
Sarah kembali ke rumah orangtuanya pada malam harinya, tepat saat waktu makan malam. Sarah mengembalikan mobil Lois dan ikut makan malam bersama keluarganya.
"Apa... kalian jadi untuk mengurus perceraiannya?", tanya Rachel.
Sarah memandangi ibunya dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Sudahlah, kau ini kenapa bahas hal seperti itu saat makan", tegur Harry.
"Aku cuma tanya Sarah doang", jawab Rachel.
***
Sarah kembali ke apartement setelah makan malam bersama keluarganya. Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan masih teringat akan kejadian dimana Angela masuk ke dalam rumah Michael.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan?", gumamnya sambil memejamkan matanya.
Kehadiran Angela benar-benar sebuah petaka baginya. Ia bahkan harus rela melepaskan Michael hanya karena tak ingin merasakan sakit hati yang berkepanjangan.
***
Keesokan harinya, Angela kembali datang ke rumah Michael dengan membawakan makanan untuk sarapan. Michael membukakan pintu dengan wajah yang pucat dan rambut berantakan karena dia baru saja bangun tidur.
"Michael, kenapa wajahmu pucat begitu? Ayo aku antar ke rumah sakit", ucap Angela panik.
"Aku gapapa. Ngapain lagi kesini?"
"Aku... bawa makanan, sepertinya dari kemarin kamu ga makan. Ayolah makan dulu, lalu minum obat dan istirahatlah"
"Pulanglah, kau hanya merepotkanku kalo disini", ucap Michael sambil menutup pintu. Angela menahan pintunya dan memaksa untuk masuk ke dalam rumah.
"Kamu apa-apaan sih? Keluar sana!", bentak Michael.
Namun Angela tetap masuk ke dalam rumah dan menyusun makanan yang ia bawa dimeja makan.
"Ga usah teriak kayak gitu, aku kesini karena khawatir sama kamu", jawab Angela.
Michael segera menghampiri meja makan, ia mengambil semua wadah makanan yang Angela bawa dan membuangnya pada tempat sampah di dapur.
"Aku bilang keluar!", bentak Michael.
"Kamu keterlaluan, Mic!", kata Angela dengan nada kesal.
Angela keluar dari rumah Michael dengan berlinang air mata, dia merasa tidak dianggap oleh Michael. Angela segera melajukan mobilnya menuju toko kue Sarah. Semua kemurkaan Angela saat ini selalu berpusat pada Sarah. Dia menganggap Sarah telah mengacaukan segala rencananya.
Angela membuka pintu toko dengan kasar, Sarah dan beberapa karyawan toko termasuk Alice dibuat kaget dan langsung menoleh ke arah Angela. Angela berjalan menghampiri Sarah yang sedang mengelap meja toko dan plaaaakkk... Angela menampar Sarah.
"Kau keterlaluan, Sarah. Kenapa kau menghasut semua orang disekitar Michael untuk membenciku! Kau bahkan tega meninggalkan Michael sekarat dua hari ini di rumahnya, istri macam apa kau ini, hah?!", bentak Angela.
Sarah tersenyum sinis. "Aku bahkan ga cerita soal kamu pada siapa pun", ucap Sarah sambil mendekatkan wajahnya pada Angela. "Mereka semua membencimu karena sikapmu yang begitu murahan. Menjijikkan!", bisik Sarah pada Angela.
Angela jadi makin naik pitam, tangannya sudah bersiap untuk kembali menampar Sarah namun dihentikan oleh Alice.
"Kalau tangan kotormu ini sampai menyentuh adik iparku lagi, akan kujejali mulutmu dengan mixer dan memutarnya pada kecepatan tinggi hingga mulut busukmu itu robek!", ucap Alice sambil memutar tangan Angela.
Angela mengerang kesakitan, ia segera menarik tangannya dan pergi meninggalkan toko. Semua karyawan toko mendekat pada Alice dan Sarah.
"Kamu gapapa, Sarah?", tanya Alice.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya.
"Jadi wanita ini yang menggoda Michael? Berani-beraninya dia datang kesini", gerutu Alice.
"Udahlah kak, biarin aja. Aku males berurusan sama dia lagi", ucap Sarah sambil melanjutkan pekerjaannya.
Sarah menjadi kurang fokus karena kejadian tadi pagi. Sarah memikirkan keadaan Michael, dia mencoba untuk menghubungi Michael dan menanyakan keadaan. Namun niatnya selalu diurungkannya. Mengapa perkara menghubungi Michael saja menjadi hal yang sulit baginya sekarang?
