Cupcake's Love

Cupcake's Love
#28



Keesokan harinya, Lucy bangun lebih dulu. Dia melihat Michael dan Sarah tidur diranjang sebelah dan saling memeluk.


"Mama... bangun", ucap Lucy sambil naik ke atas ranjang orangtuanya dan memeluk Sarah.


Michael dan Sarah saling melepaskan pelukannya.


"Kau bangun pagi sekali, sayang", kata Sarah sambil berbalik badan dan memeluk Lucy.


"Aku kan tidur lebih awal", jawab Lucy.


"Tidur lagi ya, sini kita berpelukan bertiga", ucap Michael sambil memeluk Sarah dan Lucy.


***


*Di rumah orangtua Sarah*


Alice membuka pintu kamarnya, Lois sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Sayang, apa Sarah menghubungimu?", tanya Alice.


"Enggak, emang ada apa?", jawab Lois.


"Dia enggak ke toko dari hari Rabu, hari selasa dia datang sebentar trus pergi lagi. Apa mungkin dia ketemu Denis dan Michael marah padanya? Ponselnya juga sering ga aktif, jadi susah dihubungi", jelas Alice.


"Benarkah?", Lois segera mengambil ponselnya dimeja dekat kasur. "Sepertinya dia sedang ke Disneyland", kata Lois sambil menunjukkan foto Sarah, Lucy dan Michael yang dipasang Sarah sebagai foto profilnya.


"Oiya?", Alice meraih ponsel Lois dan melihatnya. "Aahhh... dia membuatku khawatir saja", ucap Alice.


"Kenapa khawatir? Sarah kan udah menikah"


"Soalnya sebelumnya dia curhat, Michael marah besar sama dia karena dia makan malam sama Denis. Sarah bohong sama Michael, dia bilang ketemu temen kuliah. Ya jelaslah Michael marah besar"


"Sarah bohong sama Michael?"


Alice sadar kalau dia keceplosan. Dia mengangguk, mengiyakan pertanyaan suaminya. "Jangan bilang sama mama papa ya, mereka udah rukun kok", pinta Alice.


"Yakin?", Lois penasaran.


"Iya, yakin. Percayalah padaku", ucap Alice.


***


Liburan singkat Lucy ke Disneyland telah berakhir, perjalanan yang cukup melelahkan harus kembali ditempuh.


"Lucy tidur ya?", tanya Michael.


Sarah menengok ke jok belakang. "Iya, mungkin dia kelelahan. Energinya terkuras habis ketika di Disneyland kemarin", jawab Sarah.


Michael meraih tangan kiri Sarah menciumnya, dia menggenggam tangan Sarah sambil menyetir.


"Fokuslah menyetir", ucap Sarah sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Michael.


Michael tersenyum. "Mau pulang ke rumah orangtuamu?", tanya Michael.


"Eh... kenapa... tiba-tiba sekali?"


"Udah lama juga kan kita enggak nginep, kita juga bawa ganti"


"Baiklah. Aku akan kabarin mama dulu"


Michael menahan tangan Sarah. "Enggak usah, kita bikin kejutan aja", kata Michael sambil tersenyum.


***


Sesampainya di rumah orangtua Sarah, Lucy segera berlari mengetuk pintu rumah.


"Nenek... Kakek...", seru Lucy sambil mengetuk pintu.


Rachel membuka pintu rumahnya. "Waahhh ada cucu nenek", seru Rachel sambil memeluk Lucy. "Kenapa ga ngabarin dulu?", tanya Rachel pada Sarah.


"Ga boleh sama Michael, ma. Katanya biar surprise", jawab Sarah.


"Maaf kita akan ngerepotin mama weekend ini", kata Michael.


"Ngerepotin apa sih? Ayo cepat masuk...", ucap Rachel.


Lucy menonton tv di ruang tengah bersama Rachel dan Harry. Sarah memotong buah di dapur ditemani Michael.


"Manis ga?", tanya Sarah sesaat menyuapi jeruk untuk Michael.


Michael mengangguk. "Kak Alice ke toko?", tanya Michael.


"Iya, dia jadi rajin ke toko sekarang"


"Enggak mual muntah sama sekali?"


Sarah menggelengkan kepalanya. "Dulu waktu Leona hamil, mual muntah ya?"


Michael mengangguk. "Nanti kau akan merasakannya juga", ucap Michael sambil memeluk Sarah dari belakang.


Michael melepaskan pelukannya dan duduk di kursi sebelah Sarah berdiri.


"Toko gimana kak?", tanya Sarah.


"Aman...", jawab Alice sambil menuang air minum. "Kemarin kenapa susah dihubungi?", seru Alice sesaat setelah minum sambil memukul lengan Sarah.


