Cupcake's Love

Cupcake's Love
#68



Maafkan baru sempat up lanjutan ceritanya lagi, karena saya baru saja selesai operasi. Jadi kemarin fokus ke penyembuhan dan emang agak buntu pikirannya ga bisa lanjutin ceritanya 😅🙏


Happy reading ya 😘


*******


*Beberapa hari kemudian*


Sarah dan Michael tiba di Santorini untuk melakukan honeymoon kedua nereka. Sarah segera merebahkan tubuhnya di kasur begitu masuk ke dalam kamar hotel. Michael tersenyum melihat istrinya yang sepertinya sedang jetlag itu.


"Lelah?", tanya Michael sembari mengecup kening Sarah.


Sarah mengangguk dengan mata yang masih terpejam.


"Istirahatlah, kita ga harus jalan-jalan hari ini. Lagian juga kita udah pernah kesini kan?"


Sarah segera duduk dan menatap Michael. "Tapi aku pengen lihat sunset di Oia"


"Kita bisa pergi besok, sayang. Sekarang kamu istirahat dulu aja"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku maunya sore ini, aku mau ngomong sesuatu sama kamu"


Michael mengernyitkan dahinya. "Apa sepenting itu sampai kamu maksa harus sore ini kesana?"


Sarah menganggukkan kepalanya.


"Kamu kan bisa ngomong sekarang disini, apa harus nunggu sampai Oia?"


"Iya, harus di Oia sayang"


"Ngomong apa sih? Aku jadi penasaran"


"Nanti kamu juga tahu hehehehe..."


"Penting?"


"Sangat penting!"


Michael diam sejenak. "Pantas saja selama di pesawat kamu banyak minum air putih, apa sepenting itu?"


Sarah mengangguk. "Percayalah, sayang. Ini penting banget dan... aku beneran pengen ngomong sama kamu kalo kita udah di Oia"


Michael tersenyum dan mengelus rambut Sarah. "Rebahan aja dulu, sejam lagi kita kesana ya", ucap Michael sambil ikut rebahan disebelah Sarah.


Sarah mengangguk dan membalas senyuman Michael. Mereka nampak bersenda gurau dengan posisi tubuh yang saling berhadapan. Ketika sudah cukup lama beristirahat, mereka memutuskan untuk bersiap-siap menuju Oia.


"Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya", ucap Sarah sambil merapikan tasnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Oke, aku tunggu di depan kamar ya"


Tak berselang lama, Sarah keluar kamar dan mereka segera menuju Oia untuk melihat sunset.


"Ahhh... ga berubah sama sekali!", seru Sarah ketika baru sampai disana.


"Kita kesini beberapa bulan yang lalu, sayang. Memang kau mau perubahan seperti apa?", canda Michael.


"Hahahaha... enggak, sayang. Aku juga ga tahu tadi ngomong apaan"


Michael mendekat kepada Sarah dan memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya pada bagu Sarah.


"Sayang... malu ih", bisik Sarah sambil melirik kanan kiri.


"Kenapa? Kita kan suami istri, mereka juga cuma lewat kan? Lagian kan kita cuma pelukan, ngapain malu? Mereka juga biasa kan pelukan gini ditempat umum"


Sarah mengangguk perlahan. "Aku... ga nyangka pernikahan kita akan secepat ini. Tahu-tahu udah setahun. Banyak banget drama-drama rumah tangga udah kita lalui. Mungkin... aku harus segera membuang sifatku yang kekanak-kanakan ini"


"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"


"Aku ingat semua kejadian kemarin, setiap ada masalah denganmu pasti aku selalu pergi dari rumah. Aku bahkan... mengambil keputusan yang bodoh saat aku sedang emosi. Aku... akan memperbaiki kesalahanku, sayang"


Sarah tersenyum. "Kamu bilang jangan menyalahkan diri sendiri, tapi baru saja kau bilang malah menyalahkan dirimu sendiri", ucap Sarah sembari mencubit pinggang Michael.


"Awwww...", pekik Michael.


"Semua ini... takdir, sayang. Tuhan memberikan kita ujian itu untuk menguji seberapa kuat cinta kita dalam rumah tangga ini. Aku ga dendam padamu meskipun semua kejadian yang menimpamu itu terjadi karenamu, karena aku tahu... suamiku yang tampan ini akan datang untuk menolongku"


"Benarkah?"


Sarah mengangguk. "Aku bangga memiliki suami sepertimu, sayang. Aku benar-benar bersyukur pada Tuhan karena aku bisa mendampingimu sebagai istri"


"Apa... ini hal penting yang sebenernya mau kamu katakan itu?"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Eeee... bukan, sayang. Ada hal lain"


"Apa itu?"


