
Sudah seminggu ini Michael bersikap dingin kepada Sarah. Michael selalu pulang malam dan berbicara seperlunya kepada Sarah.
"Kau kenapa?", tanya Alice membuyarkan lamunan Sarah yg duduk di meja sudut toko.
"Michael mendiamkanku seminggu ini", kata Sarah.
"Secara tiba-tiba?"
Sarah mengangguk. "Malamnya dia masih bersikap biasa saja, paginya dia mulai bersikap aneh hingga sekarang", jelas Sarah.
"Hmm... mungkin ada masalah dengan pekerjaannya",
"Entahlah, dia tidak pernah membicarakan urusan kerja di rumah"
"Atau karena Denis?"
"Denis?"
"Iya, mungkin dia cemburu karena Denis menemuimu atau mungkin karena Denis mengatakan sesuatu pada Michael?"
Sarah terdiam. "Apa karena aku pergi makan malam dengan Denis? Apa dia mengetahuinya?", gumam Sarah dalam hati.
***
Malam itu, Sarah kembali menunggu Michael pulang kerja. Dia menunggu di sofa ruang tengah sambil menonton TV.
"Kau sudah pulang", ucap Sarah saat Michael baru saja pulang dari kantor. Michael diam saja dan langsung berjalan ke kamar.
Sarah membantu Michael melepas jas Michael dan menggantungnya. "Mau kubuatkan sesuatu?", tanya Sarah.
"Enggak", jawab Michael singkat sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sarah menunggu Michael sambil duduk di kursi meja rias, dia segera berdiri ketika Michael keluar dari kamar mandi. Michael memandangi Sarah. "Kenapa belum tidur?", tanya Michael sambil berjalan melewati Sarah.
Sarah menarik tangan Michael. "Kau marah denganku?", kata Sarah.
"Tidurlah, ini sudah larut", ucap Michael sambil melepaskan tangan Sarah.
Sarah menghela nafasnya. "Kau mendiamkanku seminggu ini, jika terjadi sesuatu bicaralah", kata Sarah.
Michael berbalik, melihat Sarah dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku... karena aku pergi menemui Denis", ucap Sarah sambil berlinang air mata.
Michael menghela nafasnya dan mendekati Sarah. "Aku tahu, aku hanya menunggu kau mengatakannya padaku", jawab Michael sambil mengusap air mata Sarah.
Sarah menatap Michael. "Kau sudah tahu?", tanya Sarah.
Michael mengangguk, dia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. "Kau pergi ke Joel Robuchon kan?", kata Michael sambil menunjukkan foto yang dikirim pak David.
"Bagaimana... kau... bisa dapat foto ini?", tanya Sarah.
"Seseorang mengirimiku foto ini saat melihatmu ada di Joel Robuchon"
Sarah kembali menangis. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku pergi dengan Denis"
Michael segera memeluk Sarah. "Memang sulit untuk melarang kalian saling bertemu", kata Michael.
Michael melepaskan pelukannya dan menatap Sarah. "Lain kali ga perlu berbohong jika kau bertemu dengan Denis, itu lebih menyakitkan bagiku", ucap Michael.
Sarah menganggukkan kepalanya. Michael memegang leher Sarah dan mulai mencium bibir Sarah. Sarah melingkarkan tangannya dengan erat dipinggang Michael.
Michael menggendong Sarah dan membaringkannya di kasur. Mereka memulai aktifitas intim yang telah cukup lama tertunda itu.
***
"Sayang, kau banyak meninggalkan banyak kissmark ditubuhku", ucap Sarah sambil tertawa.
"Mau kutambah?", goda Michael sambil mengancingkan kemejanya. Sarah tersenyum sambil membantu memasangkan dasi Michael.
"Denis masih sering ke toko?", tanya Michael.
"Iya, tiap ga ada kerjaan dia selalu ke toko"
"Ngobrolin apa?"
"Ya biasa, mau ngajak makanlah, inilah, itulah. Ada apa tiba-tiba menanyakannya?"
"Gapapa, cuma pengen tahu aja"
Sarah mengangguk. "Minggu depan Lucy libur sekolah, ada rencana untuk pergi?"
"Hmm... nanti aku lihat jadwal dulu"
"Jika kau sibuk, aku bisa ngajak Lucy liburan berdua"
"Aku bilang aku akan lihat jadwal dulu. OK?", kata Michael sambil mengecup kening Sarah. "Ayo kita sarapan", ajak Michael.
