Cupcake's Love

Cupcake's Love
#52



"Ayo, bangun dulu", ucap Sarah sambil membantu Michael menyandarkan punggung pada headboard kasur.


"Aku bawa pecan brownies, makan itu dulu ya sebelum minum obat. Kalo mau masak kelamaan, kamu harus cepet makan dan minum obat biar demamnya cepet turun", ucap Sarah sambil membuka box kue dan mengambil kue untuk Michael.


"Cerewet sekali", ucap Michael lirih sambil menahan senyumnya.


Sepertinya Sarah tidak mendengar perkataan Michael, dia masih sibuk membuka kue yang ia bawa lalu menyodorkan sepotong kue untuk Michael makan.


"Aku ke dapur dulu ambil minum dan obat penurun panas".


Michael kembali tersenyum memperhatikan Sarah yang terlihat sibuk mondar-mandir merawatnya. Tak lama berselang, Sarah masuk ke kamar dengan membawa minum dan obat.


"Nambah lagi ya kuenya?"


Michael menggelengkan kepalanya. "Mulutku pahit, Sarah. Kuemu yang enak inipun ga ada rasanya"


"Harus dipaksa, Mic. Perutmu itu kosong, udah tahu sakit bukannya makan malah buang-buang makanan", ucap Sarah sambil mengambil kue dan menyodorkannya pada Michael.


"Itu makanan yang bawa Angela, aku ga mau makan"


"Tapi ga harus dibuang gitu, suruh aja dia bawa balik lagi. Diluar sana kan banyak yang pada susah makan", omel Sarah.


"Cerewet sekali", gumam Michael sambil mengunyah.


"Udah buruan dimakan, ga usah banyak komentar"


Sarah menyodorkan segelas air putih untuk minum Michael dan memberikan obat penurun panas.


"Berbaringlah, kamu istirahat aja. Aku akan bersihin lantainya dulu", ucap Sarah.


"Kamu ga bantuin aku berbaring?", goda Michael sambil tersenyum.


"Kan tinggal rebahan doang, manja amat sih", gerutu Sarah tanpa menggubris Michael.


Sarah kembali melanjutkan membersihkan lantai, Michael berbaring dikasurnya dan kemudian tertidur. Sarah bolak-balik keluar masuk kamar untuk membuang pecahan piring dan makanan serta mengepel lantainya.


Sarah menyiapkan baskom berisi air hangat dan mengambil handuk kecil untuk mengompres Michael.


"Michael... kamu tidur?", tanya Sarah.


Tidak ada jawaban dari Michael, dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sarah memeras handuk kecil itu dan mengompres Michael. Sarah begitu telaten merawat Michael, dia terjaga sampai larut malam untuk memastikan demam Michael turun terlebih dahulu.


"Udah 38°C", ucapnya setelah mengecek suhu badan Michael.


Sarah tidur di sofa ruang tengah, dia merebahkan tubuhnya yang lebih dari seharian itu belum diistirahatkan. Tak butuh waktu lama bagi Sarah untuk tertidur dalam kondisinya yang kelelahan itu.


***


Sarah terbangun ketika cahaya matahari mulai masuk disela-sela gorden ruang tengah. Sarah bangun dan melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 6.15 itu. Sarah berjalan menuju kamar dan mengecek suhu badan Michael kembali dengan termometer. Sarah bernafas lega karena suhu badan Michael sudah mulai normal.


Sarah berjalan ke dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk memasak. Michael mulai terbangun, dia menggeliatkan badannya yang mulai sehat itu. Saat Michael duduk, ia melihat baskom air berada dimeja samping tempat tidurnya.


"Sarah!", gumamnya.


Dia bergegas keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Sarah. Langkah Michael terhenti saat melihat Sarah tengah sibuk memasak di dapur, pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat.


"Udah bangun?", ucap Sarah membuyarkan lamunan Michael. "Duduklah, aku udah masak. Kamu harus makan berat biar ga sakit perut", sambung Sarah.


Michael menuruti perkataan Sarah dan segera mulai makan.


"Aku ga masakin bubur, karena kamu ga suka bubur. Daripada nanti kebuang lagi", kata Sarah sambil menghidangkan sup krim dengan beberapa rori panggang dan buah potong.


"Kalo kamu yang masak, aku mau kok makan", ucap Michael sambil menyendok makanan.


Sarah tak menghiraukan perkataan Michael. "Aku udah simpan beberapa makanan di kulkas, nanti kalo mau makan tinggal diangetin aja", kata Sarah.


Michael hanya mengangguk sambil terus menyantap sarapannya.


"Aku akan minta bibi Rose merapikan baju dan barang-barang milikku, nanti akan aku suruh orang untuk mengambilnya ketika udah siap", kata Sarah.


Michael tidak bergeming, seolah ia tidak mendengar perkataan Sarah yang barusan atau memang tidak mau menanggapinya. Sarah berjalan menuju sofa ruang tengah dan mengambil tasnya. "Aku pulang dulu, jangan lupa makan dan minum obatnya", ucap Sarah.


"Makan dulu, Sarah. Kamu udah capek semalaman jagain aku", kata Michael.


"Ga usah, nanti aku makan di rumah aja"


"Kalo gitu bawa aja mobilmu, itu kan milikmu"


Sarah menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Aku pulang dulu", kata Sarah sambil berjalan keluar rumah Michael.


