Cutton Candy

Cutton Candy
Peduli atau Tidak



...*πŸ’“Cutton CandyπŸ’“*...


...[********]...


...-...


"Lo marah?”


Kina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar pertanyaan lelaki yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Lelaki itu menunggunya di depan kelasnya.


Gadis itu mengerutkan dahinya. "Kenapa lo mendadak peduli?” Tanyanya.


"Gue cuma nanya bukan peduli,” Jawabnya dengan acuh.


Kina merotasi kan bola matanya mendengar perkataan Darrenjun barusan. Sia-sia bagi Kina sudah terharu tadi. Tapi syukurlah kalau lelaki itu ternyata tidak murka padanya.


"Apaan sih lo gak jelas.” Ketusnya.


Darrenjun hanya mengangkat bahunya acuh.


"Hari ini gue gak bisa ngajarin elo. Gue ada urusan.”


"Bagus deh. Gue juga lagi bad mood buat belajar sekarang,” Terang Kina.


"Kenapa? Lo masih marah ke gue karena masalah tadi?” Tanya Darrenjun dengan sebelah alis terangkat.


Kina memutar bola matanya sekali lagi dengan malas. Lelaki ini sungguh membingungkan untuknya.


"Apa hak gue buat marah ke elo? Gue kan cuma babu,” Jelas Kina.


Darrenjun menjentikan jarinya. "Yup lo bener. Lo cuma babu gue,” Katanya dengan bangga.


Benar kan dugaan Kina kalau lelaki itu tak bermaksud benar-benar peduli padanya. Tak bisa kah lelaki itu benar-benar berniat baik sebentar setidaknya.


Sudah lah daripada memusingkan sifat dari seorang Darrenjun, Kina lebih memilih untuk tidak peduli apa pun terhadapnya.


"Gue ada sesuatu buat lo,” Ucap Darrenjun padanya.


Kina menoleh ke arah Darrenjun.


"Apaan?”Tanyanya dengan malas.


Lelaki itu mengeluarkan buku paket dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kina.


"Ini buku materi yang harus lo pelajari.”


Kina menerima buku itu dengan heran. "Buku materi? Buat apaan?”


"Hari Minggu ini, gue mau ngasih lo kuis buat tau seberapa paham lo sama materi yang uda gue ajarin selama ini.”


Kina hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Dan didalam buku itu. Gue uda rangkum semuanya, jadi lo bisa dengan mudah mempelajari itu semua,” Terang Darrenjun lagi.


"Yaudah kalo gitu, gue bakalan baca buku ini. Minggu kan?” Tanya Kina.


Darrenjun mengangguk. "Jangan telat,” Peringat nya.


"Lo tenang aja, gue gak bakalan telat.”


Arji baru saja memasuki koridor sekolah. Dan sesuatu yang aneh terjadi pada lengannya.


Kina menghadang Arji dari depan dan membuat langkah Arji terhenti.


"Tangan lo kenapa?” Tanya Kina panik saat melihat penampakan darah yang lumayan banyak pada tangannya.


Arji memandang ke arah tangannya lalu melirik Kina lagi. "Oh ini. Tadi gak sengaja ketancep kaca,” Jelasnya.


"Lo harus bersihin darahnya dulu,” Suruh Kina dengan khawatir.


Arji mengangguk singkat. "Iya ini rencananya gue mau ke toilet buat nyuci nih darah.”


Kina memundurkan langkahnya memberi ruang bagi Arji untuk lewat.


Setelahnya lelaki itu pergi masuk kedalam toilet.


Kina menunggu Arji dengan khawatir. Gadis itu ingin memastikan kalau Arji menangani lukanya dengan tepat.


Darrenjun belum pergi dari situ. Lelaki itu masih berdiri memperhatikan Kina yang terlihat sangat khawatir terhadap kondisinya Arji. Padahal menurutnya lukanya Arji bukanlah masalah yang besar. Sehingga harus dilakukan penanganan yang tepat.


Setelah membersihkan darah yang keluar dari tangannya menggunakan air. Arji keluar dari toilet. Dan dengan cepat Kina menghampirinya.


"Iya entar pas dirumah aja,” Jawab Arji seadanya.


"Kenapa nunggu dirumah? Disini aja. Ayo gue anter ke UKS,” Ajak Kina.


Arji menggeleng. "Tadi gue uda ke UKS. Tapi ruangannya ke kunci,” Jelasnya.


Gadis itu kembali berucap. "Yaudah kalo gitu biar gue aja yang ngobatin. Gue baru inget kalo punya kotak P3K didalam tas.”


Setelah mengatakan hal tersebut Kina menarik tangan Arji dan mengajaknya untuk duduk dipinggir koridor.


