Cupcake's Love

Cupcake's Love
#62



"Bapak, memanggil saya?", kata pak David sembari menutup ruangan Michael.


"Sudah kirim orang untuk mengawasi Sarah?"


"Sudah, pak"


"Jaga jarak dengan Sarah, cukup awasi orang-orang yang mendekatinya. Terutama Angela"


Michael menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan surel dari Denis kepada pak David.


"Cari informasi lain soal Angela, hubungi juga mantan suaminya. Dia pasti punya masalah juga dengan Angela. Beri penawaran agar dia mau bekerja sama dengan kita. Aku akan kirim filenya ke ponselmu", kata Michael.


"Baik, pak. Akan saya lakukan"


"Eeee... pak David, carilah waktu senggang bersama keluargamu. Rencanakan kemana kalian ingin berlibur, aku akan biayai semuanya"


Pak David begitu terkejut mendengar perkataan Michael. "Ada apa, pak? Apa... bapak... memecat saya?", tanya pak David gugup.


"Hahahaha... bukan, pak. Itu sebagai rasa terimakasihku kepadamu. Terimakasih telah memberikan video di The Edgewater kepada Sarah meskipun aku sudah melarangmu. Jika bukan karenamu, mungkin sekarang kami benar-benar telah berpisah"


"Tapi... saya melakukannya karena untuk menebus kesalahan saya, pak. Karena saya telah memberitahu jadwal bapak kepada nyonya Angela"


"Sudahlah, pak. Diskusikan saja dengan keluargamu, jika sudah membuat keputusan kabari saja. Kau juga butuh waktu istirahat bersama keluargamu, kau telah banyak membantuku"


"Eeee... baik, pak. Akan saya diskusikan dengan istri saya, terimakasih banyak pak. Saya tidak tahu bagaimana cara saya membalas kebaikan bapak"


"Bekerjalah lebih giat lagi, itu sudah cukup"


"Baik, pak. Saya... permisi dulu"


"Tunggu, apa Marie sudah mempersiapkan segala keperluan meeting nanti?"


"Sudah, pak. Saya sudah mengeceknya, dia sedang ijin keluar karena ada keperluan pribadi"


"Di jam kerja?", ucap Michael dengan mengernyitkan dahinya.


"Saya sudah melarangnya, tapi dia bilang ini kepentingan yang mendesak. Jadi saya memberinya waktu hingga waktu meeting dimulai"


"Jangan terlalu lembek dengannya, ajari dia untuk bekerja sepertimu"


"Baik pak, akan saya lakukan. Kalo begitu saya permisi dulu"


***


*Di toko Sarah*


Alice dan Sarah masih saja sibuk membicarakan perubahan Denis sembari membuat adonan kue di dapur.


"Kalo tahu begitu, harusnya aku menikah dari dulu ya kak. Ternyata cuma suamiku yang bisa membuat Denis menyerah mengejarku", canda Sarah.


"Kalo kau menikah dari dulu, belum tentu Michael yang jadi suamimu. Apa kau mau?"


Sarah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Aku cuma mau Michael, aku ga mau pria lain. Meskipun itu Zayn Malik sekalipun", ucapnya dengan raut wajah malu.


"Kau yakin Zayn Malik mau denganmu?", canda Alice sambil tertawa terbahak-bahak.


"Aku kan cuma berandai-andai, kak. Lagian mana mungkin Zayn Malik menikahi seorang penjual kue hahahaha"


"Mungkin aja, Sarah. Kamu bisa menikah dengan Michael sebelumnya juga kamu ga tahu kan?"


Sarah menggelengkan kepalanya dengan senyuman lebarnya.


"Ehh... harusnya tadi Lois disini ya, dia pasti ga akan percaya Denis mengatakan hal itu. Saat kau koma kemarin, di rumah Lois sering banget dia bilang mau buka tulang tengkorak Denis dan mengacak-acak otaknya. Dia bilang Denis udah ga guna otaknya sampai ngebuat kamu celaka kayak gitu"


"Hahahahaha... dokter gila!", celetuk Sarah sambil menggelengkan kepalanya.


"Heh... itu kan kakakmu, bagaimana pun juga dia yang selalu melindungimu sebelum diambil alih oleh Michael", kata Alice sambil mencubit gemas pipi Sarah.


Ponsel Sarah berdering, Sarah segera melepas sarung tangan yang ia kenakan dan mengangkat telponnya.


"Ada apa, sayang?"


"Denis udah pulang?", tanya Michael.


"Iya, udah. Ada apa?"


