Cupcake's Love

Cupcake's Love
#60



Sarah terbangun ketika mengendus bau masakan. "Ahhh... bibi Rose pasti udah bangun", gumamnya.


Ia segera beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan Lucy. Sarah berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Kenapa bangun pagi sekali, bi?", ucap Sarah seraya menuang air minum.


"Iya, nyonya. Tuan Michael bilang pagi ini nyonya pengen makan quiche"


"Aku? Kapan aku bilang pengen makan quiche?", gumam Sarah lirih.


"Tolong nanti bantu Lucy siap-siap ya, bi", kata Sarah sambil berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Sarah tersenyum ketika melihat Michael tidur telentang ditengah kasur. "Jadi kayak gini kalo tidur sendirian?", ucap Sarah sambil menutup pintu.


Sarah naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya disamping Michael dan memeluknya. Michael yang merasa kaget menarik tangannya dengan cepat, dia memundurkan badannya dan mendorong badan Sarah.


"Awwwww... sayang, kau kenapa sih?", teriak Sarah.


"Ya Tuhaaann... Sarah! Maafkan aku, sayang. Aku ga tahu kalo itu kamu", ucap Michael sambil mendekati Sarah dan memeluknya.


"Emang kamu pikir siapa? Kenceng banget dorongnya, untung enggak jatuh ke lantai", kata Sarah kesal sambil mendorong dada bidang Michael.


"Kamu bilang suruh hati-hati, ga boleh genit sama wanita lain. Kalo tadi aku asal peluk ternyata bukan kamu, bisa panjang urusannya", jelas Michael.


"Tapi ga main dorong gitu, lihat dulu siapa orangnya"


"Hehehehe... maaf sayang, sini tiduran lagi", rayu Michael sambil menidurkan Sarah pada lengannya. "Masih marah?", tanya Michael dengan mendekap Sarah.


"Masihlah. Aku kesini karena mau mesra-mesraan sama kamu, malah digituin"


Michael melepaskan dekapannya dan menatap wajah Sarah. "Kamu mau olahraga pagi sama aku?", goda Michael dengan senyuman lebarnya.


Sarah tersenyum malu mendengar perkataan Michael. Sarah memajukan bibirnya dan mengecup sekilas bibir Michael yang ada dihadapannya.


"Kamu bilang itu bisa menstabilkan mood kan?" bisik Sarah.


Michael mengangguk. "Ayo kita cari keringat pagi", ucap Michael sembari menindih badan Sarah.


Michael mulai mencium bibir Sarah untuk beberapa saat sebagai pemanasan, sebelum akhirnya mulai berpindah menjelajah ke bagian tubuh lainnya. Pergumulan mereka berlangsung cukup lama dan melelahkan bagi keduanya. Michael tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Sarah.


***


Hari ini Sarah pergi ke toko dengan mengendarai mobilnya, mobil yang telah lama dibelikan Michael namun ia malas memakainya.


"Tumben bawa mobil", kata Alice setelah Sarah masuk ke dalam toko.


"Michael yang paksa, kalo ga dipakai katanya ga ngehargain suami"


"Iyalah, udah dibeliin juga"


Mata Alice tiba-tiba membelalak melihat Angela datang kembali ke toko. "Ya Tuhaaaannnn... wanita itu maunya apa sih?", ucap Alice geram.


Sarah menoleh ke arah Angela dan mengernyitkan dahinya. "Masuklah kak, ga baik ibu hamil lihat wajah dia lama-lama. Bisa-bisa nanti wajahnya mirip dia", canda Alice.


"Kau ini! Teriak aja kalo ada apa-apa ya, biar aku siram pakai adonan trus aku mixer", ucap Alice sembari berjalan masuk ke dalam dapur toko.


"Sarah, kita butuh bicara", ketus Angela sambil memberi kode untuk mengajaknya keluar.


"Emangnya kenapa kalo disini? malu dilihat banyak orang?", canda Sarah sambil menata kue pada rak.


"Cepatlah, aku ga punya banyak waktu!", gertak Angela.


Sarah segera meletakkan loyang kuenya dan berjalan keluar mengikuti Angela. "Kalo ga punya waktu ngapain kesini? Dasar aneh!", sindir Sarah.


Sarah berjalan menghampiri Angela yang telah menunggu di parkiran.


"Ada perlu apa? Kenapa kemarin ga ngomong di rumah sekalian?", ketus Sarah.