Tanpa meminta persetujuan dari Arji terlebih dahulu. Kina mengeluarkan satu set kotak P3K mini miliknya dari dalam tasnya. Dan dengan hati-hati gadis itu memberikan beberapa obat-obatan yang diperlukan untuk mengobati lukanya Arji.


Luka yang dimiliki Arji lumayan dalam dan gadis itu bersyukur karena bisa dengan cepat mengobatinya.


Darrenjun tidak jadi pergi, lelaki itu masih berada disitu. Memperhatikan Kina yang tengah mengobati lukanya Arji.


Setelah semua obat yang diperlukan telah ia beri pada lukanya Arji. Kina tak lupa menutupinya dengan plester bergambar bintang, kesukaannya Kina.


"Plester ini?” Tunjuk Arji ke arah plester yang dipegang oleh Kina.


Kina melirik ke arah Arji. "Kenapa? Lo gak suka?” Tanyanya.


Arji menggeleng dengan cepat.


"Enggak Kin. Gue suka banget malah. Kan plester ini yang selalu lo kasih buat gue,” Katanya dengan senyuman manis dan Kina tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum dengan ucapan Arji barusan.


Lelaki itu terkadang begitu polos menurutnya.


"Bagus deh kalo lo suka,” Ucap Kina sembari melekatkan plester itu pada Arji.


Darrenjun mengamati interaksi keduanya dalam diam. Dari sini Darrenjun bisa menyimpulkan bahwa Kina adalah tipe orang yang begitu perhatian pada orang lain, sehingga akan banyak orang yang akan jadi salah paham oleh sikapnya ini. Darrenjun yakin Arji termasuk salah satu korban dari gadis ini. Yang tingkat ke tidak pekaannya 11 12 dengan Arji. Meski gadis itu tidak akan menyadarinya.


Ah ... dengan cepat Darrenjun membuang segala pikirannya mengenai Kina. Apa urusannya dia juga memikirkan gadis yang ada didepannya saat ini. Toh mereka tidak dalam hubungan yang begitu akrab juga.


Setelah cukup lama diam membisu, akhirnya Darrenjun pun membuka suara. "Lo kenapa bisa kena kaca kayak gitu?”


Arji melirik ke Darrenjun. "Oh itu. Tadi gue ngeliat ada hal aneh di dekat kaca pojokan. Karena penasaran gue deketin ehh tau-taunya cuma botol minum yang dipenyetin.”


"Terus darimananya lo kena kaca?” Tanya Darrenjun dengan heran.


"Itu botol posisinya tinggi banget. Jadi pas gue mau naik, gue megang kaca jendela yang ternyata kacanya pecah separoh,” Cerita Arji dengan semangat.


Dengan reflek Kina memukul kepala Arji dengan kasar dan membuat sang empu meringis kesakitan.


"Lo apa-apaan sih Kin?! Sakit ogeb!"


"Lo yang apa-apaan?! Begituan pake di kepo in segala. Pantesan aja lo gak masuk ke kelas tadi? Ini kan alasan lo,” Omel Kina pada Arji.


Arji hanya menyengir dengan Omelan Kina padanya."Iya gue salah. Sorry dah uda buat lo khawatir,” Ucap Arji mencoba menenangkan Kina yang murka.


Kina menghembuskan nafasnya pelan. "Yaudah serah lo dah. Yang penting lo harus rajin ngobatin ini luka,” Tunjuk Kina ke arah luka yang barusan ia obati.


Arji mengangguk. "Lo tenang aja. Gue bakalan obati kok.”


Arji memandang ke arah Darrenjun dan Kina gantian. "Lo dua ngapain disini?”


Darrenjun menggeleng cepat. "Gak, gue cuma ada urusan bentar dengan dia,” Ucapnya.


"Urusan apaan?”


"Kita cumaβ€”β€œ


"Bukan urusan lo,” Jawab Darrenjun cepat.


"Kalo gitu gue cabut dulu.” Darrenjun menepuk pundaknya Arji pelan sebelum pergi meninggalkan keduanya.


Arji mengangguk singkat.


"Hati-hati!” Teriak Arji pada Darrenjun yang mulai menjauh.


Darrenjun mengangkat tangannya di udara sebagai tanda bahwa ia mendengar ucapan Arji barusan.


Setelah kepergian Darrenjun, Arji melirik ke Kina lagi. "Lo kok tahan dengan dia Kin?” Tanyanya.


"Kepaksa sih sebenarnya,” Jawab Kina cuek.


...*****...


*Jangan lupa kasih vote dan coment kalian ya teman-teman **😊😊*