
Michael melepaskan ciumannya dari bibir Sarah. Mereka berdua saling mentap.
"Suka atau tidak, aku akan membuat ini jadi pernikahan yang sebenarnya", ucap Sarah menantang Michael dengan lirih dan tersenyum tipis.
Michael tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengelus rambut Sarah. Keluarga dan tamu undangan yang tidak mengetahui pembicaraan mereka justru malah bertepuk tangan dan bersorak.
Setelah pesta usai, Michael & Sarah berpamitan kepada keluarganya untuk pulang ke rumah Michael.
"Aku akan di rumah kakek nenek dulu, papa dan mama Sarah akan menjemputku pada hari Rabu kan? Kata nenek begitu", ucap Lucy sambil memeluk Sarah. Sarah hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jangan nakal ya, good girl okay?", ucap Michael sambil membungkuk dan mencium kepala Lucy
Sarah terlihat sedih saat berpamitan dengan keluarganya.
"Jaga Sarah untukku ya", pesan Lois saat berpelukan dengan Michael. Michael tersenyum dan mengangguk. Sarah dan Michael segera meninggalkan tempat pernikahan mereka dan segera menuju ke rumah Michael. Sarah terlihat menahan air matanya. Dia melihat ke luar jendela mobil.
"Ga usah sedih, jarak rumahku dan orangtuamu kan ga begitu jauh. Kau bisa mengunjungi mereka setiap saat", kata Michael sambil memberikan tisu kepada Sarah.
Sarah langsung mengambil tisu tersebut. "Kamu ga tau gimana rasanya. Laki-laki mana paham hal beginian", jawab Sarah sambil menyeka air matanya tanpa memandangi Michael.
Sesampainya di rumah Michael, Sarah agak kerepotan saat akan berganti baju. Dia kesusahan menarik resleting gaunnya. Sudah 10 menit ia di kamar mandi, namun resleting gaun belum terbuka jg. Akhirnya Sarah memutuskan untuk meminta tolong kepada Michael. Dengan rambut yang sudah diurai, dia keluar kamar mandi dengan membawa handuk. Sarah menghampiri Michael yg sedang rebahan di kasur dan memejamkan matanya.
"Hey... tolong bantu aku untuk menarik resleting gaunnya", seru Sarah mendekati Michael.
"Yg kau maksud 'hey' itu siapa?", jawab Michael sambil menggoyang-goyangkan kakinya namun matanya masih terpejam.
Sarah agak kesal dengan jawaban Michael. "Michael William, tolong bukakan resleting gaunku", jawab Sarah dg senyum yg terpaksa.
Michael beranjak dari tidurnya dan berdiri di depan Sarah. Sarah segera membalikkan badannya dan menyibakkan rambutnya agar Michael dapat menarik resletingnya.
"Buka resleting aja ga bisa?", seru Michael sambil menarik resleting gaun Sarah.
"Agak susah tadi bagian atasnya, tanganku sakit", jawab Sarah sambil memegangi rambutnya.
Michael terdiam sesaat memandangi leher & punggung mulus Sarah. Michael terlihat menelan ludahnya. Tiba-tiba Sarah menutupi punggungnya dengan handuk.
"Terimakasih", ucapnya singkat sambil berjalan menuju kamar mandi.
Michael berjalan keluar kamar dan menggunakan kamar mandi di kamar Lucy. Setelah selesai membersihkan diri, Sarah keluar kamar dan menuju dapur. Dia membuka kulkas dab melihat kulkas yang telah berisi banyak bahan makanan. Dia mengambil sebotol air mineral lalu duduk di lantai bersandarkan kitchen set. Dia segera membuka botol dan meminumnya. "Aahhh... capek sekali hari ini. Lebih capek dari seharian ada di toko", keluh Sarah dengan suara pelan.
Michael yg hendak ke dapur kaget melihat Sarah yg duduk di lantai. "Ngapain kamu?", tanya Michael sambil membuka kulkas & mengambil air mineral.
"Kamu ga liat aku lagi ngapain?", jawab Sarah dengan tatapan sinis ke arah Michael. Michael tidak merespon, dia tetap minum dengan santai.
"Terserah kau mau tidur dimana, tidur sekamar berdua juga boleh. Aku ga akan ngapa-ngapain kamu. Seterusnya bakal kayak gitu", ucap Michael sambil memandangi Sarah.
