Cupcake's Love

Cupcake's Love
#50



Hari berikutnya, seperti biasanya Sarah pergi ke toko kuenya. Hari ini, Alice tidak pergi ke toko untuk beristirahat. Sarah kembali disibukkan dengan rutinitasnya di dapur toko. Membuat dan menghias kue membuat dirinya terlupa akan perceraian yang sedang dihadapinya.


Ponsel Sarah berdering, Sarah mengambil ponselnya dan melihat notifikasinya.


"Ulang tahun Michael 🖤"


Ya, seminggu lagi Michael akan berulang tahun. Sarah sengaja memasang alarm pengingatnya jauh-jauh hari agar dirinya dapat mempersiapkan segala sesuatunya. Namun dengan kondisi hubungan mereka yang sekarang ini, Sarah menjadi benar-benar buntu harus melakukan apa untuk Michael.


Sarah keluar menuju meja kasir dan menghampiri Lily dan Ellen. "Udah selesai laporan keuangannya?", tanya Sarah.


"Udah, bu", Lily mengambil sebuah map dan memberikannya pada Sarah.


"Terimakasih", ucap Sarah yang kemudian berjalan menuju meja di pojok ruangan.


"Bu Sarah kenapa ya? Akhir-akhir ini kelihatan kayak lagi ada masalah", bisik Lily.


"Aku juga berpikir kayak gitu", jawab Ellen.


Sarah memeriksa laporan keuangan tokonya. Tidak berapa lama, seorang pria masuk ke dalam toko, melihat ke sekeliling dan langsung menghampiri Sarah.


Tok... tok...


Pria tersebut mengetuk meja tempat Sarah duduk.


"Boleh saya duduk disini?", tanyanya.


"Ehhh... pak David. Silahkan duduk, pak. Aku akan ambilkan minum dulu"


"Eee... ga usah, bu. Terimakasih banyak. Saya sedang bertugas di luar dan... kebetulan lewat sini jadi saya mampir sebentar"


Sarah menganggukkan kepalanya. "Ada perlu apa ya, pak?", tanya Sarah penasaran.


"Eeee... sebelumnya saya... meminta maaf kepada bu Sarah karena saya telah lancang memberitahu jadwal pak Michael pada bu Angela. Saya merasa sangat bersalah, terlebih sekarang... bu Sarah dan pak Michael sedang dalam masalah yang serius"


"Ohh... gapapa, pak. Masalah ini bukan salah pak David kok"


"Saya benar-benar merasa bersalah, saya sudah meminta pertimbangan istri saya dan... saya rasa saya harus melakukannya sebelum terlambat", ucap pak David sambil mengambil ponsel dari tasnya.


"Apa... boleh saya mengirim sebuah file kepada Anda?", tanya pak David.


"Eeee... silahkan, pak. Tapi ponsel saya ada di dalam, saya akan mengambilnya"


"Tidak perlu, bu", ucap Pak David sambil mengirimkan file video kepada Sarah. "Bukalah file itu saat bu Sarah sudah di rumah"


"Eeee... baiklah, pak"


"Saya mampir kesini hanya untuk mengirim file itu, bu. Saya pamit dulu, sekali lagi saya benar-benar minta maaf", ucap pak David sambil membungkuk dan kemudian pergi meninggalkan toko.


Sarah penasaran dengan file yang pak David kirimkan, tapi Sarah tetap menahan untuk membukanya hingga dia sampai di rumah nanti. Dia kembali fokus pada pekerjaannya.


***


Setelah menutup toko kuenya pada pukul 6 petang, Sarah kembali ke rumahnya naik taksi. Ditengah perjalanan, ponsel Sarah berdering. Alice mengirimkan sebuah foto selfie dirinya dan Lois sedang berada di depan kamar Sarah. Sarah menelpon Alice untuk memastikannya.


"Kalian masih disitu?", tanya Sarah.


"........."


"Hahaha... baiklah, sebentar lagi sampai kok"


Alice dan Lois berada di apartemen Sarah hingga larut malam. Mereka memasak bersama untuk makan malam dan saling bersenda gurau. Karena begitu menikmati waktu bersama Alice dan Lois, Sarah baru teringat tentang file yang dikirimkan pak David saat ia sudah terbaring untuk tidur


"Ini udah hampir jam dua belas dan aku ngantuk banget, aku buka besok aja lah", gumamnya.


