
...đź’“Cutton Candyđź’“...
...******...
...(Semakin gue menginginkan lo, maka semakin gue harus merelakan lo. Gue sadar itu -Darrenjun Evans)...
...*******...
"1. 2. 3 GO!"
Kedua motor itu melaju dengan pesatnya. Begitu juga dengan Darrenjun. Lelaki itu dengan lihainya mengendarai motornya bagai orang kesetanan membelah jalanan.
Kina yang berada diboncengan Darrenjun memeluk lelaki itu seerat mungkin. Kedua matanya ia pejamkan, merasa takut jika saat membuka kedua matanya ia akan pingsan karena tak kuat melihat bagaimana liarnya Darrenjun mengendarai motornya.
Gugup, takut, sedih dan khawatir menjadi satu. Ini kali pertama baginya ikut andil dalam kompetisi ilegal tersebut. sepanjang perjalanan Kina tak henti-hentinya berdoa. bahkan gadis itu merasa menyesal telah melakukan aksi nekat seperti ini. Ini kesalahannya sendiri yang terlalu ikut campur kedalam masalah Darrenjun.
Darrenjun berusaha se fokus mungkin saat mengendarai motornya. entahlah, pikiran lelaki itu sedikit terusik karena Kina yang berada diboncenganya. Darrenjun dapat merasakan dengan jelas bagaiman gemetarannya tangan Kina saat memeluknya. Dan Darrenjun tahu bahwa Kina tengah ketakutan saat ini. Hanya saja lelaki itu tak ingin hal itu menguasainya.
Sangat tak mungkin baginya untuk berhenti di tengah-tengah pertandingan. Hanya karena merasa khawatir terhadap Kina. Ini salah gadis itu sendiri kenapa ia ikut campur dan nekat untuk mengikuti Darrenjun sampai seperti ini.
Garis finish telah didepan mata dan Darrenjun masih belum fokus sepenuhnya.
Motor Varno yang sempat tertinggal jauh dari motor Darrenjun, kini berhasil melewatinya. Bahkan Varno sudah hampir sampai di garis finish. Dan sudah tak ada harapan lagi bagi Darrenjun untuk memenangi pertandingan tersebut.
Varno bersorak girang saat berhasi memenangi pertandingan. Lelaki itu menunggu kedatangan Darrenjun dengan senyuman lebar. Lebih tepatnya senyuman mengejek karena ia berhasil mengalahkan seorang Darrenjun Evans yang cukup terkenal dengan balapan jalanan.
"Gue menang!" soraknya tepat dihadapan Darrenjun yang baru saja sampai di garis finish.
Darrenjun menghelakan nafasnya pelan. "Iya lo menang,” Ucapnya malas.
Darrenjun mengarahkan motornya ke arah dimana seluruh temannya berkumpul. Kedatangan lelaki itu disambut dengan senyuman pahit oleh semuanya. Mereka tau resiko dari kekalahan Darrenjun ini.
Meski motor Darrenjun telah berhenti, Kina masih saja berada diposisi yang sama. Posisi dimana ia tengah memeluk Darrenjun dengan erat.
"Turun,” Ucap Darrenjun pada Kina yang masih belum sadar sepenuhnya.
Kina membuka kedua matanya secara perlahan dan turun dari motor Darrenjun. Gadis itu tak mengatakan sepatah katapun lagi dan pergi dari situ begitu saja. Bahkan kini ia berjalan lurus ke depan. Tak tau arah tujuannya.
"Kin helm gue!" Teriak Emilio pada Kina.
Namun sayangnya, Kina tak menggubris teriakan nyaring Emilio barusan. Gadis itu telah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Darrenjun mengetahui ada sesuatu yang aneh pada diri Kina. Lelaki itu turun dari motornya dan mengikuti Kina dari belakang.
Beruntungnya Kina berjalan dengan langkah lambat. Jadi Darrenjun dengan mudah mengejarnya.
"Lo mau kemana?” Tanya Darrenjun setelah berhasil merahi lengan Kina.
Kina tersentak dan memandang Darrenjun dibalik helm yang masih melindungi kepalanya.
"LO APA-APAAN NGIKUTIN GUE KAYAK TADI. MAU UJI NYALI??!" Bentak Darrenjun dengan suara keras.
Kina tak bergeming. Gadis itu hanya diam dengan helm yang masih berada di kepalanya.
"LO BEGO ATAU GIMANA?! LO TAU GAK KALO TADI ITU BAHAYA BANGET BUAT KESELAMATAN ELO??!" Jelas Darrenjun dengan wajah yang benar-benar marah.