Setelah toko tutup, Sarah berencana pergi ke rumah Michael tanpa memberitahu Alice. Sarah membawa beberapa kue untuk dibawa ke rumah Michael.
"Apa masalah dengan Michael membuatmu jadi doyan makan?", canda Alice yang melihat Sarah mengambil cukup banyak kue.
Sarah mengangguk dan tersenyum canggung.
"Jaga pola makan, Sarah. Jika telah resmi berpisah dengan Michael kan kamu harus tetap jaga penampilan untuk bisa menggaet laki-laki lain", ucap Alice.
***
Sarah pergi ke rumah Michael dengan naik taksi. Ketika turun dari taksi, Sarah melihat mobil Angela yang masih terparkir di depan rumah Michael. Sarah memberanikan diri berjalan menuju pintu pagar yang ternyata tidak dalam keadaan terkunci.
Sarah berjalan masuk ke dalam rumah, terdengar suara teriakan seperti orang yang sedang bertengkar. Sarah mencoba mencari sumber suara itu dan ternyata berasal dari kamar. Sarah berjalan mendekati kamar dengan pintu yang agak terbuka itu. Sarah mendengarkan pertengkaran Angela dan Michael dari luar kamar.
"Tapi kamu harus makan, Mic", suara Angela terdengar cukup jelas dari luar kamar.
"Sudah kubilang pergilah dan jangan lagi datang kesini! Apa kau tuli?", bentak Michael.
"Kamu kenapa bersikap dingin seperti itu kepadaku, aku kan hanya ingin menolongmu"
"Pergi sekarang juga!", bentak Michael dibarengi dengan suara benda yang jatuh dan pecah.
Suara itu mengagetkan Sarah, hingga akhirnya Sarah refleks mendorong pintu kamar dan terbuka lebar. Michael dan Angela memandangi Sarah. Angela yang menangis itu keluar kamar dan dengan sengaja menabrakkan dirinya pada tubuh Sarah. Angela mengambil tasnya di sofa ruang tengah dan keluar dari rumah Michael.
Michael berjalan perlahan dan duduk dipinggir kasur. Sarah masuk ke dalam kamar dan meletakkan kue serta tasnya dimeja rias. Sarah berjalan keluar kamar tanpa berbicara sepatah kata pun, ia kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan piring dan gelas serta makanan yang tumpah berserakan di lantai itu.
"Letakkan Sarah, aku akan membersihkannya nanti", ucap Michael lirih.
Sarah tidak menghiraukan perkataan Michael dan tetap membersihkannya.
"Aku bilang letakkan Sarah!", bentak Michael.
Sarah menoleh ke arah Michael dengan tatapan kesal. "Kalo kau ga mau didatangi dan diperhatikan oleh Angela, kenapa membiarkannya masuk ke rumah? Kenapa kau bodoh sekali!", bentak Sarah membalas bentakan Michael.
Michael terdiam sesaat, dia berdiri dan mencoba menghampiri Sarah untuk membantunya membersihkan lantai. Namun baru beberapa langkah berjalan, Michael justru ambruk.
"Michael!", seru Sarah yang kemudian meletakkan sapu dan pengkinya untuk menolong Michael.
Sarah mencoba memapah Michael kembali ke kasur, namun tangannya merasakan suhu yang begitu panas dari tubuh Michael.
"Kenapa badanmu panas sekali?", ucap Sarah panik.
Dengan sekuat tenaganya Sarah memapah Michael ke kasur dan membaringkannya. Sarah berlari keluar mengambil kotak obat dan mencari termometer.
"39,8", kata Sarah semakin panik.
Sarah kembali berlari ke dapur untuk mengecek makanan. Sarah melihat makanan terbuang di tempat sampah, dia mengerutkan dahinya. Kemudian Sarah membuka kulkas dan tidak melihat makanan yang bisa dihangatkan, semuanya masih bahan mentah.
"Kalo harus masak dulu kelamaan", gumam Sarah.
Sarah kembali berlari ke kamar dan menghampiri Michael yang terlihat begitu lemas di kasur.
"Michael, apa kau sudah makan?", tanya Sarah.
Michael menggelengkan kepalanya.
"Sakit begini kenapa ga makan sih!", ucap Sarah kesal.
Senyum Michael terkembang melihat Sarah yang sedang mengomeli dirinya.