Cupcake's Love

Cupcake's Love
#18



Keesokan harinya, Sarah pergi ke toko seperti biasanya. Dia disibukkan dengan pesanan kue untuk ulang tahun anak. Alice yg telah sehat datang untuk membantu Sarah. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya, dia meraij ponsel dan menelpon ke rumah.


"Bibi Rose, Lucy sedang apa?", kata Sarah.


"........."


"Ohh... tolong sampaikan padanya aku akan pulang agak malam karena ada banyak kerjaan. Terimakasih banyak telah membantu menjaga Lucy untukku", ucap Sarah mengakhiri panggilan telponnya.


"Tumben Denis ga kesini", tanya Alice.


"Entahlah, mungkin karena kejadian kemarin", jawab Sarah.


"Michael adalah orang kedua yg dia takuti setelah Lois", ucap Alice sambil tertawa.


Sarah tertawa mendengar perkataan Alice. "Kakak pulang saja, bayimu pasti capek setelah seharian membantuku", kata Sarah.


"Tapi aku tetap dapat gaji full kan?", canda Alice.


"Iyaaaa... tenang saja. Aku juga akan kasih bonus saat kakak melahirkan nanti", jawab Sarah sambil memijit pundak Alice.


Sore harinya, Sarah pulang dari toko dengan membawa sebuah kue. Dia pergi ke sebuah taman dan berjanji bertemu dengan seseorang. Dia duduk di taman menunggu seseorang tersebut datang.


"Ada apa?", ketus Denis yg baru saja datang dan duduk di sebelah Sarah.


Sarah terkejut. "Kenapa lama sekali?", tanya Sarah.


"Aku ada meeting tadi. Ada apa memintaku bertemu?", tanya Denis.


Sarah menyodorkan kue yg ia bawa. Denis membuka kotak yg berisi kue ulang tahun itu dan menoleh ke arah Sarah.


"Aku ga akan lupa kapan kamu berulang tahun", ucap Sarah dengan senyum yg lebar. "Selamat ulang tahun ya!", imbuhnya.


Denis tersenyum bahagia. "Apa Michael tidak marah kau melakukan ini?", tanya Denis.


"Hahahaha... enggak akan", jawab Sarah.


"Terimakasih sudah mengingat hari ulang tahunku", ucap Denis sambil memandangi kue ulang tahun dari Sarah.


"Aku harus pulang sekarang, Lucy udah nungguin aku di rumah", kata Sarah.


"Oke, lain kali akan aku traktir makan"


Sarah tersenyum. "Aku pergi dulu ya, bye...", ucap Sarah meninggalkan Denis.


"Aku akan merebutmu dari Michael, Sarah", gumam Denis dalam hati.


Denis segera memotret kue yang Sarah berikan dan menggunggahnya di media sosial.


"Terimakasih selalu mengingat hari ulang tahunku 🖤", tulis Denis pada unggahan fotonya.


Sarah baru melihat unggahan foto Denis pada malam hari, saat sedang menunggu Michael pulang kerja. Sarah pun meninggalkan komentar pada unggahan Denis.


"Dasar pikun, ulang tahun sendiri saja lupa 😑", tulis Sarah.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?", tanya Michael yg baru saja pulang kerja.


"Eee... enggak ada apa-apa", jawab Sarah sambil meletakkan ponselnya dimeja. "Udah makan?", sambung Sarah.


"Iya, udah", jawab Michael sambil memandangi ponsel Sarah.


Sarah yang mengetahui gelagat Michael segera mengambil ponselnya dan menunjukkan postingan Denis yg membuatnya tersenyum. "Aku tadi lihat ini", ucap Sarah.


Michael mengambil ponsel Sarah dan melihat postingannya. "Kenapa ada emoticon love disitu?", tanya Michael sambil menatap tajam Sarah.


"Itu kan Denis yg nulis, bukan aku", jawab Sarah.


"Tapi kenapa kamu berkomentar?"


"Ya kan komentar doang, aku juga ga pake emoticon macem-macem", bela Sarah.


"Tapi tetap saja..."


Sarah segera memeluk Michael dan memotong pembicaraan Michael. "Sudah ku bilang aku ga ada perasaan ke Denis, sayang", ucap Sarah.


