Cupcake's Love

Cupcake's Love
#24



"Sayang, aku akan mengecek berkas sebentar ya", ucap Michael ketika baru saja masuk ke rumah.


"Boleh aku ikut ke ruang kerja?", tanya Sarah.


"Memangnya aku pernah melarang?", jawab Michael sambil mengecup kening Sarah.


"Masuklah terlebih dulu, aku akan buatkan teh", kata Sarah.


Sarah pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan memotong buah.


"Aku taruh disini ya, sayang", kata Sarah sambil meletakkan nampan yg ia bawa di meja kecil dekat meja kerja Michael.


"Terimakasih, sayang", ucap Michael sambil tetap fokus pada berkasnya.


Ponsel Sarah berdering, ada pesan masuk dan Sarah membalasnya. Michael menatap Sarah dari kejauhan. Sarah menyadari kalau Michael mengamatinya. Sarah tersenyum dan berjalan menuju meja kerja Michael.


"Kak Alice memintaku mengantarnya periksa ke dokter kandungan besok Senin, kak Lois ada banyak jadwal bedah. Jadi aku mengiyakannya, aku mau ajak Lucy sekalian", kata Sarah sambil menunjukkan pesan Alice.


"Maaf aku mencurigaimu", kata Michael sambil menyandarkan kepalanya pada perut Sarah.


***


*Beberapa hari kemudian*


Hari Senin itu, Sarah membawa Lucy ke toko. Sarah memberitahu Lucy jika mereka akan mengantar Alice ke dokter kandungan.


"Mama... apa itu bayi?", seru Lucy saat melihat ke arah layar hasil USG.


"Iya, itu namanya janin. Lama-lama janin akan tumbuh besar dan nantinya akan lahir", jelas Sarah.


"Kapan mama akan punya bayi seperti aunty Alice?", tanya Lucy.


Sarah kebingungan untuk menjawab. "Eeee... mama juga belum tau, sayang", jawab Sarah.


***


Sore harinya, Michael menjemput Sarah dan Lucy di toko. Lucy bercerita tentang pemeriksaan Alice di dokter kandungan.


"Aku melihat bayi, pa. Bayi aunty Alice masih keciiiiiil sekali", seru Lucy.


"Benarkah?", tanya Michael.


"Iyaaaa... kata mama nanti akan tumbuh besar terus lahir ke dunia", ucap Lucy.


"Iya, benar. Dulu kamu juga sekecil itu diperut mama Leona. Ketika perut mama mulai besar, mama melahirkanmu", jelas Michael.


"Apa perut mama Sarah akan besar juga?", tanya Lucy.


"Eeee... iya, suatu saat nanti", jawab Sarah.


"Yeaaayyy...", Lucy kegirangan.


"Lucy menginginkan adik", bisik Michael sambil menyenggol lengan Sarah memberikan kode. Sarah tersipu malu.


Seharian ini, Sarah tidak memainkan ponselnya. Dia bahkan mengaktifkan silent mode ketika akan mengantar Alice ke dokter kandungan. Hingga pagi menjelang, sepertinya Sarah benar-benar melupakan ponselnya.


Pagi ini, Sarah datang ke toko seorang diri. Sarah mengantar Lucy ke rumah orangtua Michael karena mereka akan mengajak Lucy pergi berbelanja.


"Tumben bawa mobil", tanya Alice.


"Iya, tadi antar Lucy ke rumah mama dulu", jawab Sarah sambil mengecek tas dan mengambil ponselnya. Sarah terlihat bingung saat melihat ponselnya.


"Ada apa?", tanya Alice.


"Denis semalam telpon aku sampai 60 kali", jawab Sarah sambil menunjukkan ponselnya pada Alice. "Ada apa ya?", Sarah penasaran.


"Telpon saja, dia pasti sangat tersiksa kamu ga angkat telponnya", canda Alice sambil berjalan menuju dapur. Sarah mencoba menelpon Denis.


"Apa? Dimana lokasinya?", ucap Sarah sambil mengambil kertas dan pulpen untuk mencatat alamat. "Baiklah, aku akan kesana", sambung Sarah.


