Cupcake's Love

Cupcake's Love
#63



Seminggu telah berlalu, Angela masih belum bisa menjalankan misinya.


"Jadi kau benar-benar mau keluargamu mati!", bentak Angela saat menelpon Marie.


"Maaf, nyonya. Tapi saya sangat kesulitan untuk menjangkau ponsel pak Michael. Beliau jarang sekali meninggalkan ponselnya, terlebih ada pak David yang akan selalu mengingatkannya", ucap Marie dengan gemetar dan menahan tangisnya saat menerima telpon Angela di tangga darurat.


"Makanya cari cara, bodoh! Aku ga mau tahu ya, kalo sampai malam ini kamu ga dapet apa-apa. Siap-siap aja untuk upacara pemakaman keluargamu besok pagi", gertak Angela dan mengakhiri panggilannya.


"Ya Tuhaaannnn... tolonglah aku", Marie tertunduk dan menangis.


Ting...


Ponsel Marie berdering, pak David mengirimkan pesan agar dia segera ke ruangan Michael. Ia segera menghapus air matanya dan bergegas menuju ruangan Michael.


"Ini data yang Anda perlukan, pak. Alasan utama yang bisa menjebloskan nyonya Angela ke penjara hanya soal penggelapan pajak untuk rumah dan bisnis casino-nya", kata pak David sembari menyerahkan sebuah dokumen.


"Penggelapan pajak?", seru Michael diikuti dengan senyum sinisnya. Michael membuka dokumen yang diserahkan pak David dan menelitinya.


"Kita selesaikan sekarang, jangan biarkan dia berkeliaran terlalu lama. Dia terus mengincar Sarah", kata Michael.


"Baik, pak. Saya akan segera menghubungi pihak kepolisian"


Tok... Tok...


Pintu ruang kerja Michael terbuka dan Marie masuk ke dalam ruangan.


"Darimana saja kau? Sepertinya akhir-akhir ini kau sering keluar saat jam kerja", tegur Michael yang masih tetap fokus memeriksa dokumennya.


"Ma... maaf, pak. Barusan... saya hanya... menerima telpon dibawah"


Michael menutup dokumennya dan memandangi Marie yang tertunduk tidak berani menatapnya. "Apa kau ada masalah?"


"Tidak, pak", jawab Marie gugup.


"Tapi sepertinya kamu kayak habis nangis"


Marie hanya diam saja.


"Aku dan pak David akan ada meeting sebentar lagi, kamu bawa berkas ini dan lakukan tugasmu seperti biasanya. Jika kau ada masalah keluarga, ku harap itu jangan sampai mengganggu pekerjaanmu. Tolong bawa berkas ini semua", kata Michael sembari memakai jasnya.


Michael dan pak David berjalan menuju pintu ruangannya, Marie merapikan dokumen di meja Michael dan bersiap untuk menyusulnya. Tiba-tiba Michael berbalik badan.


"Meeting nanti mungkin akan lama", ucap Michael sambil merogoh ponsel disaku jasnya. "Tolong pegang ponselku, kau hanya boleh menjawab pesan atau telpon kalo itu dari istriku", sambung Michael sambil menyodorkan ponselnya.


"Baik, pak", jawab Marie. "Ya Tuhaaaannn... terimakasih banyak telah menyelamatkan keluargaku", guman Marie dalam hati.


Selama meeting, Marie berusaha tetap fokus dalam pekerjaannya. Dia mengamati situasi untuk mengirimkan pesan pada Sarah sesuai dengan permintaan Angela. Ketika meeting mulai serius, Marie mulai membuka ponsel Michael dan mengirimkan pesan untuk Sarah.


***


Pesan dari Michael masuk ketika Sarah sedang bersiap untuk pulang.


"Temui aku di Mine and Caves 30 menit lagi, aku ada proyek disitu"


"Ada apa?", tanya Alice yang penasaran karena melihat Sarah yang nampak kebingungan.


"Michael minta ketemu, tapi di Mine and Caves", jawab Sarah.


Alice mengernyitkan dahinya. "Ngapain Michael ngajak ketemuan di tempat tambang? Aneh banget"


"Dia bilang ada proyek disana"


"Proyek? Apa Michael mau bikin hotel dideket situ? Emang bakal laku?"


"Entahlah, tapi dia ga pernah cerita soal hotel baru", jawab Sarah sembari merapikan tasnya. "Aku pulang sekarang ya, kak. Kakak segeralah pulang, jangan capek-capek"


"Iya, aku tahu"


Sementara itu di kantor Michael, secara sembunyi-sembunyi Marie mengirimkan pesan kepada Angela. Marie memberitahukan bahwa dia telah mengirimkan pesan untuk Sarah sesuai perintahnya.


Angela tersenyum sinis. "Giliran disuruh siapin pemakaman keluarga, baru deh otaknya kerja", ketus Sarah.


"Sepi sekali", gumam Sarah saat turun dari mobil.


