Cupcake's Love

Cupcake's Love
#37



Pagi harinya, Alice kembali datang untuk membawakan baju ganti untuk Lois. Rachel dan Harry juga ikut datang ke rumah sakit.


"Kondisinya mulai membaik, detak jantungnya udah ga melambat lagi. Hampir seperti orang normal, semoga dia akan segera bangun", jelas Lois.


Kedua orangtua Sarah dan Alice sangat gembira mendengar hal itu.


"Michael pergi kemana?", tanya Rachel.


"Ooh... dia pergi pagi-pagi sekali ke rumah orangtuanya, dia ingin bermain dengan Lucy dulu sebentar", kata Lois.


"Kasian, Michael. Dia pasti sangat menderita", ucap Michael.


Lois mengangguk. "Lucy bahkan tidak berani mendekat ke Sarah, sebelumnya dia punya kenangan seperti ini juga", jelas Lois.


***


*Di rumah orangtua Michael*


Michael menemani Lucy bermain di hari Sabtu pagi itu. Lucy mengajak Michael untuk menggambar di balkon rumah.


"Apa kau akan memberikan gambar ini pada mama?", tanya Michael.


Lucy mengangguk. "Aku sudah berjanji sama mama", jawab Lucy yang sedang asik menggambar dengan crayonnya.


Lidya datang dengan membawakan cemilan untuk mereka.


"Bagaimana kondisi Sarah sekarang?", tanya Lidya.


"Mulai membaik, ma. Detak jantungnya mulai normal", jawab Michael.


"Syukurlah. Maafkan mama ga bisa sering-sering ke rumah sakit, mama ga mau Lucy menjadi sedih melihat keadaan Sarah seperti itu"


"It's OK, ma", jawab Michael.


***


Michael kembali ke rumah sakit setelah makan siang. Dia masuk ke ruangan saat Alice sedang membacakan pesan dari Lily mengenai pesanan kue di toko kue milik Sarah.


"Wahhh... Sarah akan sangat sibuk ketika dia bangun", ucap Michael.


"Iya, minggu depan ada 5 pesanan cupcake untuk pernikahan. Sarah pasti akan senang jika dia bisa membantu kami menghiasnya", kata Alice.


"Ohh iya, Lois bilang Denis udah ditangkap?"


Michael mengangguk. "Kemarin pagi, di rumahnya"


"Papa begitu murka sama Denis, setelah operasi itu, semalaman papa ga tidur karena kepikiran Sarah. Oiya, apa kau mau pergi lagi?"


"Enggak, kau pulanglah untuk istirahat"


"Aku mau ke toko, ada sesuatu yang harus diurus", ucap Alice sambil merapikan isi tasnya.


"Terimakasih banyak sudah banyak membantu kami", ucap Michael.


"Kau ini bicara apa sih?", ucap Alice sambil mencium tangan Sarah. "Aku pergi dulu ya", kata Alice sambil meninggalkan ruangan.


Tak berselang lama, Karen datang menjenguk bersama suaminya, Martin.


"Michael!", seru Karen seraya memeluk Michael. "Bagaimana keadaan Sarah?", tanya Karen dengan raut wajah sedih.


"Kondisinya mulai membaik"


"Apa dia sudah tertidur lama?"


"Ini hari ketiganya"


"Suamiku melihat ibumu dan Lucy di supermarket saat kita sedang belanja, aku sangat sedih ketika mendengar kabar tentang Sarah. Kenapa kamu ga ngabarin aku? Aku kan bisa mempercepat kepulanganku dari Irlandia", kata Karen.


"Sudahlah, yang penting sekarang kau sudah disini. Duduklah, akan kuambilkan minum", ucap Michael sambil mengambil botol air mineral di lemari pendingin.


"Bagaimana pemulihan pasca operasinya? Kudengar ada beberapa resiko yang mungkin terjadi", tanya Martin.


"Ya, dia sempat kejang-kejang pada malam harinya setelah operasi. Tapi akhirnya kondisinya makin membaik, detak jantungnya mulai normal dan tidak ada pendarahan lagi pasca operasinya", jelas Michael.


"Aahh... syukurlah. Kudengar... kalian kehilangan bayi yang dikandung Sarah", kata Karen.


Michael mengangguk. "Ya, usianya masih sangat muda. Aku dan Sarah bahkan tidak tahu kalo ada janin diperutnya"


"Bangunlah Sarah, nanti akan kubuatkan gaun yang indah untukmu", ucap Karen.