Michael membalas pelukan Sarah dengan erat. "Maafkan aku terlalu berlebihan", ucap Michael.


"Cepat mandi dan beristirahatlah, kau pasti lelah hari ini", kata Sarah.


Michael mengangguk dan melepaskan pelukannya. Michael berjalan menuju kamar mandi dan tiba-tiba berbalik badan. "Oiya, besok jika sempat pergilah ke butik Karen. Hari Kamis akan ada gala dinner perusahaan", ucap Michael.


"Kenapa harus dengan kak Karen sih, sayang?", keluh Sarah.


Michael tertawa. "Dia memang seperti itu, sayang. Kamu ga perlu takut, dia hanya bercanda saat menggodamu", jawab Michael.


"Aku ga usah ikut gala dinner ajalah ya, OK?", pinta Sarah.


"Kau harus ikut, sayang. Kau kan istriku. pokoknya besok harus ke butik Karen, OK?", ucap Michael. Sarah menjawab dengan anggukan kepalanya.


***


Keesokan harinya, Sarah sengaja menunggu Lucy pulang sekolah dan mengajaknya ke butik Karen.


"Kalo ada Lucy, dia ga mungkin bisa ngomong sembarangan lagi", gumam Sarah dalam hati.


Sesampainya di butik Karen, Lucy begitu senang akan bertemu dengan Karen.


"Yeaaayyy... aku akan ketemu aunty Karen!", seru Lucy ketika turun dari mobil.


"Pak Kim, tolong tunggu sebentar ya", ucap Sarah seraya menggandeng tangan Lucy dan masuk ke dalam butik.


Karen menyambut kedatangan Sarah dan Lucy.


"Whoaaa... kenapa kau bertumbuh cepat sekali!", seru Karen sambil memeluk Lucy.


"Aku kan makan dengan banyak", jawab Lucy.


Karen dan Sarah tersenyum. "Eee... Lucy, kamu duduk di sebelah sana dulu ya. Aunty akan bantu mama kamu untuk memilih baju", kata Karen.


"OK, aunty", jawab Lucy.


"Emm... hari Kamis besok ada... gala dinner di perusahaan Michael. Jadi aku harus datang", jawab Sarah.


Karen segera menarik tangan Sarah dan membawanya ke sebuah manekin gaun panjang berwarna hitam dan dengan potongan punggung yg rendah. "Ini pasti cocok untukmu", ucap Karen.


Sarah melihat gaun tersebut dari atas ke bawah. "Ini... apa tidak terlalu... seksi?", jawab Sarah rabu.


Karen tertawa. "Kau ini yg benar saja", ucap Karen sambil memukul lengan Sarah. Lucy memperhatikan Karen dan Sarah, kemudian Karen mendekatkan dirinya ke Sarah.


"Banyak wanita di perusahaan Michael selalu berusaha untuk menggodanya. Mereka pasti akan berlomba-lomba untuk menarik perhatian Michael diacara seperti ini. Meskipun Michael terlihat ga peduli, tapi... bisa jadi dia akan tertarik. Kau tahu kan lelaki itu seperti apa?", bisik Karen.


Mata Sarah membelalak, dia menghela nafasnya. Dilihatnya lagi gaun yang cukup seksi baginya itu sambil menggigit jari.


"Ini tidak terlalu seksi, Sarah. Ini akan membuatmu semakin menawan", rayu Karen.


"Hmmm... baiklah, aku akan mencobanya", jawab Sarah.


Karen dan Sarah segera menuju fitting room. Tak berapa lama, mereka keluar dan menghampiri Lucy.


"Claire, bantu nyonya Sarah untuk membungkus gaunnya ya", kata Karen.


"Baik, bu", jawab Claire yg kemudia menghampiri Sarah dan mengambil gaunnya.


Sarah terlihat begitu ragu untuk mengenakan pakaian itu. Meskipun hanya memperlihatkan punggung, tapi Sarah merasa tidak percaya diri karena belum pernah mengenakannya sebelumnya.


"Sarah!", panggil Karen mengagetkan Sarah. "Kau ini sungguh polos sekali. Tenang saja, Michael akan sangat menyukainya", kata Karen dengan senyum lebarnya.


"Aku... hanya takut itu... terlalu... seksi", jawab Sarah terbata-bata.


