
"Kenapa begitu penasaran, aku cuma menemui Denis kok", jawab Sarah.
"Ada urusan apa?"
"Enggak ada, dia cuma lewat dan mampir ke toko"
"Mulai sekarang jaga jarak sama dia", ucap Michael sambil beranjak meninggalkan balkon.
"Apa kau mengusir Denis kemarin?", tanya Sarah sambil menarik tangan Michael.
Michael melepaskan tangan Sarah. "Ya, ga pantas seorang pria mencari-cari wanita yang sudah bersuami", jawab Michael.
"Kita cuma temenan, Mic. Aku sama Denis udah temenan dari SMA, kenapa aku harus jaga jarak sama dia?"
"Ga usah banyak tanya, pokoknya jauhi aja dia", bentak Michael.
"Kau bilang ga usah ikut campur urusan pribadi masing-masing, kenapa sekarang kamu jadi ngatur-ngatur aku?", jawab Sarah kesal & pergi meninggalkan Michael.
Makan malam pun menjadi canggung. Michael & Sarah todak berinteraksi sama sekali.
"Sayang...", ucap Michael ragu, berusaha untuk mencairkan keadaan. Sarah melihat ke arah Michael. "Tolong ambilkan nasi lagi", katanya sambil memberikan piringnya kepada Sarah. Sarah tidak menjawab perkataan Michael, dia segera mengambilkan nasi untuk Michael.
"Mama Sarah, aku udah selesai makan", ucap Lucy.
"Oke. Segera cuci tangan & siapkan peralatan sekolah untuk besok ya. Nanti mama Sarah bantu cek biar ga ada yang ketinggalan", jawab Sarah sambil menyeka mulut Lucy. Lucy mengangguk & segera melakukan perintah Sarah. Selang beberapa saat, Sarah menyelesaikan makannya dan segera menyusul Lucy di kamarnya. Meninggalkan Michael yang masih makan.
***
Setelah memastikan Lucy tidur, Sarah segera pergi ke kamarnya dan berbaring di kasur. Michael sudah terlebih dulu berbaring di kasur, menyandarkan punggungnya di headboard kasur sambil mengecek file.
"Lucy udah tidur?", tanya Michael.
"Udah", jawab Sarah singkat.
Michael merapikan file-nya & meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Dengar Sarah, aku bukannya mau ikut campur urusan pribadimu", ucap Michael.
Sarah segera berbalik badan & duduk bersandar pada headboard. "Trus maksudnya apa?", tanya Sarah.
"Terserah kalau kamu mau ketemu Denis, tapi jangan di rumahku atau ketika ada Lucy & keluargaku. Aku ga mau jelasin hal ga penting kayak gini ke Lucy atau mama papa kalo mereka nanyain", jelas Michael.
"Aku kan ketemu cuma ngobrol, enggak ngapa-ngapain. Kenapa harus dicurigai?", tanya Sarah.
"Ga semua orang tau siapa itu Denis, ga semuanya paham bagaimana hubunganmu sama Denis, wajar kalo nantinya ada yang curiga. Paham?"
Sarah diam sejenak.
"Paham kan maksudku apa?", tanya Michael sambil mengusap rambut Sarah.
"Paham, sayaaaaaang...", jawab Sarah dengan nada menggoda Michael. Dia segera membaringkan tubuhnya & tidur memunggungi Michael.
***
Semua orang di rumah Michael sibuk bersiap-siap. Michael mulai masuk kerja hari ini, Sarah sibuk di dapur menyiapkan bekal untuk Lucy & Michael serta untuk sarapan di rumah. Lucy bersiap untuk ke sekolah dibantu bibi Rose.
Setelah selesai sarapan, Sarah memasukkan bekal ke tas Lucy. "Habiskan bekalnya ya", kata Lucy sambil mencium kening Lucy.
"Kamu juga aku bawain bekal, kau ga ada janji makan siang di luar kan?", tanya Sarah kepada Michael. Michael segera melotot ke arah Sarah, seakan memberikan kode.
"Eeee... maksudku, kalo ga ada janji makan di luar, bekalnya dimakan ya sayang", ucap Sarah mengulangi perkataannya.
Michael mengangguk. "Kamu mau bawa mobil sendiri atau bareng aku?", tanya Michael.
"Anterin ya, sayaaaang... sudah kubilang aku ga mau mobil sendiri", jawab Sarah sambil mengedipkan mata ke Michael. Michael hanya tersenyum tipis.
Lucy pergi ke sekolah diantar oleh pak Kim. Michael selalu mengantar Sarah ke toko terlebih dahulu sebelum pergi ke kantornya.
"Terimakasih, sayang. Hati-hati di jalan ya", ucap Sarah saat turun dari mobil & melambaikan tangan ke Michael sambil tersenyum. Sarah berlari kecil masuk ke dalam tokonya.
"Waaahhh... nyonya William sudah datang", seru Lois yg sedang duduk di meja toko ditemani Alice. Sarah segera menengok ke arah Lois.
