
Keesokan harinya, Michael mengirimkan pesan lokasi tempat bertemu kepada Sarah. Sarah yang sedang berada di toko bersiap-siap untuk pergi, mereka janjian untuk bertemu di rumah Michael yang sudah lama tidak dia huni.
"Ellen... Lily... ini hari terakhir aku ke toko, mungkin akan lama ya. Kalian bisa urus toko dulu kan? Kalo ada apa-apa, kabarin aja", ucap Sarah sambil merapikan rambutnya.
"Tenang, bu. Kita akan mengurus toko dengan baik", ucap Lily sambil bersikap hormat kepada Sarah.
"Bu Sarah ga usah khawatir. Ibu nikmatin aja honeymoon-nya", ucap Ellen menggoda Sarah.
Sarah tersenyum sinis. "Tidak ada honeymoon, dia sedang banyak kerjaan", jawab Sarah sembari mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin.
"Aku pergi dulu ya, kabari kalo ada apa-apa", imbuh Sarah sambil berjalan keluar toko dan melambaikan tangan ke arah Ellen dan Lily.
Sarah bergegas menyetop taksi menuju rumah Michael. Setibanya di rumah Michael dia takjub melihat rumah dengan gaya minimalis yang besar dan indah itu. Ketika Sarah sampai, ada beberapa orang yang sepertinya baru saja selesai membersihkan atau merenovasi rumah. Melihat kedatangan Sarah, Michael yang ada di depan pintu rumah segera menyuruhnya masuk.
"Cepat masuk ke dalam!", teriak Michael.
Sarah hanya memandang Michael tanpa menanggapi ucapannya. "Waahhh... besar sekali rumahnya", gumamnya dalam hati.
"Duduklah", ucap Michael sambil duduk di sofa dan menyodorkan sebuah map serta pulpen dimeja.
Sarah segera duduk tanpa berkata apapun. Dia segera mengambil mapnya, membuka dan membaca perjanjian pra nikah yang telah dibuat Michael. Isinya sama dengan yang Michael bicarakan pada malam itu. Sarah segera meletakkan mapnya, tanpa pikir panjang dia langsung mengambil pulpen dna menandatanganinya. Michael sedikit kaget.
"Ga ada yg mau ditambahin?", tanya Michael sambil melihat ke arah Sarah.
"Enggak ada, intinya jangan ikut campur urusan masing-masing kan?", jawab Sarah sinis.
Michael menghela nafas, dia merasa sedikit kesal dengan sikap Sarah. "Nampaknya sifat aslimu mulai kelihatan", ucap Michael sambil menyilangkan tangannya.
Sarah kesal. "Denger ya, kau memintaku kesini untuk tanda tangan ini kan? Giliran aku tanda tangani kenapa kamu ngajak debat? Kamu kangen debat sama seorang wanita?", ucap Sarah menantang. Michael menjadi lebih jengkel karena ucapan Sarah, namun dia mencoba untuk menahannya.
"Jika udah ga ada yg mau diomongin lagi, aku mau pulang", ucap Sarah sambil menenteng tasnya.
"Nanti malam kemaslah baju-bajumu, besok bibi Rose dan pak Kim akan mengambilnya di rumahmu. Setelah menikah, kita tinggal disini", kata Michael sambil merapikan map dan pulpennya. "Pernikahan tinggal dua hari lagi, dan aku masih banyak kerjaan. Jika ada yg bertanya soal honeymoon, katakan kalo kita akan melakukannya bulan depan", imbuh Michael sambil berdiri dan memandangi Sarah dari belakang.
Sarah hanya diam, lalu berjalan keluar meninggal Michael.
"Dia sama keras kepalanya seperti Leona", gumam Michael lirih.
*Di rumah Sarah*
Alice berjalan menuju kamar Sarah. Dia melihat Sarah sedang mengemasi bajunya.