Karen tertawa. "Enggak, Sarah. Percayalah padaku, semua orang pasti akan kagum denganmu", kata Karen.


Malam harinya selesai makan malam, Sarah menemani Lucy di kamarnya. Sarah sengaja menghindari Michael karena takut akan ditanyai soal gaunnya.


***


Tok... tok...


Michael mengetuk pintu kamar Lucy dan masuk ke dalam kamar.


"Dia udah tidur?", bisik Michael.


Sarah mengangguk. "Iya, baru saja", bisik Sarah.


Sarah segera merapikan selimut Lucy dan keluar kamar Lucy bersama Michael. Saat Michael membaringkan tubuhnya di kasur, Sarah buru-buru pergi ke kamar mandi. Michael penasaran dengan sikap Sarah.


"Kau kenapa, sayang? Apa terjadi sesuatu?", tanya Michael seketika Sarah keluar dari kamar mandi.


"Eeeee... enggak. Enggak ada apa-apa kok", jawab Sarah sembari tidur disamping Michael.


"Apa Karen menggodamu?", tanya Michael.


"Enggak. Kak Karen... sama sekali tidak menggodaku", jawab Sarah.


Michael mengangguk. "Ayo tidur, ini sudah larut", kata Michael sambil meletakkan tangannya diperut Sarah.


***


Hari ini Sarah tidak pergi ke toko, dia memutuskan untuk beristirahat di rumah.


"Kau lelah, sayang?", tanya Michael sambil merapikan tas kerjanya.


"Enggak. Aku cuma mau istirahat aja, aku takut kalo... ntar malam... ngantuk", jawab Sarah.


Michael tertawa. "Tidak perlu tertekan seperti itu. Jika mengantuk bilang aja, kita bisa pulang lebih awal", kata Michael sambil mengelus rambut Sarah.


"Iya", jawab Sarah singkat.


"Kau butuh seseorang untuk membantumu berdandan?", tanya Michael.


"Eee... ga usah, aku bisa sendiri", jawab Sarah.


"Baiklah, jangan terlalu menor ya. Aku ga suka", canda Michael. "Aku akan pulang hanya untuk berganti baju, jadi kau siap-siaplah lebih awal", sambung Michael.


"Baiklah, aku akan melakukannya", jawab Sarah.


Setelah Michael berangkat kerja, Sarah sibuk berselancar di dunia maya untuk mencari referensi make up dan hair do di ruang tengah.


"Apa rambut model begini cocok untuk gaun itu?", gumamnya sembari membaringkan tubuhnya di sofa.


Seharian Sarah berkutat dengan ponselnya. Sarah merasa begitu tertekan karena ini pertama kalinya ia pergi ke acara perusahaan Michael sejak resmi dinikahi Michael. Ketika sedang fokus melihat tutorial penataan rambut, Denis mengirim pesan untuk Sarah.


"Kamu ga ke toko?"


"Enggak. Aku istirahat di rumah, ada apa?"


"Kamu sakit? Nanti malam aku mau traktir kamu makan"


"Maaf Denis, aku ga bisa Nanti malam ada gala dinner di kantor Michael"


"OK"


"Dia pasti marah", kata Sarah sambil cekikikan.


Sarah segera bersiap-siap karena Michael akan datang. Dia berdandan dan menata rambutnya sebisanya.


"Michael bilang jangan dandan yg menor, heeuuuu... mana aku bisa dandan menor", gumam Sarah sambil duduk di depan meja rias. Sarah juga memberanikan diri untuk membuka brankas perhiasan milik Leona. Dia memilih anting chandelier.


"Anting saja cukuplah, aku ga mau terlihat seperti toko mas berjalan", gumam Sarah.


Michael masuk ke kamar ketika Sarah sedang memakai anting. Sarah berbalik badan dan menatap Michael. "Ohh... kau sudah pulang", kata Sarah.


Michael masih berdiri di depan pintu, dia terperangah melihat melihat penampilan Sarah. Sarah begitu menawan dengan gaun itu. Meskipun hanya dengan make up minimalis dan messy losse bun-nya, Sarah terlihat begitu cantik.


"Hanya ini yg aku bisa", kata Sarah.


Michael berjalan mendekati Sarah dan membelai pipinya.


"Kenapa kau semakin cantik?", ucap Michael.