Cutton Candy

Cutton Candy
Tak Akan Kembali



...đź’“Cutton Candyđź’“...


...-...


...(Dia yang telah pergi akan menyimpan sebuah arti, entah itu luka ataupun kebahagiaan. Yang nantinya akan sulit untuk di lupakan -Dear Yaya from Alby)...


...******...


Sudah hampir seharian Kina terduduk dengan pasrahnya diatas tempat tidurnya. Tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan selain tidur dan nonton drakor. bahkan untuk keluar dari kamarnya gadis itu tak diperbolehkan. Tentu saja hal itu disebabkan oleh insiden yang baru saja menimpanya.


Sejak Kina diantar oleh Rey dengan keadaan yang mengenaskan. kedua orang tuanya melarangnya untuk membawa motornya lagi. seharian mamanya menemaninya didalam kamarnya sambil menangis dan membuat Kina tak tega dibuatnya


Untungnya saat itu Rey dengan senang hati menjelaskan kronologis kejadian yang telah menimpanya. Sehingga Kina tak perlu repot-repot lagi menceritakan kejadian itu kepada kedua orang tuanya yang telah khawatir.


Dan berita bagusnya yaitu, Rey mengusulkan kepada kedua orang tua Kina untuk diantar olehnya ke sekolah untuk sementara waktu. Awalnya Kina tak yakin bahwa kedua orang tuanya menyetujui usulan Rey tersebut, mengingat bagaimana kondisinya yang mengenaskan.


Tapi sayangnya itu semua hanyalah pikiran Kina saja. Sebab, tanpa beban sedikitpun orang tuanya mengizinkannya. Terlebih dengan sang mama yang mensupport habis-habisan Rey untuk mengantar jemput Kina ke sekolah.


Kina merasa senang bukan main tentunya. Mengingat bagaimana ia berusaha untuk menarik perhatian Rey padanya. Dan sekarang perjuangannya itu membuahkan hasil. Meski dalam keadaan yang tak baik seperti ini.


Kina sudah benar-benar merasa bosan sekarang. bahkan drama korea yang menjadi moodboosternya selama ini terkalahkan oleh rasa bosannya.


Helaan nafas keluar dari bibir Kina dengan bebas. ia mengadahkan kepalanya ke atas memandang langit-langit kamarnya yang telah dipenuhi stiker berbentuk awan. gadis itu melamun tentang pelaku yang telah membuatnya bernasib seperti saat ini. Meski begitu, Kina masih saja heran dengan motif si pelaku terhadapnya.


Suara dering handphonenya membuat lamunan Kina teralihkan. Kina mencari keberadaan hapenya yang ternyata tergeletak manis pada meja belajarnya.


Meski keadaan Kina terlihat sudah membaik, nyatanya Kina masih sulit untuk bergerak. Kina mengeluarkan tenaga yang ia punya untuk merahi hapenya yang berada tak jauh dari temapt ia berbaring.


Setelah berhasil merahi hapenya Kina menatap layar hapenya sebentar.


Nama Alby tertera disana, tanpa basa basi Kina langsung mengangkat panggilan Alby tersebut.


"Iya halo Al," Ucapnya pada Alby yang ada diseberang sana.


“Yaya Kin, …..”


Kina menutup mulutnya menggunakan tangannya. Ia terkejut dengan berita yang barusan di sampaikan oleh Alby.


"Iya lo tunggu ya, gue otw ke sana sekarang."


Kina langsung bangkit dari tempat tidurnya, tak peduli jika sang Mama akan marah padanya. Dengan sedikit kesusahan. Kina berjalan menuju pintu kamarnya.


Baru saja ia membuka handle pintu kamarnya, Dea sudah lebih dulu masuk.


"Kak Kina mau kemana?"


Kina tercekat. "Hmm...itu..."


"Kak Kina kan uda dibilangin sama mama gak boleh keluar kamar."


"Iya gue tau. Tapi ini urusan penting."


Dea menggeleng kuat. "Gak boleh. Entar aku dimarahin mama lagi."


"Makanya lo diam aja jangan sampek mama tau."


"Pokoknya gak boleh," Dea berdiri dihadapan Kina menghalangi dirinya agar tak bisa keluar dari kamarnya.


Kina menghembuskan nafasnya frustasi. "Bentar doang De. Lagian mama lagi gak dirumahkan?"


"Iya. Tapi tetap gak boleh"


," Ucap Dea lagi tak terbantahkan.


Kalau saja keadaan Kina tidak seperti sekarang. Bisa dipastikan Kina akan menerobos tubuh Dea. Hanya saja jika ia nekat melakukan hal itu. Bisa-bisa tubuhnya yang ambruk.


"Lo mau kemana?"