"Aku udah minta pak David untuk mengirim orang yang mengawasimu, eee... maksudku untuk menjagamu. Dia akan akan menjaga jarak denganmu, ga usah khawatir"


"Siapa dia?"


"Kamu baru akan tahu siapa dia kalo kamu sedang terancam"


"Aahhh... sayang, kamu membuatku merinding saja. Aku ga perlu seperti itu, aku bisa jaga diri. Terlebih disini kan banyak orang, ada kak Alice, aku juga bawa mobil jadi ga akan kemana-mana setelah dari toko"


Sarah menghela nafasnya. "Baiklah, terimakasih banyak telah mengkhawatirkanku"


"Kamu ngelantur? Jelas aku mengkhawatirkanmu karena kamu istriku"


"Hahahaha... iya, sayang. Aku tahu itu"


"Kalo begitu menurutlah, aku cuma ga pengen terjadi apa-apa sama kamu"


"Pulanglah awal, aku jadi pengen cium kamu"


"Hahahaha... abis meeting aja aku bisa langsung pulang kalo kau mau", goda Michael.


"Ehh? Jangan sayang, di toko masih banyak kerjaan"


"Aku juga akan ada meeting sebentar lagi, akan kutagih janjimu di rumah ya", ucap Michael sambil tersenyum lebar.


"Baiklah, aku mengerti sayangkuuuuu... Bye..."


Sarah meletakkan ponselnya kembali di tasnya yang tergantung di dekat loker.


"Michael kenapa?", tanya Alice.


"Dia kirim orang untuk mengawasiku, kesannya malah kayak aku yang bersalah ya hahahaha"


"Itu karena Michael mengkhawatirkanmu. Dia pasti ga mau kejadian yang disebabkan oleh Denis kemarin terulang lagi"


"Kakak benar"


***


*Di sebuah Kafe*


Angela bertemu dengan seorang wanita yang dikenalnya.


"Kamu udah lama kan kerja dengan Michael", tanya Angela.


Wanita itu hanya mengangguk tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Marie, ga usah takut begitu. Aku cuma mau minta bantuanmu"


"A... apa itu, nyonya?"


"Seberapa sering kau masuk ruangan Michael?"


"Eeee... tidak begitu sering, nyonya. Hanya saat meletakkan minuman atau makanan yang pak Michael inginkan. Selain itu, diurus oleh pak David semua. Saya hanya bekerja diluar ruangan pak Michael"


"Bagus! Kau pasti bisa membantuku"


"Ta... tapi... apakah itu akan membahayakan bagi saya, nyonya?"


"Kamu ga perlu khawatir, jika Michael memecatmu maka aku akan mempekerjakanmu. Sebentar lagi aku akan menguasai Treasure Island"


"Nyonya benar akan mempekerjakanku kan? Apa nyonya bersungguh-sungguh?"


"Hei... apa aku terlihat seperti pembohong?", bentak Angela.


Marie menggelengkan kepalanya.


"Kau jalankan saja tugasmu nanti, jika kau berhasil dan memperlancar misiku, aku juga akan memberikan bonus untukmu"


"Ba... baik, nyonya. Jadi... apa yang harus saya lakukan?"


"Ambil ponsel Michael begitu ada kesempatan. Matikan ponselnya dan segera serahkan padaku"


"Ta... tapi nyonya, itu sangat tidak mungkin. Aku... jarang melihat pak Michael meninggalkan ponselnya di meja"


"Makanya kau cari cara agar Michael meninggalkan ponselnya di ruangannya!", gertak Angela dengan meninggikan nada bicaranya.


"Kau cari cara sendiri, pikir dengan otakmu itu. Aku cuma minta ponsel Michael, caranya kau pikirkan saja sendiri. Ngerti?", sambung Angela.


"Baik, nyonya. Saya akan berusaha", jawab Marie dengan gemetar.


"Tunggu... tunggu... jika kau mengambil ponselnya secara diam-diam, Michael akan bisa melacak keberadaan ponselnya. Lebih baik, kau kirimkan pesan kepada istrinya dengan ponsel Michael. Setelah pesan terkirim dan menjawab jawaban, segera hapus pesannya. Pastikan Michael tidak mengetahui isi dan balasan pesannya. Kamu ngerti kan?"


"Pesan apa yang harus saya kirimkan, nyonya?"


Angela segera mengambil tisu dan pulpen dari tasnya, lalu menuliskan sesuatu pada selembar tisu itu dan menyerahkannya pada Marie.


"Pastikan Michael tidak mengetahuinya sama sekali, kalo sampai kerjamu ga bener, aku akan menghancurkan keluargamu", ancam Angela.