"Dasar bodoh!", gumam Sarah.


***


Keesokan paginya, Sarah datang ke rumah orangtuanya pagi-pagi sekali. Sarah berencana pergi ke makam Leona di Westwood. Sarah meminjam mobil Lois untuk memangkas perjalanan yang terlalu lama jika naik bus.


"Kamu yakin mau kesana sendirian?", tanya Alice.


"Iya, kak. Kakak ke toko aja, jangan beritahu Michael kalo aku pergi ke Westwood"


"Ga mau aku temenin, biar ada yang gantiin kamu nyetir. Itu jauh loh", ucap Alice.


"Kakak, kamu kan lagi hamil. Aku ga mau kalo nanti kenapa-kenapa di jalan"


"Yaudah deh", jawab Alice.


"Hati-hati di jalan, kalo capek cari penginapan aja disana", kata Rachel.


Sarah tersenyum. "Enggak capek kok, ma. Tenang aja", ucap Sarah sambil memeluk Rachel.


"Aku pergi dulu ya, bye...", sambung Sarah.


Sarah melajukan mobilnya menuju ke rumah Michael, dia mengecek keberadaan Michael terlebih dahulu.


"Kenapa mobilnya di rumah? Apa dia ga kerja?", gumamnya.


Tak berapa lama, muncul sebuah mobil sedan hitam yang berhenti di depan rumah Michael. Angela turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah Michael.


Sarah tersenyum sinis melihat kehadiran Angela di rumah Michael.


"Wanita itu...", guman Sarah kesal sambil mengepalkan tangannya.


Sarah kemudian melajukan mobilnya ke Westwood. Sepanjang perjalanan pikiran masih melayang pada kedatangan Angela di rumah Michael.


"Kenapa aku merasa cemburu? Aaahhh... mengacaukan mood aja, tahu gitu tadi ga usah kesana aja biar ga lihat sekalian", ucap Sarah kesal.


"Lagian ngapain sih dia datengin Michael mulu? Mau ngapain pula dia pergi ke rumah? Mana Michael ga kerja, aaahhhh... ini membuatku gila!", seru Sarah.


Perjalanan ke Westwood cukup lancar, seperti biasa Sarah berhenti di sebuah toko bunga dekat pemakaman untuk membeli bunga lili putih kesukaan Leona. Sarah memarkir mobilnya dan berjalan menuju makam Leona.


Sarah terkejut ketika mendapati adanya bunga lili putih yang masih segar di makam Leona.


"Siapa yang datang kesini?", ucap Sarah sambil meletakkan bunga yang ia bawa dan memegang bunga lili yang telah diletakkan sebelumnya.


"Sepertinya belum lama, apa orangtua Leona kesini? Atau Michael?", ucap Sarah yang kemudian melihat ke sekeliling pemakaman.


*Di rumah Michael*


Michael yang sedang tidak enak badan itu melayani kedatangan Angela di ruang tamu.


"Sudah ku bilang pergilah, aku mau istirahat", kata Michael.


"Kenapa kamu seperti itu padaku? Aku kesini membawakanmu makan, kamu belum makan dari pagi. Wajahmu sampai pucat seperti itu", ucap Angela sambil mendekat dan mencoba membelai wajah Michael.


Michael menangkis tangan Angela, dia segera berdiri dari duduknya. "Itu bukan urusanmu, pergilah!", usir Michael yang kemudian masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintunya.


"Heh... Michael, harusnya kamu berterimakasih padaku. Aku yang bela-belain datang kesini saat kamu sakit begini, ga kayak Sarah yang mencampakkanmu gitu aja", teriak Angela di depan pintu ruang kerja Michael.


Michael tidak menggubris perkataan Angela yang terdengar nyaring di ruangannya. Dia membaringkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya dan mengecek ponselnya. Tidak ada notifikasi pesan atau telpon dari Sarah seperti yang dia inginkan.


"Apa benar kau telah mencampakkanku?", gumam Michael lirih.