Kina mengangkat kepalanya dan tersenyum saat melihat Darrenjun ada didepan kamarnya.


Lelaki itu terlihat membawa beberapa plastik dan juga bingkisan. Sepertinya Darrenjun berniat menjenguknya.


"Ini lo kak. Kak Kina bandel banget. Uda dilarang juga gak boleh keluar masih aja nekat," Adu Dea ke Darrenjun


Darrenjun memandang Kina sebentar lalu melirik Dea lagi. Lalu lelaki itu sedikit menunduk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Dea.


"Kalau bareng kakak, kak Kina boleh keluar gak?" Pintanya pada Dea.


Dea diam, gadis kecil itu tampak berpikir.


"Boleh sih. Yang penting kak Kina gak boleh sendirian keluarnya."


Darrenjun mengangguk. "Kamu tenang aja. Kak Kina aman sama kakak."


"Yaudah deh. Aku pergi ke ruang tamu aja."


Setelahnya Dea pergi meninggalkan keduanya.


"Jun. Itu-"


"Gue uda tau. Kalo gitu ayo buruan," Darrenjun menarik tangan Kina dan membantunya untuk berjalan.


Kina sempat merasa ragu awalnya. Karena ia tahu hubungan antara dia dan Alby kurang baik. Tapi entah mengapa lelaki itu dengan senang hati mengantarnya menemui Alby.


-


-


Alby terduduk di atas tanah dengan wajah kecewa. Perasaan bersalah memenuhi rongga dada Alby.


"Kenapa elo ngelakuin hal ini. Maafin gue karena gue gak ada disaat elo butuh."


Alby mengusap batu nisan yang telah terukir nama Yaya disitu.


"Maaf karena gue ninggalin elo disaat elo butuh seseorang."


Air mata Alby sudah tak bisa ia bendung. Ia memikirkan bagaimana rasa sakit yang di alami Yaya saat tak ada satu pun orang memperdulikannya. Semuanya menganggap gadis itu sakit.


"Alby!" Panggil Kina dengan langkah sedikit tertatih.


Keduanya telah sampai, Kina lagi-lagi harus di bantu oleh Darrenjun untuk berjalan.


Alby berbalik dan tersenyum kecut.


"Kin," Ucapnya lirih.


Alby tertunduk, menyembunyikan kesedihannya.


Meski Alby mencoba menyembunyikan kesedihannya, Kina tau bagaimana perasaan Alby saat ini. Hatinya pasti terluka dan pastinya lelaki itu merasa bersalah sekarang.


Kina menghampiri Alby, lalu memeluknya mencoba memberikan kekuatan yang ia punya. Agar lelaki itu sedikit membaik.


"Gue turut sedih dengan apa yang terjadi dengan Yaya. Lo yang kuat ya, gue harap elo berhenti untuk nyalahin diri lo lagi."


Alby meregangkan pelukannya dan menatap Kina dengan sedih.


"Tapi gue salah Kin, gue gak seharusnya ngabaikan dia disaat dia butuh gue."


"Gue tau Al, Tapi ini diluar dugaan elo. Jadi gue harap lo bangkit ya. Mungkin ini jalan yang terbaik bagi Yaya."


Alby hanya mengangguk lemah.


Kina melirik ke arah kedua orang tua Yaya dan mencari keberadaan kedua sahabatnya. Amanda dan juga Jeha. Tak ada satu pun dari mereka yang terlihat benar-benar sedih saat ini. Bahkan kedua orang tuanya pergi begitu saja setelah Yaya di makamkan.


"Elo pasti ngerasa bingung dengan sikap kedua orang tua Yaya."


Kina menoleh ke arah Alby.


"Seperti yang bisa elo liat sendiri. Gimana sikap ketidak pedulian mereka terhadap Yaya selama ini, bahkan sampai akhir hayatnya Yaya gak pernah diperlakukan layaknya seorang anak."


Lelaki itu tersenyum masam.


Kina memandang batu nisan itu kembali dengan sedih. Gadis itu tak menyangka bahwa kehidupan Yaya tak sepeti kelihatannya. Selama ini ia berpikir bahwa Yaya selalu diberikan kasih sayang yang begitu berlebihan hingga gadis itu tak mengenal rasa takut untuk berbuat kasar.


"Gue selama ini salut dengan dia. Yaya gak pernah sedikitpun kelihatan sedih meski orang tuanya tak memberikan perhatian padanya. Bahkan Yaya masih bisa terlihat tegar. Gue salut dengan dia dan itu juga yang ngebuat gue kagum dan jatuh cinta dengan dia."


"Yaya!"


Kina, Alby dan Darrenjun menoleh ke arah orang yang baru saja tiba.


Rey


Lelaki itu baru saja tiba bersama bersama Emilio, Arji dan juga Mark. Sepertinya ketiga lelaki itu bermaksud menemani Rey.


