Cupcake's Love

Cupcake's Love
#48



Michael kembali meninju almari disampingnya, Sarah yang merasa takut itu berusaha menahan tangisannya.


"Apa kesalahanku sefatal itu sampai kamu minta cerai?", tanya Michael dengan nada tinggi.


Sarah menunduk sambil menyeka air matanya. Lidahnya benar-benar kelu untuk menjawab pertanyaan Michael.


"Jawab!", bentak Michael.


Sarah menatap Michael dengan mata sembabnya. "Dulu diperjanjian pranikah, kau minta aku untuk bertahan semampuku. Aku pikir hubungan kita sudah cukup sampai disini saja, Mic. Mungkin hanya sejauh ini aku dapat bertahan", ucap Sarah sambil menyeka air matanya yang terus saja mengalir.


"Kamu bisa urus segala proses perceraiannya, aku ga minta apapun dari kamu, kecuali kebebasan untuk menemui Lucy", sambung Sarah yang kemudian meninggalkan kamarnya.


Sarah kembali pulang ke rumah orangtuanya, Rachel mulai curiga ada yang tidak beres dengan rumah tangga Sarah.


"Duduklah... cerita sama mama papa apa yang sedang terjadi antara kamu dan Michael", tanya Harry.


Mata Sarah mulai berkaca-kaca lagi, namun ia tahan untuk tidak menangis agar tidak membuat orangtuanya semakin sedih.


"Ada masalah yang terjadi diantara kami, tapi... aku ga bisa cerita ke mama dan papa. Kami... telah memutuskan untuk... berpisah", ucap Sarah dengan lirih.


"Apa? Kalian akan berpisah?", tanya Rachel.


Sarah hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian? Kenapa sampai memutuskan untuk berpisah?", kata Rachel sambil meneteskan air mata.


"Apa kalian sudah memikirnya matang-matang?", tanya Harry.


"Ini sepertinya keputusan terbaik, pa", jawab Sarah.


"Kau gila, Sarah! Kau sungguh gila! Mana ada perceraian itu sebagai keputusan terbaik?", kata Rachel dengan nada tinggi.


"Tapi jika aku dan Michael terus bersama maka kami akan saling menyakiti, ma. Tolong mengertilah", jawab Sarah yang tangisannya tetiba pecah itu.


"Tapi... jika kalian berpisah, Lucy akan lebih tersakiti lagi, Sarah", kata Harry.


"Aku akan tetap membantu merawatnya, pa", ucap Sarah sebelum akhirnya menangis terisak di depan orangtuanya.


"Aku akan pindah dari sini. Aku akan menyewa rumah untuk menenangkan diri"


Harry mengangguk. "Kau bisa kabari kami jika butuh bantuan", jawab Harry.


***


Malam itu juga, Sarah mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah orangtuanya. Dia memutuskan untuk menumpang bermalam di rumah Olive sambil mencari tempat tinggal yang nantinya akan ia tempati.


"Sarah, ini mama mertuaku", kata Olive.


"Halo, tante. Saya Sarah, teman SMAnya Olive" tangan Sarah terulur kepada ibu mertua Olive.


"Oh, hai Sarah. Akhirnya kau datang berkunjung. Beberapa hari yang lalu Olive bercerita bertemu denganmu di Food tours. Aku Patricia", ucap mertua Olive sembari menjabat tangan Sarah.


"Olive, biarkan Sarah tidur denganmu. Joseph kan sedang tidak ada di rumah", sambung Patricia.


"Baik, ma. Kalo begitu, aku akan mengajak Sarah ke kamar sekarang", Olive segera mengajak Sarah ke kamarnya. Disana, Sarah menceritakan apa yang sebenernya terjadi padanya.


"Aku mengerti, Sarah. Kamu memang butuh tempat untuk menenangkan diri. Tinggal disini aja ya, suamiku kan lagi tugas ke Belanda"


"Eee... enggak, Olive. Terimakasih banyak, aku... hanya malam ini saja menginap disini. Besok aku akan cari rumah sewa aja"


"Hmm... baiklah kalo begitu, istirahatlah ini udah larut", ucap Olive.


***


Setelah menemukan tempat tinggal, Sarah memutuskan untuk menempati apartemen di Vue at Centennial pagi itu juga. Setelah selesai merapikan barangnya, ia pergi ke toko kuenya. Alice memeluk Sarah ketika ia baru saja memasuki toko.


"Kamu udah makan?", tanya Alice.


Sarah menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan dulu, tadi mama nitip makanan untukmu", ucap Alice sambil menarik Sarah duduk di kursi pojok toko. "Apa apartemennya nyaman?", tanya Alice.


"Iya, lokasinya cukup strategis. Lumayan deket juga kan kalo kesini, cuma 25 menit"


"Michael udah tahu kalo kamu pindah kesana?"


