
Dua hari kemudian, Sarah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sebelum pulang, dokter kandungan datang untuk melakukan pemeriksaan.
"Bercak darahnya sepertinya sudah berhenti, kondisi Anda sudah OK kok", ucap dokter kandungan Sarah. "Tapi Anda harus tetap memperhatikan segala sesuatunya ya, jangan terlalu capek atau mengangkat beban terlebih dahulu. Untuk sementara hentikan dulu pemakaian sabun kewanitaan, dan banyaklah mengkonsumsi makanan tinggi protein, zat besi dan magnesium. Dan yang paling penting, sebaiknya jangan melakukan hubungan seksual dulu. Tahanlah paling tidak sampai seminggu kedepan, hal ini untuk mencegah infeksi karena bakteri. OK?", sambung dokter.
"Baik, dok", ucap Sarah sambil tersenyum.
Dokter dan perawat meninggalkan ruangan.
"Whoaaa... sepertinya aku harus bersabar lagi hingga minggu depan", canda Michael sambil merapikan tas bajunya.
Sarah tersenyum, dia berjalan mendekati Michael dan memeluknya dari belakang.
"Kita bisa melakukannya setiap saat saat aku udah sembuh", ucap Sarah.
Michael membalikkan badannya dan memeluk Sarah. "Tentu saja, dengan senang hati. Sarah, kita harus lebih bahagia dari kemarin", kata Michael sambil mengusap pipi Sarah.
Lois masuk ke kamar saat Michael dan Sarah sedang berpelukan. "Aahhh... sorry, apa aku mengganggu?", goda Lois.
Michael dan Sarah melepaskan pelukannya.
"Enggak, kak. Ada apa?", tanya Sarah.
"Enggak ada, aku pikir kalian udah mau pulang sekarang", ucap Lois.
"Iya, kita sedang bersiap", jawab Michael.
Lois berjalan mendekati Sarah dan memeluknya. "Jaga kondisimu dengan baik ya, beritahu Michael jika ada sesuatu yang mengganggu pada tubuhmu", kata Lois.
"Iya kak, aku ngerti", jawab Sarah.
"Mama, papa dan Alice ga bisa datang. Mereka sedang ke rumah uncle John untuk acara keluarga"
Sarah mengangguk. "Gapapa, tadi papa udah telpon aku"
***
Michael dan Sarah pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Sarah hanya diam dan memandangi keluar jendela mobil. Tatapan matanya seperti kosong, Sarah baru saja mengalami cobaan yang begitu berat baginya. Michael meraih tangan Sarah dan menciumnya.
"Ada apa, sayang? Apa kau lelah?", tanya Michael.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku ga tau kenapa, tiba-tiba aja aku merasa ada sesuatu yang bikin sesak"
"Mood swing?", tanya Michael.
Sarah tidak menjawab, dia hanya diam dan terus memandangi ke arah keluar.
"Sayang, menepilah di depan", ucap Sarah.
"Apa kau merasa sakit? Sebentar lagi kita akan sampai di rumah"
"Tolong menepilah", ucap Sarah dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.
Michael segera menepikan mobilkan, dia menatap Sarah dan membelai rambutnya. "Ada apa, sayang?", tanya Michael penasaran.
Sarah meraih tangan Michael dan menciumnya. "Bisa kau keluar mobil dulu, sayang?", ucap Sarah dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Michael mengangguk. "Baiklah, aku akan keluar".
Michael keluar dari mobil dan bersandar pada pintu mobil. Tak berapa lama terdengar suara Sarah yang menangis terisak-isak. Michael menunggu di luar selama beberapa saat hingga Sarah merasa tenang dan terdengar suara isak tangisnya.
"Kamu baik-baik saja?", tanya Michael sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya.
"It's OK, sayang. Kita akan melewatinya bersama", ucap Michael sambil mencium kening Sarah dan memeluknya.
Michael segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Bibi Rose menyambut kedatangan Sarah ketika mobil baru saja masuk ke halaman rumah.
"Tentu aku akan kembali kesini, bi. Terimakasih banyak telah menjaga Lucy selama aku tidak di rumah", kata Sarah.
"Itu tidak masalah, nyonya. Mari silahkan masuk dan beristirahat", kata bibi Rose.
