Cupcake's Love

Cupcake's Love
#69



Sarah dan Michael menikmati lima hari babymoon di Santorini. Setelah kejutan dari Sarah yang menyatakan bahwa Sarah hamil dua belas minggu membuat Michael kian over protective kepada Sarah. Hal tersebut dilakukan agar ia dan Sarah tak lagi mengalami kehilangan buah cinta mereka. Malam ini, mereka telah sampai di Athena untuk memudahkan perjalanan mereka kembali ke rumah. Lamanya waktu penerbangan dan transit benar-benar membuat lelah, apalagi sekarang Sarah tengah berbadan dua.


"Cepat sekali kita disini, besok akhirnya pulang dan ketemu sama Lucy", ucap Sarah sembari membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Sayang... apa perlu kita mengadakan pertemuan keluarga untuk memberitahukan kehamilanmu?"


"Hmmm... boleh. Nanti kita atur ya setelah sampai di rumah"


Michael menganggukkan kepalanya. "Apa... kapan-kapan mau kesini lagi? Kita akan kesini bersama Lucy dan adiknya nanti", ucap Michael sambil mengelus perut Sarah.


"Ke tempat lain aja ya, kesini terlalu jauh. Aku ga suka kalo harus transit seharian gitu. Belim lagi harus gendong-gendong bayi, aku ga bisa bayangin capeknya gimana. Kasian juga kalo masih kecil gitu diajak perjalanan jauh gini", ucap Sarah sembari memeluk Michael dan membenamkan wajahnya pada dada Michael.


"Hahahaha... baiklah, yang penting quality time kita aja ya, ga harus jauh-jauh", jawab Michael sambil mengelus punggung Sarah.


"Tapi... kamu beneran gapapa besok harus perjalanan jauh gitu?", sambung Michael.


"Ya gapapa, sayang. Kalo aku ga mau, masak aku harus disini sampai aku lahiran?"


"Hahahaha... enggak, maksudku bukan begitu. Aku cuma takut nanti tiba-tiba terjadi sesuatu sama kamu dan bayi kita"


"Aman sayaang, kata dokter... paling kaki aja yang bakal bengkak. Tapi kemarin kakiku aman-aman aja. Anak kita begitu baik, sayang. Aku bahkan enggak ngalamin mual muntah, padahal kak Alice sering kali muntah diwaktu yang ga terduga. Dia juga mampu bertahan padahal aku bekerja tak kenal waktu di toko", jelas Sarah sambil mengelus perutnya.


"Aku tahu, dia bahkan hadir begitu cepat untuk segera menghapuskan kesedihan kita kemarin"


***


Keesokan harinya, Sarah dan Michael kembali menuju rumahnya. Penerbangan dengan total dua puluh jam benar-benar menguras tenaga Sarah yang tengah berbadan dua. Bahkan dihari berikutnya dia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di kasur, dia hanya bangkit untuk urusan ke kamar mandi.


"Pinggangku masih pegal banget, perasaan dulu pas kita kesana pertama kali aku ga secapek ini", keluh Sarah setelah selesai sarapan.


"Itu karena dulu kamu belum mengandung, sayang", jawab Michael sambil menyeka mulut Sarah.


"Aku juga ga enak sama Lucy karena tadi ga bisa bantuin dia siap-siap ke sekolah"


"Lucy ngerti kok kalo kamu capek, aku juga udah bilang ke dia kalo dia akan punya adik yang sekarang ada di perut mamanya ini", Michael mengelus dan mencium perut Sarah.


Sarah mengusap rambut Michael. "Apa... kamu keberatan jika aku akan lebih manja kepadamu, sayang?"


"Kenapa aku harus keberatan, sayang?"


"Aku takut kalo... nanti kamu bakal illfeel sama aku karena manjaku terlalu berlebihan"


"Hahahahaha... sayang, ini bukan pertama kalinya aku menghadapi istri yang sedang hamil. Leona juga dulu sangat manja ketika mengandung Lucy, beberapa kali aku harus mereschedule meeting karena dia ga mau aku tinggal. Aku ga masalah, istriku hamil karena perbuatanku. Jadi ketika dia manja kenapa aku harus membencinya?"