"Belum. Nanti juga dia tahu sendiri"


**i


*Di rumah orangtua Michael*


Hari ini Michael tidak pergi ke kantor, pikirannya benar-benar kacau. Dia memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya bersama Lucy.


"Kalian ada masalah apa?", tanya Lidya.


Michael hanya diam saja sambil tetap fokus menonton TV.


Michael menghela nafasnya dan mengangguk. "Terjadi salah paham antara kami, ma"


"Cepat ceritakan ada apa!", kata Eddy dengan nada tinggi.


Michael ragu untuk bercerita kepada orangtuanya, tapi pada akhirnya mereka akan tahu juga.


"Sarah... minta pisah", ucap Michael.


"Apa?", Lidya begitu shock mendengarnya.


Eddy dengan refleks langsung menggebrak meja. "Apa yang kau lakukan pada Sarah?", tanyanya geram.


"Itu cuma salah paham, pa. Sarah lihat aku sama Angela"


"Angela? Bukannya dia udah nikah dan tinggal di Glasgow?", kata Lidya.


"Dia udah cerai, ma"


"Jadi itu sebabnya dia menggodamu, benar-benar perempuan ga tahu malu!", ucap Lidya.


"Selesaikan masalah ini dengan baik, jangan hanya mementingkan kepentingan kalian sendiri. Pikirkan Lucy juga", ucap Eddy yang kemudian meninggalkan Michael dan ibunya.


Tidak berapa lama, pak Kim masuk dengan membawa ponsel Michael yang telah diperbaiki.


"Terimakasih banyak, pak", ucap Michael yang kemudian berjalan menuju kamarnya.


Michael mengecek ponselnya, tidak ada sama sekali kabar dari Sarah. Justru Angela mengirimkan pesan padanya hingga puluhan kali karena kemarin Michael tidak menjawab panggilannya. Michael pergi ke kamarnya untuk menelpon pak David.


"Eeee... pak David, boleh aku minta tolong"


"........."


"Nantinya tidak usah banyak tanya, cukup laksanakan aja. Aku minta tolong untuk mengurus perceraianku dengan Sarah. Dan... soal rekaman cctv di lift The Edgewater, itu... batalkan aja. Aku ga perlu itu lagi".


Michael mengakhiri telponnya, dilihatnya foto dirinya dan Sarah saat berbulan madu ke Santorini yang terpasang sebagai wallpapernya.


"Kenapa harus berakhir, Sarah?", gumamnya.


***


Sore itu, Lois pulang lebih awal untuk menghampiri Sarah dan Alice.


"Yang lain udah pada pulang?", tanya Lois saat masuk ke dalam toko.


Alice yang sedang merapikan tasnya dimeja kasir langsung menoleh ke arah Lois.


"Iya, sayang. Kan udah jam 6 lewat juga, hari ini kita tutup lebih awal karena kehabisan kue"


"Waahhh... hebat sekali. Ehh... dimana Sarah?", tanya Lois.


"Ada, lagi di kamar mandi"


Tak berapa lama, Sarah keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk Lois.


"Kamu baik-baik aja kan?", tanya Lois membalas pelukan Sarah.


Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan.


"Udah jadi pindahan?" Lois kembali bertanya.


"Iya, di Vue", jawab Sarah sambil melepaskan pelukannya.


"Tempat yang bagus. Ayo kita pulang untuk makan malam di rumah", ucap Lois.


"Harus banget ya kak?", tanya Sarah.


"Kamu ini kenapa sih, Sarah? Masa pulang ke rumah mama papa malah jadi takut begini", canda Alice.


"Enggak gitu, kak. Aku... cuma takut... mama ngomel aja"


"Mama malah akan lebih khawatir kalo kamu ga main ke rumah", ucap Lois.


"Baiklah, aku rapiin tas dulu", ucap Sarah.


"Ohh... bagaimana kabar anak papa di dalam sana? Kamu hebat hari ini udah bantu mama dan aunty jualan kue sampai tutup lebih awal", ucap Lois sambil mengelus perut Alice.


"Dia anak yang begitu hebat, sama sekali tidak menyusahkanku selama hamil"


"Tapi kau harus tetap banyak istirahat, kak. Besok ga usah ke toko, biar aku aja", ucap Sarah menginterupsi.


Saat mereka bertiga keluar dari toko, mobil Michael berhenti tepat dibelakang mobil Lois. Michael segera turun dari mobil dan menghampiri mereka. Namun Sarah langsung masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan kedatangan Michael.


Lois menepuk pundak Michael tanpa berbicara apapun, lalu berjalan menuju mobilnya. Hingga akhirnya mobil Lois melaju meninggalkan Michael yang masih berdiri mematung di depan toko Sarah.