Darrenjun sungguh khawatir terhadapnya. Sebelum pertandingan dimulai Darrenjun sempat berharap kalau Kina akan menyerah dan memintanya untuk menurunkannya saja. Tapi sayang hal itu tak dilakukan oleh Kina.
Darrenjun mendekat ke arah Kina dan hendak membuka helm yang masih menempel pada kepala Kina. Ia sungguh gemas karena Kina diam tak merespon perkataannya.
Baru saja tangan Darrenjun hampir merahi helm yang menutupi wajahnya. Kina lebih dulu menepis kasar tangan Darrenjun.
"YANG BEGO ITU ELO BUKAN GUE!" Tegas Kina dengan suara seraknya seperti ingin menangis.
Darrenjun membeku.
"LO TAU KALO TADI ITU BAHAYA. TAPI KENAPA LO MASIH NEKAT IKUTIN PERTANDINGAN ITU??". Lanjutnya sedikit terisak.
Darrenjun mendekat ke arah Kina dan dalam beberapa detik ia berhasil membuka paksa helm yang menutupi seluruh wajah Kina.
Lelaki itu terkejut melihat kondisi wajah Kina yang telah dipenuhi oleh air mata.
Kina langsung berbalik membelakangi Darrenjun. Gadis itu menutupi seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. ia malu memperlihatkan wajahnya yang begitu kacau di hadapan Darrenjun.
Kina ingin menahan tangisnya, tapi sayang ia terlalu lemah untuk itu. Bahkan sura isakan yang ia tahan sejak dari tadi keluar begitu saja.
Darrenjun menarik lengan Kina dan membuat gadis itu menabrak dadanya. Lalu dalam beberapa saat Darrenjun memeluk tubuh Kina dengan erat.
"Maaf,” ucapnya dengan perasaan bersalah.
Kina melepas pelukan Darrenjun secara kasar dan menatap lelaki itu dengan kedua mata yang telah berair.
"LO BEGO. LO JAHAT!" Bentaknya. "Lo kemana selama ini? Lo tau gak gimana khawatirnya gue, Gara-gara lo ngilang gue jadi kepikiran terus,” Ucapnya.
Darrenjun terdiam.
brukk
Kina memukul lengan Darrenjun pelan.
"Lo kemana aja selama ini Jun? Gue khawatir sama lo.”
"Lo harus tau, kalo masih banyak orang yang sayang sama lo Jun dan masih banyak juga orang yang peduli sama lo. Kak Lucas. Tante Jia. Om Askara semuanya sayang elo.”
"Apa gunanya lo pinter. Tapi pikiran lo masih sebego ini. Asal elo tau, kalo terjadi apa-apa sama lo tadi. Gue gak bakalan bisa maafin diri gue sendiri. Gue benci lo Jun. Lo jahat! Lo egois!" Kina menutup wajahnya dengan lengan bajunya. Ia sudah tak sanggup berkata-kata lagi.
Darrenjun menarik gadis itu kedalam pelukannya dan memeluknya begitu erat. Renjun mengelus kepala Kina lembut agar gadis itu bisa merasa lebih baik.
Tanpa Kina tahu diam-diam Darrenjun ikut menangis saat itu.
-
-
"Lo dua habis darimana?” Tanya Mark pada Kina dan Darrenjun yang baru saja kembali.
"Cari angin,” jawab Darrenjun seadanya sembari menyerahkan helm milik Emilio padanya.
Arji berjalan cepat kearah Kina dan lelaki itu terkejut saat melihat penampilan Kina yang terlihat kacau.
"SI KINA LO APAIN?!" Tanya lelaki itu dengan wajah penuh amarah pada Darrenjun.
Darrenjun mengangkat kedua bahunya acuh. "Lo tanya aja sendiri sama orangnya,”jawabnya santai.
Arji memegang lengan Kina dan menatap gadis itu lagi. "Lo di apain sama dia Kin? bilang sama gue,” Ucap Arji heboh.
Kina menggeleng pelan. Sesungguhnya gadis itu sedikit malu. Malu karena Arji begitu hebohnya. Hampir saja mereka jadi tontonan karena lelaki itu.
"Gue gak papa. cuma kena flu doang,” bohong Kina.
Arji terdiam beberapa saat sampai ia melanjutkan kembali ucapannya. "Oh jadi lo kena flu,” ulangnya.
Kina mengangguk semangat.
Arji membuka jaketnya dan menyerahkannya pada Kina. "Gue bilang juga apa jangan ikut. elo ngeyel sih. Kan masuk angin jadinya.”
Semua orang terkejut dengan tingkah Arji barusan. Bahkan Emilio dan Mark saling melempar pandang satu sama lain.
