Cupcake's Love

Cupcake's Love
#57



Michael menerima amplop cokelat yang disodorkan oleh Sarah. Pikirannya seketika menjadi kacau.


"Dia benar-benar melakukannya", gumamnya dalam hati.


"Boleh aku bertanya sesuatu?", ucap Sarah.


Michael mendongak menatap wajah Sarah dan mengangguk. Sarah menghela nafasnya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tentang kejadian di The Edgewater, kamu pernah bilang... akan menunjukkan rekaman cctv di lift. Kenapa kamu ga melakukannya?"


Michael terdiam sejenak, dia memandangi wajah sendu Sarah. "Kamu... begitu memaksa untuk berpisah, jadi kupikir... itu ga akan berguna"


Sarah menundukkan kepalanya untuk menyeka air matanya.


"Kau... sudah selesai mengisi berkasnya kan? Aku akan pulang sekarang", ucap Michael yang kemudian mengambil jasnya dikursi dan berjalan keluar dari apartemen Sarah.


Michael berjalan seperti tanpa tenaga, parkiran mobil terasa begitu jauh darinya. Michael meletakkan jas dan amplop cokelat itu dijok sebelah, dia membenturkan kepalanya pada setir mobilnya. Dilihatnya lagi amplop cokelat itu, dan Michael meraih amplop itu untuk membukanya.


Deg...


Mata Michael terbelalak melihat berkas Sarah.


"Kosong?", gumam Michael.


Ya, berkas perceraian Sarah masih kosong, Sarah sama sekali tidak mengisi berkas perceraiannya. Michael bergegas keluar membawa amplop cokelat itu dan berlari menuju kamar Sarah. Dia menekan bel pintu berulang kali dan kemudian Sarah membuka pintunya dengan wajah sembabnya.


Michael menutup pintu dan menuntun Sarah masuk ke dalam.


"Kenapa berkasmu... kosong?", tanya Michael lirih sembari menunjukkan berkas Sarah.


"Pak David datang menemuiku di toko dan mengirimkan file rekaman cctv dilift. Aku... telah melihatnya"


"Sarah...", ucap Michael sembari melepaskan amplop itu dari tangannya dan memegang kedua pergelangan tangan Sarah.


"Kenapa bukan kamu yang menunjukkan itu padaku? Apa kau menyerah terhadapku?", ucap Sarah yang kembali menangis terisak.


"Sarah, aku..."


"Kenapa kamu ngebiarin aku dirudung perasaan bersalah padamu karena kesalahpahaman itu? Kenapa kamu setega ini padaku?", ucap Sarah memotong perkataan Michael. Tangisannya kian kencang, air matanya begitu deras membasahi pipinya.


Michael menarik tangan Sarah dan memeluknya erat.


"Maafkan aku karena telah menuduhmu, maafkan aku karena telah melukai perasaanmu", ucap Sarah sambil terisak dalam pelukan Michael. Tangannya begitu erat melingkar pada pinggang Michael.


"Bukannya aku menyerah terhadapmu, Sarah. Bukannya aku tidak mau memperjuangkan rumah tangga kita, aku terlalu takut jika nantinya kita terus berdebat maka kau akan... menjauhi Lucy karenaku", jelas Michael sambil mengeratkan pelukannya.


"Mana bisa aku melakukan itu terhadap Lucy, kenapa kamu tega sekali!", ucap Sarah sambil memukul-mukul punggung Michael.


Michael melepaskan pelukannya, mengangkat dagu Sarah dan menatap wajah sembabnya. Dia menyeka bekas air mata pada pipi Sarah. Tangan Sarah masih dengan erat memegang kemeja Michael.


"Kamu mau kan maafin aku?", ucap Michael.


"Semua ini salahku, kenapa kamu yang minta maaf?", jawab Sarah dengan sesenggukan.


"Aku juga melakukan kesalahan padamu", kata Michael sembari sambil tersenyum.


"Aku... ga mau bercerai darimu", ucap Sarah lirih.


"Kamu bilang apa?"


"Aku ga mau bercerai sama kamu", Sarah mengulangi jawabannya.


"Hah? Lebih keras lagi!", goda Michael sambil tersenyum.


"Iihhh... mulai deh", Sarah menunduk dan mencubit perut Michael.


"Awww... sakit... sakit...", teriak Michael sambil menahan tawa. Michael memegang pipi Sarah dan memajukan wajahnya, ia mengecup sekilas bibir Sarah.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, OK?", kata Michael.


Sarah mengangguk. "Aku sangat mencintaimu", ucap Sarah.


