
Sarah pulang ke apartemen lebih awal, kemudian dia menyibukkan diri dengan menata ulang perabotnya. Ponsel Sarah berdering, Sarah menghentikan aktifitasnya lalu beranjak mengecek notifikasinya. Ya, Michael mengirimkan sebuah pesan.
"Aku akan ke Vancouver selama 3 hari, Lucy merengek ingin menginap denganmu. Apa kamu keberatan?"
"OK, ga masalah", balas Sarah
"Pak Kim akan mengantarnya besok, Thx"
"Kenapa dia ga antar sendiri?", gumamnya dalam hati.
Sementara itu di rumah orangtua Michael, Lucy begitu gembira akan menginap beberapa hari dengan Sarah.
"Hanya Sabtu Minggu aja ya, sayang. Mama Sarah kan ada banyak kerjaan", ucap Lidya sambil mengemas baju-baju Lucy.
"Tapi papa bilang boleh tiga hari sampai papa pulang"
"Kalo tiga hari, nanti gimana sekolahnya? Nanti kapan-kapan nginep lagi sama mama Sarah", Lidya mencoba meyakinkan Lucy.
"Papaaaaaa...", seru Lucy saat melihat Michael membuka pintu kamarnya. Dia segera berlari dan memeluk ayahnya.
"Nenek bilang aku hanya menginap dua hari di rumah mama", kata Lucy.
"Sabtu Minggu aja, Mic. Nanti biar mama jemput hari Minggu sorenya, kasian Sarah"
"Oyaudah, nanti mama bilang aja sama Sarah"
"Mama seneng Sarah bisa begitu perhatian sama Lucy, sayangnya ini semua akan berakhir", ucap Lidya bernada sedih.
Michael hanya diam saja sambil menatap kosong Lucy yang asik bermain.
"Apa... kalian ga bisa balikan lagi, Mic?", tanya Lidya membuyarkan lamunan Michael.
Michael menghela nafasnya dan menggelengkan kepala.
Lidya mulai meneteskan air matanya. "Kenapa ini semua terjadi begitu cepat?"
Michael menghampiri Lidya dan memeluknya. "Udah, ma. Aku mohon jangan dibahas lagi, ada Lucy disini", ucap Michael lirih.
***
Sabtu pagi, Sarah sudah bersiap menunggu kedatangan Lucy di apartemennya. Bel pintu berbunyi ketika Sarah sedang merapikan bantal di sofa. Mata Sarah membelalak ketika mengetahui Michael yang mengantar Lucy ke rumah Sarah.
"Dia bilang pak Kim yang akan mengantar Lucy kesini" gumam Sarah dalam hati.
"Mamaaaa...", teriak Lucy sambil memeluk Sarah.
"Pak Kim sedang tidak enak badan, jadi aku yang mengantarnya kesini", jelas Michael sambil meletakkan tas baju milik Lucy.
"Dan... ini ada paket dari Denis", kata Michael sambil menyerahkan sebuah kotak pada Sarah.
"Terimakasih", jawab Sarah.
"Mama... aku mau nonton TV ya", kata Lucy yang kemudian berlari ke sofa mengambil remote tv.
"Semua perlengkapan Lucy ada ditas ini, telpon bibi Rose aja kalo butuh sesuatu"
Sarah mengangguk. Michael berjalan mendekati Lucy untuk berpamitan, Sarah memperhatikan interaksi Michael dan Lucy dari kejauhan.
"Papa akan pergi sebentar, oke? Jangan membuat mama Sarah kerepotan, kamu harus good girl ya"
"Baik, papa. Aku akan menuruti semua perkataan mama"
Michael mencium kedua pipi Lucy, lalu beranjak mendekati Sarah untuk berpamitan.
"Eeee... Michael, berkas itu... aku belum sempat mengisinya. Maaf", ucap Sarah saat Michael akan keluar apartemennya.
"OK. Kabarin aja jika semuanya telah siap. Aku titip Lucy ya", ucap Michael sambil keluar apartemen Sarah.
Sarah tidak menjawab, dia segera menutup pintu apartemennya. Pandangan Sarah tertuju pada paket dari Denis yang ia letakkan dimeja. Sarah mengambil kotak kiriman Denis itu dan membukanya bersama Lucy.
"Wow... cokelat!", seru Lucy girang.
"Kamu mau?", ucap Sarah sambil menyodorkan cokelatnya.
