
"Bisa kita melakukannya sekarang? Melihatmu dari kemarin marah membuatku semakin bernafsu", goda Michael.
"Tapi..."
"Aku akan melakukannya pelan-pelan, sama seperti saat pertama kali kita melakukannya", ucap Michael memotong perkataan Sarah sambil membuka resleting mini dress Sarah.
Dress yang dikenakan Sarah langsung jatuh ke lantai setelah Michael membuka resleting dan menurunkan tali dressnya. Diciumnya bibir Sarah dengan perlahan dan berubah menjadi ciuman yang penuh dengan gairah. Tangan Michael begitu agresif membelai tubuh Sarah.
Michael menggendong Sarah dan menidurkannya di kasur. Tanpa menunggu lagi, Michael segera memulai aktifitas intim mereka yang harus tertunda selama proses penyembuhan Sarah. Keduanya saling merindu, juga dilandasi atas tekad mereka berdua untuk kembali mendapatkan momongan dengan segera.
***
Keesokan harinya, Michael bersiap untuk pertemuan dengan pemilik The Edgewater. Sarah yang masih memakai baju tidurnya membantu Michael untuk bersiap.
"Pergilah sarapan terlebih dulu, jangan menungguku. Aku akan segera ke resto hotel begitu aku selesai membersihkan diri" ucap Sarah sembari mengancingkan kemeja kerja Michael dan memasangkan dasi.
Michael hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Kamu mau di hotel aja atau mau jalan-jalan?", tanya Michael.
"Hmmm... mungkin aku mau jalan ke food tours"
"Naik taksi aja, ga usah jalan kaki. Nanti kalo kram disana malah repot"
"Iya, sayang. Dokter kan nyuruh ga capek-capek dulu"
"Tapi semalam kamu kelihatan capek banget abis olahraga sama aku"
"Apaan sih", jawab Sarah malu.
"Beli makanan yang banyak, biar makin berisi", goda Michael.
"Mulai lagi deh...", jawab Sarah sambil mengecup bibir Michael.
***
Sarah mengunjungi food tours seorang diri dengan naik taksi. Hanya butuh waktu 4 menit saja untuk sampai di food tours. Mata Sarah dimanjakan dengan banyaknya gerai makanan disekelilingnya.
"Sarah!", seorang wanita memanggil Sarah dari kejuahan.
"Duuhhh... pasti Angela nih", gumamnya. Sarah membalikkan badannya dan melihat seorang wanita berlari ke arahnya.
"Olive!", seru Sarah.
Olive adalah teman SMA Sarah dan Denis. Mereka berdua berpelukan setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Duuhhh... kamu habis nikah masih berseri aja wajahnya, mana ga ngundang pula", kata Olive.
"Iya, maaf. Waktu itu cuma bikin acara keluarga aja. Aku cuma ngundang Denis karena... kamu tahu sendiri kan", jawab Sarah.
"Iya, aku ngerti kok. Kamu ngapain disini? Kok sendirian?"
"Iya, suamiku ada pekerjaan di The Edgewater dan aku ikut kesini. Daripada bosen di hotel ya mending jalan-jalan. Kamu sendiri, mana suamimu? Apa... suamimu masih bekerja dengan Denis?"
"Iya, suamiku ikut Denis ke Belanda"
"Yahhh... LDR dong? Kenapa ga ikut aja?"
"Enggaklah, aku harus ngurus mama mertua disini. Dua hari ini aja mama aku tinggal kesini karena aku ada acara keluarga kemarin, nanti sore udah balik lagi"
"Sayang banget kita ketemunya cuma sebentar"
"Sarah, main-mainlah ke rumah. Biar aku ga kesepian cuma berdua doang sama mama, nanti aku kirimin alamatnya ya"
"Baiklah, nanti saling berkabar aja ya"
Sarah dan Olive berpisah di food tours. Sarah melanjutkan perjalanan kulinernya di food tours hingga menjelang petang. Sarah kembali ke hotel berjalan kaki sambil menikmati pemandangan dermaga di sepanjang jalan.
"Kenapa berjalan sendirian? Apa kau diabaikan oleh Michael?", ucap Angela yang baru saja turun dari mobil.
Sarah menoleh ke belakang dengan tatapan sinis. Dia mengabaikan Angela dan berjalan masuk ke dalam hotel. Sayangnya, Sarah harus berbagi tempat dengan Angela di lift.