"Butuh bantuan, adik ipar?", tanya Alice mengagetkan Sarah.
"Aahhh... kakak! mengagetkan saja", jawab Sarah yang terduduk di kasur karena kaget.
"Whooaaaa... mau pindahan kapan? Ke rumah orangtua Michael?", tanya Alice sambil membantu Sarah merapikan bajunya.
"Besok ada yang ambil koperku, kita akan tinggal di rumah Michael", jawab Sarah sembari menyandarkan punggungnya pada dinding.
"Udah rencana mau honeymoon kemana?", tanya Alice penasaran.
Sarah tersenyum sinis. "Enggak honeymoon, dia masih banyak kerjaan".
"Udah ga usah sedih. Di rumah Michael juga bisa honeymoon kan? Yang penting kan ga ada yang ganggu", goda Alice sambil tertawa. "Bawa dua koper cukup?" imbuh Alice.
"Cukuplah, kak. Kalo kurang kan tinggal pulang kesini"
"Sarah...", ucap Alice sambil menarik kedua tangan & menggenggamnya. "Kalo ada apa-apa, cerita ya. Lois begitu khawatir sama kamu, dia takut adiknya ga bahagia atau sedih. Dia juga ga mau papa mama ikutan sedih, jd nanti kalo ada apa-apa, cerita ke kita", ucap Alice sambil tersenyum. Sarah hanya mengangguk dan tersenyum.
Keesokan harinya, bibi Rose dan pak Kim datang ke rumah Sarah untuk mengambil koper baju Sarah.
"Nanti saya akan susunkan baju bu Sarah di lemari, jika kurang rapi nanti bu Sarah bisa minta saya untuk membereskannya lagi", ucap bibi Rose sambil menyerahkan koper-koper bajunya kepada pak Kim. Pak Kim segera memasukkannya ke bagasi mobil.
"Tidak apa-apa, pak Michael sudah menyuruh saya untuk membantu bu Sarah. Saya pengasuh Lucy dari bayi. Nanti saya jg akan membantu bu Sarah di rumah pak Michael", jawab bibi Rose dengan tersenyum. Sarah hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, bu Sarah"
"Oohh... iya. Terimakasih banyak, bibi Rose", ucap Sarah sambil menyalami bibi Rose. "Pak Kim terimakasih banyak", teriak Sarah sambil melambaikan tangan kepada pak Kim. Pak Kim membalas lambaian tangan Sarah & tersenyum lebar.
*Di rumah orangtua Michael*
"Papaaaaaa...", teriak Lucy sambil berlari, menuju ke arah papanya yg sedang memainkan hp di balkon rumah. Lucy segera memeluk Michael. "Gaun yang akan aku pakai besok indah sekali. Punya nenek juga sangat indah", ucap Lucy sambil tersenyum lebar.
"Benarkah? Apa kau menyukainya?", tanya Michael sambil mencubit pelan pipi Lucy.
"Iya, itu indaaaaahhhh... sekali", jawab Lucy sambil mengekspresikan kegembiraannya.
"Tante Sarah yang memilihkannya", ucap Michael.
"Papa... bolehkah aku memanggil tante Sarah dengan sebutan mama? Jadi aku punya dua mama, mama Leona dan mama Sarah", tanya Lucy yg membuat Michael diam sejenak.
"Tentu saja. Saat tante Sarah menikah dengan papa, berarti tante Sarah telah menjadi mamamu", jelas Michael.
"Yeaaayyyyy...", jawab Lucy dg gembira.
"Lucy, gantilah baju dengan bibi Rose ya", perintah Eddy. Lucy pun mengangguk & segera masuk ke dalam menemui bibi Rose.
"Apa kau gelisah karna besok akan menikah lagi?", tanya Eddy sembari duduk di kursi sebelah Michael. Michael hanya menunduk dan diam.