Tak lama terdengar suara mesin mobil, Sarah menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya dengan seksama mobil yang baru saja datang. "Itu bukan mobil Michael", gumamnya lagi.


Setelah mobil berhenti disamping mobil Sarah, Angela keluar dan tersenyum sinis ke arah Sarah.


"Maaf telah membuatmu menunggu", kata Angela sembari berjalan ke arah Sarah.


"Kenapa kau datang?", tanya Sarah penasaran.


Angela tertawa. "Bukannya kau menerima pesan dari Michael? Kau pikir Michael yang mengirimkannya? Dasar bodoh!"


"Apa maumu?"


"Mauku? Bukannya kamu udah tahu mauku apa?", jawab Angela mendekat ke Sarah dan mengusap pipi Sarah.


Sarah menangkis tangan Angela. "Jauhkan tangan kotormu itu dariku!", bentak Sarah.


Angela justru tertawa dengan sangat lantang. "Hei, Sarah! Mau sampai kapan kamu sombong kayak gini, hah? Ga usah sok deh, habis ini juga kamu ga bakalan balik ke rumah lagi"


Sarah tersenyum sinis. "Aku? Ga pulang lagi ke rumah? Kenapa?", tanya Sarah sambil melotot ke arah Angela.


"Aku akan menjadikan hari ini hari terakhirmu hidup bersama Michael, aku akan melenyapkanmu selamanya", jawab Angela yang diikuti dengan tawa lantangnya.


"Aku merasa kasihan dengan Michael, kenapa dulu dia bisa jatuh cinta dengan wanita iblis sepertimu. Tapi aku bersyukur karena dia tidak menikahimu. Mungkin dia sadar karena wanita yang dia kencani berhati iblis!"


"Jaga bicaramu, bodoh!", bentak Angela sambil mencekik leher Sarah. Sarah memegang kedua tangan Angela, berusaha untuk melepaskan cekikannya.


Melihat Angela yang sedang mencekik leher Sarah, seorang pria bertubuh besar yang dikirim Michael segera berlari menyeberangi jalan dan mendekat ke arah dua wanita itu. Pria tersebut mengambil ponselnya, membuat panggilan kepada Michael dan menaruh ponselnya pada saku jaket kulitnya.


"Lepaskan tanganmu sekarang juga!", gertak pria itu sambil mengeluarkan sebuah pistol dan mengacungkannya ke arah Angela.


Angela dan Sarah menoleh ke arah pria itu.


"Kau bawa pengawal, hah?", ucap Angela dengan tersenyum sinis dan semakin mengeratkan cekikannya.


"Michael yang mengirimnya untuk menjagaku, kau tahu kan suamiku sangat mencintaiku", sindir Sarah dengan susah payah karena cekikan pada lehernya.


"Sudah ku bilang, aku akan melenyapkanmu sekarang. Aku akan membuat Michael jatuh kembali ke pelukanku!"


Pria itu mulai menarik pelatuk pistolnya dan bersiap untuk menembak Angela. Namun Sarah meminta dia untuk menahannya dengan memberikan kode menggunakan tangan kirinya.


"Bunuhlah aku sekarang juga, kalo memang ini caramu untuk membuat Michael kembali padamu. Tapi kau harus tahu, Angela. Meskipun aku menceraikannya atau mati sekalipun, aku yakin dia ga akan pernah kembali padamu. Kau hanya buang-buang tenagamu", sindir Sarah.


"Dasar wanita tak tahu malu!".


Emosi Angela semakin tersulut. Sementara ditempat lain, Michael dan pak David buru-buru ke Mine and Caves setelah melacak lokasi dari ponsel Sarah dan pria yang mengawasi Sarah.


"Kenapa dia tidak menembak? Kau bilang dia bawa pistol!", bentak Michael pada pak David sambil menendang jok kursi depan. Pak David hanya diam dan terus fokus menyetir, sementara Michael terus fokus mendengarkan suara Angela dan Sarah.


***


*Mine and Caves*


"Kuberi satu kali kesempatan lagi, Sarah. Jika kau masih ingin hidup, ceraikan Michael. Itu akan mempermudah jalanku untuk mendapatkannya kembali, dan kau... akan tetap bisa menjalankan bisnis sampahmu itu"


Sarah tersenyum sinis. "Sudah kubilang Michael ga akan sudi kembali padamu"


"Aku tidak meminta pendapatmu, bodoh!"


"Angela, sampai kapan pun aku ga akan berpisah dengan Michael. Sekalipun kau terus mengancamku seperti ini"


Angela semakin erat mencekik leher Sarah, dan Sarah semakin kesulitan untuk bernafas. Wajahnya mulai memerah, namun matanya yang berkaca-kaca tetap berusaha untuk menatap tajam dengan Angela.


"Maaf, nyonya", ucap pria berbadan besar itu.


Dorrr...


Peluru dalam pistol itu akhirnya melesat keluar juga.