Cupcake's Love

Cupcake's Love
#30



Michael mengundang keluarganya dan keluarga Sarah untuk makan malam bersama di hotel miliknya. Raut wajah gembira terpancar dari mereka semua. Tentu ini adalah momen yang sangat langka kedua keluarga dapat berkumpul bersama seperti ini. Terlebih, Michael menyiapkan segalanya tanpa sepengetahuan Sarah. Sarah merasa begitu diperhatikan oleh Michael, lebih tepatnya dicintai.


"Terimakasih banyak, sayang", ucap Sarah dalam perjalanan pulang.


Michael hanya tersenyum, dia meraih tangan Sarah dan menciumnya. "Untuk apa berterimakasih? Memang sudah kewajibanku untuk membahagiakanmu kan? Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Setiap harinya, bukan karena kau sedang berulang tahun saja"


"Aku sungguh menyesal telah bersikap kasar padamu saat proses menuju pernikahan kita"


"Itu salahku, sayang. You don't need to say sorry"


***


Keesokan harinya, Sarah menbantu Michael bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, ia memilihkan pakaian yang akan dikenakan oleh Michael. Aktifitas itu begitu disukainya. Memilih dan memadu padankan warna serta motif memang sangat sulit, tapi itu sepadan dengan pujian dari Michael yang terus mengalir padanya.


"Jangan temui Denis diluar, OK?", ucap Michael.


"Kenapa tiba-tiba membicarakan Denis?", jawab Sarah sambil memasang dasi Michael.


"Dia pasti akan terus mencarimu, apalagi kemarin hari ulang tahunmu"


Sarah tersenyum. "Aku mengerti, sayang", jawab Sarah sambil mengecup bibir Michael. "Ayo kita sarapan", imbuh Sarah sambil menarik tangan Michael menuju ruang makan.


"Mamaaaa... aku udah selesai makan", seru Lucy.


"Whoaaa... lahap sekali! Ayo cepat siap-siap, pak Kim sudah menunggu", kata Sarah.


"Good girl ya di sekolah", ucap Michael sambil mencium kening Lucy.


"OK, papa", Lucy segera berlari keluar rumah bersama bibi Rose.


Ponsel Sarah berdering saat sedang sarapan bersama Michael. Sarah meraih ponselnya, dilihatnya layar ponsel yang hanya nomer telepon tidak dikenal itu.


"Halo?", ucap Sarah ragu.


"........."


"Oohh... mama Kate, iya hari ini saya ke toko"


"........."


"Baiklah, saya akan menunggu Anda di toko", Sarah mengakhiri panggilan teleponnya.


"Siapa?", tanya Michael.


"Mama Kate, teman Lucy di sekolah. Dia mau datang ke toko untuk memesan kue"


"Sepertinya orangtua murid di sekolah mulai mengenalmu", goda Michael.


"Tentu saja, mereka udah tahu kalo aku mama Lucy", ucap Sarah bangga.


***


Sesampainya di toko, Sarah melihat mama Kate yang sudah menunggunya.


"Maafkan saya, apa sudah lama menunggu?", tanya Sarah.


"Tidak masalah, aku barusan datang juga kok"


"Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Kate berulang tahun hari ini, jadi aku ingin memesan kue disini"


"Benarkah? Kue seperti apa yang Kate suka?"


Sarah membantu mama Kate mendekor kue untuk anaknya.


"Kue ini cantik sekali!", seru mama Kate. "Terimakasih banyak telah banyak membantu", imbuh mama Kate.


"Saya yang seharusnya berterimakasih pada anda. Oiya, ini tambahan cupcake untuk Kate. Anggaplah... ini kado dari Lucy"


"Eeehhh... tidak perlu seperti ini, mama Lucy kan udah kasih diskon tadi"


"tolong diterima, Kate pasti akan sangat menyukainya"


"Aku jadi merepotkanmu. Terimakasih banyak ya, mama Lucy"


Denis masuk ke dalam toko sesaat setelah mama Kate keluar toko.


"Dimana Sarah?", tanya Denis pada Ellen yang ada di meja kasir.


"Eee... bu Sarah ada di dapur", jawab Ellen.


"Tolong panggilkan ya. Dan... tolong bawakan aku secangkir cokelat panas sama cronut 2 ya", ucap Denis sambil menyerahkan kartu debit untuk membayar pesanannya.


Sarah keluar dari dapur dan menghampiri Denis yang tengah asik makan cronut.