Sarah segera mengambil tasnya. "Lily... aku pergi dulu ya", ucap Sarah terburu-buru sambil keluar toko. Sarah masuk ke mobilnya, namun dia keluar lagi dan memilih naik taksi karena nanti harus mengemudikan mobil Denis. Sarah terburu-buru hingga tidak menyadari kalau ponselnya terjatuh di mobil.


Sarah menuju sebuah club bernama The Chandelier, Denis berada disana semalaman dan pelayan menelpon Sarah untuk menjemputnya. Sarah berlari menuju meja Denis dan salah seorang pelayan menghampirinya.


"Dia ada disini sejak semalam, badannya demam dan menggigil. Tapi menolak untuk diantar pulang kecuali Anda yang menjemput", jelas pelayan itu.


"Kau ini kekanakan sekali!", ucap Sarah kesal sambil memukul bahu Denis.


"Aku sedang sakit, kenapa dipukul?", kata Denis dengan lemah. Wajahnya sangat pucat.


Sarah memapah Denis menuju parkiran mobil.


"Lain kali telpon temanmu yang badannya besar, badanku jadi sakit semua", keluh Sarah.


"Kita pulang ke rumah saja, tapi nanti belikan obat dulu di apotek", ucap Denis.


"Kita ke rumah sakit aja, kamu demam tinggi", jawab Sarah.


"Aku bilang belikan obat saja, aku yang sakit kenapa kamu yang ngeyel?", kata Denis.


Sarah mampir ke apotek dekat apartemen Denis, dia membelikan obat untuk Denis. Setelah itu Sarah mengantar Denis ke apartemennya. Sarah memapah Denis sampai di tempat tidurnya.


"Sarah, kamu ga bantuin aku ganti baju?", kata Denis.


"Ngomong aneh-aneh sekali lagi aku tinggal pulang ya", bentak Sarah.


"Kenapa marah? Kau kan biasa melihat Michael telanjang, kenapa ga mau bantuin aku", ucap Denis.


Sarah menjadi kesal. "Itu beda!", jawab Sarah sambil berjalan keluar kamar meninggalkan Denis. Dia mengecek kulkas Denis dan mengambil beberapa bahan untuk membuatkan bubur.


Denis keluar ke ruang makan setelah mengganti bajunya, Sarah menuangkan minum untuk Denis.


"Kau harus minum yang banyak biar demamnya cepat turun", kata Sarah.


"Apakah kamu secerewet ini pada Michael dan anaknnya?", tanya Denis.


Sarah tidak merespon. "Cepat makan buburnya dan minum obatnya", ucap Sarah sambil menyodorkan semangkuk bubur.


"Suapinlah", rayu Denis.


"Ga usah manja deh", jawab Sarah sambil memukul bahu Denis.


"Kau ini senang sekali memukulku hari ini", kata Denis.


Setelah selesai makan dan minum obat, Sarah menyuruh Denis untuk beristirahat di kamar.


"Aku akan tunggu sampai demammu turun, setelah itu aku akan pulang", jawab Sarah sambil berjalan keluar kamar Denis menuju dapur.


Denis tertidur setelah meminum obat, Sarah masuk ke kamar untuk mengecek kondisi Denis. Demamnya berangsur turun, Sarah meninggalkan catatan di pintu kulkas Denis. Sarah telah membuatkan sup untuk makan malam Denis.


"Ya Tuhaaann... dimana ponselku?", seru Sarah saat bersiap untuk pulang. Dia bergegas menuju toko untuk mengecek ponsel dan mengambil mobilnya.


"Lily... kau lihat ponselku?", tanya Sarah.


"Enggak bu, bukannya tadi bu Sarah sudah memasukkannya sebelum meninggalkan toko?", jawab Lily.


"Kak Alice dimana?", tanya Sarah.


"Tadi pulang awal bu, katanya ada acara keluarga", Sarah hanya mengangguk sambil mencoba menelpon ponselnya dengan telpon toko. "Oiya bu, tadi pak Michael datang?", sambung Lily.


