
"Aku senang... kau tertarik padaku", ucap Sarah sambil mengalungkan tangannya pada leher Michael.
Michael tersenyum dan mencium Sarah kembali. Sarah membalas ciuman Michael, seolah memberi ijin Michael untuk mencumbunya. Michael mulai terpancing dan berpindah mencium leher Sarah, tangan kanannya mulai masuk ke dalam baju tidur Sarah. Namun Sarah segera menahan Michael yang mulai bergerilya ditubuhnya.
Michael berhenti mencumbu Sarah, terlihat mata Sarah yang mulai berkaca-kaca. Michael membelai pipi Sarah. "Tidak apa-apa, kita bisa melakukannya ketika kau siap", ucap Michael seraya mencium kening Sarah.
Sarah memeluk Michael dan memejamkan matanya. "Maafkan aku", gumamnya lirih.
***
*Keesokan harinya*
Michael mengantar Sarah ke toko, sepanjang perjalanan Sarah lebih banyak diam.
"Hati-hati di jalan ya", ucap Sarah saat akan membuka pintu mobil.
Michael dengan cepat menarik tangan Sarah. "Sarah... jangan diam begini, aku ga marah sama sekali", ucap Michael.
"Aku pasti akan memberikannya untukmu, jadi ku mohon bersabarlah", pinta Sarah.
"Tentu saja", jawab Michael sambil membelai rambut Sarah. "Jangan terlalu dipikirkan", imbuh Michael.
Selama di toko, Sarah menghabiskan waktunya dengan duduk di meja toko paling pojok. Dia sibuk memainkan ponselnya.
"Ya Tuhaaannn... apa iya aku harus memakai lingerie seperti ini?", Sarah bergumam lirih.
Lily dan Ellen memperhatikan Sarah dari meja kasir.
"Kira-kira bu Sarah lagi ngapain ya? Kenapa serius sekali?", bisik Ellen.
"Aku juga ga tahu. Coba saja aja bu Alice, pasti kita akan segera tahu jawabannya", jawab Lily.
Pintu toko terbuka, Denis datang mengunjungi toko. Dia tersenyum kepada Lily dan Ellen, lalu berjalan menghampiri Sarah yg masih sibuk dengan ponselnya.
Tok... tok...
Denis mengetuk meja toko dan duduk dihadapan Sarah.
"Aahhh... kau ini mengagetkan saja", seru Sarah.
"Lagi ngapain sih? Kayaknya serius banget", tanya Denis.
"Emm... Enggak. Aku cuma lagi nyari sesuatu kok"
"Sabtu ini ada acara? Martin teman SMA kita akan bertunangan, mau datang bareng aku?", tanya Denis.
"Aku... ga bisa datang. Karena... sabtu besok aku harus ke luar kota, teman Michael ada yg menikah", jawab Sarah.
"Apa Michael ga bisa pergi sendiri?"
"Hahahaha... Denis, kau lupa kalo aku sudah jadi istri Michael?"
"Enggak. Maksudku apa harus Michael mengajakmu pergi kesana? Kamu kan ga kenal teman-temannya"
"Aku ga kenal karna aku yg ga mau kenal. Selama 4 bulan menikahinya kau pikir aku pernah ke kantornya lagi? Enggak pernah Denis, aku sama sekali belum pernah ke kantor Michael lagi. Kenapa? Ya karena aku yg ga mau. Kau bisa pergi dengan yg lainnya kan?"
"Waaahhh... Sepertinya kau terlalu percaya sama Michael. Kamu ga takut dia selingkuh dengan temannya atau orang di kantornya?"
Sarah melotot ke arah Denis. "Udah deh, Den. Kalo kesini cuma mau debat gini mendinga ga usah cari aku lagi", ucap Sarah sembari beranjak dari duduknya. "Kalo mau pesan sesuatu kau bisa panggil Ellen atau Lily", Sarah segera meninggalkan Denis dan pergi ke dapur toko.
"Lily... kemarilah, aku mau pesan sesuatu", teriak Denis.
"Baik, pak", Lily segera berlari menghampiri Denis.
"Sarah kenapa? Sensitif sekali hari ini", tanya Denis sambil melihat menu.
"Saya juga tidak tahu, pak. Sejak datang bu Sarah cuma duduk disini"
Sarah keluar dapur dan sudah menenteng tasnya. "Lily, aku pulang ya", teriak Sarah sambil melambaikan tangannya ke arah Lily.
"Baik, bu. Hati-hati di jalan", jawab Lily.
"Hey... kau mau kemana?", tanya Denis. Namun Sarah tetap berlalu tanpa menghiraukan Denis.
Sarah pergi ke rumah orangtuanya, menjenguk Alice yang sedang tidak enak badan.
