Cupcake's Love

Cupcake's Love
#43



Keesokan harinya, seperti biasa Sarah menyibukkan dirinya dengan membaca buku di balkon belakang rumah.


"Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu Anda", kata bibi Rose.


"Ehhh... siapa bi?", tanya Sarah.


"Nyonya Angela"


Sarah merasa kebingungan setelah mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh bibi Rose. Seingatnya, dia tidak pernah memiliki teman bernama Angela. Sarah meletakkan bukunya dimeja dan berjalan menuju ruang tamu. Seorang wanita berambut cokelat sedang berdiri memandangi foto pernikahan Michael dan Sarah.


"Apa Anda mencari saya?", tanya Sarah.


Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar ke arah Sarah, kemudian dia berjalan mendekati Sarah.


"Hai! Saya Angela. Kamu pasti kebingungan kan?", ucap Angela.


Sarah hanya mengangguk. "Apa aku mengenalmu?"


Angela menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Enggak, kamu ga kenal aku karena ini pertemuan pertama kita. Aku teman Michael"


"Oohhh... begitu rupanya. Eeee... kalo boleh tahu, ada perlu apa ya?"


"Hmmm... aku udah lama ga ketemu Michael, bener-bener lost contact setelah dia nikah sama Leona. Aku ragu untuk menemuinya di kantor, jadi seorang teman memberitahu alamat rumah Michael. Aku hanya pengen menyapanya dan melepas rindu"


"Rindu?", tanya Sarah penasaran.


Angela tertawa. "Iya, dulu kita sempat memiliki hubungan spesial. Tapi cuma sebentar. Aku pikir dia belum menikah lagi setelah Leona meninggal, ternyata dia sudah beristri"


Sarah merasa cemburu, bibirnya tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menimpali Angela.


"Apa aku boleh minta nomer telpon Michael?", tanya Angela.


Sarah menghela nafasnya. "Jika seorang temanmu memberitahu alamat rumah ini, kenapa ga sekalian minta nomer telpon Michael sama dia?", jawab Sarah ketus.


"Aduuhhhh... kau ini galak sekali. Aku heran bagaimana bisa Michael jatuh cinta dan menikahimu"


Sarah mulai terpancing emosi, dia berusaha keras untuk menahannya.


"Pergi saja ke kantor Michael, jangan menginjakkan kaki di rumah ini lagi", Sarah pergi meninggalkan Angela dan berhenti di depan dapur.


"Tolong antar wanita itu keluar, bi", ucap Sarah.


Angela merasa kesal dengan sikap Sarah. "Tidak usah mengantarku keluar, aku bisa keluar sendiri", ucap Angela dengan nada kesal.


***


Hingga malam hari, Sarah masih mengurung dirinya di kamar setelah makan malam. Dia juga meminta bibi Rose untuk menemani Lucy tidur. Sarah mencoba untuk tidur sebelum Michael pulang, dia merasa sangat kesal setelah pertemuannya dengan Angela.


Michael yang baru saja pulang kerja langsung menuju ke kamar. Dilihatnya Sarah seperti telah tidur dengan nyenyak. Michael menaruh tas kerjanya dan berjalan mendekati Sarah. Dia duduk dipinggir kasur, Michael membelai rambut Sarah dan mencium pipinya.


"Kamu udah tidur, sayang?", ucap Michael.


Sarah tidak menghiraukan Michael, dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kamu kenapa, sayang?", tanya Michael penasaran.


Sarah tetap diam seribu bahasa. Michael berusaha menarik selimutnya namun ditahan sekuat tenaga oleh Sarah.


"Aku mandi dulu deh ya", ucap Michael.


Seusai mandi, Michael masih melihat Sarah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Michael segera meletakkan handuknya di kursi dan berjalan menghampiri Sarah.


"Sayang, kamu bisa susah nafas kalo kayak gini. Kamu kenapa sih?", tanya Michael.


Namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Sarah. Michael kembali menarik selimutnya dengan kuat dan akhirnya terbuka. Sarah kewalahan untuk menutupi wajahnya dan pura-pira tertidur.


"Kamu kenapa sih? Besok mau ikut aku ke luar kota kok malah ngambek"


"Aku ga jadi ikut", ketus Sarah.


"Kenapa? Kamu kan udah janji mau ikut aku", ucap Michael sambil berusaha membuka tangan Sarah yang menutupi wajahnya.


