Tanya Lala memastikan.


Kina menjentikan jarinya di udara dengan semangat. "Iya begitu,”


"Tunggu …Tunggu. Jadi maksud lo. Semua ini cuma demi Laptop gitu?” Sela Arji yang akhirnya mengetahui maksud dari perjanjian Kina dan Darrenjun.


Kina melirik Arji sebentar. "Gak cuma sekedar laptop. Lo harus tau itu.”


"Iya terserah. Yang penting lo tetap aja bego. Kenapa juga harus rela jadi babu cuma ginian doang. Kalo lo butuh laptop, lo tinggal bilang ke gue Kin.”


"Lo lagi pamer nih ceritanya?” Ucap Kina ketus.


Arji menggeleng cepat. "Enggak! Gue gak maksud gitu Kin. Gue cuma kasihan aja sama lo di suruh-suruh sama si Darrenjun.”


"Uda lo gak usah sok kasihan ke gue. Lagian lo tinggal diam pura-pura gak dengar uda bisa buat gue bahagia kok,” Jelas Kina.


"Lo tenang aja Kin. Gue gak suka tuh nyebar gosip.”


"Lah tadi si bapak barusan juga ember,” Celetuk Mita dan dibalas anggukan oleh Kina dan Lala.


"Itu tadi gak sengaja, keceplosan gue,” Arji mencoba membela dirinya.


"Lo kan emang selalu keceplosan,” Tambah Lala.


"Khilaf gue La. Ngertiin Napa sih.”


"Ogah.”


"Jadi lo sampai kapan jadi babunya si Darrenjun Kin?” Tanya Mita ke Kina.


"1 bulan.”


"Selama itu?” Gantian Arji yang bertanya.


Kina mengangguk, mengiyakan pertanyaan Arji barusan.


"Sampai nilai gue bagus pas ujian,” Terangnya.


Kina menghembuskan nafasnya frustasi.


Lala dan Mita mendekat ke Kina, lalu mengelus punggung sahabatnya lembut. Mencoba menyalurkan semangat yang mereka punya untuk Kina.


"Semangat ya, mungkin dibalik ini ada hikmahnya.”


Kina terenyum tipis mendengar perkataan mereka barusan. Berharap semoga apa yang dikatakan mereka memang benar adanya.


"Itu yang 2 orang ngapain ngumpul di situ?” Mau menjatuhkan saya ya?!” Teriak Pak Ginanjar dengan wajah galaknya.


Ke empatnya melirik ke asal suara dan setelah menyadari siapa yang barusan bicara. Arji dan Lala langsung lari menuju kursinya.


Sebelum kembali ke kursinya. Arji lebih dulu mengambil pulpennya Kina dengan cepat. "Gue pinjem Kin,” Pintanya.


"Pulpen gue woi!" Teriak Kina ke Arji yang kabur. Kina sudah memperingatin ribuan kali lelaki itu. Tapi tetap saja pada akhirnya Arji lebih memilih meminjam pulpen milik Kina dibandingkan harus membelinya.


"Itu yang barusan teriak. Mau saya suruh keluar?!” Ucapnya lagi.


"Maaf Pak,” Ucap Kina dengan suara pelan.


...\=\=\=\=...


...*Haii kalian buat yg masih support dengan cerita aku. Aku mau ucapin banyak terima kasih ya **πŸ™πŸ™*...