"Cukup, Sarah! Aku udah muak sama basa-basimu!", bentak Angela.


Sarah tersenyum sinis. "Basa-basi apa sih? Aku kan tanya ada perlu apa, basa-basinya itu dimana?"


"Kau ini kenapa? Kenapa sangat marah?", ucap Sarah sambil menahan tawanya.


"Kau mau main-main sama aku?"


"Main-main apa sih, Angela? Aku ga main-main, aku sama Michael udah balikan lagi, kita udah tidur bersama, salahnya dimana?", sindir Sarah.


"Tinggalkan Michael sekarang juga, atau aku akan membuatmu tersiksa selama berada disamping Michael!", ancam Angela.


"Memangnya kalau aku berpisah dari Michael, Michael akan berlari kepadamu? Pede sekali", ucap Sarah sinis.


"Jaga mulutmu, Sarah!", bentak Angela sambil menjambak rambut Sarah yang dikucir.


"Aku ga nyangka Michael pernah pacaran dengan wanita kasar sepertimu", kata Sarah sambil mencoba melepaskan tangan Angela dari rambutnya.


"Kau sama saja seperti Leona, kau..."


Tiba-tiba leher Angela dicekik oleh tangan seorang pria, Sarah menoleh ke arah pria tersebut.


"Denis!", seru Sarah lirih.


"Lepasin tanganmu dari rambut Sarah atau aku akan membunuhmu sekarang juga!", bentak Denis.


Angela melepaskan tangannya dari rambut Sarah, begitu pula dengan Denis melepaskan tangannya dari leher Angela. Angela terbatuk-batuk dan sedikit kesulitan bernafas. Sarah masih kebingungan dengan kehadiran Denis yang tiba-tiba itu.


"Jangan dekati Sarah lagi, aku punya bukti video kekerasanmu padanya. Aku akan memenjarakanmu jika kau berani mendekati Sarah lagi", ancam Denis dengan menunjukkan ponselnya pada Angela.


Angela pergi meninggalkan Sarah dan Denis tanpa sepatah kata pun, dia sengaja menabrak badan Sarah saat berjalan menuju mobilnya.


"Denis... kapan kau datang?", tanya Sarah.


"Apa penting tanya begitu setelah kau dianiaya wanita itu? Siapa dia?", ketus Denis.


"Angela. Mantan pacar Michael dulu"


"Apa karena dia hubunganmu dan Michael jadi bermasalah?"


Sarah hanya mengangguk. Denis memegang ponselnya dan menelpon seseorang.


"Cepat datang ke toko Sarah sekarang!"


"........."


"Apa perlu aku menculik Sarah lagi agar kau memperhatikan Sarah lagi? Sarah dianiaya sama mantanmu!", bentak Denis yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


"Jangan kasar begitu, Michael udah berusaha untuk nyingkirin dia. Tapi dianya aja yang agresif", jelas Sarah lirih.


Denis menarik tangan Sarah untuk masuk ke dalam tokonya. Seperti biasa, mereka duduk dimeja pojok dekat jendela. Alice ikut duduk dimeja itu dan membantu Sarah merapikan rambutnya.


"Kenapa tadi diam aja waktu dijambak? Harusnya kau cakar wajahnya, nendang, ninju kan juga bisa", kata Denis.


"Aku udah males berurusan lagi sama dia", jawab Sarah.


"Kau tahu... Sarah bahkan pernah ditampar sama dia disini, harusnya tadi kau bawa masuk biar aku juga bisa ikutan nyiksa dia", ucap Alice geram.


"Kak... lagi hamil juga!", Sarah mencoba untuk menenangkan Alice.


"Kau ditampar? Apa masalahnya?", Denis ikutan geram.


Sarah melirik ke arah Denis dan menghela nafasnya. "Karena apa lagi, ya karena Michael. Dia kecewa Michael telah menikah, padahal dia udah bela-belain cerai dari suaminya"


"Gila sekali wanita itu, apa hebatnya sih Michael? Sampai kamu pun tergila-gila padanya", ucap Denis lirih sambil melirik Sarah.


"Michael itu hot! Kau lihat sendiri kan waktu itu, dada Sarah sampai ditandain gitu. Pasti dia bikin Sarah klepek-klepek kalo di ranjang", goda Alice.


"Apaan sih kak!", Sarah merasa malu.


Pintu toko terbuka, Michael mengepalkan tangannya saat melihat Sarah kembali duduk berhadapan dengan Denis.