Sarah tersenyum dengan lebarnya sambil menatap wajah Michael dalam-dalam. "Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan karena memiliki suami yang begitu perhatian sepertimu"


"Aku jauh lebih bersyukur, sayang. Dari awal kau mau menerima Lucy dan menyayanginya seperti anakmu sendiri", ucap Michael yang kemudian mendaratkan bibirnya dibibir Sarah.


"Istirahatlah, aku udah kasih kabar untuk keluarga kita kalo besok malam kita akan mengadakan jamuan makan malam di rumah. Bibi Rose udah mengatur semuanya, kamu cukup istirahat aja. OK?"


"Baiklah", jawab Sarah sambil mengangguk.


***


Hari berikutnya, bibi Rose tengah sibuk menghidangkan makanan yang telah dipesan Michael dari sebuah restoran ternama favoritnya. Sarah membantu bibi Rose untuk menyusunnya di meja makan. Sementara Michael menemani Lucy mengerjakan tugasnya di ruang tengah.


"Apa tugasnya masih banyak, kakak?", tanya Sarah dari meja makan.


"Dua soal lagi, ma", jawab Lucy sambil tetap fokus pada bukunya.


"Baiklah, setelah selesai nanti mama bantu kakak siap-siapa ya"


Kakak. Ya, Lucy mulai menyukai dipanggil dengan sebutan kakak. Panggilan yang tentunya jarang ia dapatkan sebelumnya.


Waktu makan malam pun tiba, semua keluarga telah berkumpul di meja makan. Semuanya bersenda gurau satu samanlain yang membuat suasana makan malam itu menjadi ramai.


"Terimakasih telah datang ke rumah kami. Sebenarnya ada alasan khusus kenapa aku dan Sarah meminta semua keluarga untuk berkumpul", ucap Michael yang membuat semua orang menjadi serius dan menatapnya.


"Ini sebuah kejutan besar, bahkan Sarah pun juga tidak menyadarinya. Tapi Tuhan begitu baik hingga mampu menjaganya selama ini", sambung Michael.


Mulut Alice ternganga mendengar perkataan Michael. "Apa... apa Sarah... hamil?", ucapnya terbata-bata.


Michael mengangguk dengan tersenyum lebar. "Iya, Sarah hamil dua belas minggu", ucap Michael sembari mengelus perut Sarah yang ada disebelahnya.


Teriakan kebahagian langsung pecah di ruang makan itu. Lidya, Rachel dan Alice segera beranjak dari duduknya dan bergantian memeluk Sarah.


"Tuhan menghapus kesedihanmu dengan cepat, sayang", ucap Rachel dengan meneteskan air mata.


"Ini suatu kejutan yang besar! Aku akan punya cucu kedua, sedangkan orangtua Sarah akan langsung mendapatkan dua cucu tahun ini!", seru Lidya.


"Aku sangat senang anak kami akan tumbuh dewasa bersama. Apalagi selisihnya cuma tiga bulan, ga akan terlihat sama sekali", ujar Alice sambil merangkul bahu Sarah.


"Karena dua ratu Senza bakery sedang mengandung, jadi lebih baik kalian harus mengurangi kegiatan kalian di toko ya", ucap Lois sambil mengedipkan matanya kepada sang istri.


"Kenapa? Selama ini ga ada masalah kan? Bayinya juga senang diajak bikin kue. Iya kan, Sarah?", Alice membela diri.


"Iya, bahkan aku sampai ga tahu kalo aku sedang hamil karena dia sangat menyukai ketika aku berkutat di dapur toko", imbuh Sarah.


"Tapi tetap saja kalian ga boleh capek-capek, terlebih jika nanti perut kalian sudah membesar itu akan mulai mengganggu aktifitas kalian", kata Michael.


"Datanglah ke toko hanya untuk duduk tanpa melakukan pekerjaan berat, anak buah Sarah pasti sangat memaklumi kondisi ini", ucap Lois.


"Kalo perlu kita bisa cari pegawai lagi biar kalian ga perlu turun tangan langsung", sambung Michael.