***
Sesampainya di toko, Sarah sibuk mengecek keuangan di toko di meja sudut. Alice menghampiri Sarah dengan membawakan sebotol air mineral.
"Sepertinya kau sudah akur dengan Michael", kata Alice.
Alice menunjuk bekas kissmark Michael di dada kiri Sarah sambil tersenyum.
"Ya Tuhaaaan... keliatan ya kak?", ucap Sarah panik sambil merapilan kemejanya.
"Kalo kerahnya terbuka seperti itu ya keliatan", jawab Alice sambil cekikikan. "Michael segarang itukah?", goda Alice.
"Apaan sih kak!", jawab Sarah malu.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa baikan?"
"Dia marah karena aku pergi makan dengan Denis, jadi ya... aku minta naaf"
"Gitu doang? Ya Tuhan... kenapa Michael sampai mendiamkanmu begitu lama?"
"Dia marah karena aku berbohong padanya"
"Bohong kenapa?", Alice penasaran.
"Aku bilang aku bertemu teman-teman kuliahku"
Alice memukul lengan Sarah.
"Awwww... sakit kak!", seru Sarah.
"Mama pasti akan sangat marah kalo tahu kau membohongi Michael"
"Makanya kakak jangan cerita ke mama"
"Lagian kamu ngapain bohong sih?"
"Entahlah kak, aku juga ga tau kenapa waktu itu aku bisa sampai bohong padanya"
Pintu toko terbuka, Denis masuk dan segera menghampiri Sarah dan Alice.
"Ya Tuhan... kau ini seperti pengangguran saja. Tiap hari selalu mencari Sarah", seru Alice sambil berpindah duduk di sebelah Sarah.
"Hahahaha... pekerjaanku kan bisa dihandle yang lain, tidak seperti Michael yang selalu sibuk", sindir Denis.
Sarah diam saja dan tetap fokus memeriksa file keuangan toko. Denis menatap Sarah dengan penuh rasa penasaran.
"Ada apa?", tanya Sarah.
"Kau sedang gatal-gatal?", tanya Denis.
"Enggak. Memangnya kenapa?", tanya Sarah kebingungan.
"Sepertinya aku melihat merah-merah didadamu"
Sarah panik dan segera meninggalkan meja. "Aku mau cari peniti dulu", ucap Sarah.
Alice tertawa terbahak-bahak.
"Kak Alice kenapa?", tanya Denis.
"Kau ini lelaki yg polos sekali", ucap Alice sambil menahan tawa. "Itu kissmark, tau ga? A bruise raised on the body of sexual partner during making love. Got it?", jelas Alice.
Denis terkejut, matanya membelalak. "Michael melakukan itu pada Sarah?", seru Denis
"Itu hal wajar Denis, kamu... belum pernah melakukannya?", tanya Alice.
Denis hanya diam saja dan menunduk.
"Denis, Sarah udah menjadi milik Michael. Michael sudah menandainya, kau tau sendiri kan barusan? Udahlah, ini saatnya kamu cari pengganti Sarah. Kamu udah terlalu lama mengejar Sarah", ucap Alice.
"Memangnya kalo Sarah udah nikah, dia ga bisa jadi milikku? Aku akan membuktikannya pada kakak", ketus Denis.
"Whoaaaa... kau memang keras kepala sekali, Den. Lois dan Michael bisa langsung menghajarmu jika dia mendengar perkataanmu barusan", kata Alice.
Denis hanya tersenyum sinis. Sarah kembali ke meja dengan kemejanya yang sudah tertutup rapi.
"Kalian ngobrollah, aku mau istirahat di dapur aja", kata Alice sembari pergi menuju dapur toko.
"Ada apa kau datang kesini?", tanya Sarah.
"Apa selalu harus ada alasan?", jawab Denis.
Sarah menatap Denis dan menghela nafasnya.
"Apa... Michael... selalu melakukan hal itu?", tanya Denis terbata-bata sambil menunjuk dada Sarah.
"Kenapa kau jadi ingin tahu? Makanya menikahlah, biar tahu aktifitas intim apa saja yang bisa kau lakukan bersama pasanganmu", ketus Sarah.
"Kau menyindirku?", tanya Denis kesal.
"Aku tidak menyindirmu, kenapa kau jadi sangat marah?", ucap Sarah.
"Sepertinya Michael mulai menghipnotismu!", kata Denis yg kemudian pergi meninggalkan Sarah.
"Aneh sekali, datang cuma untuk marah-marah", gumam Sarah.