
Pintu ruang operasi terbuka, dokter kandungan yang menangani Sarah keluar. Michael dan yang lainnya berdiri dan mendekat pada dokter.
"Nyonya Sarah mengalami complete miscarriage, hal itu mungkin dikarenakan adanya benturan yang begitu kuat pada perut. Usia kandungannya masih sangat muda, sekitar 3 minggu. Karena janinnya telah sempurna keluar dari rahim nyonya Sarah, jadi saya harus melakukan tindakan pembersihan rahim agar nantinya tidak terjadi infeksi", jelas dokter.
Michael tertunduk lesu. Lois mengelus punggung Michael mencoba untuk menenangkannya.
"Kalian tunggulah, aku akan membantu pemindahan Sarah ke ruangan", ucap Lois.
Tak berselang lama, Andrew dan para perawat keluar dan mendorong Sarah menuju ruangan. Lois mengikutinya dari belakang.
"Sarah tidak harus berada di ruang ICU, Andrew akan membawanya ke ruang inap biasa dengan tetap memasang beberapa peralatan medisnya", jelas Lois.
Michael dan keluarga Sarah berjalan menuju ruang rawat inap Sarah.
"Mama dan papa pulanglah dengan Alice, aku akan menunggui Sarah disini", ucap Michael.
"Aku akan menunggu sampai Sarah bangun", jawab Rachel yang masih berlinang air mata.
"Ma... meskipun kondisi Sarah OK, tapi dia sedang dalam kondisi koma pasca operasi. Mama pulanglah, aku akan menemani Michael disini", kata Lois.
"Aku akan mengajaknya pulang bersama Alice, kabari papa jika ada perkembangan dari Sarah", kata Harry.
Lois mengangguk. Orangtua Sarah dan Alice pulang kembali ke rumah. Michael duduk disamping ranjang Sarah, dia memandangi Sarah dan menggenggam tangannya.
"Bersabarlah... semoga Sarah akan segera sadar", ucap Lois.
"Akan berapa lama dia seperti ini?", tanya Michael.
"Itu semua tergantung dari kondisi Sarah, semoga tidak akan lama"
Michael mengangguk.
"Aku akan pergi ke ruanganku, telpon aku jika terjadi sesuatu"
"Baiklah", jawab Michael.
Michael menggenggam erat tangan Sarah dan menciumnya. "Bangunlah, Sarah", ucap Michael dengan meneteskan air matanya.
Pikirannya kembali ke masa lalu saat dia menemani Leona yang kritis karena penyakitnya. Michael juga teringat dengan obrolan malamnya dengan Sarah.
"Kita akan mengelola toko bersama. Kita juga akan membesarkan anak-anak bersama", ucap Michael lirih.
Pintu kamar terbuka, Michael menoleh ke belakang. Orangtuanya datang bersama Lucy. Lucy berlari menuju Michael dan memeluknya erat.
"Lucy memaksa untuk kesini, dia terus merengek sepanjang jalan", jelas Lidya.
"Bagaimana kondisi Sarah?", tanya Eddy.
"Kita hanya perlu menunggu Sarah sadar, dan...", Michael tidak dapat melanjutkan perkataannya, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Sarah mengalami keguguran", jelas Michael sambil memeluk erat Lucy.
Lidya dan Eddy terkejut. Lidya hampir jatuh pingsan dan Eddy memapahnya untuk duduk di sofa.
"Kau fokuslah untuk penyembuhan Sarah, kami akan merawat Lucy", kata Eddy.
Lucy hanya diam saja dari awal datang. Matanya terus memandangi Sarah yang berada di tempat tidur dan mendekap erat Michael.
"Kau mau pegang tangan mama?", tanya Michael.
Lucy menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku takut, ada banyak alat ditubuh mama"
Michael tersenyum. "It's OK, sayang. Alat-alat itu yang akan membantu mama untuk bangun lagi"
Lucy menatap Michael. "Apa dokter tidak marah jika aku mencium tangan mama?", tanya Lucy.
"Tentu saja tidak, uncle Lois adalah dokter mama. Dia sangat baik kan?"
Lucy menganggukkan kepalanya. Dia meminta turun dari gendongan Michael dan berjalan pelan menuju ranjang Sarah. Lucy naik ke kursi dan meraih tangan Sarah. Dikecupnya tangan Sarah secara perlahan.