Sarah terkejut, dia segera menutup telponnya. "Kau bilang apa padanya?", tanya Sarah.


"Aku bilang enggak tahu bu Sarah pergi kemana, karna kan ibu memang ga bilang", jawab Lily.


"Baiklah Lily, terimakasih banyak. Aku pulang sekarang ya", ucap Sarah dan kemudian berlari keluar toko menuju mobilnya.


Ketika masuk ke dalam mobil, Sarah melihat ponselnya di dekat pedal. Dia segera mengambilnya dan buru-buru pulang ke rumah.


"Bibi... apa Lucy sudah pulang?", tanya Sarah pada bibi Rose yang sedang memasak di dapur.


"Belum, nyonya"


"Michael dimana?"


"Ada di balkon belakang"


"Terimakasih banyak, bi", Sarah segera menyusul Michael di balkon belakang. Michael sedang duduk sambil membaca buku.


"Kau sudah pulang, sayang? Tadi pagi aku mengantar Lucy ke rumah mama, mama mau mengajaknya berbelanja", kata Sarah. Namun Michael tidak merespon, dia tetap fokus membaca bukunya.


"Kau... mencariku di toko tadi?"


Michael menutup bukunya. "Aku menelponmu berulang kali tapi ga diangkat. Kau kemana?", tanya Michael tanpa menatap Sarah.


"Kau menelponku?", Sarah segera mengecek ponselnya. "Maafkan aku, sayang. Tadi ponselku jatuh dimobil", kata Sarah.


"Lalu kau pergi kemana tanpa membawa mobil?", tanya Michael sambil menatap tajam Sarah.


"Aku... aku menjemput Denis di The Chandelier, dia sakit disana. Jadi... aku menjemput dan mengantarnya pulang", ucap Sarah ketakutan.


Michael segera berdiri dan membanting bukunya. "Kau mengantar Lucy pada mama, meninggalkan toko seharian dan meninggalkan ponsel dimobil cuma untuk ketemu Denis?", bentak Michael.


"Itu semua ga aku sengaja. Kemarin malam pelayan Chandelier telpon aku puluhan kali, Denis sudah sakit semalaman disana dan memintaku datang. Aku kesana dan mengantar Denis ke rumahnya", jelas Sarah.


"Apa dia ga punya keluarga? Apa cuma kamu teman yg dia punya? Kau selalu cari alasan aja Sarah!"


"Aku cari alasan? Apa maksudmu?", Sarah menjadi kesal.


"Kau selalu bertemu dengan Denis dibelakangku. Hari ini bahkan kau ke rumahnya, apa yg kalian perbuat?"


"Maksudmu apa? Kenapa menuduhku yang enggak-enggak"


"Hanya ada kalian berdua di rumah Denis, apa yg kalian perbuat enggak ada yang tahu. Bohonglah sesuka hatimu, Sarah! Denis juga kaya, sekarang kau bisa bersamanya jika kau mau. Aku tetap akan memberikan 30% saham perusahaan untukmu", ucap Michael dan meninggalkan Sarah.


Sarah menarik tangan Michael. "Apa aku serendah itu dimatamu?", tanya Sarah sambil meneteskan air mata


Michael melepaskan tangan Sarah dan pergi ke ruang makan. Sarah bergegas mengemasi bajunya, dia mengambil sebuah buku tabungan dari lemari dan berjalan ke ruang makan. Sarah meletakkan buku tabungan, kunci mobil dan kartu debit milik Michael dimeja makan.


"Uang yang kau berikan padaku beberapa bulan ini ada ditabungan ini, aku ga pake sepeser pun. Aku memakai kartu debitmu hanya untuk bertransaksi di butik kak Karen, kau bisa mengeceknya sendiri. Dan ini kunci mobilmu. Aku tahu ini pasti akan terjadi, jadi aku sudah mempersiapkannya dari awal. Sebelum menikah denganmu, aku juga bisa menghasilkan uang tanpa harus bergantung denganmu", ucap Sarah.


"Bibi Rose, tolong jaga Lucy ya", sambung Sarah dan segera pergi meninggalkan rumah Michael.