Michael tersenyum dan mengelus lembut pipi Sarah. "Aku juga sangat mencintaimu", jawab Michael.


"Jadi ini kado yang lainnya untukku?", tanya Michael.


Sarah tersenyum dan melingkarkan tangannya pada leher Michael, bibir mereka kembali bertemu dan saling membelit. Sarah membantu Michael membuka kancing kemejanya, dan satu per satu pakaian mulai mereka tanggalkan.


Michael meluapkan segala kerinduannya yang selama ini ia rasakan. Menciumi Sarah, meninggalkan banyak jejak disana sebelum akhirnya memulai penyatuan tubuh mereka.


***


Michael membaringkan tubuhnya disamping Sarah dan melingkarkan tangan diperutnya. Sarah menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan memiringkan tubuhnya menghadap Michael. Dia mengusap keringat di dahi Michael dan tersenyum saat mereka bertatapan.


"Kenapa tadi ga langsung bilang kalo kamu ga mau pisah?", tanya Michael.


"Kamu aja habis terima amplopnya langsung pergi, sedih tahu!", jawab Sarah dengan nada kesal.


"Hahahaha... iya... iya, maafkan aku. Aku pikir kamu benar-benar mau pisah, makanya aku langsung pergi tadi"


"Makanya dicek dulu, dokumen kantor aja dicek giliran punyaku enggak", jawab Sarah sambil mencubit pipi Michael.


Michael tertawa. Dia menarik badan Sarah dan memeluknya. "Aku merasa sangat bahagia sekarang", ucapnya sembari mengecup kening Sarah.


"Apa kamu juga ga tahu ketika aku pindah kesini?"


Michael menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Biasanya kamu dengan sangat mudah melacakku ada dimana"


"Disaat seperti itu kamu butuh waktu untuk memikirkannya tanpa gangguan dari siapapun, sayang. Itu sebabnya aku sengaja ga pengen tahu kamu dimana, dan akhirnya kamu yang ngomong sendiri"


"Sayang..."


"Ya?"


"Apa... kamu pergi ke makam Leona minggu lalu?"


Michael mengangguk. "Apa kamu juga kesana?"


"Iya, aku pergi kesana dan melihat ada bunga lili yang sepertinya belum lama diletakkan"


"Aku mencoba mengikutimu, pergi ke makam Leona dan berkeluh kesah padanya. Ternyata itu cukup membantu. Oiya, kenapa selama aku di Vancouver kamu sama sekali ga ngasih kabar? Cuma untuk sekedar ngirim foto Lucy gitu"


"Oohhh... eeee... Itu karena... aku... aku... terlalu menikmati waktuku sama Lucy"


"Benarkah?", ucap Michael dengan salah satu alis yang terangkat. Sarah menjadi salah tingkah dengan tatapan Michael itu.


"Aku suka lihat ekspresi wajahmu jika salah tingkah begitu", kata Michael sambil menahan tawa. Sarah membenamkan wajahnya pada dada Michael untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Apa... sifatku masih kekanak-kanakan?"


Michael menggelengkan kepalanya. "Kamu sangat dewasa, sayang. Kenapa bertanya begitu?"


"Soal masalah kemarin... Angela bilang aku terlalu kekanak-kanakan"


Michael melepaskan pelukan Sarah, dia menurunkan tubuhnya agar matanya sejajar dengan Sarah.


"Itu karena kamu sangat mencintaiku, kamu cemburu saat melihatku dekat dengan wanita lain. Terlebih memang saat itu kondisinya sangat kacau, wajar jika kamu menuduhku melakukan sesuatu dengan Angela"


Sarah hanya terdiam, dia menatap Michael dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Besok pulang kembali ke rumah ya? Aku dan Lucy sangat menginginkanmu kembali ke rumah", ucap Michael sembari mengelus pipi Sarah.


Sarah mengangguk. "Aku mau ke rumah orangtua kita terlebih dulu, aku mau minta maaf telah membuat mereka kecewa"


"Aku juga Sarah, aku juga mengecewakan mereka. Jangan terus menyalahkan dirimu seperti itu"


"Ya, kita harus meminta maaf pada mama dan papa. Setelah itu, untuk sesuatu yang berharga bagi kita"


Michael mengangguk. "Ya, Lucy. Dia mungkin yang paling bersedih saat kita berpisah kemarin. Kita akan menjemputnya di sekolah"


"Dia terus memaksaku pulang ke rumah, dia bahkan menyuruh Alice untuk lebih rajin lagi membantuku agar aku bisa cepet balik ke rumah", ucap Sarah sambil meneteskan air matanya.


Michael menyeka air mata Sarah dan kembali memeluknya dengan erat.