
Orangtua Sarah dan Alice segera datang ke rumah sakit begitu mendengar kabar Sarah telah bangun dari tidurnya.
"Udahlah, ma. Kenapa masih nangis?", ucap Lois.
"Mama kan nangis karena seneng", jawab Rachel yang mengundang gelak tawa.
Hari mulai larut, tinggal Michael yang masih setia menemani Sarah di ruangannya. Sarah tidak nyaman dengan tubuhnya, dia menggerakkan tubuhnya untuk mencari posisi nyaman.
"Kau kenapa sayang?", tanya Michael yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Badanku terasa sakit semua, punggungku juga terasa panas. Aku pengen duduk", rengek Sarah.
"Sini aku bantu", ucap Michael sambil membantu Sarah.
"Aaahhhh...", Sarah merintih kesakitan sambil memegang perut dan punggungnya.
"Apa sangat sakit?", tanya Michael.
Sarah mengangguk. "Sakit sekali disebelah sini", ucap Sarah sambil menunjuk perut dan punggungnya.
"Itu karena benturan saat kau tertabrak mobil", jelas Michael.
"Sayang... apa... aku sedang haid? Aku merasa seperti sedang memakai pembalut", tanya Sarah.
Michael diam beberapa saat. "Eeee... iya, ada perawat yang rutin mengganti pembalutmu"
"Aahhh... kenapa begini? Aku kan jadi malu"
"Malu kenapa? Kau kan kemarin ga sadarkan diri, bagaimana bisa kau mengganti pembalutmu sendiri", jelas Michael.
"Atau... aku yang harus menggantinya?", goda Michael.
"Mulai deh", ucap Sarah sambil mencubit lengan Michael.
Michael duduk dipinggir ranjang, dia memandangi Sarah dan membelai rambutnya. "Jangan pernah membuatku berada pada situasi kemarin lagi ya?", ucap Michael
Sarah menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Bagaimana dengan... Denis?", tanya Sarah gugup.
"Polisi sudah mengurusnya. Kau bangun karena ingin menanyakan itu?"
"Eee... bukan. Bukan begitu maksudku"
"Denis telah membahayakanmu dan membunuh anakku, bagaimana bisa aku memaafkannya?", ucap Denis sambil menahan emosinya.
"Lucy?", Sarah penasaran.
Michael terdiam, dia menarik nafas panjang. "Sarah, ini mungkin sangat berat untukmu", kata Michael sembari menggenggam tangan Sarah.
"Sebenarnya... kemarin ada... janin di dalam perutmu. Kau... mengalami keguguran saat tertabrak mobil"
Mata Sarah dipenuhi dengan air mata yang telah siap untuk mengalir dengan derasnya. "Aku hamil?", tanya Sarah lirih.
"Benturan itu... mengakibatkan janin itu terlepas dari rahim, dan kau mengalami keguguran. Usianya baru 3 minggu"
Air mata Sarah mulai bercucuran. Michael mengambil tisu untuk menyeka air mata Sarah.
"Jadi... kau bukan menstruasi. Dokter bilang akan ada bercak darah yang akan muncul selama beberapa hari"
"Kenapa aku ga menyadarinya? Aku bahkan tahu kak Alice sedang hamil, tapi kenapa aku tak menyadari diriku sendiri sedang hamil?", ucap Sarah lirih.
"Ini bukan salahmu Sarah, jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu"
"Maafkan aku, sayang. Aku... tidak menjaga anak kita dengan baik", Sarah mulai menangis dengan terisak.
Michael memeluk Sarah untuk menenangkannya. "Kita masih punya Lucy, sayang", kata Michael.
Suara tangisan Sarah memenuhi ruangan malam itu. Kehilangan memang bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi, begitu pula bagi Sarah. Hingga akhirnya Lois dengan terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Sarah.
"Ini pasti akan sulit baginya", ucap Michael.
"Tenanglah, kita pasti bisa melalui ini semua", jawab Lois.
***
Keesokan harinya, Sarah meminta untuk berjalan-jalan keluar kamar. Michael mendorong kursi roda Sarah dan beristirahat di taman rumah sakit. Michael duduk bertinggung didepan kursi roda Sarah.
"Apa kau kecewa padaku?", tanya Sarah.
"Kecewa untuk apa?"
"Karena... aku keguguran"
"Sayang... kenapa kau berkata seperti itu? Kita sama-sama tidak menyadarinya, kita kehilangan bayi kita karena sebuah kecelakaan. Kenapa aku harus kecewa padamu? Kita akan bisa mendapatkannya lagi, sayang"
"Sudahlah, ga ada yang perlu disesali lagi. Setelah masa pemulihanmu selesai, kita akan mulai gencar melakukannya lagi. OK? Mau pergi honeymoon lagi?", goda Michael.