"Kakak Lois kan dokter, kenapa bisa kau sakit begini?", ucap Sarah yg menemani Alice makan di kamarnya.
"Kau ini kekanakan sekali. Lois pun yg seorang dokter juga butuh dokter kalo dia sakit", jawab Alice.
"Hahahaha... aku bercanda", ucap Sarah sambil memakan buah potong Alice. "Kakak... apa mungkin kau hamil?", tanya Sarah.
Alice terdiam. "Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku menstruasi", jawab Alice.
"Ya Tuhaaaannn... kau ini wanita macam apa? Ayo cepat ganti, aku antar periksa ke rumah sakit", seru Sarah.
Sarah dan Alice segera menuju rumah sakit. Sarah membantu Alice melakukan pendaftaran, dan meminta Alice menunggu di depan ruang pemeriksaan.
"Sudah selesai?", tanya Alice.
"Iya, tinggal tunggu dipanggil perawat aja", jawab Sarah.
"Aku mau ke toilet sebentar ya", ucap Alice sambil menitipkan tasnya pada Sarah.
"Mau kutemani, kak?"
"Ga usah, kamu disini aja", Alice segera berlari kecil menuju toilet.
Disaat yang bersamaan, Karen melihat Sarah yg sedang duduk di depan ruang pemeriksaan dari kejauhan.
"Bukankah itu Sarah?", ucap Karen sambil mendongak ke atas melihat papan nama ruangan. "Poli Kandungan? Apa dia hamil?", gumam Karen.
"Nyonya Karen, silahkan masuk", salah satu perawat memanggil Karen untuk masuk ke ruang pemeriksaan mata.
Beberapa saat setelah Karen selesai melakukan pemeriksaan, dia sudah tidak melihat Sarah lagi. "Mungkin dia sudah pulang", gumamnya.
***
Malam harinya Michael pulang telat karena ada meeting internal di kantor. Sarah tidur lebih awal karena kelelahan.
Michael yg baru saja pulang, berjalan ke arah Sarah. Dilihatnya Sarah telah tertidur pulas dengan mulut yg sedikit menganga. Michael menyunggingkan senyum dibibirnya dan membelai rambut Sarah. Sarah terbangun dan melihat Michael duduk disampingnya.
"Kau sudah pulang?", kata Sarah.
"Heem... barusan sampai"
"Aku tidur awal karena badanku terasa capek sekali", kata Sarah sambil menggeliat.
"Karen melihatmu tadi siang di poli kandungan St. Mary", ucap Michael sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah. "Kamu periksa apaan?", sambung Michael.
"Oohh... itu kak Alice, 2 hari ini dia ga enak badan. Dan ketika aku tanya soal menstruasi, dia lupa kapan terakhir mens. Kata dokter dia hamil 7 minggu", jawab Sarah sambil mengelus pipi Michael. Michael mengangguk.
"Baiklah...", ucap Michael sambil mencium kening Sarah dan berjalan ke kamar mandi.
***
*Keesokan harinya*
"Lucy, mama Sarah bangunin papa dulu ya", ucap Sarah.
"Ga usah, ma. Besok kan juga ketemu papa, aku cuma ke rumah kakek nenek", jawab Lucy.
"Baiklah, good girl ya di rumah kakek nenek. Jangan lupa kerjakan tugasnya"
"Siap, ma", jawab Lucy dan segera berlari menuju mobil.
"Bibi Rose, titip Lucy ya", ucap Sarah.
"Iya, nyonya. Nikmatilah hari libur anda", jawab bibi Rose.
Setelah mengantar Lucy yg akan pergi ke rumah kakek neneknya, Sarah segera masuk ke dalam untuk menyiapkan baju yg akan dia kenakan. Michael terbangun dan segera menuju kamar mandi.
"Lucy sudah ke rumah mama, barusan dia jalan", kata Sarah sambil merapikan gaunnya.
Sekeluarnya dari kamar mandi, Michael memberikan sebuah kunci.
"Kunci apa ini?", tanya Sarah.
Michael menarik tangan Sarah dan menunjukkan sebuah brankas di dalam lemari baju Michael. "Bukalah", kata Michael.
Sarah segera mendekati brankas itu dan memutar kuncinya. Di dalam brankas terdapat banyak perhiasan. Sarah menoleh ke arah Michael yang duduk di kursi disamping lemari.
"Itu perhiasan Leona, pakailah jika kau mau", kata Michael. Kemudian Michael menyodorkan sebuah kotak untuk Sarah. "Ini aku beli untukmu", sambung Michael.
Sarah membuka kotak yang berisi kalung. Michael segera mengambil kalung dan memakaikannya pada Sarah.
"Terlihat cantik", seru Michael.
"Terimakasih banyak... sayang...", ucap Sarah. Michael tersenyum dan mengecup bibir Sarah.