Sarah meraih ponselnya dan menelpon Denis. Ia harus meminta penjelasan dari Denis. Ia tak menyangka Denis benar-benar mengiriminya cokelat favoritnya dalam jumlah banyak.
"Hei, Sarah. Apa paketnya udah sampai?", tanya Denis mengawali pembicaraan.
"Iya, udah. Terimakasih banyak"
"Nanti aku kirimin lagi cokelat dari sini"
"Eeee... ga perlu, Den"
"Enggak, dia enggak marah kok"
"Kalian ada masalah? Ada apa, Sarah?"
"Gapapa, Den. Jika mau kirim sesuatu, ke toko aja. Jangan kirim ke rumah Michael. Kirim yang lebih banyak dari ini ya", canda Sarah.
"Kenapa? Apa... kalian berpisah?"
"Eeee... Denis maaf, aku harus mengurus Lucy sekarang. Lain waktu kita ngobrol lagi, bye...", Sarah mengakhiri panggilannya.
Sarah tersenyum melihat wajah Lucy yang belepotan makan cokelat, dia meraih tisu dan mengelap wajah Lucy.
"Mama kenapa ga pulang ke rumah? Apa mama tinggal di rumah ini sekarang?", tanya Lucy.
"Iya, mama tinggal disini"
"Kenapa? Apa aku nakal?"
Sarah tersenyum. "Enggak, sayang. Mama cuma pengen aja tinggal disini"
"Kenapa papa sama aku ga ikut mama tinggal disini? Rumah mama ini bagus, tapi kecil", ucap Lucy sambil tertawa.
"Kecil ya?", jawab Sarah mengelitiki Lucy.
"Iyaaaa... hanya ada satu kamar, dan kasur mama juga kecil. Aku, papa sama mama ga muat tidur disitu", ucap Lucy sambil menahan tawanya.
Sarah hanya tersenyum. "Mau jalan-jalan kemana?"
"Aku mau ke toko mama aja, mau sama mama terus"
"Mau ke toko? Oke, mama siap-siap dulu ya"
Sarah dan Lucy segera pergi ke toko. Alice dan semua karyawan Sarah begitu gembira menyambut Lucy yang sudah lama tidak dijumpai. Ellen mengajak Lucy menuju dapur untuk menghias kue kesukaan Lucy, Sarah dan Alice duduk di meja pojok ruangan.
"Nanti malam nginep di rumah mama kan?", tanya Alice.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku... cuma mau menikmati waktu berdua sama Lucy"
Alice tersenyum. "Leona pasti senang melihatmu begitu menyayangi Lucy seperti ini"
"Aku... bersedia menikah dengan Michael karena Lucy. Aku menyayanginya seperti anak yang aku lahirkan sendiri"
"Michael emang ga salah pilih istri", ucap Alice sambil tersenyum.
Sarah hanya melirik Alice tanpa ekspresi.
"Masalah perceraiannya sudah selesai?"
Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku akan menyerahkan berkasnya setelah perjalanan bisnisnya ke Vancouver"
"Kamu yakin, Sarah?"
Sarah mengangguk. "Aku... telah memikirkannya berulang kali, kak. Aku yakin dengan keputusanku ini"
"Bagaimana dengan Lucy?"
"Dia... Aku yakin dia ga akan terluka sama sekali', ucap Sarah dengan mata berkaca-kaca.
Alice menggenggam kedua telapak tangan Sarah. "Aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk memutuskan ini, Sarah", ucapnya.
Sarah menyeka air matanya saat melihat Lucy datang menghampirinya dengan membawa sebuah cupcake yang baru saja dia hias bersama Ellen.
"Mama kenapa nangis?", tanya Lucy.
"Eeee... enggak, mama ga nangis"
"Apa aunty Alice nakal sama mama?", canda Lucy sambil tertawa.
Sontak perkataan Lucy barusan membuat Sarah dan Alice tertawa.
"Papa bilang mama akan sibuk bekerja dan tidak tidur di rumah. Aku harus good girl kalo pengen ketemu sama mama Sarah"
Sarah hanya diam memandangi Lucy.
"Papa bilang begitu?", tanya Alice.
Lucy mengangguk. "Aunty Alice harus bantu mama ya biar kerjaannya cepat selesai, jadi mama bisa pulang ke rumah lagi", ucap Lucy yang kemudian asik makan cupcake.
Sarah memalingkan wajahnya dari Lucy, air matanya kembali berjatuhan mendengar perkataan Lucy. Alice hanya bisa menenangkan Sarah dengan mengelus punggung tangan Sarah.