Sarah segera beranjak dari posisi duduknya dan berdiri tepat di depan Michael. "Kalo udah nikah, itu tidurnya bareng", jawab Sarah menantang dan segera pergi meninggalkan Michael, berjalan menuju kamar tidur.
Michael menghela nafas. "Berani sekali dia!", gumamnya sambil meletakkan botol air dan segera menyusul Sarah di kamar. Begitu masuk ke kamar, dia melihat Sarah sudah bersiap untuk tidur. Tanpa pikir panjang, Michael segera membaringkan dirinya di sebelah Sarah. Michael memunggungi Sarah.
"Kamu ga ngorok kan, Mic?", tanya Sarah sambil menyolek punggung Michael.
"Mau ngorok atau enggak bukan urusanmu!"
"Aku ga bisa tidur kalo kamu ngorok. Papa sama kak Lois ngoroknya kenceng sekali"
Michael tidak merespon. Sarah pun segera membalikkan badannya memunggungi Michael dan segera mencoba utk tidur. Mereka segera terlelap karena kelelahan.
Pukul 6 pagi, alarm Michael berbunyi. Mereka masih tertidur pulas karena kelelahan. Michael segera membuka matanya dan melihat wajah Sarah tepat di depannya. Mata Michael membelalak. Mereka tidur saling berhadapan dg jarak yg berdekatan. Michael segera memalingkan dirinya dan mematikan alarm.
"Kenapa bisa sedekat ini?", gumam Michael dalam hati sambil duduk. Dilihatnya Sarah yang menggeliat dan membuka matanya.
"Sudah jam berapa ini?", tanya Sarah sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Jam 6", jawab Michael sambil menggosok matanya. Sarah kaget dan segera bangun dari tidurnya. Dia segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menuju dapur.
Michael masih dalam posisinya duduknya di tempat tidur, dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Sarah. Michael segera pergi ke dapur dan membuka kulkas untuk mengambil minum. Dilihatnya Sarah sedang sibuk menyiapkan bahan makan untuk masak sarapan.
"Masak apa?", tanya Michael setelah minum air putih.
"Spaghetti aja lah yang cepet. Aku udah keburu lapar", jawab Sarah sambil sibuk merebus pasta dan menyiapkan bahan lainnya.
Michael hanya mengangguk. Dia berjalan menuju kamar untuk mengambil ponselnya dan kembali ke dapur untuk duduk di meja makan. Dia melihat-lihat ponselnya. Tampak ada banyak pesan dr Kevin, fotografer yang memotret mereka kemarin.
"Kevin kirim banyak foto, katanya kalo mau dipasang di socmed", ucap Michael sambil menggeser layar ponsel untuk melihat foto-fotonya.
"Udah kamu masak dulu sana, ntar aku kirimin ke kamu", ucap Michael sambil menegakkan posisi duduknya dan memainkan ponselnya.
"Dasar pelit!", gerutu Sarah. Michael tidak menggubrisnya.
*Beberapa saat kemudian saat sedang sarapan*
"Jadi kita di rumah aja nih?", tanya Sarah sambil meletakkan garpu makannya.
"Iyalah, emang mau kemana?", jawab Michael cuek tanpa memperhatikan Sarah dan terus melahap spaghettinya.
"Ke rumah mama yuukkk... main sama Lucy. Dia kan libur sekolah", rayu Sarah dengan wajah memelas. Michael menoleh ke arah Sarah. Seketika Michael tersenyum tipis melihat wajah memelas Sarah.
"Oke, nanti siangan kita kesana", ucap Michael sambil menganggukkan kepalanya.
"Yeaaayyyyy", sahut Sarah sembari merapikan piring kotornya dan membawanya ke wastafel.
*Di rumah orangtua Sarah*
Alice mendekati ibu mertuanya yg sedang melamun di ruang keluarga.
"Mama kenapa?", tanya Alice sambil memeluk Rachel.
"Mama memikirkan Sarah, apa dia bisa memperlakukan Michael dengan baik? Dia kan keras kepala", ucap Rachel sambil mengubah posisi duduknya menghadap ke Alice.
"Ma, Michael kan lebih dewasa dari Sarah. Usia mereka selisih 6 tahun, Sarah pasti akan memperlakukan Michael dengan baik. Mereka terlihat saling mencintai kan", ucap Alice meyakinkan ibu mertuanya. Rachel mengangguk.