Mereka tak menyangka bahwa Arji bisa semudah itu untuk dikelabuhi. Merasa diperhatikan Arji mengangkat wajahnya dan memendang semuanya heran.
"Lo ngapain pada ngeliati gue begituan?”Tanyanya sedikit risih.
semuanya serempak menggeleng.
"Kepala doang yang gede.” -Emilio
"Isinya dikit doang,” Lanjut Mark.
Varno menghampiri Darrenjun dengan senyuman lebar.
"Mana?”ucap lelaki itu sembari mengadahkan tangannya kebawah. Meminta sesuatu pada Darrenjun.
Semunya serempak menghelakan nafasnya pasrah. Kina merasa bingung dengan tingkah semuanya.
Darrenjun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkan kunci motornya pada Varno.
Varno menerima kunci motor Darrenjun dengan bahagia. Lalu lelaki itu mengangkat kunci motor Darrenjun keatas dan menoleh kearah Kina.
"Iya kunci motor Darrenjun yang sekarang telah menjadi milik gue,” jelas Varno dengan senyuman penuh kemenangan.
Kina terpelongoh mendengar perkataan Varno barusan. Gadis itu menoleh ke arah Darrenjun.
"LO TARUHAN MOTOR LO?!" Tanya Kina dengna suara nyaringnya, sampai-sampai semua orang menutup teligannya.
"Iya,” jawab Darrenjun acuh.
"Yaudah kalo gitu gue cabut. Thanks buat motornya,” pamit Varno. Lelaki itu melempar kunci motor Darrenjun diudara lalu menangkapnya. Varno sengaja melakukan hal itu untuk menggoda Darrenjun.
"Darrenjun gak bakalan kehilangan motornya kalo lo gak ganggu dia tanding tadi,” Omel Haikal pada Kina.
Kina memandang Darrenjun lagi. Lalu gadis itu mendekat ke arahnya. "Maaf. Gue gak tau,”Ucapnya penuh penyesalan.
"Its ok.”Ucap Darrenjun seadanya.
Kina tiba-tiba terisak dan menangis. "huaaa... Sorry Jun. Gue emang gak guna". Ucap gadis itu sembari terisak.
"Maafin gue. Karena gue elo jadi kalah dan motor lo jadi disita.”
"Lo gak perlu khawatir. Cuma motor doang,”Ucap Darrenjun mencoba menenangkan Kina.
Tapi sayangnya hal itu malah membuat Kina merasa bersalah. "Huaaa… motor lo pasti mahal banget harganya. Gue gak punya duit buat ganti motor lo,” Tangis Kina.
"Ya jelas lah mahal. Tuh motor modelan terbaru. Kalo pun lo mau ganti gak bakalan bisa. Meski lo jual motor lo sekalipun, itu gak bakalan bisa gantiin motor Darrenjun,” Jelas Haikal.
"Hua...".
Darrenjun menutup telinganya. Bisa-bisa gendang telinga lelaki itu pecah karena ulah Kina.
"Lo gak perlu ganti. Jadi berhenti nangis lagi.”
"Hiksss… Gimana gue gak nangis coba? Nanti kalo orang tua lo nanya motor lo gimana?”
"Itu biar gue yang urus.”
"Gue janji Jun, bakalan cari duit buat ganti motor lo yang disita. Gara-gara gue, lo pasti bakalan dimarahin orang tua elo. Kak Lucas juga pasti marah besar ke gue. Huaaa…”
Kina terisak dengan kencang.
"Mampusss lo. Orang tua Darrenjun pasti marah besar. Mampus,” Ejek Haikal yang terlihat bahagia melihat Kina menangis.
"Huaaa..."
"Maafin gue Jun! Gue emang bego.”
"Rasain gara-gara elo motor Darrenjun di sita.”Haikal terus saja semangat meledek Kina. Hingga tangisan Kina semakin menjadi-jadi dan yang lainnya terpaksa menutup kedua telinga mereka.
Plakk
Arji menampol bibir Haikal menggunakan tangannya. Lelaki itu merasa kesal setengah mati. karena Haikal mengganggu Kina tak kenal situasi. "Lo bacot sekali lagi gue sumpel tuh mulut pake sepatu,” Peringat Arji.
"I like your style bro,” Ucap Emilio sembari menepuk punggung Arji semangat. Lelaki itu sama jengkelnya karena Haikal.
"Kalian jahat. Kalian tega sama aku. Hm.”
Plakk
"Gak usah drama,” Lanjut Mark.
"Mana kunci motor lo?” Ucap Darrenjun pada Kina.
Kina langsung menghentikan tangisnya. Lalu gadis itu menyerahkan kunci motornya pada Darrenjun.