"Jangan terlalu dingin seperti itu, Michael tidak menyukai tipe wanita seperti itu. Aku takut kalo... nanti justru dia kabur dari pelukanmu", sindir Angela.
Sarah hanya diam dan memandangi tombol lift.
"Bagaimana rasanya menjadi istri Michael? Pasti sangat menyenangkan ya dapat merasakan sentuhannya setiap saat. Ahhh... aku sangat merindukan sentuhannya"
Sarah kembali melirik sinis Angela yang tengah asik membayangkan sesuatu itu.
Ting...
"Heh... dasar wanita angkuh!", teriak Angela kesal.
***
Sarah segera merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya.
"Ya Tuhaaannn... kenapa dia harus muncul sih? menyebalkan sekali!", gerutu Sarah.
Tidak berapa lama Michael masuk dan menghampiri Sarah. Michael menarik kaki Sarah dan meluruskannya, lalu memijat betis Sarah dengan perlahan.
"Sayang, aku ga lagi kram loh", kata Sarah.
"Buat jaga-jaga aja, pasti barusan kamu habis jalan kaki kan?"
Sarah mengangguk. "Abisnya pemandangannya bagus, kan cuma sebentar. Jalannya juga ga nanjak"
Michael menarik tangan Sarah dan membangunkannya. "berjinjitlah diatas sepatuku", ucap Michael.
"Enggak ah, mau ngapain sih?"
"Peregangan, aku ga mau nanti malam kita ga bisa melakukannya lagi karena kakimu kram"
Sarah tersenyum. "Kamu bersemangat sekali", jawab Sarah sambil berjinjit diatas sepatu Michael.
"Sakit?", tanya Sarah.
"Enggak", jawab Michael sambil memandangi Sarah.
Sarah mengecup bibir Michael.
"Kenapa cuma sebentar?", tanya Michael.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Aku... bertemu Angela saat kembali ke hotel"
"Dia bilang sesuatu?"
Sarah mengangguk. "Dia bilang aku wanita yang dingin"
Michael tersenyum. "Kamu pasti marah saat mendengarnya"
"Biasa aja. Tapi... aku menjadi marah saat dia bilang... eeee... dia bilang kalo kamu akan pergi meninggalkanku"
"Kamu percaya dengannya?"
"Enggak gitu, aku cuma... takut aja"
"Takut kenapa? Papa pasti akan menghajarku habis-habisan kalo aku meninggalkanmu", canda Michael.
Sarah tersenyum. "Dan... ada satu lagi yang bikin aku marah"
"Apaan?", tanya Michael penasaran.
"Apa... kamu... pernah tidur dengan Angela?", tanya Sarah gugup.
Michael terdiam. Dia menghela nafasnya dan memandangi Sarah begitu dalam. "Ya, aku pernah tidur dengannya beberapa kali waktu pacaran"
Sarah memalingkan wajahnya dari Michael, rasa cemburu semakin membakar hatinya.
"Tapi kan itu udah dulu banget, sayang. Bahkan sebelum aku menikah dengan Leona"
Sarah turun dari sepatu Michael dan duduk di pinggir kasur. Michael berdiri setengah badan di depan Sarah dan menggenggam tangannya.
"Angela bilang dia kangen sentuhanmu", ucap Sarah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tahu bagaimana perasaanku setelah mendengarnya? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk merebutmu dariku", sambung Sarah sambil menangis.
"Kok kamu jadi mikir gitu sih?", ucap Michael sambil menyeka air mata Sarah.
"Dia bela-belain datang kesini loh buat ketemu kamu. Coba kalo aku ga ikut kesini, bisa jadi kamu tidur sama dia", Sarah menangis terisak.
"Enggak akan, sayang. Aku ga bakalan ngelakuin itu"
"Kamu pasti sama dengan pria lainnya, sayang. Apalagi dengan penampilannya yang seperti itu kamu pasti akan mudah tergoda untuk menidurinya lagi terlebih dia kan udah ga bersuami"
"Kamu ngomong apaan sih? Ga perlu lah mikir sampai sejauh itu, OK?"
Ponsel Michael berdering, dia segera merogoh kantung celana untuk mengambil ponselnya. Michael dan Sarah melihat ke layar ponsel, Angela menelpon.
"Tuh kan, dasar ******!", ucap Sarah geram dan beranjak dari duduknya berjalan menuju balkon hotel.