"Ayo sarapan", ajak Michael.
Michael dan Sarah segera sarapan dan bersiap untuk menghadiri acara pernikahan teman Michael. Acaranya akan digelar pada malam hari, Michael dan Sarah berangkat lebih awal karena jaraknya lumayan jauh. Michael membelokkan mobilnya ke sebuah hotel yg telah ia booking. Hotel Oceana, hotel mewah yang terletak di Santa Monica dan berlatarkan pemandangan pantai.
Michael langsung berbaring ketika masuk ke dalam kamar hotel, sementara Sarah membuka pintu kamar yg langsung disuguhkan dengan pemandangan pantai nan indah.
"Kau memilih hotel ini karena aku suka pantai?", tanya Sarah sambil menoleh ke arah Michael yg sedang berbaring. Michael hanya mengacungkan jempolnya ke arah Sarah.
"Istirahatlah dulu, aku akan keluar sebentar", kata Sarah.
"Kemana? Kau bisa hilang disini", jawab Michael.
"Aku mau ambil tas make up-ku, tertinggal di jok belakang", ucap Sarah.
Ketika sampai di parkiran mobil, Sarah mengambil ponselnya dan menelpon Denis.
"Ada apa?", ketus Denis.
"Kenapa terlihat marah?", goda Sarah.
"Cepat katakan ada apa? Aku sedang menyetir", jawab Denis.
"Jadi pergi ke acara Martin?", tanya Sarah.
"Iya, ini sedang dalam perjalanan"
"Sendirian?", Sarah penasaran.
"Kau pikir aku akan pergi dengan siapa?", jawab Denis kesal.
Sarah tertawa. "Carilah teman wanita disana, agar kau tidak sering marah seperti ini", canda Sarah.
"Hey, Sarah Hilary! Kalo kau menelpon hanya untuk meledekku, lain kali ga usah telpon ya. Ngerti?", ucap Denis kesal sambil mematikan panggilan telpon Sarah.
"Waaahhhh... dia masih sama menakutkannya ketika marah", ucap Sarah. Dia segera mengambil tas make up-nya dan kembali ke kamar.
Michael sudah tertidur ketika Sarah kembali ke kamar. Sarah berbaring disebelah Michael dan mengusap rambut Michael yg tidur tengkurap. "Kenapa kau sangat suka tidur tengkurap?", gumam Sarah sambil tersenyum.
***
Malam harinya diacara pernikahan teman Michael, Sarah terlihat begitu anggun dengan dress selutut berwarna nude. Michael begitu bersemangat bertemu teman-teman semasa kuliahnya.
"Hey... kalian sudah datang", sapa Karen kepada Michael dan Sarah.
"Datang sendirian?", tanya Michael.
"Kau pikir aku akan datang sama siapa? Suamiku kan masih di Irlandia", jawab Karen kesal. "Waahhh... Sarah, kau terlihat sangat menawan. Pantas saja Michael menikahimu", goda Karen.
"Aahhh... kak Karen, Anda terlalu berlebihan", jawab Sarah malu.
"Sudahlah Karen, kau jangan menggodanya terus. Dia mendiamkanku kemarin sepulang dari butikmu", kata Michael.
"Oiya? Ada apa?", Karen penasaran.
"Ehhh... tidak kak Karen, Michael hanya bercanda", ucap Sarah sambil mencubit pinggang Michael.
Pesta pernikahan teman Michael berlangsung dengan meriah, pengantin dan tamu undangan menikmati berdansa dengan pasangannya. Begitu pula dengan Michael dan Sarah.
"Sepertinya kau sering berdansa, sayang", kata Michael.
"Iya, aku sering melakukannya", jawab Sarah.
"Dengan Denis?"
"Iya, tapi tidak sesering dengan 2 priaku yang lain?"
"Siapa?", tanya Michael.
"Papa dan kak Lois", jawab Sarah sambil tertawa. "Kau cemburu ya?", tanya Sarah.
"Iya, aku pikir ada pria lain yang mengejarmu selain Denis"
"Emang ada kan"
"Siapa?", tanya Michael sembari menyerngitkan dahinya.
"Kau", jawab Sarah. Michael tersenyum dan memandangi Sarah. Tangannya menarik tubuh Sarah untuk lebih dekat lagi dengannya. Michael dan Sarah seperti beradu pandang lebih dalam dan saling melempar senyuman.
Michael mulai mendekatkan wajahnya pada Sarah dan mencium bibir Sarah. Michael tak mempedulikan banyaknya orang yang ada di sebelahnya. Dia begitu menikmatinys. Tangannya semakin erat mendekap pinggang dan leher Sarah.
"Dia begitu bergairah", gumam Sarah dalam hati.