"Jangan ambil motor gue Jun. Gue belum mampu belinya. Orang tua gue bakalan ngamuk kalo tau gue gadein motor gue ke elo.”
Darrenjun terpelongoh dengan penuturan Kina barusan. Lelaki itu menepuk wajahnya sendiri menggunakan tangannya.
"Gue gak minta motor lo. Gue cuma minta lo anterin gue pulang,” Jelasnya.
-
-
Sesuai dengan perintah Darrenjun. Kina mengantar Darrenjun sampai didepan rumahnya. Saat lelaki itu telah turun. Kina mengikutinya.
"Lo kenapa ikut turun?” Tanya Darrenjun dengan kesal.
"Gue mau tanggung jawab dan minta maaf ke orang tua lo. Karena kebodohan gue motor lo disita.”
"Gak usah. Mending lo pulang sana,” Usir Darrenjun. Lelaki itu bahkan mendorong tubuh Kina.
"Darrenjun.”
Keduanya berbalik dan mendapati Jia telah berdiri diambang pintu. Bahkan Askara dan Lucas ikut menyusul.
"Darrenjun habis darimana kamu?” Tanya Askara dengan suara menginterupsinya. Dan suaranya benar-benar membuat bulu kuduk Kina merinding. Gadis itu tengah takut sekarang. Ia takut untuk menceritakan hal yang telah terjadi karenanya.
"Rumah teman Jawab Darrenjun acuh.”
Darrenjun kembali mendorong tubuh Kina untuk segera pergi dari rumahnya. Tapi sayangnya, hal itu malah semakin membuat Kina kukuh untuk tetap disitu.
"Om, Tante, kak Lucas,” Ucap Kina sembari mengabsen semua keluarga Darrenjun yang ada disitu.
"Iya ada apa?” Kembali Askara yang berucap dan hal itu membuat Kina meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Hmm.. itu saya—“
"Lo pulang sana,” Usir Darrenjun. Lelaki itu memasang kode agar Kina segera tutup mulutnya.
Kina menggelengkan kepalanya kuat. Bagaimana pun ini kesalahannya dan dialah orang yang harus bertanggung jawab dengan semua ini. Kina mendekat menghampiri ketiga keluarga Darrenjun itu. Gadis itu melipat kedua tangannya seperti orang yang sedang meminta ampun.
"Om. Tante. Kak Lucas. Saya minta maaf. Karena kebodohan saya motor Darrenjun disita.” Kina berucap sambil terisak. Gadis itu takut, takut Askara akan mengamuk. Mengingat bagaimana suara menggelegar lelaki itu jika marah.
Darrenjun menepuk wajahnya dengan tangannya. "Dasar bego,” Gumamnya.
Askara menatap tajam Darrenjun. "Kamu masih ikut balap liar?”
Darrenjun tak menjawab. Lelaki itu memandang segala arah berusaha tak
peduli dengan ucapan Askara yang memang tertuju untuknya.
"Maaf om. Saya janji bakalan cari cara untuk mengganti kerugian motor Darrenjun. Hiksss.”Kina meremat jemarinya kuat-kuat. Jantungnya berdebar bukan main. Gadis itu tak hanya takut. Tetapi ia benar-benar takut sekarang.
Askara menghelakan nafasnya pelan dan menatap Kina lembut. Pria itu tau bahwa Kina sedang takut. "Kamu gak perlu ganti motor Darrenjun. Om memang berencana untuk membuang motornya. Jadi om ucapin terima kasih buat kamu,” Jelas Askara.
Kina memandang Askara takjub. Ia tak menyangka bahwa ia diberi ucapan syukur bukan sebaliknya.
"Om boleh minta tolong sama kamu?"
Kina mengangguk cepat. "Boleh om. Apa itu?”
"Mulai sekarang. Kamu harus ngantar dan jemput Darrenjun kesekolah dengan selamat sampai tujuan. Kamu juga harus kasih tau segala kegiatan Darrenjun sama om. Tolong awasi dia sebaik-baiknya ya,” Ucap Askara pada Kina.
Baru saja Darrenjun ingin membantah. Askara lebih dulu melempar tatapan tajam pada lelaki itu.
"Siap om!" Jawab Kina dengan semangat.
Kina langsung memberi hormat pada Askara. Seolah-olah permintaan Askara barusan adalah perintah yang begitu penting untuknya.
Askara tertawa dengan tingkah lucu Kina itu.
Gadis itu bernafas lega sekarang. Karena ia tak perlu lagi pusing-pusing memikirkan bagaimana mencari uang untuk mengganti motor Darrenjun.
...******...
...*đź’“Cutton Candyđź’“*...
...Semoga kalian menyukai karya yg aku tulis 🙏 (amin)...