"Tapi... kau harus janji jangan marah dulu. Aku melakukan semua ini dengan banyak pertimbangan"


Michael tersenyum. "Sebenernya kamu mau ngomong soal apa? Cepet katakan sebelum matahari mulai menghilang", canda Michael.


"Tapi janji ga bakal marah ya?"


Michael mengangguk dan mencium kening Sarah. "Aku janji"


Sarah segera melepaskan tangan Michael yang sedari tadi memeluk pinggangnya. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna navy dengan pita abu-abu dan menyerahkannya kepada Michael.


"Apa ini?"


"Maaf karena kemarin aku benar-benar lupa dengan anniversary kita, sayang. Aku ga bermaksud melupakannya, aku lupa karena aku sibuk dengan banyaknya pekerjaan di toko"


Michael menaikkan satu alisnya, seperti memberi kode untuk penjelasan lebih lanjut pada Sarah.


"Aku... aku bahkan belum sempat membeli kado anniversary untuk kita. Aku benar-benar buntu memikirkannya, hingga akhirnya... aku menyadari hadiah ini"


"Boleh aku buka sekarang?"


Sarah menganggukkan kepalanya. "Kotaknya memang kecil, tapi aku yakin isinya akan sangat berharga bagi kita", ucap Sarah dengan senyuman yang lebar.


"Kenapa memberi kado? Kamu dan Lucy udah jadi kado terindah dalam hidupku sekarang ini"


"Udah... cepet buka kotaknya, ini juga akan jadi kado terindah bagi kita"


"Hahaha... baiklah".


Michael segera membuka kotak tersebut. Matanya membulat tak percaya jika kotak tersebut berisi testpack digital dan selembar foto hasil USG.


"Sayang... ini...", ucap Michael terbata-bata.


"Beberapa hari yang lalu, ketika aku begitu kelelahan setelah malam anniversary itu, dan kamu bilang menyukai tubuhku yang makin berisi ini, aku menyadari bahwa aku melupakan waktu menstruasiku, sayang. Mungkin karena kesibukan di toko, dan... aku juga ga mengalami tanda-tanda awal kehamilan, aku benar-benar ga berpikiran soal hamil. Tapi akhirnya aku beranikan diri untuk membeli test pack di apotek, aku juga berbohong padamu saat aku periksa ke dokter untuk meminta vitamin. Tapi saat itu aku memang ke dokter umum, dan... dia menyarankanku untuk periksa ke dokter kandungan segera. Dan... ini hasilnya", jelas Sarah lalu menunjuk foto hasil USG.


Michael mengambil foto hasil USG itu, dia melihatnya dengan seksama dan mata yang berkaca-kaca.


"Dokter pun ga percaya aku bisa hamil secepat ini, karena jika dari perhitungan maka... selesai aku pendarahan keguguran itu, aku ga lagi menstruasi dan mungkin sudah positif hamil setelah kita melakukannya saat ke Disneyland itu. Maaf karena aku benar-benar teledor, sayang. Aku sampai ga memperhatikan tubuhku sendiri. Dan... bahkan aku bisa saja membahayakan kandunganku ini karena kelelahan bekerja. Itu sebabnya tadi... aku memintamu biar ga marah sama aku"


"Tapi harusnya kau katakan dari kemarin, sayang. Jadi kita bisa batalin honeymoon kita kesini, bukankah terlalu berbahaya untukmu jika naik pesawat?"


"Sayang... aku udah konsultasiin ini semua sama dokter. Kan aku udah bilang kalo ini semua udah dengan banyak pertimbangan. Usia kehamilanku saat ini memang baru 12 minggu, padahal amannya kalo naik pesawat itu harusnya 14 minggu. Tapi karena aku ga mengalami mual muntah dan sebagainya, jadi dokter bilang ga masalah bagiku untuk naik pesawat kesini. Dokter juga membekaliku dengan obat mual muntah, vitamin dan penguat janin. Aku juga udah menuruti kata dokter agar aku banyak minum selama di pesawat. Semuanya aman, sayang"


"Ya Tuhan... kamu ga bercanda kan, sayang? Apa yang aku denger barusan ini nyata kan?"


Sarah menyeka bekas air mata yang jatuh dipipi Michael dan mengembangkan senyum lebarnya. "Iya sayang, anggota keluarga kita akan bertambah satu. Dan kita kesini bukan untuk honeymoon, tapi babymoon"


****


Rencananya Cupcake's Love mau saya akhiri di 2 episode lagi, saya usahain hari Minggu besok itu ceritanya udah tamat ya. Saya ucapkan terimakasih banyak untuk kakak-kakak pembaca semuanya. Maafkan jika novel pertama saya ini masih acak-acakan. Mohon saran dan kritiknya agar bisa jadi koreksi saya dipenulisan novel selanjutnya. Terimakasih banyak 😘