*Di rumah Michael*
Michael telah bersiap, dia menunggu Sarah di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Sesekali dia melihat ke arah kamar tidurnya, Sarah belum jg keluar. Padahal sudah hampir 30 menit Michael menunggu Sarah. Akhirnya Michael memutuskan utk mengecek Sarah di kamar.
"Ngapain aja sih? Lama banget!", seru Michael sambil membuka pintu kamar. Dilihatnya Sarah sedang duduk diam di depan meja rias. Sarah menoleh ke arah Michael dengan wajah memelas.
"Aku lupa ga bawa make up kesini, cuma ada lip gloss doang ditas"
"Trus dari tadi duduk diem aja disini gitu?"
"Ya gimana, wajahku pucat gini masak mau ke rumah mama?"
"Pake lip gloss aja dulu, nanti kita beli make up sekalian ngajak Lucy jalan-jalan", ucap Michael seraya memberikan kode agar Sarah segera keluar kamar. Sarah tersenyum lebar, dia segera memakai lip gloss dan menyusul Michael.
Sepanjang perjalanan ke rumah orangtua Michael, Sarah tak henti-hentinya melihat cermin kecil yang ada di tasnya. Michael merasa merasa risih dengan Sarah pun segera membelokkan mobilnya ke deretan pertokoan di pinggir jalan. Matanya melihat-lihat pertokoan itu dan memarkir mobilnya di depan sebuah toko.
"Mau beli apa?", tanya Sarah sambil menoleh ke arah Michael.
"Beli make up sekarang aja tuh, dari tadi ngaca mulu", jawab Michael sambil mematikan mesin mobilnya. Sarah tersenyum lebar dan segera turun dr mobil. Michael dan Sarah segera memasuki toko make up tersebut. Michael terus berjalan menuju meja kasir, sambil melihat Sarah yg sedang asik memilih-milih make up. Sarah mengambil beberapa kosmetik yang biasa ia kenakan. Pembersih wajah, krim pelembab wajah, bedak, lipstik maskara dan eye shadow.
"Apa Anda ingin mencoba pensil alis ini, nona? Ini merk terlaris saat ini", ucap salah seorang pegawai toko sambil menwarkan pensil alis pada Sarah.
"Eehhh... enggak, terimakasih. Alisku udah tebal kok", tolak Sarah sambil tersenyum. Sarah segera menuju meja kasir. Dia segera meletakkan kosmetiknya di meja dan membuka tasnya utk mengambil dompet untuk membayar. Tapi Michael sudah terlebih dulu menyodorkan kartu debit kepada kasir untuk membayarnya. Sarah langsung menahan tangan Michael.
"No!! Aku bawa kartu kok, uang cash juga ada", seru Sarah.
"Aku suamimu, paham?", jawab Michael dengan mata agak melotot ke Sarah. Sarah segera mengambil kosmetiknya dan berdandan dia depan cermin yg ada di dalam toko. Michael langsung berjalan keluar toko dan menunggu Sarah di mobil.
Tak berapa lama Sarah keluar toko, bukannya masuk mobil dia malah menuju toko buah yang letaknya tak jauh dari toko kosmetik.
"Ngapain dia?", ucap Michael penasaran.
Saat Sarah kembali, dia sudah membawa sekeranjang besar parcel buah dan meletakkannya di kursi belakang mobil.
"Ngapain beli buah banyak banget?"
"Berkunjung ke rumah orangtua itu ga boleh dengan tangan kosong, paham?", jawab Sarah sambil memasang sabuk pengaman. Michael segera menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan ke rumah orangtuanya.
"Trus tadi lama di dalam toko kosmetik enggak jadi dandan?", ujar Michael sambil melirik Sarah.
"Udah kok. Emang kamu ga lihat aku udah cantik begini?"
"Ohhh udah dandan? Ga ada perubahannya"
Sarah tidak merespon perkataan Michael, dia menggerakkan bibirnya menirukan mimik perkataan Michael. Tanpa sadar, Michael tersenyum dan mengusap kepala Sarah beberapa kali.
"Dia kenapa?", gumam Sarah penasaran dalam hati. Sarah kaget dengan sikap Michael barusan. Dia hanya memandangi Michael yang tetap fokus mengemudikan mobil.