Alby mengelap wajahnya dengan kasar dan berjalan dengan langkah cepat ke arah Rey.


"Mau apa lo kesini? Pergi," Usirnya dengan tatapan tak bersahabat sama sekali.


"Gue cuma mau minta maaf dengan Yaya."


Rey tertunduk. Hidungnya telah merah dan Kina yakin Rey tengah menangis.


Alby tertawa hambar dengan ucapan Rey barusan. "Apa maaf?"


Sindirnya. "Apa lo pikir dengan kata maaf lo itu bisa nyelesain segalanya?"


Alby mendekat ke arah Rey dan menarik kerah bajunya. "Lupain niat Lo itu dan pergi dari sini. Gue eneg liat muka lo."


"Tapi gue gak sudi orang macam elo datang kesini!"


"Lo pikir semua ini terjadi cuma karena gue doang?" Rey tersenyum kecut. "Gue putus sama Yaya juga gara-gara elo Al. Lo ingat itu."


Alby mengepal tangannya kuat. "Apa maksud ucapan lo itu?" Geram Alby.


Rey terkekeh pelan. "Lo gak usah pura-pura bego. Elo yang ngebuat gue mutusin dia karena gue tau elo dan Yaya punya hubungan khusus lebih dari sahabat. Gue di selingkuhi lebih dulu."


Bughhh


Hanya beberapa detik Alby telah berhasil melayangkan pukulan keras ke arah Rey hingga membuatnya terjatuh ke tanah .


Semua orang yang berada diantara keduanya terkejut dengan apa yang barusan terjadi.


"Sekarang lo nyalahin gue atas dosa yang uda Lo perbuat. Dimana elo disaat dia butuh. Apa lo lupa kalo lo yang janjiin dia nyatanya elo pergi gitu aja."


Rey bangkit lalu membalas pukulan Jeno padanya.


Bughhh


"Gue emang salah ninggalin dia. Tapi semua ini karena elo. Kalo aja elo gak berada di antara kita semuanya gak bakalan gini ceritanya. Lo juga pendosa!"


Bughhh


Alby kembali membalas perbuatan Jaemin. Dan keduanya terlibat dalam perkelahian. Tak ada yang mau mengalah keduanya telah terbawa emosi.


"ALBY, REY STOP!" Kina mencoba bangkit dan melerai keduanya. Sayangnya hal itu tak berdampak sama sekali pada keduanya.


Darrenjun tak ingin ikut campur dalam urusan keduanya. Tapi saat melihat Kina yang begitu khawatir melihat keduanya bertengkar membuat Darrenjun tak ada pilihan lain selain ikut campur kedalam masalah keduanya.


Darrenjun mendorong tubuh keduanya dengan kasar.


"Lo dua uda gila!" Teriak Darrenjun dengan amarah. "Lo gak liat ini lagi dimana? apa lo pikir dengan kalian pukul-pukulan kayak gini. bisa bangkitin Yaya lagi?" Ucap Darrenjun dengan kesal.


Alby dan Rey membisu hanya suara deru nafas mereka yang tak beraturan yang terdengar.


Kina menghembuskan nafasnya lega. akhirnya perkelahian itu usai juga.


Mark mendekat kearah Rey dan menarik lelaki itu pergi dari sana. Diikuti oleh Emilio dan juga Arji. berkat perkelahian keduanya tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. semuanya menjadi diam.


Darrenjun memandang Alby sebentar dengan tatapan dingin, lalu menyusul Rey yang telah pergi bersama yang lainnya.


Alby mengelap sudut bibirnya yang telah mengeluarkan darah.


Kina mendekat ke arah Alby, lalu menyodorkan tissue padanya. "Lo gak papa?" tanya Kina khawatir.


Alby menggeleng kuat dan tersenyum tipis. "Gue gak papa."


Teringat akan sesuatu yang selalu ia bawa kapanpun dan dimana pun. Kina mengeluarkan plester dan memberikannya pada Alby.


"Ini buat Lo."


Alby menatap Kina dengan bingung.


"Sorry gue gak bawa kotak p3k gue. makanya gue cuma bisa nagasih ginian," ucap Kina dengan cengiran andalannya.


Alby mengelus kepala Kina lembut. "Thanks ya Kin," ucapnya tulus. "Gue bersyukur ada elo disini."


Kina mengangguk semangat dan tersenyum hangat. "sama-sama Al. Gue senang bisa ngehibur elo."


Darrenjun berada tak jauh dari sana, setelah mlihat kondisi Rey, Darrenjun kembali menyusul Kina. Entah kenapa melihat Kina begitu perhatian pada Alby membuatnya terusik.


Apa dia cemburu?


