
Air mata Sarah mulai bercucuran membasahi pipinya. Michael merasa bersalah karena telah membentak Sarah. Dia segera mendekat pada Sarah dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, sayang. Aku terbawa emosi", kata Michael.
"Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku? Sudah kubilang aku ga pernah ada rasa sama Denis. Kenapa kau membandingkan dirimu dengan Denis?", ucap Sarah sambil terisak.
"Bukankah aku juga memaafkanmu dengan mudah saat kau merendahkanku? Kenapa sekarang kau masih mempertanyakannya?", ucap Sarah sambil memukul punggung Michael.
Michael terus memeluk erat Sarah dan terus mengucapkan kata maaf. Ketika Sarah mulai tenang, dia melepaskan pelukannya. Michael menyeka sisa air mata Sarah dan mencium tangan Sarah.
"Maafin aku ya?", kata Michael.
Sarah mengangguk. "Kalo ngomong kayak gitu lagi, aku mau pulang ke rumah mama saja!", ancam Sarah.
"Janganlah... ini ga akan pernah terjadi lagi, aku janji", kata Michael.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Sarah dan Michael menoleh ke arah pintu.
"Mamaaaaa...", teriak Lucy sambil berlari menuju kasur. Lucy langsung merangsek naik ke atas dan memeluk Sarah dengan hati-hati.
"Mama kangeeeeeennn banget sama anak mama", seru Sarah.
Tidak ada jawaban dari Lucy, hingga akhirnya terdengar suara tangisan Lucy. Sarah segera melepaskan pelukan Lucy dan memandangnya.
"Kenapa menangis? Apa kamu ga kangen mama?", tanya Sarah.
Lucy menangis dengan terisak, Michael mencoba untuk menenangkannya dengan mengelus punggung Lucy.
"Aku takut akan kehilangan mama. Dulu... mama Leona... juga pakai alat-alat kayak gitu. Aku takut ga punya mama lagi...", ucap Lucy sambil terisak.
Sarah memeluk Lucy. "Mama ga akan ninggalin kamu sama papa. Nanti mama Leona bisa marah sama mama kalo mama juga pergi ninggalin kalian", ucap Sarah menenangkan Lucy.
"Udah, jangan nangis lagi. Mama kan udah pulang lagi ke rumah", kata Michael.
"Mama ga akan pergi lagi kan?", tanya Lucy.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Mama hanya akan pergi untuk ke toko, boleh?"
"Tentu saja boleh, aku kangen kue buatan mama"
"Besok kita bikin kue lagi bertiga gimana? Nanti kita ajak aunty Alice, kakek dan nenek untuk nyobain kuenya", kata Michael.
"Yeaaayyyy...", seru Lucy.
***
Malam harinya, Sarah terlihat kurang nyaman saat sedang menonton tv bersama Michael.
"Ada apa?", tanya Michael.
"Aku merasa gerah, lengket gitu"
"Mau bersihin badan? Ayo aku bantuin biar bersih"
"Eeee... ga usah, aku bisa sendiri", ucap Sarah beranjak dari duduknya.
Michael berdiri dan membopong Sarah. "Sama suami sendiri kenapa malu sih?", ucap Michael sembari berjalan menuju kamar mandi.
Michael membantu Sarah melepas bajunya dan mengelap badan Sarah.
"Enggak usah senyum-senyum gitu", ucap Sarah malu.
"Kenapa? Orang ngelihat tubuh istrinya sendiri masa ga boleh?", goda Michael.
"Tapi senyumnya gitu, aku kan jadi malu"
"Ya Tuhan, sayang. Aku kan udah sering lihat kamu telanjang gini, masa malu sih? Bukannya kamu juga janji kalo nanti udah sembuh mau melakukannya setiap hari?", goda Michael.
"Apaan sih?", ucap Sarah sambil mencubit hidung Michael.
Setelah selesai membantu Sarah membersihkan diri dan memakai baju, seperti biasanya Michael dan Sarah bercengkerama sebelum tidur.
"Aku udah bilang ke kak Alice biar datang kesini besok sama papa mama", ucap Sarah.
"Ahh... aku lupa, besok pagi aku akan telpon mama. Pasti mereka juga akan kesini untuk menengokmu", jawab Michael.
"Sayang sekali kak Lois selalu sibuk dengan kerjaannya"
"Dia kan membantu banyak orang, sayang. Dia juga membantuku untuk menyelamatkanmu", ucap Michael sambil menoleh ke arah Sarah.
Sarah tersenyum. "Kamu ga terimakasih sama aku? Kan aku udah berusaha untuk bangun"
Michael beranjak dari tidurnya dan menindih sebagian tubuh Sarah.