Sarah menyandarkan tubuhnya pada headboard kasur, Michael mendekati Sarah setelah menaruh tasnya di dekat almari. Michael membaringkan tubuhnya dengan menyandarkan kepalanya dipangkuan Sarah.
"Aaahhh... aku sangat merindukan ini", seru Michael sambil memejamkan matanya dan tersenyum.
Sarah tersenyum dan membelai rambut Michael. "Aku... terus memanggil namamu saat berada di rumah Denis. Malam itu benar-benar terasa panjang, aku tertidur karena capek seharian nangis terus", ucap Sarah lirih.
"Udahlah, ga usah dibahas lagi. Kita fokus sama pemulihan kamu aja ya"
Sarah mengangguk. "Apa Lucy akan ke rumah mama lagi?"
"Enggak. Sepertinya lagi perjalanan balik kesini bersama pak Kim", ucap Michael sambil melihat jam tangannya.
"Sayang, besok pergilah ke kantor. Aku akan di rumah dengan bibi Rose"
"Kenapa? Kamu ga suka kalo aku jagain?"
"Buka begitu. Aku kan udah baikan, dan udah hampir seminggu ini kan kamu ga ke kantor?"
"Hmmm... ga masalah, pak David bisa bawakan berkas-berkasnya ke rumah"
"Kenapa begitu?"
Michael diam sejenak. "Kau tahu, dulu ketika Leona sakit, aku masih saja sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku hanya menemaninya saat malam, dan itu pun harus berbagi waktu dengan Lucy. Sampai akhirnya kondisinya mulai memburuk, papa menamparku karena lebih mentingin kerjaan daripada Leona. Sejak itu, aku meninggalkan semua kerjaan dan fokus pada Leona. Tapi ternyata udah terlambat, beberapa hari setelah aku fokus untuk merawatnya, dia pergi meninggalkanku dan Lucy. Ada banyak penyesalan dalam diriku, dan aku ga mau itu terjadi lagi sekarang", ucap Michael.
"Tapi aku baik-baik aja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sayang"
"Kenapa begitu memaksa?"
"Hahaha... bukan memaksa, maksudku aku cuma tinggal pemulihan aja kan? Pasti akan sangat membosankan kalo kamu terus-terusan berada di rumah"
"Kita kan bisa jalan-jalan, bisa mesra-mesraan kayak gini juga, ngapain bosen", goda Michael.
Sarah tertawa. "Baiklah, terserah kau saja"
Michael memiringkan badannya dan melingkarkan tangannya pada perut Sarah.
"Eeee... sayang... tentang Denis...", ucap Sarah ragu.
Michael mendongak menatap Sarah. "Kenapa?"
"Mungkin kita bisa... berdamai saja dengannya"
Michael bangun dan duduk dihadapan Sarah. "Kenapa aku harus berdamai dengannya?", tanya Michae.
"Aku pikir... lebih baik membiarkan dia begitu saja akan lebih baik. Terlebih aku... aku juga udah baikan kan?"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? Apa kau tahu bagaimana perasaanku ketika kau menghilang dan mendapat kabar kalo kau kecelakaan? Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu terbaring koma? Kenapa aku harus berdamai dengan orang yang menyakitimu, Sarah? Kenapa?", Michael mulai marah.
Mata Sarah mulai berkaca-kaca. "Aku hanya ingin menata perasaanku kembali. Aku ga mau nantinya Denis atau keluarganya terus datang padaku dan meminta maaf. Itu... akan semakin membuatku ingat pada peristiwa ini. Aku juga akan semakin merasa bersalah padamu tentang keguguran ini, Denis pasti akan berubah, sayang", ucap Sarah sambil menahan tangisnya.
"Kenapa kau begitu baik padanya? Dia udah ngelakuin hal seperti ini berulang-ulang dan kau masih saja memaafkannya?"
"Aku hanya kasian padanya. Selama ini hanya aku yang selalu mendengarkannya, hanya aku yg peduli padanya. Dia pasti akan semakin ditekan oleh keluarganya atas kejadian ini, sayang", Sarah mulai menangis.
Michael memandangi Sarah dan menahan emosinya.
"Jika aku menyakitimu berulang-ulang, apa kau akan dengan mudah memaafkanku seperti saat kau memaafkan Denis?", Michael mengepalkan tangannya dan matanya mulai berkaca-kaca.
Sarah hanya terdiam, dia menatap Michael dengan bendungan air matanya.
"Jawab aku!", bentak Michael.