"Kakaaaaaaakkkk...", seru Sarah seraya berlari ke arah Lois dan memeluk kakaknya.
"Sombong sekali ga pernah hubungi kakak", ujar Lois. "Ngapain aja di rumah?", imbuh Lois.
"Sibuk penyesuaian, kak", canda Sarah.
"Kenapa Michael ga disuruh masuk dulu tadi?", tanya Alice.
"Dia banyak kerjaan. Aku jg ga tau kalo kakak disini, kalo tau kan aku suruh masuk dulu", jawab Sarah.
"Gimana honeymoon di rumahnya? Lancar?", goda Lois sambil tertawa.
"Berapa ronde?", timpal Alice.
"Iiiihhh... apaan sih? Mulai deh ga jelas", jawab Sarah sambil mencubit Lois.
"Kita kan juga pengen tau ceritanya hahahahaha", goda Lois makin menjadi. Alice tertawa keras.
"Kemarin pas kakak abis nikah, aku ga tanya gimana ceritanya kok", jawab Sarah kesal.
"Ya karna kamu ga nanya", ucap Lois sambil mencubit pipi Sarah.
"Michael marah kemarin karena Denis", kata Sarah sambil menatap Alice.
"Ehhh... gara-gara aku kasih alamat rumah dia ya?", Alice ketakutan.
"Bukan karena itu, dia ga seneng kalo aku sering ketemu Denis. Dia takut Lucy sama orangtuanya curiga aku sama Denis ada apa-apa", jelas Sarah.
"Emangnya ada apa-apa antara kamu sama Denis?", tanya Lois.
"Enggak ada", jawab Sarah singkat.
"Tapi pas dinikahan kamu, dia keliatan kesal tau. Katanya 'dari SMA dikejar-kejar, begitu ditinggal ke Belanda 1 tahun udah diambil duda'. Dia patah hati kayaknya", kata Lois sambil tertawa kecil.
"Ooohhhh... mungkin itu yang ditakutkan Michael. Coba kalo Denis ngomong gitu pas ada keluarga Michael, bisa salah paham kan", seru Alice.
Sarah mengangguk. "Iya juga sih, pantesan aku dibentak", ucap Sarah.
"Hah! Baru nikah 3 hari udah dibentak sama Michael?", seru Alice.
"Michael cemburu, sayang. Aku pun kalo jadi Michael pasti juga akan bentak-bentak kamu", ucap Lois sambil bercanda.
"Enggak dibentak yang gimana sih, dia cuma suruh 'mulai sekarang kamu harus jaga jarak sama Denis'. Gitu doang", ucap Sarah menirukan Michael.
"Ooohhh... bener, sayang. Kalo ini mah fix Michael cemburu hahahaha...", kata Alice sambil melakukan tos dengan Lois.
***
Pukul 2 siang, Sarah bersiap untuk pulang ke rumah. Dia segera melepaskan apron & mencuci tangannya.
"Lily sedang ke apotek sebentar bu, dia bilang kepalanya agak pusing"
"Oohhh... kalo belum sehat besok suruh libur aja ya", ucap Sarah sambil mengecek isi tasnya.
"Baik, bu. Ibu pulang cepat hari ini?"
"Iya, aku harus sampai di rumah sebelum Lucy pulang. Nitip toko ya", ucap Sarah sambil menepuk pundak Ellen & berjalan keluar. "Oiya, besok kak Alice ga kesini. Kalo butuh bantuan telpon aku ya", imbuh Sarah.
"Siap bu!", jawab Ellen.
Sarah memutuskan untuk naik bis karena taksi yg lewat selalu membawa penumpang. Diperjalanan, dia menelpon ibunya untuk menanyakan kabar.
"Iya, ma. Aku akan bersikap baik, aku bukan anak kecil lagi ma", ucap Sarah. "Weekend nanti kita nginep di rumah deh ya. Bye mama. love you!", Sarah mengakhiri percakapan dg Rachel ditelpon.
Beberapa detik kemudian, ponsel Sarah kembali berdering.
"Ada apa, sayang?", goda Sarah.
"Masih di toko?", tanya Michael.
"Enggak, ini udah naik bis mau balik ke rumah"
"Hah? Naik bis? Aku beliin mobil ga mau pake karena mau naik bis?"
"Enggak gitu, tadi nyetop taksi ga ada yg kosong. Isi penumpang terus, daripada sampai rumahnya telat ya udah naik bis aja"
"Jarak dari halte ke rumah lumayan jauh loh, kamu mau jalan?"
"Aahhh... cerewet sekali kamu ini. Aku udh biasa, tenang aja. Aku tutup ya telponnya, udah mau sampai. Byeeee...", Sarah menutup telpon dari Michael & segera turun di halte berikutnya.
Sarah harus berjalan sejauh 1 kilometer untuk sampai di rumah Michael. Tiba-tiba ada mobil yang melintas dan berhenti. Kaca mobil terbuka, Sarah menengok ke arah mobil tersebut.