"Emangnya ada apa?", Sarah penasaran.


"Aku khawatir aja kamu ga ada kabar. Kalian... ga sedang bertengkar kan kemarin?", kata Alice.


"Eeee... enggak. Kita ga bertengkar", jawab Sarah. "Pulang sendiri atau sama kak Lois?", sambung Sarah.


"Sama Lois, dia lagi main sama Lucy", jawab Alice.


***


Malam semakin larut, keluarga Sarah mulai tidur satu per satu. Lois mengajak Michael berbicara di balkon.


"Bagaimana liburannya?", tanya Lois membuka percakapan.


"Liburannya... melelahkan. Liburan dengan anak kecil selalu seperti itu", jawab Michael diselingi tawa. "Kaki Sarah sampai kram", imbuh Michael.


"Iya, Sarah gampang banget kram kalo kecapekan. Hubungan kalian... baik-baik aja kan? Kudengar, kalian sempat ribut karena Denis"


Michael mengangguk. "Ya, aku selalu terganggu dengannya sejak awal nikah"


"Denis emang seperti itu, dia mengejar Sarah dari SMA. Aku sampai pernah mengancamnya karena Sarah mengadu padaku"


"Oiya? Ada masalah apa?"


"Denis pernah ngunciin Sarah di laboratorium waktu SMA, itu karena Sarah nolak dia. Kemudian waktu kuliah terjadi lagi, Sarah menangis saat mengadu padaku. Aku pikir Denis menyentuhnya, tapi ternyata Sarah cuma ketakutan"


"Enggak terjadi sesuatu kan sama Sarah?"


"Enggak, dia cuma takut doang. Denis ga akan seberani itu. Sebelum menikah denganmu, aku selalu mantau dia. Aku ga mau kejadian sebelumnya terulang lagi, bagiku Denis udah membahayakan buat Sarah"


"Tapi Sarah masih terlihat nyaman dengan Denis"


"Itu karena dia merasa kasian sama Denis. Sarah bilang Denis terlalu ditekan oleh orangtuanya. Sarah hanya tidak ingin Denis merasa semua orang mengabaikan dia"


Michael terdiam setelah mendengar perkataan Lois.


"Kamu ga perlu cemburu sama Denis, kalo Sarah menyukainya tidak mungkin dia menjadi istrimu sekarang ini", canda Lois.


Setelah berbincang dengan Lois, Michael pergi ke kamar Sarah. Sarah dan Lucy sudah tertidur pulas. Michael segera membaringkan tubuhnya disebelah Sarah dan melingkarkan tangannya pada perut Sarah, dia memeluk Sarah dengan erat hingga membuat Sarah terbangun.


"Apa kasurnya terlalu kecil?", tanya Sarah.


Michael menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin tidur seperti ini", ucap Michael.


Sarah tersenyum. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang dikatakan kakak tentangku?", tanya Sarah.


Michael menatap Sarah. "Banyak", ucap Michael sambil tertawa.


"Kakak bilang apa?", tanya Sarah.


Michael hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Ayolah, sayang. Kenapa merahasiakannya dariku?"


"Kau yang merahasiakannya dariku"


"Tentang apa?"


Michael menghela nafasnya. "Denis", jawab Michael.


"Denis kenapa?", tanya Sarah ragu.


"Kalo Denis pernah mengurungmu. Kalo kau perhatian dengan Denis karena rasa kasihan"


Sarah terdiam dan kemudian menundukkan kepalanya.


"Aku ga marah, sayang", ucap Michael sambil mengangkat dagu Sarah. "Sekarang apa kau paham aku begitu melarangmu dekat dengan Denis? Bukan karena kau sudah menjadi istriku, tapi aku juga ga mau kejadian yang dulu terulang lagi", jelas Michael.


"Denis ga akan berbuat kayak gitu lagi"


"Jangan membelanya. Aku mengijinkanmu berteman dengannya, menemuinya saat dia datang ke toko, menerima telpon dan membalas pesannya. Tapi aku ga ngijinin kamu untuk bertemu dengannya di luar, atau bahkan... kau datang ke rumahnya"


Mata Sarah mulai berkaca-kaca.


"Aku beneran akan membunuhnya jika dia sampai menyentuhmu", tegas Michael.


Saran mulai meneteskan air matanya, Michael menyeka air mata Sarah. "Aku mengerti", ucap Sarah sambil menganggukkan kepalanya.


Michael mencium kening Sarah dan mendekapnya dengan erat. Matanya masih memancarkan amarah pada Denis atas perlakuannya pada Sarah dimasa lalu.