Michael makan dengan lahap masakan Sarah, dia hampir menghabiskan semua makanan yang disajikan Sarah dimeja. Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, Michael berjalan melihat ke monitor siapa yang datang.


"Aahhh... dia lagi", keluh Michael saat melihat Angela datang kembali ke rumahnya.


Michael menekan tombol microphone untuk berbicara pada Angela. "Pulanglah! Aku sudah kenyang dengan masakan Sarah", ketus Michael.


Michael tidak menggubris kedatangan Angela, dipikirannya masih teringat omelan Sarah yang kembali membuatnya tersenyum.


Merasa diabaikan, Angela menjadi marah dan membuang makanan yang ia bawa di bak sampah depan rumah Michael.


***


Sarah masih membaringkan tubuhnya ditempat tidur, matanya terasa sangat lengket karena semalaman mengurus Michael.


"Ya Tuhaaannn... aku harus ke toko sekarang, tolong hilangkan kantukku", keluh Sarah dengan mata yang masih terpejam itu.


Namun apa daya, Sarah tak cukup kuat untuk menahan rasa ngantuknya dan tertidur pulas untuk beberapa saat.


Pintu toko terbuka, Alice menatap Sarah yang baru saja datang ke toko.


"Kamu sakit?", tanya Alice.


"Enggak kak, cuma ngantuk aja. Semalem kurang tidur"


"Emang kenapa bisa kurang tidur gitu?"


"Eeeee... semalam... aku... eeee... download game! Iya... aku main game semalaman. Jadi... sampai lupa waktu hehehehe", jawab Sarah sambil meletakkan tasnya.


"Kau ini kayak anak-anak aja, kalo udah main game sampai lupa waktu"


Sarah tersenyum. "Oiya kak, seminggu ke depan jadwal pesenan gimana?"


Alice mengambil buku catatan dan memeriksanya. "Aman kok, kamu ga datang ke toko juga gapapa. Kita bisa handle, kenapa? Kamu mau pergi?", tanya Alice.


"Eeee... enggak kak, aku cuma... mau bikin sesuatu aja?"


"Bikin resep baru?"


"Enggak, cuma mau buat karakter pake fondan aja untuk hiasan cupcake"


"Emang ada yang pesen hiasan khusus?", tanya Alice sembari mengecek catatannya.


"Eeee... iya kak, dia... menghubungiku kemarin. Kakak santai aja, cuma beberapa cupcake aja sih. Tapi... hiasannya khusus", jawab Sarah.


***


*Di rumah orangtua Michael*


"Kalo sakit kenapa ga kesini? Atau setidaknya telpon bibi Rose biar bantu jaga kamu disana sama siapin makan", kata Lidya sambil mengusap kepala Michael yang tengah berbaring dipangkuannya.


Mata Michael terpejam, namun senyumnya tak kunjung menghilang dari sudut bibirnya.


"Trus kemarin kamu makannya gimana? Delivery?", sambung Lidya.


Michael menggelengkan kepalanya. "Sarah yang masak, ma"


"Sarah? Dia dateng untuk masakin kamu?", seru Lidya sumringah.


"Ga cuma masakin, ma. Tapi nyelametin aku dari Angela juga"


"Aahhh... wanita itu lagi! Untung saja Sarah datang ke rumah. Eeee... Sarah... masih marah sama kamu?"


"Kayaknya, dia ngomel terus", ucap Michael sambil tersenyum.


"Ngomel?", Lidya tidak mengerti dengan maksud perkataan Michael.


Michael beranjak dari pangkuan Lidya, dia bangun dan merapikan bajunya. "Aku pergi dulu, ma", ucap Michael sambil mencium kening Lidya dan pergi meninggalkannya.


"Mau kemana? Michael! Ini udah sore, dan kau baru saja sembuh! Jangan pergi sampai larut", teriak Lidya.


Michael melajukan mobilnya menuju ke toko kue Sarah, dia sengaja memarkir mobilnya agak jauh agar tidak ketahuan oleh Sarah atau Alice. Michael mengamati karyawan toko yang mulai keluar untuk pulang, disusul Alice yang pulang dengan naik taksi. Michael terus memperhatikan ke arah toko karena Sarah belum juga keluar.


"Kenapa dia belum juga keluar?", gumam Michael.


Tak berselang lama, Sarah keluar dan mengunci pintu toko. Michael turun dari mobil dan berlari menghampiri Sarah.


"Sarah!", teriak Michael dan menghentikan langkah kaki Sarah.


Sarah menoleh ke arah Michael dan menghela nafasnya. "Ada apa?", tanya Sarah.


"Bisa... kita bicara sebentar?"


Sarah menggelengkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Michael.


"Kenapa kamu cepat sekali berubah?", ucap Michael yang lagi-lagi menghentikan langkah kaki Sarah. "Kamu begitu perhatian dan mengurusku dengan baik semalaman. Kenapa sekarang kamu menghindariku lagi?", sambung Michael.


Sarah menghela nafasnya dan mencoba untuk tetap tenang. "Itu karena... aku kasian padamu", ucap Sarah. Dia segera berjalan dan menyetop taksi, meninggalkan Michael yang masih berdiri di depan tokonya.