Dua pria itu sedang berusaha meyakinkan istrinya dengan susah payah. Terlebih Michael, pengalaman keguguran Sarah sebelumnya membuatnya semakin over protective terhadap Sarah.


***


Acara makan malam telah berakhir, Sarah segera pergi ke kamarnya untuk segera merebahkan tubuhnya yang terasa pegal.


"Capek?", tanya Michael saat memasuki kamar.


"Iya, kayaknya karena kelamaan duduk"


"Mau aku pijit?", ucap Michael sembari duduk dipinggir kasur sebelah Sarah.


Sarah menggelengkan kepalanya. "Tidur aja. Aku pengen tidur sambil peluk kamu"


Michael tersenyum lebar. "Ini yang pengen mamanya atau anaknya?", goda Michael.


"Hahahaha... dua-duanya. Kita kan sepaket"


Sarah segera memiringkan badannya dan memeluk erat Michael. Meskipun sebelumnya sering melakukan hal tersebut, tapi mungkin sejak mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, mencium aroma tubuh Michael adalah favoritnya saat ini.


"Aku... semakin suka dengan wangi tubuhmu", ucap Sarah sambil mengeratkan pelukannya.


"Hahahaha... sepertinya anak kita lagi-lagi akan mirip sepertiku, sama seperti Lucy"


"Apa dulu Leona juga begini?"


Michael mengangguk. "Untuk alasan ga jelas, sering banget dia ngelarang aku ke kantor cuma karena ga mau jauh-jauh denganku"


"Hahahaha... mungkin nanti aku juga akan seperti itu, sayang. Aku rasa gen-mu terlalu mendominasi, aku yakin banget kalo anak ini akan begitu mirip denganmu"


"Hahahaha... aku bisa apa? Aku juga ga bisa mengendalikannya kan?"


"Setelah aku melahirkan nanti, apa... kamu masih berniat untuk... menambah anak dariku?", tanya Sarah sambil mendongakkan kepalanya.


"Bagaimana menurutmu? Aku ga bisa paksain kamu, sayang. Aku tahu melahirkan itu sakit. Entah melahirkan secara normal atau c-section, semua ada perjuangannya tersendiri. Kamu yang merasakannya, itu terserah kamu ingin hamil lagi atau tidak. Aku akan dengan senang hati menerima apapun keputusanmu manti"


"Bagaimana jika... aku memilih untuk... tidak hamil lagi?"


"Apa karena kamu takut?"


"Bukan cuma takut, sayang. Menjadi orangtua adalah pekerjaan paling susah di dunia ini. Kita harus mendidik anak-anak kita dengan baik dengan kondisi lingkungan yang denga sangat mudah bisa menghancurkan ajaran kita dengan begitu cepat. Aku... hanya ingin fokus merawat Lucy dan adiknya kelak. Aku juga... akan mengurangi aktifitasku di toko. Anak-anak akan lebih membutuhkan perhatianku daripada toko"


Michael tersenyum dan mengecup kening Sarah. "Anak-anak kitalah yang paling utama. Aku ga masalah jika kamu ga mau nambah anak lagi, aku sudah sangat beruntung memiliki kalian dalam hidupku. Berapa pun jumlah anak kita nanti"


"Perasaanmu padaku... tidak akan berubah kan meskipun nanti tubuhku akan berubah drastis setelah melahirkan?"


"Hei... kenapa bicara seperti itu?"


"Aku... aku cuma..."


"Kamu ga perlu ragu padaku, Sarah. Aku menikahimu bukan karena melihat fisikmu. Aku memilih menikah denganmu karena hatimu, fisikmu yang indah ini sebagai bonusnya. Lalu untuk apa aku mengatakan aku suka tubuhmu yang lebih berisi sekarang ini? Aku bukan sedang menyindirmu, tapi aku benar-benar menyukainya. Terlebih perubahan tubuhmu ini karenaku, karena kamu mengandung anakku. Jangan ngomong kayak gitu lagi ya, itu menyakitiku"


"Maaf", jawab Sarah yang kemudian mengecup bibir Michael.


Michael tersenyum. Dia memegang dagu Sarah dan menatap wajah Sarah dalam-dalam.


"I'm madly, deeply, truly, passionately in love with you, Sarah"