"Apa kau kelaparan?", sindir Sarah.


"Ada acara keluarga"


"Kemana?"


"Cuma makan malam di hotel Michael"


"Cuma makan malam kenapa seharian ga ke toko?"


Sarah menjadi agak kesal. "Aku cuma pengen menikmati waktu berdua dengan Michael"


Rasa cemburu Denis mulai tersulut. Dia segera mengelap mulut dan tangannya. Dia menyodorkan tas berisi kotak kecil untuk Sarah.


"Ini kado ulang tahunmu. Karena... kemarin ga ketemu, jadi baru sekarang aku kasih"


Sarah membuka kotaknya. Sarah terkejut dengan hadiah pemberian Denis.


"Aku... tidak bisa menerimanya, Denis. Maaf", ucap Sarah sambil mengembalikan hadiahnya.


"Kenapa? Apa Michael melarangmu?"


"Enggak, Michael enggak ngelarang. Tapi aku ga bisa terima hadiah seperti ini"


"Kau ini kenapa? Ini cuma cincin berlian, kenapa begitu takut menerimanya? Apa kau pikir aku melamarmu?"


Sarah menatap Denis tajam. "Maaf Denis, aku benar-benar ga bisa terima ini"


"Kau berubah sekali sejak menikah dengan Michael, dia pasti telah mencuci otakmu", ucap Denis kesal.


"Kalo udah ga ada yang perlu diomongin lagi, aku permisi dulu. Aku masih banyak kerjaan", ucap Sarah dan segera pergi ke dapur.


Denis yang kesal segera pergi meninggalkan toko Sarah dengan membawa hadiah yang ditolak oleh Sarah.


"Ada apa dengan Denis?", bisik Alice pada Sarah.


"Dia marah karena aku menolak kadonya"


"Tumbenan kau tolak, emangnya kenapa?"


"Dia kasih cincin berlian, kak. Gimana aku bisa terima? Michael pasti akan marah besar, terlebih kemarin aku juga dapat cincin dari dia"


"Aahhh... Denis memang mulai keterlaluan. Berhati-hatilah, aku mulai merasa Denis menjadi mengerikan sekarang"


"Mengerikan gimana?"


"Ya gitu lah pokoknya, kamu harus jaga jarak sama dia"


***


Sore harinya, Michael pergi ke suatu cafe. Denis menghubunginya dan meminta bertemu.


"Ada apa?", tanya Michael.


"Duduk dan pesan minumlah dulu, sesekali kau butuh waktu untuk bersantai", jawab Denis.


Michael tersenyum sinis. "Aku selalu menikmati waktu santaiku di rumah", kata Michael


"Ayolah, aku banyak kerjaan. Waktuku ga banyak untuk menemui orang ga penting sepertimu", imbuh Michael.


"Ga penting? Kau kasar sekali!", kata Denis.


"Aku sudah bersikap baik denganmu selama ini. Aku membiarkanmu bertemu dengan Sarah, bukankah aku begitu baik untuk mengijinkan istriku bertemu ******** sepertimu?"


Denis mulai kesal mendengar perkataan Michael.


"Apa yang kau lakukan pada Sarah?", kata Denis kesal.


"Memangnya aku melakukan apa?", ucap Michael sambil berpura-pura sedang berpikir.


"Ahhh... iya, aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan sebagai suaminya. Menafkahinya, aku juga membahagiakan dia lewat urusan ranjang. Itukah yang kau maksud?"


"Ternyata kau memang orang yang menyebalkan!"


"Apa kau marah?", sindir Michael.


"Kau menikahi Sarah bukan karena kau cinta sama dia. Kau hanya menjadikan Sarah sebagai pelampiasan nafsu bejatmu itu!"


"Pelampiasan? Kenapa kau tidak menanyakan hal ini pada Sarah? Kau hanya menuduhku Denis, tapi kamu ga tanya ke Sarah seberapa dia menikmatinya saat melakukannya denganku", sindir Michael.


Emosi Denis makin memuncak, tangannya mulai mengepal untuk menahan emosi. Matanya menatap tajam ke arah Michael.


"Sudah ku bilang, kau hanya terobsesi dengan Sarah. Kau ga akan bisa memiliki Sarah", kata Michael sambil beranjak dari kursinya dan meninggalkan cafe.


"Dasar berengsek! Akan ku buat kau kehilangan Sarah", gumam Denis.