Setelah Karen dan suaminya pulang, Michael mengelap tangan dan kaki Sarah.


"Aku mahir kan melakukannya? Aku dapat pengalaman ini ketika mengurus Leona", ucap Michael.


Michael pergi ke kamar mandi untuk membuang air yang ia pakai untuk mengelap Sarah. Michael begitu terkejut ketika baru keluar dari kamar mandi, dia melihat Sarah telah membuka matanya.


Michael segera berlari mendekati ranjang Sarah dan mencium tangan Sarah. "Kau sudah bangun, Sayang!", seru Michael dengan mata berkaca-kaca.


Pandangan Sarah yang nampak kosong membuat Michael menjadi panik. Dia mengambil ponselnya dan menelpon Lois.


"Sarah bangun, cepatlah kesini", kata Michael.


Lois segera berlari menuju ruangan Sarah bersama seorang perawat. Lois menghampiri Sarah untuk memeriksa keadaannya. Michael berdiri disamping ranjang Sarah dengan terus menggenggam tangan kiri Sarah.


"Sarah kau dengar aku? Anggukkan kepalamu jika kau mendengarku", kata Lois.


Sarah menatap Lois dan mengangguk.


Lois mengecek keadaan pupil mata Sarah.


"Sekarang coba kau angkat tangan kananmu", pinta Lois.


Sarah mengangkat tangan kanannya dengan perlahan.


"OK, bagus. Sarah, kau lihat jariku. Kau harus ikuti gerakan jariku, OK?", ucap Lois.


Lois menggerakkan jari tangannya ke kanan, kiri, atas dan bawah. Bola mata Sarah mengikuti pergerakan jari tangan Lois. Lois juga memberikan tekanan pada tubuh Sarah untuk menilai respon Sarah dan mencubit pergelangan tangan Sarah untuk rangsangan nyeri.


"Aahhh...", Sarah merintih lirih saat Lois mencubitnya.


"Apa itu sakit?", tanya Lois.


"Kau mencubitku, tentu saja itu sakit", jawab Sarah dengan suara yang lirih.


"Bagian mana yang sakit?", tanya Lois.


Sarah mengangkat tangan kanannya. Michael dan Lois tersenyum, mereka merasa sangat lega dengan kondisi Sarah.


"Kenapa dari tadi diam saja?", canda Lois.


"Aku... merasa haus sekali", jawab Sarah.


Sontak jawaban itu membuat semuanya tertawa. "Michael akan memberimu minum setelah perawat memeriksa keadaanmu", ucap Lois.


Lois berjalan mendekati Michael saat perawat sedang melakukan pemeriksaan. "Kondisinya sungguh luar biasa, tingkat kesadarannya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia merespon dan bahkan bisa berkomunikasi", jelas Lois.


Michael tersenyum lebar memandangi Sarah. "Eeee... untuk pemeriksaan dari dokter kandungan, tolong ditunda dulu. Dia pasti akan sangat shock jika mengetahuinya sekarang", kata Michael.


"Baiklah, aku akan membicarakan hal itu dengan dokter yang menangani Sarah", jawab Lois.


Lois memeriksa hasil pengecekan dari perawat.


"Sepertinya kamu ga butuh alat-alat itu lagi, bagaimana kalo kita lepas sekarang?", Kata Lois sambil mendekati Sarah.


Sarah mengangguk. "Ini sangat mengganggu", keluh Sarah dengan nada pelan.


"Beritahu kami jika kau merasa pusing atau ada yang ga beres ditubuhmu ya", kata Lois.


Sarah tersenyum dan mengangguk. Lois dan perawat melepas peralatan medis pada tubuh Sarah. "Aku akan meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan makanan untukmu, OK?", kata Lois.


Sarah mengangguk. Lois dan perawat meninggalkan ruangan Sarah. Michael kembali duduk di sebelah Sarah. Dia menggenggam tangan Sarah dan menempelkan dikepalanya yang tertunduk.


"Kenapa? Apa kau menangis?", tanya Sarah.


Michael mengangkat kepalanya dan mencium tangan Sarah. Dia menyeka air matanya dan memandangi Sarah.


"Terimakasih karena kau sudah berjuang untuk bangun", kata Michael.


Sarah tersenyum. "Tentu saja aku akan bangun, aku berjuang sekuat tenaga untuk membuka mataku", jawab Sarah.


Michael tidak bisa berkata-kata, dia hanya memandangi Sarah sambil berusaha menahan bendungan air matanya.


"Aku... merindukanmu", ucap Sarah.