"Kamu kenapa sih? Apa aku ngelakuin kesalahan? Ayolah sayang, jangan kayak gini"


Sarah segera mendudukkan dirinya dan bersandar pada headboard.


"Mantan pacarmu datang kesini tadi siang, dia bilang dia kangen sama kamu", ucap Sarah dengan nada kesal.


"Mantan pacarku? Siapa?"


Sarah menghela nafasnya, dia merasa kesal. "Emang mantan kamu ada berapa sih?"


"Hmmm... entahlah, dulu aku kan populer dikalangan wanita", canda Michael.


Perkataan itu semakin membuat Sarah emosi. "Terserahlah, pikir aja sendiri. Atau coba ditelpon satu-satu, tanyain aja siapa yang tadi siang ke rumah", ucap Sarah kesal dan kembali membaringkan badannya memunggungi Michael.


"Ehh... aku beneran nanya loh, sayang. Masa jawabanmu gitu, siapa sih yang kesini?"


Sarah berbalik badan dan menatap tajam Michael. "Angela. Udah inget kan sekarang?"


"Jadi kamu ngambek karena itu?", ucap Michael sambil menahan tawa.


Sarah hanya melirik ke arah Michael.


"Sayang, dia kan cuma mantan. Aku ada hubungan sama dia juga udah lama banget kok dari sebelum aku sama Leona. Ngapain marah sih?", sambung Michael sembari membelai rambut Sarah.


"Tapi dia kesini bilang dia kangen kamu, dia bilang kirain kamu belum nikah setelah Leona meninggal. Trus minta nomer telpon kamu juga. Ya kalo temennya ngasih alamat rumah ini, kenapa dia ga minta langsung sama temennya itu kan?", ucap Sarah kesal.


"Dia pasti mencarimu ke kantor kan?", cecar Sarah.


"Enggak. Seharian ini aku ga terima tamu dari luar, tanya aja sama pak David"


"Kalian ga janjian disuatu tempat kan?"


Michael tertawa. "Sayang, yang aku tahu Angela itu udah menikah. Udahlah ga perlu curiga kayak gini"


"Kalo udah nikah ngapain bilang kangen sama suami orang?", ucap Sarah makin kesal.


Michael tertawa melihat Sarah yang mengomel. "Kamu cemburu?", tanya Michael.


"Iya lah, kenapa masih tanya!", jawab Sarah kesal.


Michael mendekatkan dirinya pada Sarah. "Kayak gitu loh perasaanku pas kamu deket-deket sama Denis. Meskipun kalian ga ada hubungan spesial, tapi tetep aja itu ngeganggu buatku", jelas Michael.


Sarah terdiam dan menatap Michael.


"Akhirnya kamu cemburu juga, aku merasa begitu dicintai sama kamu", ucap Michael sambil mencium punggung tangan Sarah.


Sarah menghela nafasnya. "Maaf... mungkin... aku terlalu berlebihan", ucap Sarah lirih.


"Gapapa, sayang. Udah ya jangan sedih lagi", kata Michael sembari memeluk Sarah.


"Aku cemburu karena dia sangat cantik, dia juga lebih dulu mengenal dan mempunyai hubungan spesial denganmu", ucap Sarah yang masih erat memeluk Michael.


"Sama Leona enggak cemburu?", canda Michael.


"Bedalah, kalo Leona masih hidup mana mungkin kamu bakal nikahin aku? Angela kan datang ke rumah, nyariin kamu. Aku takut nanti dia godain kamu lagi"


Michael tertawa dan melepaskan pelukannya. Dia mengangkat dagu Sarah dan memandanginya. "Apa menurutmu aku mudah tergoda sama wanita?", tanya Michael.


"Tapi kan dulu kalian pernah pacaran, mungkin kamu masih ada sedikit rasa gitu sama..."


Michael mencium bibir Sarah. "Kenapa kamu bawel sekali malam ini?", ucap Michael.


Sarah terdiam dan menundukkan kepalanya. Michael mendongakkan kepala Sarah dan mengelus lembut pipinya.


"Jangan pernah mikir kayak gitu lagi ya. Sampai kapan pun, aku cuma akan cinta sama kamu. Hanya mautlah yang bisa memisahkan kita, ngerti kan?", kata Michael.


Sarah menganggukkan kepala. Dia mendekatkan wajahnya pada Michael dan menciumnya. Ciuman yang kemudian disambut oleh Michael, berbalas saling ******* bibir pasangannya dengan penuh gairah.