AH tidak, itu gak mungkin. Darrenjun menggeleng kuat mencoba mengusir pikiran konyol itulagi.


"Ayo pulang," Ajak Darrenjun yang telah berdiri di hadapan Kina.


Darrenjun mengulurkan tanggannya dihadapan Kina dan membuat gadis itu langsung tersenyum. Tanpa basa basi Kina langsung menyambut uluran tangan Darrenjun.


"Al gue tinggal ya," pamit Kina dan dibalas anggukan oleh Alby.


"Hati-hati," ucap Alby.


"Iya lo juga harus pulang setelah ini."


Alby mengangguk dan tersenyum


Kina berjalan meninggalkan tempat itu dengan bantuan Darrenjun.


baru bebebrapa langkah berjalan, kaki Kina tiba-tiba terasa begitu nyeri hingga membuatnya terjatuh ke tanah.


"AWW!" Pekiknya.


Darrenjun langsung berjongkok dihadapan Kina. "lo gak papa?" Tanyanya khawatir.


Kina menggelang. "iya gue gak papa. mungkin cuma kram tadi."


Darrenjun mengecek kondisi kaki Kina sebentar, lalu ia berbalik. "Naik," suruhnya.


Kina melototkan kedua matanya, melihat hal yg dilakukan Darrenjun untuknya.


"G...gak usah gue bisa- aww." Kina kembali terduduk diatas tanah saat mencoba untuk bangkit.


"Buruan naik gue keburu pegel."


"Tapi-"


Darrenjun berbalik. "naik, atau gue gendong lo dengan cara yang beda," Ucapnya tak terbantahkan.


Kina melototkan kedua matanya lagi. Dia paham apa maksud ucapan Darrenjun barusan.


"Gue hitung sampai tiga, kalo lo masih diem gue bakalan-"


"Iya," ucap Kina cepat.


Kina langsung naik ketas punggung Darrenjun sebelum lelaki itu melakukan hal aneh padanya.


Deggh


Jantung Darrenjun seketika berdebar. ini pertama kali dalam hidupnya ia menggendong seorang gadis seperti ini.


"sorry ya, gue ngerepotin elo," Ucap Kina merasa bersalah.


"Lo santai aja," ucap Darrenjun sedikit canggung.


entah lah dada lelaki itu tiba-tiba bergemuruh dengan hebatnya saat Kina telah berada digendonannya.


'Ini gila! kenapa jantung gue kumat' -Darrenjun


"oh iya. Thanks juga," Ucap Kina pelan.


"Untuk?"


"Karena elo uda mau nganterin gue ke sini. Gue gak yakin bakalan bisa kesini tanpa bantuan elo. sekali lagi gue ngucapin makasih banyak."


Darrenjun tersenyum tipis. "Lo gak usah bilang makasih. lagian gue juga emang niat kesini."


Kina hanya ber-o ria saja.


"Lo uda tau siapa pelaku dibalik kecelakan elo?"


"Gue tau. Yaya kan yang ngelakuin."


Darrenjun menghentikan langkahnya sebentar dan menoleh ke belakang dimana Kina berada.


"Lo gak usah kaget gitu, Rey yang cerita ke gue," lanjunya.


"Lo gak marah?"


Kina menggeleng. "Awalnya iya gue kesel, marah dan benci ke dia. Tapi setelah gue tau alasan dia ngelakuin ini ke gue. Gue jadi sadar, kalo semua ini karena gue juga."


"Tapi dia uda coba buat bunuh elo."


"Dia gak maksud bunuh gue Jun. Yaya cuma ngasih peringatan ke gue aja."


"Lo tau dari mana?"


Kina tersenyum tipis. "kalo dia bener niat bunuh gue, dia pasti nabrak gue dengan kencang sampek gue mati. tapi ini enggak. bahkan Yaya masih ada disana liatin kondisi gue."


"Gue gak ngerti jalan pikiran elo. Kenapa lo dengan mudahnya memaafkan orang yang uda coba bunuh lo sampai lo kayak gini."


"Karena gue sadar kalo aja gue gak berada diantara Rey dan Alby pasti semuanya gak bakalan terjadi."


"terserah elo," final Darrenjun. Lelaki itu malas untuk berdebat lebih lanjut pada Kina.


Kina hanya tersenyum tipis. Entah kenapa Darrenjun terlihat lucu baginya.


Darrenjun itu dingin bagai es antartika dan jangan lupakan mulut merica level 50 nya itu. Tapi, meski Darrenjun seperti itu. Kina merasa bersyukur karena Darrenjun adalah teman yang begitu baik dan juga perhatian.


...******...


...Terima kasih karena sudah mau menyempatkan waktu kalian untuk baca cerita yang aku tulis. Jangan lupa juga untuk memberikan vote dan juga saran kalian 🙏🙏...