Sarah tersenyum. "Aku merindukan Lucy, apa dia datang untuk menengokku?
Michael mengangguk. "Dia datang dihari pertama kau koma. Dia ketakutan dengan peralatan medis yang menempel ditubuhmu"
"Aaahhh... aku ingin memeluknya dengan erat"
"Bagaimana denganku? Kau belum memelukku dari kemarin, padahal kau sudah memeluk banyak orang", canda Michael.
"Maafkan aku", ucap Sarah sambil tersenyum dan mengalungkan tangannya pada leher Michael.
"Tapi... aku ga bisa peluk kamu sekarang, sayang. Dengan posisi seperti ini, perutku pasti akan terasa sakit"
"Aahhh... kau banyak alasan", seru Michael sambil berdiri setengah badan dan memeluk Sarah dengan erat.
"Aku merasa mendengar suaramu ketika aku tidur kemarin. Itu... membuatku ingin segera bangun dan dipeluk seperti ini"
Michael melepaskan pelukannya. "Benarkah?", tanya Michael.
Sarah mengangguk. "Aku rindu aroma tubuhmu"
"Apa kau sedang memancingku? Kita tidak boleh melakukannya sebelum kau sembuh, sayang", goda Michael.
"Eeee... bukan begitu maksudku, sayang. Maksudnya... aku... aku..."
"Sudahlah, kamu sabar aja ya sampai masa pemulihannya selesai", Michael memotong perkataan Sarah dan mencium tangan Sarah.
Sarah mengangguk. "Ya, kita harus pergi bulan madu lagi", ucap Sarah dengan senyum lebarnya.
***
*Di kantor polisi Metropolitan*
Denis mendapat kunjungan dari ayahnya, Ian Clark.
"Memalukan! Kenapa kau melakukan ini semua?", bentak Ian.
Denis tersenyum sinis. "Kenapa sekarang begitu mengurusi kehidupanku? Apa karena reputasi perusahaan menjadi jelek karena perbuatanku?"
"Diam kau! Apa kau tahu bagaimana perjuanganku untuk membesarkan perusahaan ini? Kau malah menjatuhkannya dengan perbuatan konyolmu itu!"
"Sarah, dia adalah orang yang selama ini begitu menganggapku. Dia lebih mengerti aku daripada kau yang merupakan orangtuaku sendiri. Kau lebih memalukan dariku"
Ian mengepalkan kedua tangannya. "Bersyukurlah diantata kita ada penghalang kaca ini. Jika tidak, sudah kuhabisi kau disini!"
"Kalo begitu tunggulah sampai aku bebas jika kau ingin menghabisiku", sindir Denis sambil beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan ayahnya.
"Aku akan berusaha melobi Michael, setelah itu kau uruslah hotel di Belanda. Jangan kembali sebelum keadaannya membaik"
Namun Denis tidak menghiraukan perkataan Ian, ia terus berjalan dan meninggalkan ayahnya.
***
*Rumah sakit St. Mary*
Lois masuk ke ruangan Sarah setelah selesai bekerja saat Michael dan Sarah sedang bersenda gurau.
"Sudah lebih baikan?", tanya Lois.
Sarah mengangguk. "Hanya sedikit nyeri disekitar luka operasinya"
"It's OK, nanti juga akan hilang", jawab Lois.
"Kakak... kapan aku boleh pulang? Disini membosankan sekali", tanya Sarah.
"Hmm... tunggu 2 hari lagi ya"
"Ayolah, kau kan bisa tetap memantauku meskipun aku udah di rumah"
Lois tertawa. "Akan aku pertimbangkan", jawab Lois. "Oiya, dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan besok pagi. Apa kau siap?", imbuh Lois.
"Baiklah", jawab Sarah sambil mengangguk.
"Karena kau udah bangun, bolehkah aku tidur di rumah? Aku sangat merindukan Alice"
"Ahh tentu saja, pulanglah ke rumah. Kau sudah banyak membantuku beberapa hari kemarin" ucap Michael.
"Iya... pulanglah kak, tidurlah dengan kak Alice. Dia dan calon anak kalian pasti sangat merindukanmu. Aku juga membutuhkan waktu berdua dengan Michael", canda Sarah.
"Memang apa yang bisa kalian lakukan? Kau sedang masa pemulihan, nyonya William!", goda Lois.