"Butuh tumpangan?", seru Denis.
"Ehhh... Denis! Darimana?"
"Cuma sengaja lewat sini, gataunya lihat kamu turun dari bis. Emang ga dijemput sama Michael?"
"Jam segini dia masih di kantor lah"
"Yaudah, ayo masuk. Aku antar ke rumah"
Sarah diam sejenak, teringat perkataan Michael. "Emmm... ga usah, makasih. Jalan bentar doang kok", Sarah menolak dengan halus.
"Apa Michael melarangmu?", Denis penasaran.
"Enggak, bukan gitu. Aku... cuma pengen jalan kaki aja kok. Kamu... terus aja gapapa", jelas Sarah sambil tersenyum. "Bye Denis...", Sarah segera berjalan meninggalkan Denis.
"Nurut sekali dia sama Michael", gumam Denis.
Sesampainya di rumah, Sarah segera berlari menuju dapur & membuka kulkas. Dia segera mengambil botol minum & langsung menenggaknya sampai habis.
"Nyonya, kau kenapa?", tanya bibi Rose.
"Aku habis jalan dari halte depan, bi", jawab Sarah yg masih ngos-ngosan.
"Apa? Kenapa ga naik taksi?"
"Susah bi, isi penumpang semua. Takut Lucy keburu sampai di rumah", ucap Sarah sambil duduk di kursi & memijit betisnya. "Aduuhhh... pegel juga ternyata ya", keluh Sarah.
"Sini saya bantu pijit, nyonya"
"Ga usah bi, gapapa kok", jawab Sarah sambil tersenyum.
"Mamaaaaaa...", Lucy berlari menuju ke arah Sarah & memeluknya.
"Bagaimana sekolahnya?", tanya Sarah.
"Ada PR matematika, ma. Oiya, masakan mama enaaaaaaakkk sekali. Seenak masakan mama Leona", ucap Lucy bahagia.
"Syukurlah kalo kamu suka. Segera bersihkan badan dengan bibi Rose ya, nanti mama Sarah bantu ngerjain PRnya"
"OK, ma", Lucy & bibi Rose segera masuk ke kamar Lucy. Sarah bergegas masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri & ganti baju.
Sarah kemudian masuk ke kamar Lucy, dia membantu Lucy mengerjakan PRnya. Namun, tak berapa lama Sarah tertidur dimeja belajar Lucy.
"Mamaaaa...", ucap Lucy pelan mencoba membangunkan Sarah, namun Sarah masih tertidur. Lucy melanjutkan mengerjakan tugasnya.
"Lucy, ayo makan dulu", Michael yg baru saja pulang kerja menghampiri Lucy di kamarnya. Michael segera masuk ke kamar & mendekati Lucy.
"Papa, mama Sarah ketiduran", ucap Lucy sambil cekikikan.
"Sepertinya mama Sarah capek. Kamu makan duluan ya sama bibi Rose, papa pindahin mama Sarah dulu"
"Oke, pa", Lucy segera keluar kamarnya untuk makan. Michael segera menggendong Sarah yg tertidur pulas di meja belajar Sarah.
"Bibi, tolong Lucy ya", ucap Michael dengan lirih saat melewati Lucy & bibi Rose.
Michael membaringkan Sarah di kasur. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika keluar dari kamar mandi, dia melihat Sarah telah bangun duduk bersandar headboard kasur.
"Udah bangun?", tanya Michael sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Sarah hanya mengangguk sambil memijit kakinya. Michael meletakkan handuknya di kursi rias & duduk disamping Sarah. Dia membantu memijit betis Sarah.
"Katanya udah biasa", sindir Michael sambil memijit betis Sarah.
"Tapi kan arah ke rumah jalannya menanjak, jadi capek", keluh Sarah.
"Makanya besok bawa mobil aja, kalo enggak naik taksi aja. Oiya, nanti aku transfer uang bulanannya"
Sarah hanya diam saja. "Awww... yg sebelah situ sakit", Sarah mengerang.
"Atau besok kalo mau pulang telpon aku, nanti aku jemput"
"Tadi Denis lewat, mau nganterin ke rumah"
Michael menghentikan memijit & menatap Sarah. "Terus?", tanya Michael.
"Ya aku ga mau, kan kamu yg bilang jangan bawa Denis ke rumah"
Michael hanya mengangguk. "Ayo makan dulu", ajak Michael.
"Kau makanlah, aku enggak makan. Mau di kamar aja, badanku pegel semua", jawab Sarah seraya membaringkan badannya. Michael segera keluar kamar utk makan malam.
Tak berapa lama, Michael yg telah selesai makan kembali ke kamar. Dia membuka pintu kamar, dilihatnya Sarah sedang berbaring sambil memainkan ponselnya. "Nih makan dulu", ucap Michael yg membawa nampan berisi makanan untuk Sarah. Sarah segera duduk dan tersenyum lebar.
"Whoaaaaa... suamiku perhatian sekali", pujinya menggoda Michael.