"Dengar Michael, jika kau menikah lagi itu tidak akan melukai perasaan Leona. Dia sudah bahagia di surga, dan dia pasti jg senang akan ada wanita yg membantunya mengurus Lucy dan kau. Apalagi yang kau cemaskan?", tanya Eddy sambil menepuk bahu Michael.
"Kau sendiri yg memilih Sarah, itu berarti kau sudah sepenuhnya yakin terhadapnya. Berbahagialah, sudah saatnya kamu mengakhiri kesendirianmu. Jadikan keluarga kecilmu menjadi utuh kembali dengan hadirnya seorang ibu untuk Lucy", ucap Eddy yang kemudian masuk ke dalam meninggalkan Michael di balkon rumah.
Michael tak bisa berkata-kata, dia hanya memandangi foto Leona di ponselnya.
*Keesokan harinya*
Hari pernikahan Michael dan Sarah telah tiba. Lokasi tempat pernikahan mereka telah tertata dengan indahnya. Sebuah lokasi outdoor berlatarkan pemandangan danau nan cantik. Seluruh dekorasi didominasi oleh warna putih, mulai dari bunga hingga kain penghias kursi. Semua tamu undangan telah hadir, Michael dan Sarah mengundang keluarga & kerabat terdekat saja.
Denis telah datang, memakai setelah jas santai berwarna putih sesuai dreescode yang tercantum diundangan. Lois yg melihat Denis duduk sendirian langsung menghampirinya.
"Hey... lama ga ketemu nih", sapa Lois mengagetkan Denis.
"Kak Lois! Katanya udah nikah ya?", jawab Denis sambil memeluk Lois.
"Iya, istriku disebelah sana", ucap Lois sambil menunjuk Alice yg duduk di sebelah mamanya.
"Sarah telah banyak berubah, aku meninggalkannya setahun untuk bisnis di Belanda, dan begitu balik ehhh dia menikah dengan orang lain", keluh Denis.
Lois tertawa. "Denis... kau pikir hanya kau saja yg terkejut? Kita ga ada yg tau dia deket sama siapa, tau-tau dia bilang ke mama dan papa kalo mau nikah", ujar Lois.
"Parahnya dia dapet Michael, saingan papaku, duda pula", ucap Denis sambil menggelengkan kepalanya.
Lois kembali tertawa. " Udahlah, kau cari saja wanita lain. Bukannya dari dulu banyak yang naksir kamu?", hibur Lois. Namun Denis tidak meresponnya.
Prosesi pernikahan pun dimulai. Michael terlihat makin gagah dg setelan jas putihnya. Sarah juga terlihat semakin cantik dengan dress brukat yg menutupi punggungnya. Rambutnya disanggul sederhana dan make up tipisnya. Michael tertegun melihat Sarah begitu cantiknya berdiri dihadapannya. Untuk pertama kalinya, Sarah dan Michael bertatapan dalam waktu yg lama. Begitu proses pernikahan selesai, para tamu undangan bersorak agak kedua mempelai berciuman. Sarah yang merasa malu menggelengkan kepalanya dihadapan tamu undangan sambil menunduk.
Namun tidak bagi Michael dia segera menarik pinggang Sarah hingga kedua tubuh mereka saling menempel. Para tamu undangan makin keras bersorak. Degup jantung Sarah berdetak kencang, dia memandangi Michael yang sedari tadi sudah menatapnya.
"Bukankah diacara pernikahan selalu ada bagian ciumannya? Sepertinya kau melupakan bagian ini", ucap Michael lirih yang kemudian mulai mencium bibir Sarah.
Para tamu undangan bersorak heboh sambil bertepuk tangan, kecuali Denis yang hanya duduk diam dikursinya.
Seketika Sarah memejamkan matanya. Dia membiarkan Michael mencium bibirnya di depan banyak orang. Degup jantungnya semakin tak beraturan. "Ya, bagaimana pun itu, ini juga pernikahanku. Aku harus melakukannya", gumam Sarah dalam hati.