Pemandangan yang membuat Michael dan kedua orangtuanya berkaca-kaca. Ini adalah pengalaman kedua Lucy melihat orang yang disayanginya dalam keadaan kritis.
***
Malam harinya, Michael masih setia menamani Sarah disamping ranjangnya.
Tok... Tok...
Lois datang dengan membawa makanan.
"Makanlah, kamu ga makan dari siang. Jangan karena nungguin Sarah yang lagi sakit terus kamu jadi ikutan sakit", kata Lois.
Michael segera bergabung dengan Lois untuk malam di sofa.
"Apa yang akan kau lakukan pada Denis?", tanya Lois.
"Aku tetap akan melaporkannya ke polisi. Pak David sedang mengumpulkan bukti-buktinya. Mungkin untuk kasus penculikan", jawab Michael.
"Aku pikir dia akan berhenti ketika Sarah menikah, tapi ternyata justru dia makin berani"
"Itu udah jadi obsesinya sejak SMA, sulit baginya untuk melepaskan begitu saja"
"Ya, kau benar. Dia memang terlihat begitu murung saat kalian menikah"
Michael tersenyum sinis. Tidak berapa lama, terdengar suara ketukan pada pintu ruangan. Pak David datang untuk menemui Michael dengan membawa berkas-berkas yang diminta.
"Apa kau sudah makan, pak? Jika belum, akan aku pesankan di kantin", kata Michael.
"Sudah, pak. Terimakasih banyak", jawab pak David.
"Eee... saya dan anak buah saya sudah menelusuri tempat di sekitaran kejadian. Kami juga telah memiliki copy-an video CCTV di perempatan jalan lokasi kecelakaan itu", sambung pak David sambil menyerahkan tablet dengan rekaman CCTV itu.
"Terlihat memang Denis Clark ada di lokasi kejadian, kemungkinan besar nyonya Sarah melarikan diri dan Denis mengejarnya", imbuh pak David.
Mata Michael berkaca-kaca melihat rekaman CCTV itu, nampak begitu jelas saat wanita yang dicintainya itu tertabrak mobil. Amarahnya kembali memuncak, namun dia mencoba untuk menahannya.
"Bagaimana soal pemilik mobil ini?", tanya Lois.
"Seorang wanita bernama Ashley Johnson, berusia 43 tahun. Dari hasil tes urin negatif, dia bilang terkejut ketika melihat nyonya Sarah tiba-tiba berada ditengah jalan. Kecepatan mobilnya agak kencang, dia tidak bisa mengendalikannya karena jalannya yang sempit", jelas pak David.
"Ada bukti lainnya?", tanya Michael.
Pak David menyerahkan berkas berisi foto sebuah rumah pada Michael.
"Rumah ini berada di Saint Luis St, sepertinya rumah ini menjadi tempat untuk Denis saat bersembunyi kemarin. Rumah ini dibeli atas namanya sendiri pada tahun 2013, bersamaan dengan apartemennya di Playa Vista", kata pak David.
"Sepertinya ini lingkungan yang sepi", ucap Lois.
"Ya, benar. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di jalan besar dan kawasan pertokoan", jelas pak David.
"Berarti Sarah berlari sejauh itu ya?", ujar Lois.
"Kau sudah menemui Ian Clark?", tanya Michael.
"Sudah, pak. Beliau meminta waktu untuk menyelidikinya sendiri, dan meminta jadwal untuk bertemu dengan Anda", ucap pak David.
"Ga perlu ketemu denganku, langsung aja proses di kepolisian", ucap Michael.
Pandangan mata Michael, Lois dan pak David langsung mengarah pada Sarah yang saat itu tiba-tiba kejang.
Michael dan Lois berlari menuju ranjang Sarah.
"Ada apa ini?", tanya Michael panik sambil menggenggam tangan Sarah.
"Tekan bel daruratnya", ucap Lois sambil memeriksa alat yang terpasang ditubuh Sarah. "Reaksi ini mungkin akan terjadi setelah seseorang melakukan operasi pendarahan otak", jelas Lois.
Beberapa perawat masuk ke dalam ruangan dengan membawa sejumlah peralatan.
"Tunggulah di luar, aku akan membantu Sarah", ucap Lois.
Michael keluar ruangan dengan berat hati, matanya berusaha keras membendung air matanya. Dia tertunduk lesu duduk di lantai depan ruangan Sarah bersama pak David.