"Aku udah bilang gitu, masa kamu lupa?", tanya Michael.
"Oiya? Hahaha... mungkin saat itu masih ada sedikiiiiiit bius yang masih tersisa, jadi aku lupa"
"Kamu banyak alasan", ucap Michael dan segera mencium Sarah.
Michael tersenyum. " Aku kan cuma menciummu, apa dokter melarangnya?", canda Michael.
"Tapi kan..."
"Yang ga boleh itu kalo kita bersetubuh. Kalo cuma ciuman kan boleh, oral juga boleh", goda Michael.
"Iiihhhh...", seru Sarah sambil mencubit pinggang Michael.
Michael kembali mencium Sarah, meluapkan segala perasaan rindunya pada sang istri.
"Aku sangat mencintaimu", ucap Michael.
"Aku juga, aku sangaaattt mencintaimu", jawab Sarah.
***
Keesokan paginya, Sarah bangun lebih awal. Dia menengok ke kamar Lucy dan melihat Lucy yang masih tertidur pulas. Sarah berjalan menuju balkon dan menikmati udara pagi yang sejuk.
"Apa kau ingin minum sesuatu yang hangat, nyonya?", tanya bibi Rose.
"Ehhh? Hmmm... aku mau minum teh ya, bi. Dengan satu sendok madu", jawab Sarah.
"Baik nyonya, saya akan buatkan terlebih dulu".
Sarah turun dari balkon dan berjalan menuju taman kecil tak jauh dari balkon. Ternyata ada pohon bunga lili putih yang mekar disana. Michael datang menghampiri Sarah.
"Bunganya udah mekar?", kata Michael.
Sarah menoleh ke arah Michael dan tersenyum. "Iya, aku baru kali ini melihatnya".
"Dulu Leona menanamnya disini, dia sering merasa jengkel karena bunganya aneh", jelas Michael.
"Aneh?"
"Kadang berbunga, seperti sekarang. Tapi pernah ga berbunga sama sekali"
"Hahahaha... benarkah? Oiya, udah ngabarin mama?"
"Udah, nanti agak siangan mereka akan kesini"
"Lucy pasti akan senang", ucap Sarah.
***
Michael dan Sarah segera bersiap, Lidya dan Harry datang pukul 10 pagi ke rumah Michael. Lidya langsung memeluk Sarah ketika baru saja datang.
"Apa keadaanmu udah membaik?", tanya Lidya.
"Udah, ma. Hanya sesekali masih kerasa nyeri dibekas operasinya"
Lidya membelai rambut Sarah dengan perlahan. "Jangan terlalu lama bersedih ya, mama tahu kamu wanita yang kuat".
Tak berapa lama, keluarga Sarah datang.
"Kejutaaaannn...!", seru Lois.
"Uncle Lois!", teriak Lucy sambil berlari dan memeluk Lois.
"Bukannya kakak bilang harus ke rumah sakit?", tanya Sarah.
"Enggak, hari ini aku bisa libur", jawab Lois sembari memeluk Sarah.
"Ini bahan-bahan yang kamu minta, ada yang kurang ga?", ucap Alice.
Sarah mengecek bahan-bahan yang dibawa Alice. "Enggak kak. Sayang, tolong bawa ke dapur", pinta Sarah pada Michael.
"Buatlah senyaman mungkin disini, bibi Rose juga telah menyiapkan buah dan beberapa cemilan. Kita bertiga mau buat kue dulu di dapur", ucap Sarah.
"Yeaaayyyyy... bikin cupcake cokelat!", seru Lucy.
"Bibi Rose istirahat aja disini, ikut ngobrol sekalian", ucap Michael.
"Eee... enggak tuan, saya..."
"Kemarilah bi, kamu juga butuh istirahat", kata Lidya memotong pembicaraan bibi Rose.
Michael, Sarah dan Lucy mulai membuat cupcake cokelat sesuai permintaan Lucy. Sementara keluarga Michael dan Sarah serta bibi Rose sedang mengobrol dan bersenda gurau di ruang keluarga.
"Kenapa hanya diam saja disitu, kesinilah bantu aku sama Lucy", kata Sarah.
"Aku disini kan ngefoto kalian", jawab Michael.
"Ngapain difoto-foto sih?"
"Ya, gapapa. Aku kan cuma mau mengabadikan momen istri dan anakku", ucap Michael sambil memeluk Sarah dari belakang dan mencium pipi Sarah.
"Aduuhhhh... sepertinya kuenya akan lama matangnya", canda Lois.